NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Perpisahan Sementara, Hati yang Tetap Bersama

Pagi itu, fajar baru saja menyingsing, langit masih berwarna ungu pucat bercampur jingga di ufuk timur. Di dalam kamar utama, suasana masih hening dan damai. Mo Ha terbangun lebih dulu, seperti biasa, namun kali ini ia tidak langsung bangkit dan bersiap pergi. Ia berbaring miring, menatap wajah Su Yi yang masih terlelap pulas di sampingnya. Cahaya fajar yang samar menyelinap masuk melalui celah tirai, menyentuh wajah istrinya yang tampak begitu tenang dan damai.

"Su Yi..." bisik Mo Ha pelan, jari telunjuknya perlahan menyentuh alis istrinya yang halus, lalu turun ke hidung mancung, hingga berhenti di bibir yang kemerahan itu. "Aku harus pergi sebentar. Tiga hari saja. Tunggu aku, ya?"

Su Yi bergerak pelan, kelopak matanya bergetar perlahan sebelum akhirnya terbuka. Matanya yang masih kabur karena baru bangun perlahan fokus pada wajah suaminya, dan senyum tipis langsung terukir di bibirnya saat menyadari bahwa Mo Ha sedang menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang.

"Kau sudah bangun?" tanyanya pelan, suaranya masih berat dan lembut. Ia mencoba duduk, namun tangan Mo Ha yang melingkar di pinggangnya menahannya dengan lembut.

"Jangan bangun dulu," ucap Mo Ha pelan, menariknya kembali ke dalam pelukan hangat itu. "Masih pagi sekali. Tidurlah sebentar lagi sebelum aku pergi."

Su Yi menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, mendengar detak jantung yang berirama tenang dan menenangkan. "Jam berapa pesawatmu berangkat?"

"Pukul delapan pagi," jawab Mo Ha sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut. "Aku harus berangkat ke bandara sekitar pukul enam setengah. Jadi aku masih punya waktu sebentar lagi bersamamu."

Su Yi mengangkat kepalanya, menatap mata suaminya lekat-lekat. "Tiga hari itu cepat berlalu. Jangan terlalu cemas. Aku akan baik-baik saja di rumah."

"Bagaimana mungkin aku tidak cemas?" Mo Ha menghela napas pelan, tangannya menyisir rambut hitam istrinya yang terurai di atas bantal. "Selama dua tahun aku pergi dan pulang sesukaku tanpa pernah memikirkan siapa yang menungguku di rumah. Tapi sekarang... setiap kali aku berpikir untuk pergi, hatiku terasa berat. Seakan ada bagian dari diriku yang tertinggal di sini, bersamamu."

Wajah Su Yi memerah, namun ia tidak memalingkan wajah. Ia justru mendekatkan wajahnya ke arah Mo Ha, hingga jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter. "Karena sekarang kau tahu rasanya dicintai, dan rasanya mencintai seseorang. Rasanya berat untuk berpisah meski sebentar, bukan?"

Mo Ha mengangguk pelan, lalu mendekatkan bibirnya, menyentuh bibir Su Yi dengan lembut dan penuh perasaan — ciuman yang penuh perpisahan sementara, penuh janji untuk kembali, dan penuh rasa syukur karena akhirnya mereka saling memiliki. Su Yi memejamkan matanya, membalas ciuman itu dengan lembut, merasakan setiap sentuhan yang menyampaikan kata-kata yang tak sempat terucap: Aku akan merindukanmu. Aku akan segera kembali. Tunggu aku.

Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan itu perlahan, namun tangan mereka tetap saling menggenggam erat. Mo Ha bangkit dari tempat tidur, dan Su Yi juga ikut bangkit, berniat menyiapkan kepergian suaminya.

"Kau tidak perlu bangun, Su Yi. Biarkan pelayan yang menyiapkannya," ucap Mo Ha saat melihat istrinya turun dari ranjang.

"Tak apa," jawab Su Yi sambil tersenyum, merapikan pakaian tidurnya. "Aku ingin menyiapkannya sendiri. Setidaknya aku bisa memastikan kau tidak meninggalkan apa-apa, dan membawa apa yang kau butuhkan."

Mereka berdua bergerak di dalam kamar itu — Mo Ha pergi ke kamar mandi untuk bersiap, sementara Su Yi membuka lemari pakaian suaminya, memilihkan pakaian yang rapi dan nyaman untuk perjalanan, lalu melipatnya dengan rapi ke dalam koper. Ia juga memastikan semua dokumen penting, dompet, kunci, dan ponsel sudah masuk ke dalam tas tangan Mo Ha. Setiap kali ia memegang barang-barang itu, hatinya terasa hangat — karena ini adalah hal-hal milik suaminya, dan ia yang dipercaya untuk merawatnya.

Setelah Mo Ha selesai bersiap, ia mengenakan kemeja putih bersih dan celana bahan hitam yang rapi. Ia terlihat tampan dan berwibawa, namun tatapan matanya yang lembut saat melihat Su Yi sedang menutup koper itu membuatnya terlihat jauh lebih manusiawi dan hangat.

