Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.
Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.
Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Balik dan Debar yang Nyata
Aku menerima suapan daging ayam panggang madu itu dengan perasaan yang melambung tinggi ke awan. Rasa gurih dan manisnya berpadu sempurna, dengan debaran manis yang kini mendominasi seluruh dadaku.
Kami duduk berdampingan berdua, berbagi kotak bekal yang sama di tepi lapangan basket yang sunyi. Arga kembali menyodorkan potongan sayur dan daging ke arahku, sepasang mata tajamnya menatapku dengan kehangatan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tatapannya terlihat lembut yang mendadak memicu sesuatu di dalam kepalaku.
Tarikan memori secara paksa melemparkanku kembali ke dimensi lain. Aku teringat akan sebuah kepingan mimpi masa lalu yang sangat kurindukan. Di dalam mimpi itu, suasananya terasa begitu akrab dan hangat. Kami berdua tidak sedang berada di GOR kampus elit ini, melainkan masih mengenakan seragam putih abu-abu khas anak SMA.
Kami sedang berada di rumah Arga, duduk berdampingan berdua di depan televisi yang menyala saat kami memutuskan untuk bolos sekolah bersama. Di dalam rumah yang sunyi itu, hanya ada suara televisi yang mengabur, sementara atensi kami sepenuhnya tersita oleh satu sama lain.
Sosok pria yang selalu kusebut dengan panggilan sayang di dalam mimpi, menatapku dengan binar mata yang persis seperti yang kulihat saat ini.
"Via..." bisiknya lembut di dalam mimpi, menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga dengan jemarinya yang hangat.
Suasana mendadak hening, di tengah keheningan yang intim itu, dia mendekatkan wajahnya perlahan. Membuat jantungku berdegup kencang saat dia memiringkan kepala, lalu untuk pertama kalinya di dalam mimpi itu, Pria yang berwajah sama persis dengan Arga, menciumku tepat di bibir dengan begitu tulus dan penuh kelembutan, menyalurkan rasa cinta yang begitu besar hingga membuat dadaku sesak saat terbangun.
Deg.
Ingatan visual yang sangat intim dari mimpi itu mendadak terasa begitu nyata berputar di kepalaku. Ciumannya dalam mimpi seolah-olah kembali membekas saat ini juga. Sontak saja, rasa panas langsung menjalar hebat dari leher naik ke seluruh wajahku. Pipiku tiba-tiba memerah padam bagai kepiting rebus. Aku refleks menundukkan kepala dalam-dalam, meremas ujung kemejaku dengan gugup setengah mati.
Arga yang baru saja hendak menyantap potongan brokoli ke dalam mulutnya sendiri langsung menghentikan gerakannya di udara. Pria itu menurunkan sumpitnya, memiringkan kepalanya sedikit untuk mengintip wajahku yang sengaja kusembunyikan. Kedua alisnya bertaut dalam, memancarkan rasa bingung yang amat sangat ketara, saat melihat perubahan ekspresiku yang mendadak.
"Lu... kenapa, Via?" tanya Arga, suara baritonnya yang berat memecah keheningan di antara kami.
"Kok muka lu mendadak merah banget. Katsu panggangnya kemanisan atau lu mendadak pusing lagi?"
"Eh... E-enggak kok. Enggak apa-apa!" jawabku gelagapan, mendongak sedikit sambil mengibaskan kedua tanganku di depan wajah, mencoba mengusir hawa panas yang masih membakar pipiku.
"Makanannya enak banget, beneran. Gak kemanisan kok!"
"Terus kenapa muka lu kayak orang kepanasan gitu?" selidik Arga lagi, mata tajamnya menyipit penuh kecurigaan.
Pria itu meletakkan kotak bekal ke atas bangku, lalu dengan gerakan spontan, dia memajukan tubuhnya dan mengulurkan punggung tangannya dan menempelkannya perlahan ke atas dahi dan pelipisku untuk mengecek suhu tubuhku.
"Gak panas. Tapi pipi lu merah banget. Lu beneran gak ngerasa pusing akibat efek bola waktu itu?"
