NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. NADIRA MARAH

Malam puncak gala opening resor mewah milik Wiraatmaja Group di kawasan Borobudur berlangsung dengan sangat megah.

Lampu-lampu taman bernuansa keemasan menyoroti kemegahan arsitektur tradisional yang dipadukan dengan kemewahan modern. Para pengusaha papan atas, pejabat daerah, dan tokoh-tokoh terkemuka dari seluruh Jawa Tengah dan Yogyakarta berkumpul dalam balutan busana terbaik mereka.

​Abiyasa melangkah masuk ke area outdoor ballroom dengan penuh percaya diri. Pria itu tampak sangat tampan dan berwibawa dalam balutan setelan tuxedo berwarna hitam pekat. Di sampingnya, Nadira berjalan anggun menggamit lengan tegap suaminya. Gadis itu mengenakan gaun malam berpotongan simpel berwarna emerald green yang dipadukan dengan riasan tipis alami, membuat kecantikan polosnya memancar sempurna.

​"Mas Abi... orang-orang pada ngelihatin kita ya?" bisik Nadira canggung saat merasakan beberapa pasang mata kolega bisnis menatap ke arah mereka.

​Abiyasa menepuk pelan jemari Nadira yang melingkar di lengannya, memberi kehangatan. "Biarkan saja. Mereka hanya kagum melihat betapa cantiknya istri saya malam ini."

​"Gombal terus," cicit Nadira pelan, walau pipinya merona hangat di balik temaram lampu.

​Dari kejauhan, Baskara yang mengenakan jas berkain batik mewah melambaikan tangan seraya menghampiri mereka membawa dua gelas minuman.

​"Wah, wah! Pasangan paling fenomenal malam ini akhirnya datang juga!" seru Baskara dengan tawa renyahnya. Ia menatap Nadira dengan binar takjub. "Nadira, kamu cantik sekali malam ini! Abi beneran beruntung banget bisa dapat kamu."

​"Terima kasih, Mas Baskara," jawab Nadira ramah.

​"Baskara, berhenti menatap istri saya seperti itu kalau kamu masih mau resor ini beroperasi besok," tegur Abiyasa dingin penuh ancaman.

​Baskara menepuk jidatnya sendiri seraya tertawa lepas. "Aduh, posesifnya kumat lagi! Iya, iya, Bos Besar! Aku cuma memuji!"

​Saat mereka bertiga sedang berbincang ringan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan jas abu-abu mahal menghampiri meja mereka. Di samping pria itu, berdiri seorang wanita muda seusia Abiyasa yang mengenakan gaun merah terbuka dan perhiasan berlian yang mencolok.

​"Abiyasa! Akhirnya ketemu juga di sini," sapa pria paruh baya itu dengan suara berat yang dominan.

​Abiyasa langsung memutarkan tubuhnya, menjabat tangan pria tersebut dengan sopan namun formal. "Pak Suryawan. Selamat malam."

​Pria bernama Pak Suryawan itu adalah salah satu komisaris utama bank swasta terbesar yang menjadi mitra strategis Mahendra Group.

​"Luar biasa sepak terjang Mahendra Group di Singapura pekan lalu, Abi," puji Pak Suryawan antusias. Tangannya kemudian merangkul bahu wanita muda di sampingnya. "O ya, kenalkan ini putri tunggal saya, Vanya. Dia baru saja menyelesaikan program MBA-nya di Amerika."

​Wanita bernama Vanya itu tersenyum sangat manis—sebuah senyuman yang sengaja dibuat memikat—lalu mengulurkan tangannya pada Abiyasa. "Selamat malam, Pak Abiyasa. Saya sudah banyak mendengar tentang Anda dari Ayah. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung."

​Abiyasa menjabat tangan Vanya singkat dan profesional, lalu melepaskannya tanpa minat berlebih. "Selamat malam, Mbak Vanya."

​Pak Suryawan tertawa berwibawa, lalu matanya melirik singkat ke arah Nadira yang berdiri di samping Abiyasa. Mengira Nadira hanyalah asisten muda atau kerabat keluarga, Pak Suryawan sama sekali tidak mempedulikan keberadaan gadis itu dan langsung meluncurkan niat utamanya.

​"Abi, kamu ini kan masih muda, sukses, dan belum berkeluarga," ujar Pak Suryawan tanpa ragu, suaranya terdengar cukup nyaring di area VIP tersebut. "Vanya ini baru pulang ke Indonesia dan rencananya akan memegang anak perusahaan kami di Jakarta. Bagaimana kalau akhir pekan ini kalian makan malam bertiga bersama saya? Saya rasa, jika keluarga Mahendra dan keluarga Suryawan bersatu lewat pernikahan, imperium bisnis kita di Asia Tenggara tidak akan ada yang bisa tandingi."

