NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7,1

Yamada tidak mengayunkan pedang ke monster, seperti yang dipikirkan monster. Dia mengayunkan pedang kayunya dengan keras ke tanah di depannya, ke tumpukan daun kering dan tanah berdebu.

BRAK!

Debu, tanah, dan daun-daun kering beterbangan ke udara, membentuk kabut coklat tebal setinggi satu meter, menghalangi pandangan kedua monster di depan.

Monster-monster itu kehilangan pandangan, menggeram dan mengibaskan kepala, mencoba membersihkan mata mereka dari debu.

Yamada langsung berlari secepat mungkin menuju pohon besar yang miring itu, yang menjadi kunci rencananya.

"Ikuti aku! Cepat!"

Apa? Ikuti kemana?

"Percaya padaku! Untuk sekali ini saja percaya pada si pemalas!"

Yamada menunggu, berdiri di samping pohon miring itu, dengan napas terengah-engah, pedang kayu di tangan kanannya. Dia menunggu sampai monster pertama yang tadi jatuh, yang paling besar, mengejarnya dengan kemarahan, berlari dengan kecepatan penuh ke arahnya.

Monster itu berlari, menundukkan kepalanya dengan tanduk hitamnya mengarah ke depan, siap untuk menyundul dan menembus tubuh Yamada.

Tepat satu meter sebelum monster itu menabraknya, Yamada bergerak ke samping kiri, dengan gerakan geser yang dia pelajari dari latihan Elena tadi sore, gerakan memindahkan pusat gravitasi.

Monster itu tidak bisa berhenti. Kecepatannya terlalu tinggi. Momentumnya terlalu besar.

Monster itu menghantam pohon miring yang lapuk itu dengan kepalanya, dengan tanduknya, dengan seluruh kekuatan Level 12-nya.

DUAAK!

Suara benturan kayu lapuk dan tulang tengkorak yang keras.

Pohon besar yang sudah lapuk itu berguncang hebat, akar-akarnya yang sudah rapuh terlepas dari tanah, dan dengan suara berderak yang panjang— pohon itu tumbang, jatuh tepat menimpa tubuh monster itu.

Monster itu terjatuh, tertimpa batang pohon besar, kakinya terjepit, menggeram keras kesakitan dan marah, tidak bisa bergerak.

Yamada berbalik, terengah-engah, keringat bercucuran di dahinya meskipun udara malam dingin.

"Berhasil. Fisika dasar: manfaatkan massa dan gravitasi musuh untuk mengalahkannya. Hemat mana, hemat tenaga."

[Critical weakness detected on immobilized target.]

Sistem tiba-tiba menampilkan sebuah titik merah kecil berkedip-kedip di bagian leher monster yang tertimpa pohon, tepat di bawah rahangnya, di mana bulunya lebih tipis.

Yamada melihat titik itu.

Ada titik merah kecil.

"Jadi begitu. Titik lemahnya di sana."

Dia tidak punya senjata tajam. Pedang kayunya tidak akan bisa menembus kulit tebal monster itu. Dia melihat sekeliling, mencari batu.

Dia mengambil sebuah batu seukuran kepalan tangan, batu yang agak runcing.

Melemparkannya dengan sekuat tenaga ke titik merah itu.

TUK!

Batu itu mengenai tepat sasaran, titik merah itu.

Monster menggeram lebih keras, tapi tidak mati, hanya semakin marah, mencoba melepaskan diri dari timpaan pohon.

Yamada mengerutkan kening, kecewa.

"Kalau begitu... harus lebih dalam."

Dia mengambil napas dalam-dalam. Jantungnya berdebar sangat kencang, tangannya gemetar.

Bergerak. Satu langkah maju.

Dua langkah, mendekati monster yang menggeram dan mencoba mencakarnya dari bawah pohon.

Tiga langkah, dia berada tepat di samping kepala monster itu, bau anyirnya sangat menyengat.

Kemudian, dengan sisa keberaniannya, dia menusukkan pedang kayu yang patah ujungnya tadi, dengan ujung yang runcing karena patah, tepat ke titik merah kecil di leher monster itu, menggunakan seluruh berat tubuhnya.

