NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27. Harga dari Sebuah Nyawa

Tujuh hari setelah Tang Hyun dibawa kembali ke Chang'an dengan tubuh yang hampir tidak bernyawa dan dengan tangan kanan yang dibalut perban tebal karena dia memotong telapaknya sendiri untuk menetralkan "Lonceng Musim Dingin" yang melilit leher Tang Yue, istana yang biasanya ramai dengan laporan dan jamuan menjadi sunyi dalam cara yang berbeda, sunyi yang berat, karena di dalam kamar paviliun bunga plum, Permaisuri Xinyue tidak pernah meninggalkan sisi suaminya semenit pun, dia yang menyuapi obat, dia yang mengganti perban, dia yang duduk menatap napas Tang Hyun yang naik turun seperti orang yang sedang berjalan di atas tali di antara hidup dan mati, dan di luar kamar, Kaisar Tang Ming berdiri menjaga seperti patung, tidak tidur, tidak makan, hanya menunggu kabar bahwa ayahnya membuka mata, sementara Tang Lei yang biasanya paling ribut malah duduk di lantai dengan buku racun di pangkuan, mencoba membaca cara membuat penawar untuk kehilangan darah yang tidak pernah dia bayangkan akan digunakan untuk ayahnya sendiri.

Dokter istana berkata bahwa Tang Hyun selamat karena tubuhnya sudah terlalu sering terpapar racun sehingga memiliki daya tahan di atas manusia biasa, tetapi mereka juga berkata dengan jujur bahwa tangan kanannya mungkin tidak akan bisa memegang jarum lagi seperti dulu, sarafnya terlalu rusak, ototnya terlalu lemah, dan jika dia memaksa, maka rasa sakitnya akan seperti ribuan jarum ditusukkan setiap hari, sebuah vonis yang membuat Xinyue menggigit bibir sampai berdarah karena dia tahu betul betapa jarum adalah perpanjangan dari tangan suaminya, dan betapa kehilangan itu sama dengan memotong sayap seekor burung yang sudah terbang selama 40 tahun.

Pada hari kedelapan, saat fajar, Tang Hyun akhirnya membuka mata, dan hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kayu paviliun yang sudah dia hafal, dan hal kedua yang dia lihat adalah wajah Xinyue yang tirus, dengan lingkaran hitam di bawah mata, dan dengan rambut yang tidak diikat rapi seperti biasanya, dan di sampingnya, Tang Yue duduk di lantai, memeluk lutut, dan begitu melihat ayahnya sadar, gadis itu langsung terisak dan berkata dengan suara pecah, "Ayah, maaf, semua ini salahku karena aku bandel ingin ke Sichuan."

Tang Hyun ingin mengangkat tangan untuk mengusap kepala putrinya, tetapi lengannya terasa seperti ditarik seribu batu, jadi dia hanya menggerakkan jari dan tersenyum lemah, "Bukan salahmu," katanya dengan suara serak, "salah ayah karena membiarkan dunia masih punya orang yang mau menculik anak karena nama."

Xinyue langsung menuang air dan menyuapinya sedikit demi sedikit, "Minum dulu. Jangan bicara."

"Aku harus bicara," jawab Tang Hyun, "karena jika aku tidak bicara sekarang, maka aku takut lupa apa yang harus kukatakan pada anakku."

Dia menatap Tang Yue, "Yue, lihat ayah. Kau tidak lemah. Kau berlari. Kau tidak menoleh. Kau mencari bantuan. Itu bukan tindakan anak penakut. Itu tindakan anak Tang. Dan aku bangga padamu."

Tang Yue menangis lebih keras dan memeluk tangan ayahnya yang tidak terluka, "Tapi tangan Ayah... karena aku..."

Tang Hyun memotong, "Tanganku sakit. Ya. Tapi lebih sakit kalau aku pulang tanpa kau. Jadi ini bukan harga. Ini pilihan."

Xinyue menunduk dan menggenggam tangan suaminya yang sehat, "Kau gila. Kau tahu betapa berharganya tangan itu untukmu?"

"Aku tahu," jawab Tang Hyun menatap istrinya, "dan aku juga tahu betapa berharganya anak kita untukku. Jadi aku memilih yang lebih berharga."