​DEG!

​Suasana di meja itu mendadak membeku kaku.

​Vanya tersenyum makin lebar dengan wajah merona, menatap Abiyasa penuh harap.

Sementara Baskara di samping mereka langsung menghentikan sedotan minumannya, matanya membelalak kaget menatap Pak Suryawan yang dengan tanpa dosa menawarkan perjodohan terang-terangan di depan istri sah Abiyasa.

​Nadira yang mendengar kalimat 'persatuan keluarga lewat pernikahan' terasa seperti dihantam batu besar tepat di dadanya. Darahnya berdesir panas, dan jemari kecilnya yang melingkar di lengan Abiyasa mendadak mencengkeram kain jas suaminya begitu kuat.

​Menikahkan Abiyasa dengan wanita ini?! Di depan mukaku sendiri?! batin Nadira yang mendadak dipenuhi gelombang cemburu dan amarah yang luar biasa besar.

​Abiyasa merasakan cengkeraman ketat jemari Nadira di lengannya. Pria itu menyandarkan pandangan dinginnya pada Pak Suryawan, rahangnya mengetat keras.

​"Maaf, Pak Suryawan," potong Abiyasa dengan suara baritonnya yang sangat tebal, dingin, dan memotong harapan. "Tawaran Anda sangat tidak relevan."

​Pak Suryawan mengerutkan keningnya bingung. "Maksudmu tidak relevan bagaimana, Abi? Ini kesempatan investasi dan masa depan yang sangat bagus—"

​"Karena saya sudah memiliki istri," pangkas Abiyasa tegas dan lantang.

​Pria itu menarik lengan Nadira maju, lalu merangkul pinggang mungil istrinya secara protektif di depan Pak Suryawan dan Vanya.

​"Kenalkan, ini Nadira Kirana Mahendra. Istri sah saya dan satu-satunya wanita yang memegang takhta di hidup saya," tegas Abiyasa tanpa ragu sedikit pun.

​Wajah Vanya yang semula merona manis seketika pias dan pucat bagai kertas. Pak Suryawan tersedak liurnya sendiri, matanya melotot kaget menatap gadis muda di samping Abiyasa yang baru saja diakuinya sebagai Nyonya Besar Mahendra.

​"I-istri?! Abiyasa, kamu... kamu sudah menikah?!" gagap Pak Suryawan menahan malu yang amat sangat.

​"Sudah cukup lama, Pak Suryawan," sahut Abiyasa datar. "Jadi saya minta Anda tidak lagi melayangkan penawaran perjodohan seperti ini di masa depan."

​"A-ah... begitu... maafkan saya, Abi! Saya benar-benar tidak tahu!" seru Pak Suryawan canggung setengah mati, cepat-cepat menarik lengan putrinya. "Vanya, mari kita ke meja lain dulu!"

​Setelah Pak Suryawan dan Vanya pergi dengan langkah tergesa-gesa dan menahan malu, Baskara yang menyaksikan kejadian itu meledak dalam tawa pelan.

​"Gila! Pak Suryawan tawarannya nekat banget!" kelakar Baskara. "Tapi penolakanmu mantap betul, Abi!"

​Namun, Abiyasa tidak mempedulikan tawa Baskara. Pria itu menoleh ke arah Nadira di sampingnya.

​Nadira tidak tersenyum sama sekali. Gadis itu melepaskan pegangannya dari lengan Abiyasa, menundukkan kepala dengan rahang yang mengetat keras. Kekesalan, cemburu yang membakar, dan rasa tidak nyaman akibat ditawar-tawarkan suami sendiri membuat emosi gadis SMA yang baru lulus itu meledak di dalam dada.

​"Nadira?" panggil Abiyasa pelan seraya mencoba meraih tangan istrinya.

​"Jangan sentuh!" sembur Nadira pelan namun tajam, memukul pelan tangan Abiyasa. "Saya mau ke toilet."

​Tanpa menunggu persetujuan Abiyasa, Nadira berbalik cepat dan melangkah lebar meninggalkan area pesta, mengabaikan Abiyasa yang berdiri mematung kaget.

​Baskara menepuk bahu Abiyasa seraya berbisik nakal. "Waduh... istrimu ngamuk, Bro. Selamat berjuang mencairkan es batu yang gantian jadi panas!"

​Sepuluh menit kemudian, di koridor sepi dekat area taman belakang resor yang remang-remang.

​Nadira berdiri bersedekah dada di dekat kolam ikan, menyeka air mata kekesalan yang sempat menetes di pipinya. Rasa cemburu melihat wanita anggun bergaun merah tadi dan tawaran perjodohan itu membuat hatinya benar-benar jengkel.