CRACK!

Suara kayu patah yang kedua kalinya malam itu, tapi kali ini disertai suara daging yang tertusuk.

Pedang kayu yang sudah patah itu patah lagi, setengahnya tertinggal menancap di leher monster.

Monster itu terhuyung, matanya yang merah berkedip-kedip, geramannya berubah menjadi erangan pelan, lalu diam. Cahaya merah di matanya perlahan padam.

Yamada mundur beberapa langkah, jatuh terduduk di tanah, napasnya terengah-engah berat.

Monster itu masih berdiri, tertopang pohon, tapi sudah tidak bergerak. Mati.

"Sayang sekali, pedang kayunya hancur." Gumamnya, dengan nada yang masih sempat bercanda meskipun tangannya berdarah sedikit karena serpihan kayu.

Yamada! Di belakang!

Monster kedua yang tadi terkena debu, sudah pulih dan kembali menerkam dari belakang, marah melihat temannya mati.

Yamada tidak sempat menghindar, tubuhnya sudah terlalu lelah, kakinya lemas.

Namun— tepat sepersekian detik sebelum cakar itu menyentuh punggungnya—

[Emergency Defense activated. Host in critical danger.]

[Skill acquired: Danger Sense.]

Tubuh Yamada bergerak sendiri. Bukan atas perintahnya, tapi refleks yang ditanamkan oleh sistem.

Dia memiringkan tubuhnya ke kanan dengan gerakan yang tidak mungkin dilakukan secara sadar, gerakan yang melampaui batas tubuh Level 1.

Cakar monster yang seharusnya merobek punggungnya, hanya menyayat ujung mantel dan sedikit menggores kulit punggungnya, meninggalkan tiga garis perih.

Yamada jatuh berguling ke depan, berguling dua kali di tanah, lalu berdiri dengan cepat, meskipun lututnya gemetar.

Dia menatap tangannya yang tiba-tiba bergerak sendiri tadi.

"Skill baru. Lumayan, autopilot saat hampir mati."

[Danger Sense Lv.1]

[Effect: Detect immediate threats within 5 meters. Allows subconscious evasion. Cost: 10 MP per activation.]

Yamada tersenyum, meskipun punggungnya perih.

"Lumayan. Setidaknya aku tidak mati konyol dua kali dengan cara yang sama."

Pertarungan berlangsung selama beberapa menit berikutnya yang terasa seperti jam.

Yamada tidak lebih kuat daripada monster. Jauh dari itu. Kekuatannya 11, monster 30.

Tidak lebih cepat. Agility-nya 13, monster mungkin 25.

Tidak lebih tahan. Satu cakaran saja bisa merobek kulitnya.

Namun dia bisa berpikir. Dan dia bisa mengamati.

Dia memperhatikan pola serangan mereka. Serigala pertama selalu menyerang dari kanan bawah, mengarah ke kaki. Serigala kedua selalu melompat tinggi mengarah ke leher. Jarak serang mereka sekitar 1,5 meter. Gerakan mereka selalu didahului dengan geraman rendah dan kaki belakang yang menegang.

Lingkungan. Dia menggunakan pohon, menggunakan akar yang menonjol untuk membuat mereka tersandung, menggunakan debu, menggunakan bayangan.

Kebiasaan monster. Mereka adalah hewan kawanan, mereka marah jika temannya disakiti, mereka menjadi tidak terkoordinasi saat marah.

Dan sedikit demi sedikit— dia mulai memahami mereka. Bukan sebagai monster Level 12, tapi sebagai hewan yang bisa ditebak polanya.

Monster ketiga menerkam dari depan.

Yamada bergerak ke kiri, selangkah, sesuai pola yang sudah dia hafal.

Monster kedua menyerang dari samping kanan, seperti yang dia prediksi.

Yamada merunduk, pedang kayu sisa setengahnya masih di tangan.

Monster pertama yang tadi terjatuh karena pohon, sudah bangkit lagi dengan pincang, mencoba menggigit dari belakang.

