Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Kilasan Mimpi
Sementara itu, di waktu yang sama di sudut dapur belakang Restoran Restu Ibu yang lembab dan bau amis.
Bima, seorang pemuda bertubuh kurus dengan pakaian kusam dan celemek kain yang sudah koyak di beberapa bagian, sedang berlutut di atas lantai keramik. Tangannya yang kasar dan penuh luka goresan menyikat tumpukan kuali hitam berukuran besar bekas rebusan gulai. Keringat mengucur deras di pelipisnya yang pucat.
"Woy, Bima. Nyikatnya yang bersih dong, jangan malas-malasan. Ngerjain kuali segitu doang lama banget,"
Sebuah tendangan keras mendarat di pinggiran ember plastik di dekat Bima.
Air sabun yang keruh membual keluar membasahi celana jeans pudar milik Bima.
Bima mendongak perlahan. Di depannya berdiri Rudi, kepala juru masak kepercayaan Fadel yang bertubuh kekar dengan tato naga melingkar di lengannya. Rudi menatap Bima dengan merendahkan sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
"Maaf mas Rudi, ini lemaknya tebal banget jadi harus digosok pelan-pelan supaya bersih," bisik Bima dengan suara parau dan napas tersengal.
Rudi meludah ke lantai, tepat di sebelah kaki Bima. "Gak usah banyak alasan. Lu itu disini cuma numpang makan. Bu Rika sama Mas Fadel udah cukup baik gak nendang lu ke jalanan setelah Bapak lu meninggal. Kalau kuali-kuali ini belum bersih dalam sepuluh menit, gak ada jatah makan siang buat lu hari ini. Paham!"
Bima menundukkan kepalanya dalam-dalam menahan rasa panas yang membakar matanya. "Iya, Mas... paham."
Sepeninggal Rudi, Bima meremas serabut kawat di tangannya hingga erat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes satu per satu menyatu dengan air sabun di dalam kuali.
Dia merindukan ayahnya. Dia merindukan Pak Bambang yang dulu selalu memeluknya hangat dan mengajarinya meracik bumbu dengan penuh kasih sayang. Bima tidak pernah tahu kenapa hidupnya berubah menjadi neraka secepat ini setelah ayahnya tiada.
---
Rhea duduk di balik meja kerjanya dengan kepala yang berdenyut parah. Efek tidak tidur semalaman karena ditempel arwah Pak Bambang kini benar-benar menyiksa fisiknya. Pandangannya ke layar laptop mulai kabur dan kelopak matanya terasa sangat berat.
Zora yang baru saja selesai mengedit video di sofa tamu menatap Rhea dengan raut wajahnya khawatir. Dia berdiri dan menghampiri meja Rhea.
"Rhe, udah stop dulu ngetiknya. Lu rebahan dulu di sofa situ. Istirahat," tegur Zora tegas.
Rhea menggeleng pelan mencoba tersenyum lemah. "Gak apa-apa Ra. Gue masih sanggup kok, nanti kalau ada datang klien gimana?"
"Batu banget sih jadi orang," cerocos Zora sambil menarik tangan Rhea agar berdiri dari kursi. "Gue yang jaga di meja depan. Lu merem lima belas menit di sofa. Gak ada penolakan. Kalau ada klien masuk baru gue bangunin."
Rhea menghela napas pasrah. Rasa lelah yang teramat sangat akhirnya mengalahkan egonya. "Yaudah deh, gue merem bentar ya, Ra. Makasih banyak."
"Nah, gitu dong," puji Zora puas. "Gue mau ke pantry belakang sebentar ya, mau bikin teh hangat."
Zora melangkah pergi menuju ruangan pantry di bagian belakang ruko. Sementara Rhea merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk. Dia menyandarkan kepalanya, menghela napas panjang dan perlahan-lahan memejamkan kedua matanya.
Namun, baru saja kesadaran Rhea melayang di ambang lelap kini udara di dalam ruko mendadak anjlok secara drastis.