Sentuhan tangan Arga yang dingin namun terasa sangat kokoh di dahiku, justru membuat pasokan oksigen di paru-paruku serasa menipis. Jantungku berdegup lebih kencang lagi dari sebelumnya.
"B-beneran gak apa-apa, Arga..." bisikku parau, perlahan memundurkan tubuhku sedikit, agar tangannya terlepas dari dahiku. Aku menyengir canggung, mencoba mencari alasan paling logis di dalam otakku.
"Aku... aku cuma agak gerah aja tadi habis lari-lari turun dari tribun penonton. Iya, gerah gara-gara GOR-nya luas banget, hehe."
Arga menatap punggung tangannya sendiri yang baru saja terlepas dari dahiku, lalu beralih menatapku lagi dengan helaan napas panjang. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi heran yang tertahan, namun ada gurat kelegaan di matanya setelah tahu aku tidak sedang sakit.
"Aneh. GOR ini pakai AC sentral dan suhunya dingin, bisa-bisanya lu kegerahan," gumam Arga ketus, kembali mengambil kotak bekalnya dengan sumpit di tangan.
"Udah, cepetan habisin saladnya. Jangan melamun lagi, nanti lu kesurupan, ngerepotin gue nanti."
"Iya, iya. Tuan Protokol Kesehatan," jawabku sambil mengerucutkan bibir, mencoba menetralkan kembali debaran jantungku yang masih bertalu-talu.
Aku kembali menerima suapan sayur darinya dengan perasaan yang dipenuhi oleh rasa syukur yang luar biasa. Biarlah dia menganggapku aneh atau penuh teka-teki sore ini, karena bagiku, perubahan sikapnya yang mulai peduli dan menyentuh dahiku dengan penuh tanggung jawab tadi, sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pangeran yang selama ini hanya mencium dan mengasihi aku di dalam mimpi, perlahan-lahan kini mulai berwujud nyata di dalam kehidupannya yang sebenarnya.
Suapan terakhir dari dada ayam panggang madu itu, akhirnya menandai habisnya seluruh isi kotak bekal di tangan Arga. Keheningan intim di tepi lapangan yang sempat membuat pipiku merona merah, perlahan mulai mencair.
Arga meletakkan kotak plastik biru muda yang sudah kosong itu ke atas bangku, lalu mengelap tangannya dengan selembar tisu.
Pria itu menoleh ke arahku, menatap kemeja katun biru langit yang kupakai dengan sisa-sisa pandangan menyelidik yang beralih menjadi geli.
"Gue mau ganti baju dulu ke ruang loker tim," ujar Arga sambil bangkit berdiri, meregangkan tubuh tingginya yang atletis.
"Oh, oke, Arga!" jawabku spontan.
Namun, saking bersemangatnya dan karena otakku masih setengah melamun memikirkan potongan mimpi bolos sekolah tadi, tubuhku bergerak sendiri tanpa diperintah. Begitu Arga membalikkan badan dan melangkah lebar menyusuri pinggir lapangan menuju lorong gelap ruang ganti, aku langsung bangkit dari bangku dan... berjalan mengekor tepat di belakang punggungnya.
Langkah kaki kami beriringan. Arga berjalan santai tanpa menoleh, mengira aku hanya ikut berjalan menuju pintu keluar GOR. Tapi lucunya, aku malah terus berjalan tepat satu jengkal di belakangnya, menatap punggung tegapnya dengan tatapan berbinar-binar layaknya anak ayam yang takut kehilangan induknya.
Arga berbelok ke kiri memasuki koridor khusus pemain yang bertuliskan papan nama 'Dressing Room - Athletes Only'. Aku dengan polosnya tetap melangkah maju masuk ke koridor itu, bahkan bersiap ikut menerobos pintu ruang ganti pria yang setengah terbuka.
Merasa ada derap langkah kaki kecil yang ritmis terus mengikutinya sejak tadi, Arga mendadak menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu loker.
Duk!
