NovelToon NovelToon
Aku Hamil Anak Raja Vampir

Aku Hamil Anak Raja Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Latief_ayra

hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 6

Matahari pagi baru saja mengintip dari balik bukit, menyebarkan cahaya pucat yang lemah di atas tanah yang masih basah oleh embun dan sisa hujan semalam. Udara pagi terasa sejuk namun menusuk hingga ke tulang. Di jalan setapak yang mulai melebar menjadi jalan tanah yang lebih luas, tampak sesosok wanita berjalan terhuyung-huyung, napasnya tersengal berat, wajahnya pucat pasi diliputi keringat dingin.

Itulah Elizabeth. Di dalam pelukannya, ia mendekap erat tubuh kecil Leon yang terbaring lemah dan tak berdaya. Seluruh tubuh anak itu terasa panas membara, napasnya begitu pelan dan nyaris tak terasa, wajahnya yang mungil pucat tanpa secercah rona merah sedikit pun. Darah masih samar menembus balutan kain sederhana yang melilit luka-lukanya, menandakan betapa parah cedera yang dialaminya.

Elizabeth terus berlari sekuat tenaga yang tersisa, meski kakinya terasa berat bagai terpasang timah, dan luka di dadanya yang belum kering terus terasa perih menyengat setiap kali ia melangkah. Matanya sembab dan bengkak menahan tangis yang tak henti-henti menggenang. Pandangannya menatap ke depan dengan penuh keputusasaan namun juga tekad yang tak akan pernah patah. ia harus menyelamatkan anaknya. Ia harus menemukan pertolongan, apa pun yang terjadi.

Tak lama kemudian, di kejauhan mulai tampak atap-atap rumah yang berjejer rapi, asap tipis mengepul dari cerobong tanda kehidupan telah dimulai. Sebuah pemukiman warga tampak terhampar di lembah yang tenang. Elizabeth seketika merasa seolah-olah ada secercah harapan yang menyala di dadanya. Ia mempercepat langkahnya, berlari semakin cepat menuju rumah-rumah itu, berteriak sekuat tenaga meski suaranya terdengar pecah dan lemah:

"Tolong... Tolong aku... Ada anak yang terluka parah! Tolong... Siapa pun... tolong bantuanku!"

Penduduk yang sedang memulai aktivitas pagi perlahan berhenti dan menoleh ke arahnya. Beberapa orang melangkah keluar dari rumah mereka, wajah-wajah itu tampak bingung dan penuh tanda tanya melihat sosok wanita berpakaian lusuh berlumuran darah yang datang berlari dengan anak di pelukannya. Elizabeth tak peduli pada tatapan mereka, ia terus berlari mendekat, matanya memandang satu per satu wajah yang berkumpul, memohon dengan segala kerendahan hati .

"Tolong... Tolong anakku... Tolonglah... Ia terluka sangat parah dan tak sadarkan diri... Aku mohon pada kalian... Bukankah ada tabib atau orang yang paham pengobatan di sini? Tunjukkan padaku ke mana aku harus pergi... Aku mohon, selamatkan nyawa anakku... Aku rela memberikan apa pun yang kupunya... Hanya tolong beri ia pertolongan..."

Suaranya pecah diiringi isak tangis yang tak lagi dapat ia tahan. Ia berlutut di hadapan sekelompok penduduk yang mulai mengerumuninya, namun tak ada yang berani menyentuhnya. Beberapa orang saling berbisik, menatap dengan ragu dan curiga melihat pakaiannya yang kotor berlumuran darah serta penampilan yang tampak asing di mata mereka. Namun Elizabeth tak peduli pada keraguan itu, ia mendongak menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang penuh keputusasaan, tangannya tak pernah melepaskan pelukan hangat pada tubuh kecil Leon yang perlahan kian melemah.

"Aku tahu... aku tampak asing bagi kalian..." lanjutnya kembali, suaranya terdengar lemah namun penuh ketulusan yang menyayat hati. "Aku datang dari jauh... Kami diserang dan hampir tewas... Anakku ini... ia masih terlalu kecil... Ia tak boleh pergi... Kalian adalah harapan satu-satunya bagiku... Kumohon... Jangan biarkan ia pergi... Tunjukkan jalan menuju pertolongan... Tolonglah... Demi kasih sayang kalian kepada anak-anakmu sendiri..."