​Derap langkah kaki yang tegap menghampirinya dari belakang. Sebuah jas malam tegap mendarat pelan di atas bahu terbuka Nadira, menyelimutinya dari hawa dingin malam.

​Aroma wewangian sandalwood yang sangat familier menyeruak masuk.

​"Udaranya dingin. Nanti kamu masuk angin," bisik suara bariton Abiyasa tepat di belakang telinga Nadira.

​Nadira menepis jas mahal itu dari bahunya hingga jatuh ke atas rumput. Gadis itu memutar badan, menatap Abiyasa dengan mata bulatnya yang memerah dan menyalakan binar amarah.

​"Nggak usah sok perhatian!" sembur Nadira emosi, dadanya naik turun memburu. "Sana balik ke dalam! Kan ada Mbak Vanya yang S2 Amerika yang cantik dan cocok banget buat investasi Mahendra Group!"

​Abiyasa mengambil jasnya yang jatuh dari rumput, mengibaskannya pelan, lalu menatap istri kecilnya yang sedang membara oleh rasa cemburu. Bukannya marah, sudut lipatan bibir sang CEO justru terangkat tipis—sebuah rasa gemas dan kehangatan meluap melihat betapa besarnya rasa cinta Nadira yang terwujud dalam bentuk cemburu liar ini.

​"Nadira..." panggil Abiyasa lembut seraya melangkah satu tapak mendekat.

​"Apa?! Mas Abi mau bilang kalau tawaran Pak Suryawan itu bagus buat bisnis?! Mau bilang kalau cewek tadi lebih pantas berdiri di samping Mas Abi dibanding anak SMA kayak aku?!" cecar Nadira bertubi-tubi, air mata cemburunya kembali menetes. "Kalau Mas Abi nyesel nikah sama aku, bilang dari awal! Nggak usah—"

​Kalimat tajam Nadira terputus seketika.

​Abiyasa menarik pinggang mungil Nadira dalam satu gerakan cepat, mengikis seluruh jarak di antara mereka, lalu menyapu bibir cemberut istrinya dalam sebuah c*u*an yang sangat dalam, hangat, dan menuntut.

​Nadira sempat berontak pelan, memukul-mukul dada tegap Abiyasa dengan jemari kecilnya. Namun, Abiyasa makin mengencangkan pelukan protektifnya di pinggang Nadira, menyesap bibir manis istrinya dengan kelembutan yang membuai dan kepemilikan yang mutlak.

​Sensasi hangat dan rasa cinta yang mengalir dari ciuman suaminya perlahan melelehkan seluruh amarah di dada Nadira. Pukulan tangannya di dada Abiyasa melunak, hingga akhirnya jemari kecilnya menyusup ke rambut belakang Abiyasa, membalas perlakuan manis suaminya dengan rasa pasrah yang tulus.

​Beberapa saat berlalu dalam sihir keheningan taman malam itu, hingga akhirnya Abiyasa melepaskan pautan bibir mereka perlahan.

​Napas Nadira memburu pelan, pipinya memerah padam di bawah sinar rembulan.

​Abiyasa menempelkan dahinya di dahi Nadira, menatap iris mata istrinya yang kini berbinar sayu. Ibu jari Abiyasa mengusap sisa air mata di pipi mulus Nadira.

​"Dengar saya, Nyonya Mahendra," bisik Abiyasa dengan suara yang sangat rendah, serak, dan penuh ketulusan. "Mau ada seribu wanita lulusan Amerika atau putri konglomerat mana pun yang ditawarkan kepada saya, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menggantikan posisimu."

​Nadira menelan ludah, menatap lurus ke dalam mata cokelat gelap suaminya. "Beneran?"

​"Saya sudah menolak penawaran itu di depan mukanya secara langsung, bukan?" pangkas Abiyasa seraya terkekeh rendah. Tangannya mengusap rahang lembut Nadira. "Bagi saya, investasi terbaik dan harta paling berharga yang saya miliki adalah kamu, Nadira."

​Nadira menyembunyikan wajah mewahnya yang panas di dada bidang Abiyasa, melingkarkan kedua lengannya erat-erat di pinggang suaminya. "Habisnya aku kesal banget... Mbak yang tadi centil banget natap Mas Abi!"

​Abiyasa tersenyum sangat lebar—sebuah senyuman penuh kemenangan dan kebahagiaan—lalu mengecupi puncak kepala Nadira dengan kasih sayang yang melimpah.

​"Terima kasih sudah cemburu untuk saya, Sayang," bisik Abiyasa hangat. "Itu membuktikan bahwa kamu memang sangat mencintai suamimu ini."

​"Mas Abi narsis!" cibir Nadira dari balik dada Abiyasa, walau senyum manisnya kembali mekar sempurna.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!