Malam itu, berita bahwa Tang Hyun sadar menyebar ke seluruh istana, dan keesokan paginya, Kaisar Tang Ming masuk bersama para menteri untuk membahas apa yang harus dilakukan pada "Tangan Pembalas Desa Ling", kelompok yang sekarang semua anggotanya ditahan di penjara bawah tanah istana dan yang menuntut eksekusi atau setidaknya penggal kepala sebagai pembalasan, tetapi Tang Hyun yang masih terbaring meminta untuk berbicara, dan dengan bantuan Xinyue dia dipapah ke kursi di aula kecil, bukan singgasana, karena dia tidak ingin terlihat seperti hakim, dia ingin terlihat seperti ayah.

"Kalian ingin membunuh mereka," kata Tang Hyun kepada para menteri, "karena mereka ingin membunuh anakku. Aku mengerti. Aku juga ingin. Tapi jika aku membunuh mereka, maka putriku akan tumbuh di dunia yang sama dengan dunia yang menciptakan mereka, dunia yang percaya bahwa darah dibayar dengan darah."

"Jadi apa yang Yang Mulia sarankan?" tanya seorang menteri tua dengan nada sinis.

"Kirim mereka ke perbatasan," jawab Tang Hyun, "bukan sebagai tahanan, tapi sebagai pekerja. Di setiap klinik 'Bunga Plum' yang kita dirikan. Biarkan mereka melihat anak-anak yang mereka benci sembuh karena tangan mereka. Biarkan mereka memberi makan orang yang mereka kira musuh. 20 tahun. Tanpa pedang. Tanpa racun. Hanya dengan obat."

Aula menjadi gaduh, karena itu hukuman yang lebih kejam daripada mati bagi orang yang bangga dengan kebencian, dan Tang Ming menatap ayahnya lama, lalu mengangguk, "Keputusan Kaisar. Disetujui."

Setelah sidang, Tang Hyun kembali ke paviliun dan pingsan karena kelelahan, dan ketika dia bangun dua hari kemudian, hal pertama yang dia lakukan adalah mencoba mengangkat cangkir teh dengan tangan kanannya, dan cangkir itu jatuh dan pecah, dan rasa sakitnya menjalar sampai ke bahu, membuat dia mengerang, dan Xinyue yang melihat itu langsung berlari dan memeluknya dari belakang, "Jangan. Biarkan aku yang lakukan."

"Aku harus bisa," kata Tang Hyun dengan frustrasi yang jarang dia tunjukkan, "aku Tangan yang Menyembuhkan. Tanpa tangan, aku siapa?"

"Kau suamiku," jawab Xinyue tegas, "kau ayah anak-anak kita. Kau Tang Hyun. Bukan jarumnya."

Kalimat itu menamparnya lebih keras daripada rasa sakit, dan untuk pertama kalinya sejak dia berumur 10 tahun, Tang Hyun menangis, bukan karena lemah, melainkan karena lega, karena ada orang yang mengingatkannya bahwa dia lebih dari sekadar keterampilan.

Minggu-minggu berikutnya adalah minggu yang paling lambat dalam hidupnya, karena dia harus belajar lagi hal-hal dasar, makan dengan tangan kiri, menulis dengan tangan kiri, dan Xinyue yang selalu di sampingnya, memotongkan makanan, mengikatkan rambutnya, dan di malam hari membacakan laporan dari klinik untuknya karena dia tidak bisa menulis, dan Tang Yue yang merasa bersalah setiap hari datang membawa bunga, membawa buku, dan duduk menemani ayahnya tanpa banyak bicara.

Suatu sore, ketika Tang Hyun sedang mencoba meracik obat dengan satu tangan, dia gagal, dan semua bahan tumpah, dan dia memukul meja dengan frustrasi, "Aku tidak berguna!"

Tang Yue yang ada di pintu langsung masuk dan berlutut, "Ayah bukan tidak berguna. Ayah menyelamatkanku. Itu lebih berguna daripada seribu ramuan."

Tang Hyun menatap putrinya, dan untuk pertama kalinya dia melihat bahwa anaknya sudah dewasa, bukan anak kecil yang perlu dilindungi lagi, melainkan orang yang bisa berdiri dan berkata, "Sekarang giliranku yang melindungi Ayah."

Dia menarik napas panjang, "Baiklah. Ajar aku. Ajar aku cara hidup dengan satu tangan."

Dan begitu, Tang Yue menjadi guru ayahnya, dia mengajari cara mengikat perban dengan satu tangan, cara menuang teh tanpa tumpah, cara menulis lebih lambat tetapi lebih rapi, dan setiap kali Tang Hyun putus asa, Xinyue akan duduk di sampingnya dan berkata, "Kau menyelamatkan nyawa putri kita. Jangan bilang itu tidak ada artinya."

