NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 NAMA DI BALIK NOMOR PEGAWAI

Damar Wicaksana menghilang sebelas hari setelah kecelakaan Kaluna. Ia tidak mengambil gaji terakhir, tidak menyelesaikan pengunduran diri, dan tidak pernah mengembalikan laptop KA-OFFICE-02.

Alamat terakhirnya tercatat di sebuah rumah kontrakan di pinggiran Jakarta. Catatan bagian sumber daya manusia itu sudah berusia tiga tahun. Tidak ada jaminan Damar masih tinggal di sana.

“Kita tetap pergi,” kata Kaluna.

Salindri membaca salinan data pegawai di tangannya.

“Alamat itu pernah diperiksa perusahaan setelah Damar tidak lagi masuk kerja. Tempatnya sudah kosong.”

“Mungkin pemilik kontrakan mengenalnya.”

“Bisa juga tidak ingat.”

“Daripada kita cuma duduk menunggu.”

Naren menyalakan mesin mobil tanpa ikut berdebat.

Arsen tidak datang. Ia masih berada di kantor untuk memeriksa siapa saja yang memiliki akses ke akun Sekretariat Ketua Dewan ketika laptop Kaluna dipindahkan. Sebelum mereka berangkat, ia sempat berkata akan mengirim hasil pemeriksaan melalui Salindri.

Kaluna tidak terlalu berharap. Setiap kali penyelidikan mendekati kantor dewan, catatan penting selalu hilang, nama pegawai terhapus, atau dokumen dibuat seolah tidak pernah ada.

Rumah kontrakan Damar berada di ujung gang sempit. Bangunannya terdiri dari enam pintu yang saling berhadapan, dengan jemuran menggantung di antara lorong.

Seorang perempuan tua sedang menyapu halaman ketika mereka datang.

“Cari siapa?” tanyanya.

“Damar Wicaksana,” jawab Kaluna. “Dulu pernah tinggal di sini.”

Perempuan itu berhenti menyapu.

“Damar yang kerja kantoran?”

“Iya.”

“Sudah lama pergi.”

“Apakah Ibu pemilik kontrakan?”

Perempuan itu mengangguk. “Saya Bu Yati.”

Salindri memperlihatkan kartu identitas dan menjelaskan bahwa mereka sedang mencari informasi mengenai barang perusahaan yang pernah dibawa Damar.

Bu Yati memperhatikan wajah Kaluna beberapa saat.

“Saya pernah lihat wajah Mbak di berita.”

Kaluna sudah terbiasa dengan kalimat tersebut.

“Saya Kaluna Adiswara.”

“Yang katanya meninggal itu?”

“Iya.”

Bu Yati tampak ingin bertanya lebih banyak, tetapi mengurungkan niat. Ia mempersilakan mereka duduk di bangku kayu dekat pintu rumahnya.

“Damar pergi kapan?” tanya Naren.

“Sekitar tiga tahun lalu. Tiba-tiba saja.”

“Dia berpamitan?”

“Tidak.”

“Barang-barangnya?”

“Sebagian ditinggal.”

Kaluna mencondongkan tubuh.

“Apa saja?”

“Pakaian, kipas kecil, beberapa buku. Tidak banyak. Dia tinggal sendirian.”

“Laptop?”

Bu Yati menggeleng.

“Saya tidak tahu. Kalau ada barang mahal, mungkin dia bawa.”

“Apakah seseorang pernah datang mencarinya?”

“Dari tempat kerja pernah. Dua orang datang menanyakan kenapa dia tidak masuk.”

“Kapan?”

“Beberapa hari setelah dia pergi.”

“Perusahaan Mahardika Medika?”

“Saya tidak ingat. Mereka hanya bilang dari kantor.”

“Ada orang lain?”

Bu Yati berpikir cukup lama.

“Sehari sebelum Damar pergi, ada laki-laki datang malam-malam.”

“Siapa?”

“Tidak tahu. Saya hanya melihat dari rumah.”

“Ciri-cirinya?”

“Pakai jaket gelap. Badannya lebih besar dari Damar.”

“Datang naik apa?”

“Mobil.”

“Nomornya ingat?”

Bu Yati tertawa kecil.

“Sudah tiga tahun. Saya tidak ingat nomor mobil.”

