NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Malam Puncak, Lampu Sorot, dan Pengakuan di Balik Panggung

Malam puncak Pentas Seni (Pensi) SMA Dirgantara benar-benar merangkum seluruh ambisi dan kerja keras panitia selama sebulan penuh.

Aula utama sekolah yang biasanya kaku kini bertransformasi layaknya gedung konser profesional berstandar tinggi. Ratusan lampu sorot laser warna-warni menyapu langit-langit ruangan yang tinggi, memantul pada dekorasi kain hitam dan emas yang berkilauan.

Dentuman bass dari sound system berkekuatan besar seolah menggetarkan lantai semen, berpadu dengan sorak-sorai riuh dari ribuan penonton—mulai dari siswa internal, alumni, hingga pelajar dari sekolah-sekolah tetangga yang diundang khusus.

Di ruang tunggu backstage yang terletak di sisi barat aula, suasananya tak kalah tegang dan sibuk.

Amira, yang malam itu bertugas mengenakan seragam panitia inti berupa kaos polo hitam dipadukan dengan ID card tergantung di lehernya, tampak mondar-mandir membawa kotak cables tambahan. Meskipun tugas utamanya di divisi dekorasi sudah beres sejak sore, ia memilih tetap siaga di belakang panggung demi memastikan logistik atau properti darurat aman jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

"Amira! Tolong bawain jaket kulit hitamnya Kak Fino ke ruang ganti nomor tiga, katanya ketinggalan di atas sofa lipat!" seru Lina, salah satu panitia divisi acara, sambil berlari tergesa membawa setumpuk lembar rundown.

"Oh, oke, oke! Biar aku yang antar!" balas Amira cepat, langsung menyambar jaket kulit berat yang aromanya langsung menguar—bau khas cologne maskulin yang lembut.

Saat Amira berjalan menyusuri lorong sempit berhias kabel-kabel hitam yang melintang menuju ruang ganti, langkah kakinya mendadak melambat. Suara dua orang yang sedang berdebat dengan nada rendah terdengar menembus tirai pembatas kain beludru.

"Lo serius mau manggung pakai kalung itu, Fin?" suara bariton Alfian terdengar tajam, sarat akan ketidaksetujuan dan desakan emosi.

Amira mengerjap, refleks menghentikan langkahnya. Ia mengintip pelan dari balik sela-sela tirai yang sedikit tersingkap.

Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu meja temaram itu, Fino berdiri di depan cermin besar. Cowok itu sedang merapikan kerah kemejanya, dan tepat di lehernya, sebuah kalung tali hitam dengan bandul bintang emas berkilau memantulkan cahaya redup.

Fino perlahan menoleh, menatap kembarannya lewat pantulan cermin dengan senyum tipis yang tak mencapai mata.

"Iya. Kalung ini bagian dari masa lalu gue, Fian. Dan gue mau nunjukin ke diri gue sendiri kalau gue udah bangkit dari memori buruk itu," jawab Fino dengan suara tenang namun tegas.

Alfian mendengus kasar, melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya. Cowok itu sudah mengenakan pakaian serba hitam karena ia bertindak sebagai drummer pendamping di lagu pembuka bersama Fino malam ini.

"Bukan apa-apa. Tapi lo tahu kan kalau Amira bakal langsung ngeh kalau lihat kalung itu? Lo mau bikin dia bimbang lagi di antara kita berdua?" cecar Alfian, nadanya menyiratkan rasa insecure yang luar biasa besar—sesuatu yang tidak pernah ditunjukkan Alfian pada siapa pun kecuali pada gadis itu.

Fino membalikkan badan sepenuhnya, menatap Alfian lurus-lurus tanpa secercah rasa gentar.

"Fian... dengar ya," ucap Fino lembut, melangkah mendekati saudara kembarnya dan menepuk pelan bahu cowok itu.

"Gue emang sayang sama Lily. Tapi gue juga nggak sepicik itu buat ngerebut dia dari pacar saudara kembar gue sendiri. Kalung ini cuma pengingat buat gue tentang siapa diri gue dulu, bukan jangkar buat nahan dia di masa lalu."

Alfian terdiam rapat. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya menegang, namun ia tidak lagi mendebat argumen Fino.

Amira yang mendengarkan setiap patah kata dari balik tirai merasakan dadanya menghangat secara drastis. Fino adalah cowok yang memiliki hati seluas samudera, dan Alfian... si kulkas posesif itu ternyata selama ini menyimpan kecemasan luar biasa di balik sikap arogannya.