Karena jarak kami yang terlalu dekat dan rem dadakanku yang blong, wajahku sukses menabrak punggung kerasnya dengan telak. Aku meringis kecil, memegangi hidungku yang mendadak terasa sedikit linu.
Arga memutar tubuhnya dengan cepat. Begitu dia berbalik, pria itu membelalakkan matanya secara sempurna, terkejut mendapati aku sudah berdiri di depan pintu ruang ganti pria dengan kotak bekal kosong di dekapan dadaku. Kedua alisnya bertaut dalam, menatapku dengan kombinasi rasa bingung dan geli yang amat sangat.
"Shavia Aurelien," panggil Arga, suara baritonnya yang berat bergema di koridor sepi.
"Lu... ngapain ngikutin gue sampai ke sini?"
Aku mengerjapkan mata beberapa kali, menoleh ke arah papan nama di pintu, lalu kembali menatap wajah tampan Arga yang kini berjarak sangat dekat dariku. Kesadaranku mendadak pulih seratus persen. Wajahku yang tadi sudah normal seketika kembali memerah padam dalam hitungan detik.
"Eh. Ah... ini... ini ruang ganti cowok ya?" tanyaku gelagapan dengan suara yang melengking saking paniknya.
"Ya iyalah. Lu pikir ini kantin?" Arga bersedekap dada, seulas senyuman jail yang sangat jarang dia tunjukkan kini terukir jelas di bibirnya.
Pria itu memajukan wajahnya sedikit, menatapku dengan mata menyipit penuh selidik. "Kenapa lu mengekor di belakang gue dari tadi? Lu... mau ikut masuk ke dalem juga nemenin gue ganti baju, hah?"
"I-ih. Enggak. Jangan ngaco deh kamu!" seruku heboh, reflek mundur tiga langkah, menjauh dari Arga, sampai punggungku hampir membentur dinding koridor.
"Aku... aku tadi cuma refleks jalan aja, Arga. Pikiranku lagi gak fokus, suwer. Aku gak bermaksud mau ngintip kamu kok!"
"Terus ngapain, jalan lu mepet banget di belakang punggung gue, sejak dari lapangan tadi?" goda Arga lagi.
Pria yang biasanya sedingin es batu ini, tampaknya benar-benar menikmati momen saat melihatku salah tingkah setengah mati ini.
"Kalau lu mau ikut masuk, gak apa-apa sih. Tapi anak-anak tim yang lain lagi pada mandi di dalem. Lu berani?"
"Argaaa! Jangan mesum ya!" Mukaku rasanya sudah matang seperti kepiting rebus.
Aku memeluk kotak bekal biruku erat-erat, siap mengambil langkah seribu untuk kabur dari koridor terkutuk itu.
"Aku tunggu di depan GOR aja. Sana cepetan ganti baju, gak usah banyak bercanda!"
Melihat tingkah panikku yang super heboh, tawa renyah Arga yang sangat pelan dan langka akhirnya lolos juga dari bibirnya. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala, menatapku dengan sorot mata yang penuh kehangatan tersembunyi.
"Iya, iya. Tunggu di halte depan aja, jangan di sini. Di sini dingin banyak AC," ujar Arga dengan nada suara yang melembut, tidak lagi ketus seperti hari-hari pertama kami bertemu.
"Gue gak bakal lama. Setelah ganti baju gue antar lu pulang."
"Eh? Kamu... mau anter aku pulang?" tanyaku, memastikan pendengaranku tidak salah.
"Ya. Tunggu di halte. Gak usah mengekor lagi."
Blam.
Pintu ruang ganti itu akhirnya tertutup. Aku berdiri terpaku di koridor sepi itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya melompat kecil di tempat sambil memekik tanpa suara dengan kegirangan.
Momen memalukan karena mengekor sampai ke depan loker pria mendadak berubah menjadi keberuntungan terbesar hari ini. Sang gunung es tidak hanya menghabiskan masakanku, tapi dia baru saja menawarkan tumpangan pulang secara sukarela. ini benar-benar ditutup dengan kemenangan telak bagi kelanjutan skenario misiku.