Kaluna menahan kekecewaan.

“Apa mereka bertengkar?”

“Saya tidak dengar jelas. Damar kelihatan takut, sih.”

“Takut bagaimana?”

“Dia beberapa kali menengok keluar, seperti memastikan tidak ada orang.”

Naren membuka foto Damar dari data pegawai dan memperlihatkannya.

“Ini orangnya?”

Bu Yati mengangguk.

“Iya.”

“Setelah laki-laki itu datang, Damar pergi?”

“Besok paginya saya masih lihat dia. Siangnya sudah tidak ada.”

“Apakah membawa koper?”

“Hanya tas punggung.”

“Barang-barangnya tidak diambil lagi?”

“Tidak pernah.”

Kaluna kembali ke pintu kamar yang dahulu ditempati Damar. Catnya sudah berubah dan sekarang dihuni penyewa lain.

“Barang yang tertinggal masih ada?”

“Dulu saya simpan beberapa bulan. Setelah tidak ada yang mengambil, sebagian saya buang.”

“Semua?”

Bu Yati mengingat-ingat.

“Ada satu kardus dokumen. Saya serahkan kepada orang yang datang mengaku saudaranya.”

“Kapan?”

“Mungkin dua minggu setelah Damar pergi.”

“Siapa namanya?”

“Bayu.”

Kaluna dan Naren saling pandang. Nama itu kembali muncul.

Di pesan Revan, Bayu memang disebut orang yang mau mengambil paket dari rumah Veyra. Sekarang seseorang yang mengaku bernama Bayu datang mengambil dokumen milik Damar.

“Bayu saudara Damar?” tanya Salindri.

“Katanya sepupu.”

“Pernah melihatnya sebelumnya?”

“Tidak.”

“Dia menunjukkan identitas?”

Bu Yati tampak mulai tidak nyaman.

“Waktu itu saya tidak berpikir macam-macam. Dia tahu nama lengkap Damar, tempat kerja, dan barang yang tertinggal.”

“Bagaimana wajahnya?”

“Umurnya mungkin sekitar tiga puluh. Rambut pendek. Ada bekas luka kecil di dagu.”

Kaluna mencatat ciri tersebut.

“Apakah Bayu mengambil laptop?”

“Saya tidak melihat ada laptop di kamar.”

“Dokumen apa yang diambil?”

“Satu kardus. Saya tidak membuka semuanya.”

“Apakah ada amplop perusahaan?”

“Ada beberapa map.”

“Warnanya?”

Bu Yati berpikir.

“Biru dan cokelat. Mungkin ada merah, tapi saya tidak yakin.”

Map merah Kaluna belum ditemukan. Ia tidak ingin memaksakan setiap benda berwarna merah menjadi petunjuk yang sama.

“Bayu datang dengan kendaraan?” tanya Naren.

“Sepeda motor.”

“Nomornya?”

“Tidak ingat.”

“Apakah dia meninggalkan nomor telepon?”

Bu Yati masuk ke rumah untuk mencari buku catatan lama.

Tak lama berselang, ia kembali membawa buku bersampul bunga yang sudutnya sudah rusak. Halaman-halamannya dipenuhi nama penyewa, pembayaran listrik, dan nomor telepon.

“Ini nomor yang dia tulis,” katanya.

Salindri memotret halaman tersebut. Naren langsung mencoba menelepon. Nomor sudah tidak aktif.

“Apakah tulisan ini dibuat Bayu sendiri?” tanya Kaluna.

“Iya.”

“Boleh kami memotret seluruh halaman?”

Bu Yati mengangguk.

Nama yang ditulis hanya Bayu tanpa nama belakang. Tidak ada alamat. Di samping nomor telepon terdapat catatan kecil mengenai waktu pengambilan kardus.

Kaluna memperhatikan bentuk tulisannya.

Huruf B dibuat dengan dua lengkungan besar. Huruf y memiliki tarikan panjang ke bawah.

Ia pernah melihat tulisan itu. Bukan pada dokumen perusahaan.

Kaluna mencoba mengingat di mana ia pernah melihat bentuk tulisan tersebut.

Pesan dari nomor Revan yang diperlihatkan Veyra hanya berupa teks di ponsel, bukan tulisan tangan. Berarti bukan dari pesan itu.