Yamada menarik kain mantelnya yang sudah robek, melemparkannya ke wajah monster pertama yang menggigit, menutupi mata merahnya.

Kemudian berlari ke arah lain, ke arah lereng kecil yang tadi dia lihat saat berlari.

Dia mulai membaca gerakan mereka seperti membaca buku. Buku yang ditulis dengan cakar dan taring.

Kesadaran kedua, Yamada yang asli, yang dari tadi hanya bisa menonton dengan ketakutan, kini terdengar kagum, suaranya bergetar.

Kau... kau bisa melihat gerakan mereka? Bagaimana? Bahkan Ayah butuh bertahun-tahun untuk bisa membaca gerakan Shadow Wolf!

Yamada tersenyum, meskipun napasnya sudah sangat berat, bibirnya kering.

"Makanya aku bilang, aku tidak perlu lebih kuat. Menjadi lebih kuat itu merepotkan, harus latihan setiap hari. Aku hanya perlu membuat mereka melakukan kesalahan sendiri. Biarkan mereka mengalahkan diri mereka sendiri dengan kemarahan mereka. Itu jauh lebih hemat energi."

Yamada melihat sebuah lereng kecil di depannya, lereng tanah licin yang menurun ke sebuah parit kecil yang penuh air hujan.

Senyumnya melebar, ide malas yang jenius muncul lagi.

"Dan sepertinya aku tahu caranya untuk menghabisi dua sisanya sekaligus."

Beberapa menit kemudian, hutan kecil di pinggiran desa itu kembali sunyi.

Tiga monster tergeletak di tanah dalam posisi yang aneh.

Satu tertimpa pohon, dengan pedang kayu menancap di lehernya.

Dua lainnya tergeletak di dasar parit kecil yang licin, kaki mereka patah karena terpeleset saat mengejar Yamada yang sengaja melompat dan berpegangan pada akar di atas parit, membuat mereka jatuh dengan momentum mereka sendiri.

Yamada berdiri di atas lereng, di tepi parit, dengan napas yang berat, sangat berat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, bercampur dengan darah dari goresan kecil di punggung dan lengannya.

Lengannya terluka, tergores cakar. Punggungnya perih.

Namun dia masih berdiri. Level 1 melawan tiga Level 12, dan dia masih berdiri.

[Combat analysis complete. Analyzing battle pattern...]

[Experience gained: 37/100]

[Level Up Progress: 37%]

[Bonus Reward: Trait [Lazy Genius] - Learning efficiency increased by 5% due to successful application of environmental tactics.]

Yamada menatap tulisan EXP itu dengan mata lelah.

"Jadi membunuh monster memberikan EXP. Seperti game. Oke, masuk akal."

[Affirmative. Defeating enemies grants experience.]

"Kalau begitu..." Dia menatap monster yang tersisa di kejauhan, puluhan mata merah yang masih terlihat, yang belum mendekat, yang sepertinya hanya menonton pertarungan tadi. "...aku mungkin bisa naik level kalau mengalahkan mereka semua. Mungkin bisa jadi Level 2 malam ini."

Dia mencoba tersenyum, tapi senyumnya tidak bertahan lama.

[Warning. Critical Warning.]

[High-level entity detected approaching.]

[Threat level: EXTREME.]

Senyumnya menghilang seketika. Wajahnya yang sudah pucat karena lelah, menjadi lebih pucat lagi.

"Di mana? Di mana entitas itu? Berapa levelnya?"

[Behind you. 10 meters.]

Suhu di sekitar Yamada tiba-tiba turun drastis. Napasnya yang tadi menjadi uap putih kecil, kini menjadi uap tebal. Angin berhenti bertiup. Suara jangkrik hilang total.

Yamada perlahan berbalik. Gerakannya sangat pelan, kaku, seperti seseorang yang tahu bahwa di belakangnya ada sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.

Sebuah bayangan besar berdiri di antara pepohonan, di tempat yang beberapa detik lalu masih kosong.