Hawa dingin yang teramat menusuk ini sangat dikenali Rhea merayap cepat menyelimuti tubuhnya. Pandangan di balik kelopak mata Rhea yang pekat mendadak berubah menjadi pusaran warna merah darah. Jiwa dan alam bawah sadar Rhea ditarik secara paksa melintasi batas dimensi, terlempar masuk ke dalam sebuah memori kelam masa lalu.
Di dalam alam bawah sadar Rhea. Pandangan Rhea mendadak terbuka di sebuah ruang kantor pribadi kayu, yaitu ruang kerja Pak Bambang di Restoran Restu Ibu beberapa bulan yang lalu.
Malam itu hujan deras mengguyur luar bangunan, diiringi kilatan petir yang menyambar-nyambar nyaring.
Rhea berdiri mematung di sudut ruangan sebagai pengamat ghaib. Dia melihat Pak Bambang yang sedang duduk di balik meja kayunya, memegang dada kirinya yang mendadak terasa nyeri luar biasa. Wajahnya pucat pasi dan peluh dingin mengucur deras di pelipisnya.
"Ri.. Rika, tolong... obat saya..." bisik Pak Bambang parau, meraih botol obat di ujung meja dengan tangan gemetaran.
Namun, sebelum jemari tua itu sempat menyentuh botol obat. Sebuah tangan berhiaskan perhiasan emas menyambar botol tersebut dan menjauhkannya.
Rika berdiri di sana. Di sampingnya, Fadel tersenyum culas sambil memegang sebuah draft surat wasiat palsu dan penanya.
"Obat? Nanti dulu dong, Papi sayang..." suara Rika terdengar manis namun beracun. "Tanda tangani dulu surat hibah ini. Serahkan seluruh restoran dan harta Papi ke Fadel dan Mami. Setelah itu baru Mami kasih obatnya."
"Kalian... gila," rintih Pak Bambang terbatuk-batuk, matanya membelalak tak percaya. "Ini hak Bima. Ini milik anakku."
"Bima itu cuma anak pembawa sial," bantah Fadel murka.
Fadel langsung maju dan mencengkram kerah baju koki putih yang dikenakan Pak Bambang. "Tanda tangan cepat. Tua bangka."
"Tidak," Pak Bambang menepis tangan Fadel dengan sisa tenaga yang dimiliki. Beliau mencoba berdiri untuk mengambil ponselnya di atas meja.
Namun, keputusasaan mengubah Rika dan Fadel menjadi iblis.
"Rudi. Masuk." teriak Fadel kencang ke arah pintu
Pintu kayu ruang kerja mendadak terbuka kasar. Rudi juru masak kekar bertato yang menyiksa Bima di dapur tadi, melangkah masuk dengan tatapan mata liar.
"Pegang dia," perintah Rika dingin tanpa emosi sedikit pun.
Rudi tanpa ragu menerjang Pak Bambang. Pria tua itu dihempaskan ke lantai secara brutal. Rudi menahan kedua lengan Pak Bambang ke belakang, sementara Fadel berlutut di atas dada Pak Bambang, secara paksa menggenggam jemari tua yang kaku itu untuk menorehkan tanda tangan di atas kertas wasiat berstempel materai.
"Lepaskan... tolong," rintih Pak Bambang pasrah, dadanya makin sesak tak tertahankan.
Setelah tanda tangan paksaan itu terukir di atas kertas, Fadel berdiri dan tersenyum puas. Namun, Pak Bambang yang terkulai lemas di lantai mendadak meraih kaki Rudi, mencoba merayap keluar ruangan untuk meminta bantuan.
"Dia masih mau berontak, Mas Fadel," seru Rudi gusar.
"Habisi sekalian. Biar kelihatan seperti jantungan dan jatuh," balas Fadel kejam.
Rudi menyeret tubuh Pak Bambang di atas lantai kasar secara paksa. Kain celemek koki putih yang dikenakan Pak Bambang tersangkut paku meja dan robek-robek parah. Rudi lalu menghantamkan bagian dada dan tubuh pria tua itu ke sudut meja secara berulang kali.
Menghancurkan tulang rusuknya dari dalam hingga darah pekat merembes membasahi dada celemek putihnya.
Pak Bambang memuntahkan darah matanya mendelik pasrah sebelum akhirnya napasnya terhenti selamanya.