Kaluna mencoba mengingat dokumen lain, tetapi kepalanya mulai terasa berat.

“Jangan dipaksa,” kata Naren yang menyadari perubahan wajahnya.

“Aku pernah melihat tulisan seperti ini.”

“Di mana?”

“Aku belum ingat.”

Salindri menyimpan foto nomor tersebut.

“Kita bisa meminta data registrasi lama.”

“Nomornya sudah mati.”

“Operator tetap mungkin memiliki catatan pemilik awal.”

Bu Yati memandangi mereka.

“Damar ada masalah?”

“Belum tentu,” jawab Kaluna.

“Dia anaknya pendiam. Jarang bicara dengan orang lain.”

“Apakah dia pernah mengatakan sedang takut?”

“Tidak. Tapi sebelum pergi, dia seperti tidak tidur beberapa hari.”

“Bagaimana Ibu tahu?”

“Lampu kamarnya menyala sampai pagi.”

Kaluna kembali ke pintu kamar lama Damar.

Pegawai kontrak itu mungkin awalnya hanya diminta membawa laptop dari satu lantai ke lantai lain. Setelah itu, perangkat tersebut digunakan untuk mengirim pesan palsu dan dibawa keluar kantor memakai namanya.

Kalau Damar mengetahui apa yang terjadi, seseorang mungkin memaksanya pergi. Kalau tidak tahu, ia tetap menjadi orang terakhir yang bisa menghubungkan laptop Kaluna dengan Bayu.

“Damar punya keluarga?” tanya Kaluna.

“Katanya ibunya tinggal di Cirebon. Tapi saya tidak pernah bertemu.”

“Alamatnya?”

Bu Yati membuka halaman lain.

Data pendaftaran kontrakan mencantumkan nama kontak darurat: Ratna Wicaksana. Di bawahnya ada nomor telepon lama dan alamat sebuah desa di Kabupaten Cirebon.

Mereka berterima kasih kepada Bu Yati, lalu kembali ke mobil.

Begitu pintu tertutup, Salindri mengirim nomor Bayu serta data kontak keluarga Damar kepada staf kantornya.

“Jangan langsung berangkat ke Cirebon,” katanya kepada Kaluna.

“Aku belum mengatakan mau berangkat.”

“Kamu memikirkannya.”

Naren menyalakan laptop.

“Ada cara lebih cepat. Kita hubungi nomor kontak ibunya dulu.”

Nomor tersebut masih aktif. Seorang perempuan menjawab setelah dering panjang.

Salindri memperkenalkan diri dan menanyakan Damar. Suara di seberang langsung berubah hati-hati.

“Damar tidak tinggal di sini.”

“Kapan terakhir Ibu bertemu dengannya?”

“Sudah lama.”

“Kami sedang mencari informasi mengenai pekerjaannya di Mahardika Medika.”

“Saya tidak tahu apa-apa.”

“Kami tidak sedang menuduh Damar, Bu.”

Perempuan itu terdiam.

Salindri melanjutkan, “Damar membawa sebuah laptop perusahaan sebelum menghilang. Kami cuma ingin memastikan dia baik-baik saja.”

“Dia tidak menghilang.”

Kaluna langsung mengangkat wajah.

“Kalau begitu... Ibu tahu Damar di mana?” tanya Salindri.

“Tidak.”

Jawaban itu terlalu cepat.

“Ibu Ratna, kami bisa datang dan bicara langsung.”

“Tidak perlu.”

“Apakah Damar pernah menghubungi setelah meninggalkan Jakarta?”

Keheningan berlangsung cukup lama.

“Sekali,” jawab perempuan itu akhirnya.

“Kapan?”

“Beberapa bulan setelahnya.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia bilang baik-baik saja dan jangan mencari.”

Kaluna terdiam.

Kalimat itu hampir sama dengan pesan palsu yang dikirim menggunakan akunnya.

“Nomor apa yang dipakai Damar?” tanya Salindri.

“Nomor umum. Setelah itu tidak bisa dihubungi.”

“Apakah dia menyebut seseorang bernama Bayu?”

Sambungan langsung terputus.

Salindri mencoba menelepon kembali. Tidak dijawab.

“Dia mengenal nama Bayu,” kata Kaluna.

