NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Bayang di Antara Kita

Malam itu, udara di dalam kamar terasa tiba-tiba menjadi dingin, meski tak ada angin yang masuk. Kata-kata Arga seakan menancap di udara, menciptakan keheningan yang berat dan menyesakkan.

"Secara... ada sekutunya?" bisikku, suaraku nyaris tak terdengar. "Selama ini... di antara kita?"

Arga mengangguk pelan, tangannya meremas lembaran kertas yang kini terlipat di genggamannya — selembar berkas tua yang warnanya sudah mulai menguning. Ia meletakkannya perlahan di atas meja samping tempat tidur, seakan benda itu sendiri berisi bahaya yang bisa meledak kapan saja.

"Aku tak percaya pada awalnya," akunya, suaranya rendah dan penuh kekhawatiran. "Surya selalu bertindak seolah sendirian. Dia tak pernah menyebut nama orang lain, seakan semua rencananya lahir dari benaknya sendiri. Tapi berkas ini... tertulis dengan tangan sendiri. Dia menuliskan bahwa ada seseorang yang selalu memberi informasi, yang membantunya mengatur segala hal dari balik layar — seseorang yang kita percayai."

"Dan nama itu... terhapus?" tanyaku, mataku terpaku pada noda hitam yang menutupi sebagian nama di bagian bawah surat itu.

"Hanya tersisa dua huruf — L dan R," jawab Arga pelan, menatapku lekat-lekat. "Freya... itu persis dua huruf awal nama Laras."

Darahku seakan berhenti mengalir di pembuluh nadiku. Laras. Wanita yang dulu ada di dekat kami, yang seakan selalu ada saat dibutuhkan namun selalu menghilang saat dicari — Laras yang sejak hari itu tak pernah terlihat lagi.

"Tapi... dia sudah pergi," gumamku, berusaha mencari alasan. "Dia menghilang setelah Surya tertangkap. Jika dia sekutunya... kenapa dia tidak ikut?"

"Justru itu yang membuatku takut," ujar Arga tegas. "Dia tahu kapan harus mundur. Dia tahu kapan harus bersembunyi. Surya tertangkap, tapi dia tetap bebas — dan itu berarti dia masih bisa melanjutkan apa yang mereka mulai."

Malam itu kami tak bisa tidur. Kami duduk berhadapan, memikirkan setiap kemungkinan, mencoba mengingat setiap kata dan tindakan Laras selama ini. Hal-hal yang dulu terlihat biasa kini tiba-tiba terasa janggal — dia yang selalu tahu ke mana kami pergi, dia yang tiba-tiba hadir saat ada masalah, dia yang selalu menyarankan hal-hal yang justru memudahkan rencana Surya tanpa kami sadari.

Pagi harinya, suasana di meja makan terasa berbeda. Tak ada tawa ringan seperti kemarin. Ibu Arga menyadari perubahan itu dengan cepat — ia menatap kami bergantian, lalu meletakkan sendoknya perlahan.

"Kalian menyembunyikan sesuatu," ucapnya lembut namun yakin, bukan pertanyaan melainkan pernyataan. "Ada apa?"

Arga menghela napas panjang, lalu menceritakan semuanya — tentang surat itu, tentang dua huruf yang tersisa, tentang dugaan mereka terhadap Laras. Wajah Ibu Arga perlahan berubah pucat, tangannya meremas ujung taplak meja dengan erat.

"Laras..." bisiknya, matanya menerawang jauh. "Dulu dia bekerja di rumah ini... bahkan sebelum aku diculik. Dia selalu tampak sopan, selalu membantu. Aku tak pernah menyangka..."

"Kita belum yakin sepenuhnya, Bu," kata Arga, meski nada bicaranya menunjukkan ia sebenarnya sudah cukup yakin. "Tapi kita tidak bisa mengambil risiko. Mulai sekarang, kita harus berhati-hati. Siapa pun yang datang, apa pun yang terjadi — kita tidak boleh lengah sedikit pun."

Siang itu, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Laras — tempat yang sempat dikunjungi Arga kemarin namun kosong. Aku tak tahu apa yang kuharapkan, tapi ada dorongan kuat di hatiku — untuk mencari jawaban, untuk memastikan apakah Laras benar-benar musuh, atau ada hal lain yang tersembunyi.

"Jangan pergi sendirian," kata Arga saat aku bersiap. "Berbahaya."

"Aku harus tahu, Arga," jawabku lembut namun tegas. "Kalau dia memang musuh... aku harus tahu alasannya. Kalau dia bukan... mungkin dia butuh bantuan."

Arga terdiam sejenak, lalu mengangguk berat. "Aku akan mengantarmu. Tapi kita berdua pergi. Dan tetap waspada, apa pun yang terjadi."

Rumah Laras terletak di sudut kota yang sepi, rumah kecil yang dikelilingi pagar besi yang sudah mulai berkarat. Saat kami mendekat, aku melihat pintu kayu itu sedikit terbuka — seakan seseorang baru saja keluar, atau lupa menutupnya dengan rapat.

Kami melangkah masuk perlahan. Di dalamnya sunyi senyap, namun tidak terlihat kosong. Ada cangkir teh yang masih terlihat sisa uapnya di meja makan — artinya seseorang ada di sini tak lama yang lalu.

"Dia belum pergi jauh," bisikku.

Aku berjalan ke arah meja, dan di sana — di samping cangkir itu — tergeletak selembar kertas yang tertulis dengan tangan yang kukenal baik. Tulisan tangan Laras.

"Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan. Mereka mengambil sesuatu yang berharga bagiku, dan aku harus melakukannya untuk mendapatkannya kembali. Jangan mencariku. Dan berhati-hatilah — dia bukan satu-satunya yang masih ada. Ada yang lain, yang lebih dekat dari yang kau kira."

Surat itu berakhir tanpa nama, tanpa penjelasan lebih lanjut. Tapi satu hal yang jelas — Laras memang terlibat. Dan ia bukan satu-satunya.

Saat aku menoleh, Arga berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi. Di tangannya, sebuah foto lama tergeletak terbalik — dan saat ia membaliknya, aku melihat wajah-wajah yang kukenal: Surya, Laras, dan... seseorang yang tak pernah kusangka.

"Freya..." suara Arga bergetar hebat. "Ini semakin rumit. Dan bahayanya semakin dekat ke rumah kita sendiri."

 

Mau lanjut ke Bab 24 untuk mengungkap siapa sosok berikutnya?

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!