"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.
bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. DSKKR
Melihat pancaran kebahagiaan di mata anak-anaknya, dada Maya berdesir hangat. Rasa lelah, pengorbanan, dan perjuangannya selama ini terbayar lunas. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi makian yang meruntuhkan harga dirinya.
"Ya sudah.. mama ke gym dulu yaa sayang.."
"Iyaa maaa.." Jawab anak-anakku.
Di pusat kebugaran premium kawasan Senayan, Maya menjalani sesi latihan beban bersama Elena. Setiap gerakan deadlift dan hip thrust dilakukannya dengan teknik yang presisi. Keringat membasahi dahi dan leher jenjangnya, namun tak ada raut lelah di wajahnya. Yang ada hanya tatapan mata yang tajam dan penuh fokus.
"Bagus banget, Maya! Posturmu makin sempurna, kestabilan otot punggungmu juga naik drastis," puji Elena seraya memberikan handuk bersih begitu Maya menyelesaikan set terakhirnya. "Banyak member lain yang nanyain rahasia glow up kamu, loh."
Maya tersenyum tipis, menyapu keringat di lehernya. "Gak ada rahasia khusus, Elena. Cuma lepas dari racun masa lalu dan mulai mencintai diri sendiri aja."
Elena tertawa pelan. "Wah.. Jawaban paling mahal itu!"
Setelah menyelesaikan latihannya dan memanjakan diri dengan terapi perawatan kulit mingguan di klinik terdekat, Maya berganti pakaian. Dia memilih gaun blazer berwarna emerald green yang mempertegas pinggang rampingnya dan menonjolkan kulit mulusnya yang makin cerah. Dengan polesan lipstik nude-pink dan rambut yang ditata gelombang halus, aura keanggunan Maya begitu dominan.
Ketika dia melangkah masuk ke lobi gedung VANE Group, beberapa karyawan muda yang berselisih jalan reflek menunduk hormat seraya berbisik kagum.
"Mbak Maya makin hari makin stunning ya..."
"Iya, berwibawa banget. Vibe-nya bener-bener kayak supermodel internasional!"
Maya membalas sapaan mereka dengan senyuman ramah namun tetap menjaga wibawanya.
Di dalam ruang kerjanya, Arch sudah menunggu membawa tumpukan laporan keuangan dan dokumen kerja sama. Ketika pintu terbuka dan sosok Maya muncul, pandangan Arch sempat terkunci beberapa detik. Binar kekaguman di mata pria itu semakin hari semakin sulit disembunyikan.
"Waw Gaya mu sekarang itu luar biasa untuk mengawali hari, Maya," puji Arch tulus seraya berdiri dari kursinya.
"Terima kasih, Mas Arch," sahut Maya santai, duduk di kursi kerjanya dan langsung memeriksa berkas di meja. "Bagaimana laporan perkembangan ekspansi lini busana kita?"
"Pihak investor dari Singapura dan Malaysia baru saja menandatangani kesepakatan nilai investasi awal," jawab Arch seraya menggeser dokumen tebal ke arah Maya. "Koleksi yang kamu rancang akan resmi diluncurkan di pasar Asia Tenggara tiga bulan lagi."
Maya membelalak gembira, menatap grafik pertumbuhan usaha yang melonjak drastis di layar monitor. "Ini luar biasa, Mas Arch! Kita bisa buktikan kalau produk lokal punya kelas internasional!"
"Ini semua berkat visi dan bakatmu, Maya," bisik Arch lembut, menatap lurus ke dalam manik mata Maya dengan nada hangat yang amat dalam. "Aku cuma orang beruntung yang berdiri di sampingmu."
"Ah mas arch bisa aja buat aku tersanjung.."
"Ya memang kamu pantas untuk di sanjung.. Kembali lah ke ruangan mu, nanti siang kita rapat kan ini dengan tim ya.. Kamu yang pimpin." Ucap Arch.
"Oke siap boss" Jawab maya dengan tangan hormat ala paskibraka.
"Ada-ada aja kamu ini.." Jawab Arch hanya menggelengkan kepala.
Maya pun kembali ke ruangan nya dan mulai fokus mengerjakan serta mempersiapkan rapat nanti siang. Tiba-tiba ponsel ku bergetar, aku langsung beralih mengambil dan membuka kunci layar ponselku.
"Nomer siapa ini" Ucap maya setelah meilhat nomer yang tidak dia simpan.
Maya gulirkan dulu untuk melihat isi pesan nya di notifikasi. Alangkah terkejut nya maya melihat isi pesan nya.
"Maya.. Apa kabar? Ini aku Fandi"
"Apa? Apa sih mau dia? Sepertinya tidak bisa diam dan selalu saja menganggu.Sabar.. sabar.. orang yang merasa bersalah padamu akan memantau mu seumur hidup. Ada-ada saja" Gumam kesal maya dan tanpa berfikir panjang, dia pun memblokir nya dan melanjutkan pekerjaan nya kembali.
Siang hari nya, ruang rapat ramai di penuhi oleh semua tim. Maya dan Arch masuk memecah keramaian itu, semua orang yang ada di ruang rapat itu seketika terdiam saat mereka melangkah masuk dan duduk.