Sebulan kemudian, utusan dari perbatasan datang membawa kabar bahwa "Tangan Pembalas Desa Ling" sudah mulai bekerja di klinik, dan bahwa pada hari ketiga, salah satu dari mereka menangis ketika melihat anak yang demamnya turun karena obat yang dia racik, sebuah laporan kecil yang membuat Tang Hyun menutup mata dan berbisik, "Maka sakit ini tidak sia-sia."

Di malam bulan purnama, ketika rasa sakit di tangannya paling parah, Xinyue membawanya ke paviliun, dan mereka duduk seperti dulu, hanya saja sekarang Tang Hyun bersandar di bahu istrinya karena dia tidak kuat duduk tegak terlalu lama.

"Kau menyesal?" tanya Xinyue pelan.

"Tidak," jawab Tang Hyun, "karena jika aku harus memilih lagi antara tanganku dan nyawa Yue, aku akan memilih hal yang sama. Seribu kali."

"Bagaimana jika suatu hari Lei atau Ming dalam bahaya?" tanya Xinyue.

"Maka aku akan lakukan hal yang sama," jawab Tang Hyun, "karena menjadi ayah bukan tentang menjaga diri sendiri tetap utuh. Tapi tentang memastikan anak-anak kita tetap utuh."

Xinyue menggenggam tangan kirinya, "Maka aku akan memastikan kau tetap utuh juga. Aku akan jadi tangan kananmu mulai sekarang."

Tang Hyun tertawa kecil, "Kau sudah jadi jantungku sejak lama."

Mereka diam, dan di kejauhan terdengar suara Tang Lei berlatih di halaman, suara pedang kayu yang beradu, suara yang mengingatkan bahwa hidup terus berjalan meskipun ada yang terluka.

Dua bulan kemudian, Tang Hyun sudah bisa berjalan tanpa dibantu, meskipun tangannya masih sering sakit, dan dia meminta untuk pergi ke Akademi Bunga Plum di Sichuan, bukan untuk mengajar, melainkan untuk berbicara pada murid-murid, dan di depan 300 murid, dia mengangkat tangan kirinya dan berkata, "Dulu aku mengira kekuatan ada di tangan ini. Sekarang aku tahu, kekuatan ada di alasan kenapa tangan ini bergerak. Dan alasan itu adalah kalian. Rakyat. Keluarga."

Pidato itu membuat banyak orang menangis, dan setelah itu, jumlah murid yang mendaftar ke akademi meningkat dua kali lipat, karena mereka ingin belajar dari orang yang rela kehilangan tangan demi prinsipnya.

Ketika mereka pulang ke Chang'an, Tang Yue berlari memeluk ayahnya, "Ayah hebat!"

Tang Hyun mengusap kepala putrinya dengan tangan kiri, "Kau yang hebat. Karena kau tidak lari dari rasa bersalah. Kau menghadapinya."

Malam itu, di paviliun, keluarga mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, dan meskipun makanannya sederhana, suasananya adalah yang paling hangat dalam setahun terakhir.

Sebelum tidur, Xinyue membantu Tang Hyun mengganti perban, dan dia berbisik, "Terima kasih karena kembali."

"Terima kasih karena menunggu," jawab Tang Hyun.

"Kita janji tidak akan berpisah seperti itu lagi," kata Xinyue.

"Kita janji," ulang Tang Hyun, "dan jika dunia mencoba memisahkan kita lagi, maka kita akan bertarung bersama. Dengan satu tangan, dengan dua tangan, tidak masalah."

Di luar, angin musim gugur bertiup, dan kelopak bunga plum terakhir jatuh di atas atap paviliun, seolah menutup luka.

Tang Hyun menutup mata, dan untuk pertama kalinya dalam dua bulan, dia tidur tanpa mimpi buruk, karena dia tahu putrinya aman, karena dia tahu istrinya ada di sampingnya, dan karena dia tahu bahwa harga yang dia bayar, meskipun mahal, adalah harga untuk sesuatu yang tidak ternilai, yaitu nyawa orang yang dia cintai.

Dan di dalam hatinya, dia bersumpah bahwa selama dia masih bernapas, dia akan memastikan tidak ada lagi orang yang berani menyentuh keluarganya, bukan dengan racun, bukan dengan pedang, melainkan dengan janji seorang ayah yang sudah membuktikan bahwa dia akan membayar berapapun harganya.

1
Oppojaya
😍😍
Oppojaya
mantappppp....👍👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!