Air matanya kini jatuh membasahi pipi, mengalir deras menyusuri wajah yang tampak begitu lelah namun begitu teguh dalam memohon pertolongan. Ia menatap setiap orang yang berdiri di hadapannya, berharap ada sepasang mata yang menatapnya dengan belas kasih, ada tangan yang terulur membantunya, ada suara yang berkata "ikut aku..."

Penduduk yang merasa iba pun akhirnya mengantar Elizabeth menuju pasar, tempat di mana konon terdapat tabib yang mengerti pengobatan. Di sepanjang jalan tanah yang berdebu itu, Elizabeth terus berjalan terhuyung-huyung, napasnya tersengal berat, namun pelukannya pada tubuh kecil Leon tak pernah sedikit pun mengendur. Darah dari luka di dadanya masih terus merembes, rasa sakitnya semakin menjadi setiap kali ia melangkah, namun ia tak memedulikannya sedikit pun. Yang ada hanyalah satu tekad: membawa anaknya selamat sampai tujuan.

Di dalam pelukan hangat itu, perlahan terdengar suara lemah yang hampir tak tertangkap telinga. Leon membuka matanya yang sayu, menatap wajah ibunya samar-samar, lalu bersuara pelan disertai napas yang terengah berat:

"Ibu... aku lelah sekali..."

Hati Elizabeth seketika teriris perih mendengar suara itu. Air matanya seketika meluruh deras kembali membasahi pipi yang sudah sembab. Ia mempererat pelukannya, menempelkan pipinya ke dahi Leon yang terasa panas membara, lalu berkata dengan suara bergetar namun berusaha sekuat tenaga agar terdengar tegas dan penuh semangat:

"Leon... anakku sayang... Jangan... Jangan sampai kau terpejam dan tertidur sekarang, Nak! Kumohon padamu... tetaplah membuka matamu... lihatlah wajah Ibu... Jangan tinggalkan Ibu..."

Leon mencoba tersenyum tipis namun wajahnya tampak semakin pucat. Matanya perlahan mulai kembali terpejam, tubuhnya terasa semakin berat dan lemas di pelukan ibunya.

"Tapi... mataku terasa berat sekali, Bu... dan dingin... aku ingin tidur sebentar saja..."

Elizabeth menggeleng kuat, air matanya jatuh menetes tepat di pipi kecil Leon. Ia mempercepat langkahnya, berusaha menahan tangis agar suaranya tetap terdengar menyemangati.

"Tidak, sayangku... Jangan tidur dulu... Bertahanlah sedikit lagi... Kita sebentar lagi sampai... Sebentar lagi kau akan sembuh... Kau berjanji kan selalu menemani Ibu? Jangan kau lupakan janjimu itu... Tetaplah bertahan demi Ibu..."

Leon kembali membuka matanya perlahan, menatap ibunya dengan pandangan yang mulai kabur. Suaranya kini nyaris tak terdengar, lemah bagai bisikan angin:

"Ibu... apakah... aku akan baik-baik saja?"

Elizabeth menatapnya lekat-lekat, mengusap keningnya dengan penuh kasih sayang dan keputusasaan yang menyatu. Ia menatap tajam ke mata anaknya, berusaha menyalurkan seluruh kekuatan dan harapan dari dalam jiwanya ke tubuh kecil itu.

"Tentu saja, Nak... Kau akan baik-baik saja... Kau kuat... Kau anak yang paling berani dan hebat... Bertahanlah... Demi Ibu... Tetaplah di sini... Jangan pergi... Kumohon... Bukalah matamu sebentar lagi... Tetaplah bersamaku..."

Ia terus berbicara tanpa henti, memohon, menyemangati, dan memeluknya semakin erat, berharap dengan setiap kata yang terucap, semangat kehidupan itu tak akan lenyap dari tubuh anak yang sangat dicintainya itu.