“Belum tentu,” jawab Salindri. “Bisa saja dia takut karena pertanyaan kita terlalu banyak.”

“Dia menutup telepon tepat setelah nama itu disebut.”

Naren membuka informasi nomor Bayu yang diberikan Bu Yati.

“Kita tunggu dulu hasil dari operator.”

Mereka belum sempat meninggalkan gang ketika staf Salindri mengirim hasil awal.

Nomor Bayu terdaftar atas nama seorang lelaki bernama Hendra Saputra.

Hendra pernah melaporkan kartu identitasnya hilang sebelum nomor itu didaftarkan.

“Berarti identitas orang itu bisa saja dipakai orang lain,” kata Salindri.

Kaluna mengangguk pelan.

“Cari Hendra,” katanya.

“Sudah,” jawab Salindri sambil membaca pesan berikutnya.

Alamat pada identitas itu ternyata tidak berhubungan dengan Mahardika Medika.

Identitas Bayu masih belum jelas.

“Berarti ada yang sengaja menutupi jejak,” kata Kaluna.

Naren mengangguk.

“Atau dia memastikan semua yang terkait laptop dan rekening itu sampai ke tangannya.”

Telepon Kaluna bergetar.

Pesan dari Arsen masuk.

Aku menemukan data perusahaan penyedia pegawai kontrak. Damar tidak direkrut langsung oleh Prima Karya Solusi. Ia diajukan melalui rekomendasi khusus.

Kaluna segera menelepon.

“Rekomendasi dari siapa?”

“Aku belum punya nama orangnya.”

“Terus, apa yang kamu dapat?”

“Surat rekomendasinya berasal dari Kantor Ketua Dewan.”

Kaluna memejamkan mata sebentar.

“Lagi.”

“Aku tahu.”

“Apakah Bramasta menandatanganinya?”

“Tidak. Tanda tangan kepala sekretariat lama.”

“Di mana orang itu sekarang?”

“Sudah pensiun.”

“Hubungi.”

“Aku lagi cari alamatnya.”

Kaluna memperhatikan Salindri dan Naren.

Semua nama itu kembali mengarah ke tempat yang sama. Damar ditempatkan melalui rekomendasi Kantor Ketua Dewan. Ia menerima laptop Kaluna. Bayu mengambil paket rekening dan dokumen milik Damar. Nama orang yang memberi perintah tetap tidak muncul.

Sebelum sambungan ditutup, Arsen berkata, “Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Damar pernah menandatangani laporan penyerahan laptop.”

“Dia menyerahkannya kepada siapa?”

“Nama penerimanya tidak terbaca. Tapi ada catatan tangan di bagian bawah.”

Arsen mengirim foto dokumen tersebut.

Kaluna memperbesar tulisan di sudut formulir.

Diserahkan kepada B. sesuai arahan.

Huruf B pada catatan itu memiliki dua lengkungan besar. Huruf berikutnya memiliki tarikan yang sama seperti tulisan dalam buku Bu Yati.

Bayu bukan cuma nama yang muncul setelah Damar menghilang. Di catatan ini, Damar sendiri menulis bahwa laptop Kaluna diserahkan kepada B.

Kaluna memeriksa tulisan itu lagi.

Laptop yang digunakan untuk mengirim pesan palsu tidak lagi berada di tangan Damar ketika dibawa keluar gedung.

Damar hanya membawanya melewati gerbang. Setelah itu, laptop tersebut berpindah ke tangan Bayu.

Beberapa hari kemudian, Damar menghilang tanpa meninggalkan jejak.

1
Adinda
Arsen dan Elara didukung juga keluarganya yang melakukan itu, mungkin Arsen selingkuh sama Elara dan mencoba menyingkirkan kaluna demi simpanannya
A.A.Pusung: makasih kk cantik sudah mampir lagi ^_^
total 1 replies
Adinda
Arsen sendiri dalangnya mungkin dengan membunuh kaluna dia bisa menikah dengan simpanannya sendiri
Adinda
biarin aja dulu kaluna nanti kalau dia udah besar nanti dia bakalan menyesal
A.A.Pusung: ^_^ Makasih Sudah mampir
total 1 replies
Adinda
kaluna cerai aja sama Arsen buat apa sama pria penghianat istrinya belum ditemukan malah nikah lagi sama naren aja kaluna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!