"Selamat siang semua.." Ucap arch. Lalu dia pun menjelaskan perihal rapat hari itu dan diikuti dengan maya yang juga menjelaskan rinci mengenai rencana dan berdiskusi untuk menukar pikiran dan ide dengan semua tim VANE.
"Baiklah, artinya kita sepakat bahwa tidak ada perombakan ulang ya.." Ucap Maya.
"Iya bu maya, saya rasa ide anda yang terbaik." Sahut salah satu ketua tim.
Selepas semua sepakat, rapat pun di tutup lalu mereka pun di bubarkan dan kembali ke ruang kerja masing-masing menyisakan Maya dan Arch serta asisten director disana.
"Sekarang aku sangat lega sekali mr. Setelah bertahun-tahun bekerja disini baru merasakan solidaritas tim kita itu kuat sekali." Ucap Asisten director.
"Iya, sekarang kan ada ahli dan jenius fashion kembali. Kamu jadi ongkang kaki saja kan?" Jawab arch dengan terkekeh.
"Bukan begitu mister. Maksudnya tuh..." Belum dia menjelaskan Arch memotong.
"Iya saya mengerti apa maksud mu deri. Karena ada maya kann?"
"Iya mister. Saya bersyukur saja. Dulu awalanya aku agak skeptis karena bu maya terlihat lelah"
"Terimakasih pujiannya pak deri.. tapi semua ini bukan hanya karena aku saja, tapi seluruh kekompakan per tim."
"Wah, makin kagum saja saya bu.. pokoknya bu maya joss pisan.."
Maya tersenyum anggun mendengar candaan pak deri. Arch juga terlihat menggelengkan kepala nya.
Selepas bekerja, di sore harinya, maya pulang ke rumah dan memenuhi janji nya pada anak-anaknya.
"Yeeeee asikk akhirnya mama pulang dek.. ayo ayo kita ke mall yee" Ucap Kirana dengan bersemangat.
Di bantu dengan pengasuh, kami semua pun berangkat menuju ke pusat perbelanjaan. Sesampainya di mall, saking senang nya anak-anak berlarian kecil.
"Ya ampun kirana, jangan lari-larian nanti nabrak loh" Ucap Ibunya maya.
"Nonaa.. jangan lari.. tunggu" Ucap pengasuh kirana.
"Biarkan saja bu, yang penting tidak nabrak orang" Ucapku.
"Iya.. anak kamu memang sangat aktif sekali may" Ucap Ibunya maya.
Aku hanya tersenyum, "Kirana,.. Arka Arki kemari sini.." Panggil maya pada anak-anaknya.
Mereka pun mendekat lalu dengan menggandeng semua anaknya, maya membawa ke salah satu stand perhiasan emas putih dan berlian.
"Mba.. bisa lihat ini?" Ucap Maya pada pelayan di situ.
Pelayan itu pun mempersilahkan maya dan semuanya masuk kedalam untuk bisa mencoba dan menjelaskan perihal perhiasan tadi.
"Ini ya bu.. " Ucap pelayan itu menyerahkan sebuah cincin berlian asli pada maya.
Maya mengambil nya lalu memegang jemari ibu nya yang duduk di sebelah nya., Dia memasukan cincin itu jemari manis ibunya.
"Pas sekali.. menurut ibu gimana cantik tidak?"
"May... Ini cantik sekali." Jawab ibu nya maya.
"Saya ambil ini ya mba.." Ucap maya pada pelayan nya. "Baik bu.. apa anda mau melihat koleksi kami yang lain?"
"Boleh.."
"Baiklah bu.. ini dia kalung dengan berlian asli dari swiss bu,, lalu ini.." Jelas pelayan itu panjang lebar.
"Baik.. saya mau kalung ini dan gelang kecil ini juga.." Ucapku lalu aku coba gelang itu pada kirana.
"Waahh mamaa.. ini cantikk cantikk"
"Syukurlah anak mama suka..Bungkus ini ya mba.."
"Arka maa mau .."
"Arki maa mau ugaa.."
"Eh sayang... Ini perhiasan untuk perempuan.. untuk arka arki nanti di lantai atas ya.."
"Iyaa mamaa.." Ucap berbarengan anak kembar itu tanpa ribut.
"Baik bu semuanya segini.." Ucap pelayan menunjukan bill tagihan. Lalu maya bayar dengan kartu miliknya.
"Terimakasih banyak bu atas kunjungan nya,.. kami tunggu kehadiran nya kembali ya.."
Maya tersenyum dan mengangguk lalu ku serahkan juga sebuah kalung emas putih dengan bandul berlian kecil mini untuk kedua pengasuh anak-anak nya.
Selepas membeli mainan dan ice cream, anak-anak yang masih aktif pun juga berlari kecil kesana kemari. Hingga suatu waktu, Kirana yang sedang berlari menabrak seseorang.
"Aduhh.. gimana sih anak nakal banget.." Ucap seseorang itu kesal.
Mendengar itu, pengasuh Kirana langsung menghampiri nya.
~Bersambung...