Tingginya hampir tiga meter, jauh lebih besar dari serigala-serigala tadi. Tubuhnya masih seperti serigala, tapi jauh lebih besar, lebih berotot, dengan bulu hitam pekat yang seolah-olah menyerap cahaya bulan. Tanduk hitam di kepalanya tidak hanya satu, tapi tiga, melingkar seperti mahkota duri. Ekornya panjang, dengan ujung yang bercabang seperti cambuk.

Mata merahnya tidak hanya menyala, tapi membara, seperti dua buah batu bara yang terbakar di dalam kegelapan.

Yamada mencoba membuka status analisis, dengan tangan gemetar.

[Analyzing...]

[ERROR. Analysis failed.]

"Jangan bilang... levelnya terlalu tinggi sampai sistem tidak bisa baca?"

[Level: ???]

[Species: ???]

[Status: ???]

Yamada mundur satu langkah, kakinya hampir terpeleset ke dalam parit tempat dua monster tadi jatuh. Kakinya gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi karena aura yang dipancarkan makhluk itu. Aura yang membuat insting primitif di dalam tubuhnya berteriak untuk lari, untuk bersujud, untuk mati saja.

Monster itu menatapnya. Tidak langsung menyerang seperti serigala-serigala kecil tadi. Dia hanya menatap, dengan tatapan yang cerdas, tatapan yang bukan milik hewan.

Hanya menatap, seolah-olah sedang memastikan sesuatu, memastikan bahwa orang di depannya adalah orang yang benar.

Kemudian— monster tersebut berbicara. Mulutnya yang penuh taring tajam tidak bergerak seperti mulut manusia, tapi suaranya keluar, jelas, berat, bergema di dalam hutan kecil itu.

"Yamada."

Satu kata. Namanya.

Yamada membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir. Nama itu disebutkan dengan intonasi yang familiar, intonasi yang sama seperti yang didengar oleh Yamada yang asli di dalam ingatannya di hutan.

Suara itu bukan suara manusia. Suara itu dalam, berat, seperti batu besar yang digesek, tapi jelas menyebut namanya, dengan bahasa manusia.

Di dalam pikirannya, kesadaran kedua, Yamada yang asli, langsung berteriak dengan suara yang penuh ketakutan yang melampaui ketakutan mati, ketakutan akan sesuatu yang lebih dalam.

Itu dia. Itu suara itu. Suara yang memanggilku di hutan! Itu dia orangnya! Dia yang bilang 'Akhirnya kau kembali'!

Yamada menelan ludah, tenggorokannya kering seperti gurun.

"Siapa? Siapa kau?" Tanyanya, dengan suara yang hampir tidak keluar, serak karena lelah dan takut.

Monster besar itu tersenyum. Senyum serigala yang mengerikan, yang memperlihatkan deretan taring sepanjang jari manusia.

"Yang membawamu kembali." Jawabnya pelan. "Yang menjemputmu. Yang membangunkanmu."

[WARNING.]

[WARNING.]

[SYSTEM ERROR. UNKNOWN ENTITY INTERFERENCE.]

Jendela sistem di depan Yamada berkedip-kedip dengan liar, berwarna merah dan hitam, tulisan-tulisannya menjadi kacau, seperti televisi yang kehilangan sinyal.

[Synchronization unstable! 68% -> 62% -> 65% -> 59%]

Untuk pertama kalinya sejak Yamada menerima sistem, sejak dia melihat tulisan [System initialization: 3%] di dalam kegelapan setelah kematian—

sistem terlihat seperti kehilangan kendali. Sistem terlihat panik, terlihat takut.

Dan monster besar bermata merah itu, dengan mahkota tanduk hitam di kepalanya, kembali berkata, dengan suara yang lebih pelan, lebih dekat, seolah-olah dia berbisik tepat di telinga Yamada meskipun jaraknya masih 10 meter,

"Sudah waktunya kau mengingat siapa dirimu yang sebenarnya, Yamada. Bukan Yamada yang pemalas itu. Bukan Yamada anak desa itu. Tapi Yamada yang asli."

Dan di belakang monster itu, di dalam kegelapan Hutan Elaria...

puluhan mata merah lainnya mulai menyala, satu per satu, membentuk lingkaran cahaya merah yang mengepung Yamada dari segala arah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!