Merasa tidak sopan jika harus terus-terusan menguping, Amira buru-buru melangkah mundur, lalu sengaja melangkah dengan suara agak keras seraya mengetuk pintu kamar ganti dari luar.

Tok, tok, tok!

"Kak Fino! Ini jaket kulitnya ketinggalan di sofa depan!" seru Amira, berusaha menetralkan nada suaranya agar terdengar wajar.

Pintu bercat putih itu terbuka seketika. Fino muncul dengan senyum hangat yang langsung merekah di wajah tampannya.

"Ah, terima kasih banyak, Lily. Lo penyelamat banget," ucap Fino tulus, menerima jaket kulit tersebut dari tangan Amira.

Fino menatap Amira lekat-lekat sebelum menambahkan,

"Lo... cantik banget malam ini. Sempurna banget sama tema black-and-gold panitia."

Sebelum Amira sempat membuka mulut untuk mengucapkan terima kasih atas pujian itu, sebuah tangan besar dan kokoh tiba-tiba merangkul pinggang rampingnya dari samping dengan gerakan posesif yang cepat.

Aroma mint yang tajam langsung menusuk hidungnya.

Alfian muncul dari balik punggung Fino, menatap saudara kembarnya dengan tatapan setajam silet yang memperingatkan agar tidak melewati batas.

"Udah cukup basa-basinya? Waktunya naik panggung tinggal dua menit lagi, Fino," ketus Alfian dingin, menarik Amira lebih mepet ke sisi tubuhnya, seolah menegaskan batasan teritorial.

Fino hanya tertawa kecil, menggelengkan kepala melihat kelakuan kembarnya.

"Iya, Kapten Posesif. Gue duluan ya, Lily," pamit Fino sambil menepuk puncak kepala Amira sekilas sebelum melangkah pergi ke arah panggung utama.

Begitu sosok Fino benar-benar lenyap di balik tirai panggung, Amira langsung menoleh dan menyikut pinggang Alfian dengan kesal.

"Kebiasaan banget deh main sambar pinggang orang! Malu tahu dilihatin Fino!" protes Amira mendengus, mencoba melepaskan rangkulan itu.

"Biarin. Biar dia ingat batasan kalau lo itu punya siapa," jawab Alfian enteng tanpa rasa bersalah.

Cowok itu menunduk, memanfaatkan tinggi badan mereka untuk mengurung Amira dalam jarak yang sangat dekat di bawah temaram lampu lorong backstage.

Pensi malam ini membuat Alfian terlihat sepuluh kali lipat lebih mematikan; tatanan rambutnya disisir rapi ke atas memperlihatkan jidatnya, dan sorot mata elangnya memancarkan karisma yang luar biasa.

"Habis ini, giliran band kita yang naik," bisik Alfian, mendekatkan bibirnya tepat di sebelah daun telinga Amira hingga gadis itu meremang.

"Kalau nanti pas gue main drum lo ketahuan lirik-lirik cowok lain, atau sibuk teriak-teriak heboh karena terpesona sama vokalis lain... siap-siap aja gue culik habis acara ini selesai."

Amira merinding di seluruh sekujur tubuhnya.

"Dih, ancamannya ngeri banget! Emang mau diculik ke mana sih, Pak Ketua?!"

"Ke pelaminan," jawab Alfian tanpa jeda sepersekian detik pun, diucapkan dengan nada serius yang mutlak.

Bum!

Wajah Amira mendadak meledak panas. Kalimat gombal tingkat dewa dari seorang Alfian Pratama sungguh berhasil membuat saraf motoriknya lumpuh seketika!

Belum sempat Amira membalas serangan verbal itu, suara petikan gitar listrik dari atas panggung utama mulai menggelegar, disambut oleh lautan teriakan histeris dari ribuan penonton yang memanggil nama Fino dan Alfian secara bersamaan.

"Gue naik panggung dulu. Ingat pesen gue, jangan ke mana-mana!" pesan Alfian penuh penekanan, sebelum ia mengecup cepat puncak kepala Amira dan berlari menyusul Fino ke atas panggung yang menyilaukan mata.

Amira berdiri terpaku sendirian di lorong backstage. Tangannya perlahan naik menyentuh puncak kepalanya yang baru saja dikecup, sementara pipinya terus membara di tengah riuhnya dentuman musik rock pensi yang mengguncang malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!