"Kau sudah menyiapkannya?" tanya Mo Ha berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang istrinya yang sedang berdiri di samping meja.

"Sudah," jawab Su Yi sambil menutup koper dan berdiri berbalik menghadap suaminya. "Semua pakaian, dokumen, dan obat-obatan yang biasa kau minum sudah ada di dalamnya. Aku juga menaruh beberapa bungkus permen kesukaanmu di saku samping, untuk perjalanan."

Mo Ha menatapnya dengan perasaan yang tak terlukiskan — kagum, terharu, dan penuh cinta. Ia tidak menyangka bahwa wanita yang dulu sering ia abaikan dan buat menangis sendirian kini menjadi orang yang paling memperhatikannya, bahkan hal-hal kecil yang sering kali ia lupakan sendiri.

"Su Yi..." panggilnya pelan, lalu menarik istrinya kembali ke dalam pelukan erat. "Kau begitu baik padaku. Padahal aku belum pernah melakukan hal yang sama untukmu selama dua tahun ini."

"Kita mulai dari sekarang, kan?" jawab Su Yi lembut, memeluk pinggang suaminya erat. "Lupakan yang lalu. Yang penting sekarang dan masa depan kita."

Mo Ha mengangguk pelan, lalu melepaskan pelukannya perlahan. Ia mengambil tas tangan dan koper, namun sebelum melangkah keluar kamar, ia berhenti dan menatap istrinya sekali lagi. "Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi. Jangan lupa makan tepat waktu, jangan terlalu lelah, dan hubungiku jika ada apa pun, apa pun itu, mengerti?"

"Mengerti, Tuan Muda," jawab Su Yi sambil tersenyum manis, membuat Mo Ha tersenyum lebar melihatnya.

Mereka berjalan turun ke ruang makan beriringan — tangan Mo Ha melingkar di pinggang Su Yi, menuntunnya dengan lembut. Di meja makan, sarapan ringan sudah tersedia — susu hangat, roti panggang, dan telur rebus. Mereka duduk berdampingan, makan bersama dalam keheningan yang nyaman, sesekali saling menatap dan tersenyum — seakan ingin mengisi mata mereka dengan wajah satu sama lain sebelum berpisah sementara.

Setelah sarapan selesai, Mo Ha melangkah menuju pintu depan, di mana mobil sudah menunggu dengan mesin yang menyala. Su Yi berjalan bersamanya hingga ke beranda depan, angin pagi yang sejuk menerpa rambut hitamnya yang terurai.

"Sudah sampai di sini saja," ucap Mo Ha berhenti dan berbalik menghadap istrinya. "Masuklah ke dalam, udara pagi ini cukup dingin. Jangan sampai kau sakit."

"Baik," jawab Su Yi pelan, namun tangannya masih menggenggam tangan suaminya, enggan melepaskannya. "Hati-hati di jalan. Dan... telepon aku begitu sampai di sana, ya?"

"Pasti," janji Mo Ha. Ia mengangkat tangan istrinya, mencium punggung telapak tangan itu dengan lembut, lalu menatapnya lekat-lekat. "Tunggu aku. Aku akan segera pulang. Dan saat aku pulang... aku akan membawa sesuatu untukmu."

"Tak perlu membawakan apa-apa," ucap Su Yi sambil tersenyum lembut. "Kehadiranmu kembali dengan selamat adalah hadiah terindah untukku."

Mo Ha tersenyum mendengar itu, lalu perlahan melepaskan genggamannya. Ia berjalan menuju mobil, masuk ke dalam, dan sebelum mobil melaju, ia menoleh ke jendela, melambaikan tangan kepada Su Yi yang masih berdiri di beranda menatapnya. Su Yi juga melambaikan tangan, tersenyum meskipun hatinya terasa sedikit berat melihat sosok suaminya perlahan menjauh dan menghilang di balik gerbang yang tertutup.

Su Yi tetap berdiri di sana sebentar, menatap ke arah gerbang yang tertutup, sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam rumah. Rumah itu sama — luas, megah, dan tenang — namun rasanya berbeda. Karena sekarang ia tahu bahwa ada seseorang yang mencintainya, seseorang yang akan kembali, dan seseorang yang selalu memikirkannya meski sedang jauh.

 

Di dalam mobil yang melaju menuju bandara, Mo Ha duduk bersandar di kursi belakang, namun matanya terus menatap foto kecil yang baru saja ia ambil dari saku kemejanya — foto Su Yi yang tersenyum manis pagi tadi, yang ia ambil diam-diam sebelum berangkat. Ia menyentuh wajah istrinya di dalam foto itu dengan jari telunjuk, lalu tersenyum tipis.

Tunggu aku, Su Yi. Tiga hari itu akan cepat berlalu. Dan saat aku kembali... aku takkan pernah pergi jauh lagi.

