Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 27
"Ayah, ahilnya pulan juda," ucap Leoric dengan begtu riangnya ketika duduk dipangku oleh Lucien di meja makan. Bocah itu terus tersenyum riang dengan kehadiran Lucien.
"Apa rindu hmm?" tanya Lucien. Dia dengan telaten menyuapi Leoric saat sarapan.
"ya, Leo lindu Ayah," jawab Leoric bersemangat.
Lucien tersenyum lebar, dia melabuhkan kecupuan singkat di pipi sang putra.
Pemadangan tersebut tertangkap mata oleh beberapa pelayan dan kesatria penjaga yang ada di kastel. Mereka hanya bisa membuka mulut mereka dengan lebar.
Selama berada di sini para pelayan dan juga kesatria melhat sisi lain dari sang kaisar yang belum pernah dilihat sebelumnya. Lucien yang dingin dan bahkan juga kejam dan tak kenal ampun itu, di sini bisa bersikap lembut, hangat dan penuh kasih sayang. Sorot matanya ketika memandang Cattleya dan Leoric juga penuh cinta.
Sangat bertentangan dengan sikap Lucien ketika berada di istana kekaisaraan.
"Apa benar itu Baginda?" tanya salah satu pelayan yang baru saja menyajikan makanan dan sudah kembali ke dapur.
"Sungguh sangat berbeda bukaan? Beliau benar-benar tidak seperti Baginda," jawab yang lainnya.
Namun perlu diakuti bahwa mereka cukup merasa senang dengan sikap Lucien yang seperti ini. Terasa jauh lebih manusiawi ketimbang sebelumnya.
Lucen di kastel ini bersama Leoric dan Cattleya bisa bersikap layaknya manusia. Dia tersenyum, tertawa, dan bercanda. Dan mereka bersyukur akal hal tersebut.
"Catty, ayo ikut aku ke ibu kota."
Tak!
Cattleya langsung meletakkan sendok an pisau yang dipegangnya. Pandangannya terarah kepada Lucien. Perasaannya seketika menjadi tidak nyaman.
"Ibu kota?" tanyanya memastikan bahwa apa yang didengarnya tadi bukan sebuah kesalahan.
"Ya Ibu kota. Di sana kamu akan jauh lebih aman dari pada di sin," jawab Lucien dengan penuh keyakinan.
Cattelya meremass roknya, bola matanya bergerak tak berarah. Wajahnya seketika menjadi pucat. Beberapa kali Cattleya menggigit bibirnya sendiri.
Lucien mengerutkan keningnya. Dia tahu itu adalah ekspresi ketakutan.
"Apa dia takut akan ditemukan oleh Cale?"tanya Lucien dalam hati. Perubahan air muka Cattleya mmebuat Lucien menjadi sedikit khawatir. Ia memanggil pengasuh Leoric, meminta untuk membawa Leoric pergi bermain.
"Ada apa, Catty? Kenapa kamu seperti takut begitu?" tanya Lucien. Dia beranjak dari tempat duduknya dan duduk tepat di sebelah Cattleya.
Cattleya tak langsung menjawab. Nafasnya yang sejenak terhenti, membuat wanita itu memilih mengaturnya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Lucien.
"Ambil nafas mu pelan-pelan, dan buanglah perlahan. Setelah itu coba kau ceritakan keresahanmu itu. Mendengar kata ibu kota, kenapa kamu tampak ketakutan sepereti ini?"
Cettleya masih terdiam. Pertanyaan Lucien membuatnya teringat dengan kejadan 3 tahun silam yang dialamnya.
Bagaimana tidak takut, jika dia kembali ke Ibu Kota Kekaisaran, maka sama saja dia menyerahkan dirinya.
Cattleya masih berpaku pada plot novel yang dibacanya. Padahal sudah banyak hal yang berubah dan plot ceritanya juga sudah jauh menyimpang.
"S-saya, saya tidak apa-apa Tuan." Cattleya menjawab dengan penuh kegugupan. Keringan mengucur deras hingga membuat wajahnya basah.
Lucien menggeleng, reaksi ini bukan reaksi orang yang tidak merasa apapun. Reaksi ini jelas reaksi orang yang sangat ketakutan terhadap sesuatu seolah nyawanya terancam.
Lucien sudah lama hidup di medan perang. Dia bisa tahu bagaimana reaksi orang yang tengah terpojok.
"Catty," kata Lucien. Dia meraih tangan Cattleya dan menggenggamnya erat.
"Coba ceritakan kegelisahanmu itu padaku," imbuhnya.
Cattleya melayangkan pandangan ke arah Lucien. Matanya berkaca-kaca dan air matanya siap akan tumpah. Namun Cattleya berusaha menahannya dengan sangat baik hingga tak terjadi.
"J-jika saya ke ibu kota, mungkin saya akan mati."
Degh!
TBC