Tak lama kemudian, tampaklah gerbang besar yang menjulang tinggi di hadapan mereka. Dinding batu hitam yang kokoh dan megah itu tertata rapi, menandakan tempat itulah Bloodmoon Citadel berada. Gerbangnya terbuka lebar, namun suasana di sana tampak gagah dan penuh wibawa yang membuat siapa pun merasa kecil.

Elizabeth menarik napas panjang, meski tubuhnya terasa semakin lemas dan dadanya perih tak tertahankan, secercah harapan kembali menyala di matanya. Ia menatap wajah Leon yang masih terbaring lemah di pelukannya, lalu berkata dengan suara bergetar namun penuh kelegaan dan semangat yang dipaksakan:

"Leon... akhirnya kita sampai... Lihatlah gerbang besar itu... Di sanalah pertolongan berada... Bertahanlah, Nak... Tolong bertahanlah sedikit lagi... Ibu mohon padamu... Jangan tinggalkan Ibu sekarang..."

Mata kecil Leon yang tadi nyaris terpejam perlahan terbuka kembali, meski masih tampak sayu dan lemah. Ia menatap wajah ibunya dengan pandangan yang tetap setia dan penuh kasih sayang. Dengan suara yang nyaris tak terdengar namun begitu teguh dan tulus, Leon berbisik pelan:

"Ibu... aku selalu mendengarkan Ibu... Aku tidak akan pergi... Aku tetap di sini... bersama Ibu..."

Hati Elizabeth seketika terasa hangat sekaligus teriris perih mendengar janji sederhana namun begitu menyentuh hati itu. Air matanya kembali menetes deras, namun kali ini disertai senyum tipis yang terukir di bibirnya. Ia mempererat pelukannya, mencium kening Leon berkali-kali dengan penuh rasa syukur dan cinta yang tak terhingga.

"Anakku... anakku sayang... Terima kasih... Terima kasih telah tetap bersamaku... Mari... Kita masuk... Ibu akan menyelamatkanmu..."

Dengan sisa tenaga terakhir yang dimilikinya, Elizabeth melangkah masuk melewati gerbang besar itu, membawa harapan dan doa yang tulus menyertai setiap langkah kakinya.

Dari kejauhan, mata Elizabeth seketika membelalak melihat tanda bergambar tanaman obat yang tergantung di depan sebuah kedai sederhana. Hatinya meloncat penuh harapan—di sanalah tukang pembuat ramuan obat berada. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia melangkah terhuyung-huyung mendekat, napasnya tersengal berat, tubuhnya terhuyung namun pelukannya pada Leon tak pernah kendur.

Sesampainya di depan kedai itu, Elizabeth dengan tangan gemetar mengeluarkan sejumlah uang yang tersisa di saku kainnya. Empat keping koin tembaga yang sudah usang dan tampak lusuh itu disodorkan ke arah penjual ramuan dengan penuh pengharapan.

Penjual ramuan itu, seorang pria tua bermata tajam yang memandang segalanya dengan tatapan menyelidik dan dingin. perlahan menurunkan pandangannya. Ia mengambil tas kecil berisi empat koin itu, menimbang-nimbangnya sejenak di telapak tangannya, lalu mendongak menatap Elizabeth dengan raut wajah tak percaya yang berubah menjadi jijik dan marah.

"Apaaaaa...?! Cuma empat koin tembaga???" suaranya meninggi, penuh keheranan sekaligus penghinaan yang mendalam. Matanya menyipit tajam seakan tak percaya wanita di hadapannya ini berani menawar nyawa dengan recehan sekecil itu. "Kau menganggap ramuan penyembuhanku bernilai sekian lemah harganya? Kau sedang bercanda denganku, wanita miskin?"