Sesampainya di bandara, Mo Ha langsung menuju ruang tunggu VIP. Ia duduk di kursi yang nyaman, namun pikirannya tidak tenang — bukan karena urusan pekerjaan, melainkan karena ia sudah merindukan Su Yi. Tak lama kemudian, pesawat mulai naik, dan selama perjalanan itu, ia terus menatap awan putih di luar jendela, membayangkan wajah istrinya, membayangkan senyumnya, dan menghitung jam hingga ia bisa kembali ke rumah dan ke pelukannya.

 

Sementara itu, di rumah, Su Yi tidak berdiam diri. Setelah Mo Ha pergi, ia membersihkan meja makan, lalu berjalan ke taman belakang untuk menyiram bunga-bunga — sesuatu yang sering ia lakukan sendirian dulu, namun sekarang rasanya berbeda. Setiap kali ia menyiram bunga melati yang harumnya memenuhi udara, ia teringat kata-kata Mo Ha pagi tadi — bahwa ia tahu ia menyukai bunga melati. Hal-hal kecil seperti itu membuatnya merasa dicintai dan dihargai, sesuatu yang dulu tak pernah ia rasakan.

Pukul sepuluh pagi, telepon berdering. Su Yi yang sedang duduk di ruang tengah langsung meraih ponselnya dengan cepat, berharap itu Mo Ha. Saat melihat nama yang tertera di layar, senyum langsung mengembang di wajahnya.

"Mo Ha?" jawabnya segera setelah mengangkat telepon.

"Su Yi..." suara Mo Ha terdengar di seberang sana, terdengar jelas dan lembut meskipun sedikit terganggu oleh suara latar bandara. "Aku sudah mendarat. Semuanya lancar."

"Syukurlah," ucap Su Yi dengan napas lega, hatinya yang tadinya sedikit cemas kini menjadi tenang. "Kau sudah sampai dengan selamat."

"Ya. Aku langsung memikirkanmu begitu turun dari pesawat," ucap Mo Ha pelan, membuat wajah Su Yi memerah merona. "Bagaimana keadaanmu di rumah? Sudah makan?"

"Sudah. Jangan khawatirkan aku. Fokuslah pada pekerjaanmu di sana," jawab Su Yi lembut. "Dan jangan terlalu lelah, ya?"

"Kau juga. Istirahatlah yang cukup. Aku akan meneleponmu lagi nanti sore, dan malam sebelum tidur," janji Mo Ha. "Sampai jumpa nanti, Sayang. Aku rindu."

"Aku juga rindu padamu, Mo Ha. Sampai bicara nanti," jawab Su Yi pelan, lalu menutup telepon dengan hati yang penuh dan bahagia.

Hari itu berlalu dengan tenang dan damai. Su Yi menghabiskan waktunya dengan membaca buku di taman, merawat bunga, dan berbicara dengan Mo Ha setiap kali ada kesempatan — telepon singkat di siang hari, telepon yang lebih lama di sore hari, dan telepon terakhir sebelum tidur di malam hari. Setiap kali mendengar suara suaminya, hatinya terasa hangat dan tenang — seakan jarak ratusan kilometer itu tidak ada artinya dibandingkan dengan ikatan hati yang kini terjalin begitu kuat di antara mereka.

Malam pertama tanpa Mo Ha di rumah itu awalnya terasa sepi dan sunyi, namun Su Yi tidak merasa kesepian. Karena saat ia berbaring di tempat tidur yang luas itu, ia bisa mencium aroma samar tubuh suaminya di bantal, dan ia bisa mendengar suara suaminya yang terakhir kali berbicara di telepon — Tidurlah yang nyenyak, Su Yi. Aku ada di sini, bersamamu. Ia memeluk bantal di sampingnya, membayangkan itu adalah pelukan Mo Ha, dan tidur dengan tenang, tanpa rasa takut dan tanpa rasa sepi.

Dan di kamar hotel yang jauh di kota lain, Mo Ha juga berbaring di tempat tidur yang luas itu, memegang ponselnya di tangan, berharap bisa melihat wajah istrinya sekali lagi sebelum tidur. Ia membuka foto Su Yi di galeri ponselnya, menatapnya lama sekali, lalu berbisik pelan di ruangan yang sunyi itu.

"Tidurlah, istriku. Aku pulang segera. Dan setelah ini... aku takkan pernah lagi tidur jauh darimu."

Malam itu, dua orang yang terpisah jarak ratusan kilometer tidur dengan hati yang saling memikirkan, saling merindukan, dan saling menunggu. Karena cinta sejati tak terhalang oleh jarak, tak terhalang oleh waktu, dan tak terhalang oleh apa pun. Dan tiga hari itu — yang terasa seperti selamanya bagi mereka yang baru saja menemukan cinta — akan berlalu dengan cepat, membawa mereka kembali ke pelukan satu sama lain, ke rumah yang penuh cinta, dan ke masa depan yang penuh kebahagiaan yang abadi.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!