Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Beautiful Palace Is a Trap
Cahaya bulan separuh memantul di atas permukaan kolam giok di halaman belakang Kediaman Fenghua. Angin malam musim gugur yang menusuk tulang membawa aroma melati liar, menciptakan atmosfer yang tampak begitu tenang dan puitis dari luar. Namun bagi Ye Xinyue, setiap sudut istana ini tidak lebih dari sebuah jebakan beracun yang dirancang dengan estetika tingkat tinggi.
Ia berdiri di ambang jendela kamarnya, menatap nampan kayu berisi sepuluh kotak perhiasan batu giok dan jubah sutra bersulam benang emas yang tadi pagi diantarkan oleh utusan Istana Utama. Di bawah pendar cahaya lilin, batu-batu giok itu berkilauan indah, seolah menjanjikan kekuasaan dan kemewahan yang diimpikan setiap wanita di Istana Dalam.
Xinyue mengulurkan tangannya, jemarinya yang lentik menyentuh permukaan giok hijau pekat yang dingin. Otak hukumnya, yang terbiasa menganalisis pasal-pasal pidana dan motif kejahatan, sama sekali tidak terbuai oleh kilauan tersebut.
"Indah, sempurna, dan mematikan," gumam Xinyue pelan pada dirinya sendiri. "Setiap benang emas ini adalah rantai, dan batu giok ini tidak lain adalah umpan untuk memancing para predator keluar dari sarangnya."
"Apakah Anda mencemaskan sesuatu, Yang Mulia Selir?" tanya Mingzhu yang melangkah masuk seraya membawa lentera kertas. Gadis pelayan itu memandang majikannya dengan raut cemas. "Sejak pulang dari Perbendaharaan Dokumen tadi sore, Anda terus menatap hadiah-hadiah dari Kaisar itu."
Xinyue memutar tubuhnya perlahan, menyandarkan punggungnya pada bingkai jendela kayu. "Mingzhu, jika seseorang memberimu hadiah yang sangat mahal tanpa meminta imbalan apa pun secara langsung, apa yang akan kau pikirkan?"
Mingzhu berpikir sejenak, lalu menjawab jujur, "Tentu saja... saya akan berpikir orang itu sangat mengasihi saya, Yang Mulia."
Xinyue tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang dipenuhi ironi. "Itulah bedanya dunia nyata dengan permainan politik di tempat ini. Zhao Fengting bukanlah pria yang bertindak berdasarkan emosi sentimental atau rasa kasih sayang. Dia adalah seorang penguasa mutlak yang menghitung setiap langkahnya seperti pemain catur ulung."
Ia melangkah mendekati meja, mengambil salah satu gelang giok yang paling berkilau, lalu mengamatinya di bawah cahaya lilin.
"Dengan memberiku kemewahan yang mencolok ini secara mendadak, dia baru saja memasang target besar di punggungku," lanjut Xinyue dengan suara datar namun tajam. "Dia ingin para selir lain merasa terancam. Dia ingin Selir Liang panik dan Selir Chen bertindak gegabah. Istana yang indah ini bukan tempat perlindungan, Mingzhu... ini adalah arena jebakan. Dan kemewahan ini adalah cara Zhao Fengting memaksa lawan-lawannya menyingkapkan kartu truf mereka."
Mingzhu menelan ludah, wajahnya memucat saat menyadari implikasi dari perkataan majikannya. "Lalu... lalu apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia? Jika Istana Utama terus mengirimkan hadiah-hadiah seperti ini, Selir Liang pasti tidak akan tinggal diam."
"Kita ikuti permainannya, tapi dengan aturan kita sendiri," sahut Xinyue dingin.
Sebelum Mingzhu sempat bertanya lebih lanjut, ketukan pelan di pintu gerbang luar memecah keheningan malam. Seorang kasim muda dari Perbendaharaan Dokumen Kerajaan masuk dengan tergesa-gesa, membungkuk dalam-dalam di halaman.
"Memberi hormat kepada Selir ke-20," tutur kasim itu dengan suara bergetar. "Hamba membawa titah rahasia dari Pengawas Agung Perpustakaan. Besok pagi, Anda diperintahkan untuk memeriksa ulang seluruh arsip pengeluaran kas militer wilayah barat dari lima tahun lalu."
Xinyue menyipitkan matanya. Kas militer wilayah barat? Itu adalah wilayah kekuasaan faksi keluarga Selir Liang. Klan Liang telah memegang kendali atas logistik militer di barat selama lebih dari satu dekade.
"Siapa yang mengeluarkan perintah pemeriksaan ini?" tanya Xinyue santai, walau otaknya sudah bekerja kilat.
"Titah langsung dari Kaisar, Yang Mulia," jawab kasim itu menunduk makin dalam. "Yang Mulia Kaisar menyatakan bahwa hanya Pengawas Ye yang memiliki ketelitian untuk memeriksa dokumen-dokumen berisiko tinggi tersebut."
Setelah kasim itu mundur dan menghilang di kegelapan malam, Xinyue tertawa rendah sebuah tawa tanpa rasa humor.
"Lihat?" ujar Xinyue seraya menoleh pada Mingzhu. "Belum ada 12 jam sejak aku menyatakan menolak bertanding di taman siang tadi, dan dia sudah melempar dokumen paling berbahaya di kekaisaran ini ke mejaku."
Zhao Fengting tidak hanya ingin menyeretnya ke dalam konflik Istana Dalam; pria itu memanfaatkan keahlian analisis hukumnya untuk membedah korupsi klan militer terbesar di kekaisaran. Jika Xinyue menemukan bukti korupsi klan Liang, Selir Liang dan seluruh faksi militer barat akan berusaha menghancurkannya. Namun jika Xinyue berpura-pura tidak menemukan apa pun, Zhao Fengting sendiri yang akan mengeksekusinya karena dianggap tidak berguna.
Ini adalah jebakan ganda yang dirancang secara presisi.
Xinyue melangkah kembali ke meja perhiasannya. Ia mengambil gelang giok yang tadi dipegangnya, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu dengan denting keras.
"Dia berpikir bisa mengurungku di dalam jebakan indah ini," gumam Xinyue, mata jernihnya memancarkan tekad yang dingin dan tajam. "Dia ingin melihatku ketakutan dan merangkak memohon perlindungannya."
Xinyue berjalan menuju meja tulisnya, membuka gulungan kertas kosong, dan mencelupkan kuasnya ke dalam tinta hitam.
"Namun dia lupa satu hal," bisik Xinyue seraya menorehkan karakter pertama di atas kertas beras. "Seorang pengacara yang terjebak di dalam hukum musuh tidak akan menangis meminta pertolongan... dia akan mencari celah hukum dalam aturan main itu dan menghancurkan jebakannya dari dalam."
Malam makin larut di Kediaman Fenghua. Di bawah pendar cahaya lilin yang temaram, Ye Xinyue mulai menyusun strategi pertahanannya sendiri bukan sebagai selir yang memperebutkan cinta seorang tiran, melainkan sebagai seorang ahli hukum yang siap membongkar skandal terbesar di Dinasti Tianyu.