Air mata seketika meluncur deras di pipi Elizabeth. Ia berlutut di tanah yang keras, lalu menundukkan kepalanya hingga keningnya menyentuh tanah, bersujud penuh kerendahan hati, memohon dengan segala daya yang tersisa. Suaranya pecah, bergetar hebat menahan tangis yang menyayat hati:

"Itu... sungguh satu-satunya harta yang kupunya... Tak ada lagi yang tersisa... Kumohon... Kumohon Pak... Selamatkan anakku... Ia masih kecil... Ia tak boleh mati... Demi belas kasih hatimu... berikanlah obat itu... Aku tak punya emas, tak punya perak... namun aku berjanji... aku akan bekerja seumur hidupku untuk melunasi hutang ini... Asalkan anakku selamat... Kumohon..."

Penjual ramuan itu terdiam sejenak, menatap wanita yang bersujud di hadapannya. Napasnya masih terdengar berat dan penuh keraguan, namun akhirnya ia mendengus pelan, seakan menyerah pada nasib atau sesuatu yang lain tersembunyi di balik tatapan tajamnya. Dengan gerakan kasar namun perlahan, ia meraih sebuah botol berisi cairan bening berkilau keemasan samar, lalu menyodorkannya kepada Elizabeth.

"Baiklah... Minumkan ini padanya..." ucapnya singkat, nada bicaranya datar dan dingin. "Cepat... sebelum aku berubah pikiran."

Elizabeth menyambut botol itu dengan tangan gemetar, tak percaya keberuntungan masih menyisakan secercah harapan baginya. Tanpa menunggu lama, ia segera membuka sumbat botol itu dan meminumkan ramuan itu perlahan-lahan ke bibir Leon yang pucat dan kering.

Tak lama berselang... keajaiban terjadi. Cahaya lembut menyelimuti tubuh kecil Leon. Napasnya yang tadi nyaris tak terasa perlahan menjadi teratur dan kuat. Rona merah perlahan kembali menghiasi pipinya yang pucat. Luka-luka di tubuhnya perlahan mengering dan menutup. Perlahan... perlahan... mata kecil itu terbuka pelan.

"Ibu..." panggilnya lirih namun jelas, matanya menatap Elizabeth dengan penuh kasih sayang.

Elizabeth menahan tangis bahagia, memeluk anaknya erat-erat hingga tak ingin melepaskan. "Leon... Anakku... Kau sadar... Syukurlah... Kau selamat..."

Namun kebahagiaan itu seketika terhenti mendadak. Tawa kecil penjual ramuan terdengar renyah namun mengerikan di telinga mereka. Ia melangkah perlahan keluar dari balik meja kayunya, menatap tajam ke arah Leon yang baru saja pulih. Tatapannya bukan lagi seperti tabib yang penuh belas kasih, melainkan seperti pemangsa yang menatap mangsa yang tak berdaya.

"Memang... empat koin tembaga itu sungguh tak sebanding dengan ramuan yang kuberikan..." ucapnya pelan namun penuh penekanan, senyum miring mengerikan merekah di wajahnya. Ia berhenti tepat di depan Elizabeth dan Leon, lalu melanjutkan dengan nada yang mengerikan:

"Tapi... jika kau tak mampu membayar dengan emas... maka bayarlah dengan cara lain... Aku belum pernah mencicipi daging anak yang memiliki darah begitu istimewa... Bau yang begitu menggoda... sungguh memikat selera..."

Sambil berbicara demikian, ia melangkah mendekat ke arah Leon, matanya menyala rakus, tangannya yang keriput namun panjang menjuntai hendak menyentuh tubuh kecil itu.

"Jangan sentuh anakku!!!"

Elizabeth sigap menarik tubuh Leon ke belakang, melindunginya erat di balik pelukannya, tubuhnya gemetar hebat namun matanya menatap tajam penuh keberanian ke arah penjual ramuan itu. Ia mundur perlahan, menjauh dari jangkauan tangan panjang itu, bersiap melindungi nyawa anaknya walau harus menukarnya dengan nyawanya sendiri.

Belum sempat penjual ramuan itu melangkah lebih jauh dan menyentuh sehelai rambut pun Leon, tiba-tiba dari arah gerbang utama Citadel terdengar suara derap langkah kuda yang berat dan gemuruh roda kereta yang membelah jalanan. Seluruh penduduk di pasar seketika terdiam serentak, suasana yang tadinya riuh mendadak berubah hening seketika, seakan napas mereka tertahan oleh sesuatu yang luar biasa agung dan berkuasa.

Di kejauhan tampaklah sepasang kuda hitam yang gagah perkasa, berbulu berkilau bagai permata, menarik kereta besar berukir emas dan perak yang meluncur anggun di atas jalanan. Kereta itu tampak begitu megah, berhias lambang sayap yang membentang luas . lambang kekuasaan tertinggi di tanah itu. Di dalamnya, duduk sesosok pria yang berwibawa luar biasa, matanya memancarkan kekuatan yang tak tertandingi. Itulah Raja Draven.

Penduduk yang berkerumun seketika berlutut di pinggir jalan, menundukkan kepala serendah-rendahnya, penuh rasa hormat sekaligus takut yang mendalam. Suara mereka bersahutan beriringan penuh sukacita dan penghormatan:

"Selamat datang, Tuanku Raja! Semoga panjang umur dan berkuasa! Selamat datang Penguasa malam! Semoga kerajaan ini makin jaya di bawah kekuasaan Tuanku!"

Suara itu bergema di sepanjang jalan, namun Elizabeth sama sekali tidak menoleh. Ia tak ikut berlutut, tak ikut bersujud. Baginya, dunia di luar sana hanyalah bayangan yang tak penting. Yang ada hanyalah Leon di pelukannya, keselamatan anaknya, dan keinginan segera menjauh dari tempat yang berbahaya itu. Dengan tenang namun tetap berjalan tergesa, ia melangkah tepat di samping kereta kuda yang berhenti perlahan itu, seakan tak menyadari siapa yang sedang duduk di dalamnya.

Namun sepasang mata merah menyala dari dalam kereta itu tiba-tiba menatap tajam dan lekat. Hati Raja Draven seketika berdegup kencang. Wajah itu... sosok itu... Cara berjalannya... Aura yang memancar darinya... Persis seperti wanita yang tak pernah berhenti membayangi pikirannya selama lima tahun terakhir. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung berdiri dan berseru lantang:

"Hentikan kudanya! Berhenti sekarang juga!"

Namun pengawal yang berdiri di samping pintu kereta segera menunduk hormat, lalu melangkah mendekat dengan wajah tampak cemas dan mendesak. Ia berbisik rendah namun tegas kepada Rajanya:

"Tuanku... mohon maafkan hamba... Namun Tuan Aldous mengirim pesan mendesak berkali-kali. Beliau memohon agar Tuanku segera menemui beliau sekarang juga. Katanya... ada hal yang sangat penting dan tak bisa ditunda sedikit pun. Nasib seluruh wilayah bergantung pada pertemuan itu..."

Raja Draven terdiam sejenak. Matanya tak lepas dari sosok Elizabeth yang perlahan melanggar menjauh, semakin menjauh. Di dadanya, dua perasaan besar saling bertabrakan . keinginan kuat untuk segera turun dan menyapa wanita itu, serta kewajiban dan tanggung jawab besar yang menuntut kehadirannya segera. Ia menatap punggung Elizabeth yang perlahan menghilang di kerumunan, lalu menatap tajam ke arah pengawalnya. Napasnya terdengar berat dan penuh kekesalan yang tertahan.

"Apakah ia menyadari kehadiranku..." gumamnya lirih dalam hati, penuh tanda tanya sekaligus rasa rindu yang mendesak. "Mengapa ia lewat begitu saja tanpa menoleh sedikit pun... Apakah ia tak mengenalku? Atau... ia sengaja berpura-pura tak mengenaliku?"

Kereta itu akhirnya melaju kembali perlahan, namun hati Raja Draven kini tak lagi tenang. Matanya terus menatap ke belakang, ke arah sosok Elizabeth yang perlahan hilang dari pandangannya, meninggalkan sejuta tanda tanya dan tekad yang baru tumbuh di hatinya . ia tak akan membiarkan wanita itu pergi begitu saja. Kali ini, ia pasti akan menemukan jawabannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!