NovelToon NovelToon
Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:23.5k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Update santai sesuai mood Othor 😋

Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#25

#25

“Kalian di rumah!” titah Papi Daniel pada dua keponakannya, Karl dan Zack. 

“No, Uncle. Kami harus ikut, kalo nggak, biar aku saja. Kan, mereka juga menculik dan menyandera kakakku, jadi aku harus memastikan mereka baik-baik saja.” 

Papi Daniel memijat pelipisnya, “Aku juga harus ikut! Keponakanku dalam bahaya.” Zack ikut-ikutan mengemukakan alasan. 

“Aku juga pengen ikut, tapi alasanku apa?” keluh Suzy, galau, serem, tapi pengen nonton perkelahian Abang Zain tersayang secara langsung. “Ah, aku juga harus memastikan Abang Zain baik-baik saja.” 

“Yeee! Yang ada juga kamu yang bikin repot Abang Zain,” sembur Zack. 

“Kan, ada kalian, jadi di jamin Abang Zain nggak akan repot.” Suzy menyeringai, kelopak matanya berkedip cepat, membuat Karl makin bergidik geli. Pemuda itu langsung mengusap wajah Suzy dengan telapak tangannya, “iiih, kan, jadi berantakan poni aku,” protes Suzy. 

Daniel hanya berdecak, “Ini peringatan untuk kalian bertiga, suasana terlalu berbahaya, jadi tidak ada yang boleh ikut, titik!”

Ketiga remaja itu manyun, tapi tak berani protes lagi pada si Tuan Besar Geraldy. “Ayo,” ajak Papa Darren. 

Mobil sudah siap, siang bolong begini pasti jalanan lumayan ramai, jadi mereka menggunakan pengawalan khusus agar dapat akses VIP. 

Lima buah mobil hitam dengan plat nomor khusus, melaju di tengah ramainya lalu lintas ibu kota. Orang-orang yang ada di dalam mobil nampak sangat serius, hanya sesekali menghela nafas mereka. 

Karl, Zack, dan Suzy saling pandang. Tanpa aba-aba yang jelas, Karl berlari mendahului, disusul Zack. Dan Suzy mengekor, seperti biasa ia kewalahan menyamai kecepatan lari kedua teman laki-lakinya itu. “Woy, jangan cepet-cepet, tungguin aku!” 

“Dasar cebol, kakinya pendek, lari aja lelet. Buruan kalau mau ikut!” pekik Zack, yang sudah memakai helm, begitupun Karl yang langsung melaju, karena tak mau bila Suzy nebeng di motornya. Ribet, gaya Suzy terlalu alay baginya. 

Jadilah motor Zack yang mbawa Suzy, “Pegangan!” perintah Zack. 

“Nggak mau! Ntar Abang Zain cembu— zaaaack! Kamu mau bikin aku jantungan!” 

Benar sekali perkoraan Karl, karena belum apa-apa Suzy sudah berteriak heboh, tapi Zack mengabaikannya. 

Terpaksa Suzy memeluk pinggang lelaki itu, karena Zack melaju dengan kecepatan tinggi. 

Kedua motor itu saling berkejaran, selip kanan, selip kiri diantara mobil-mobil yang ada di sekitar mereka. Gimana lagi, yang penting lekas bisa menyusul. 

Untung saja mereka ahli dalam hal itu, bila mengingat masa muda daddy mereka, maka tak heran bila kini buah jatuh sekalian sama pohonnya. Plek ketiplek. 😜😋

Semakin kencang motor melaju, kedua tangan Suzy Suzy semakin erat memeluk pinggang Zack. Disaat begini mana sempat gadis itu membetulkan letak poni rambutnya, yang ada malah wajah Suzy tiba-tiba ketempelan kantong kresek yang melayang entah dari mana. 

“Huwaaa! Sialaan! Wajah cantik guwe ketempelan kresek bekas gorengan! Huaaa!” 🤣🤣

Astoge, untung saja kedua telinga Zain tertutup rapat helm yang dikenakannya, jika tidak, pasti sudah pecah gendang telinganya mendengar teriakan Suzy. 

Di sebuah cafe yang nampak terlalu tenang dua orang pria sedang asyik berbincang dalam suasana santai. Sudah lama mereka tak bersua, jadi sesekali bertemu begini sungguh sangat menyenangkan. Itung-itung mengobati kerinduan, saat dulu mereka kerap bekerja bersama, kadang sampai seminggu tak pulang ke rumah bila kasusnya berat. 

“Kamu sudah telepon kapten?” 

“Belum, kamu saja.” 

Bastian manyun, meski usia sudah lebih dari kepala lima, tetap saja ia anggota termuda, jadi hanya bisa pasrah menjalankan perintah seniornya. 

Namun, sebelum ponsel terbuka, iring-iringan mobil melintas. Jika tak menggunakan patwal mungkin biasa saja, tapi karena sirine mobil melengking sepanjang jalan, akhirnya Marco dan Bastian pun menoleh. 

“Lho—” kata mereka bersamaan, mereka tentu mengenali mobil dengan logo khusus keluarga Geraldy. 

“Kok— mereka heboh sekali, pasti ada yang tak beres?” gumam Marco. 

Bila tak ada situasi gawat, mereka tak akan membuat kehebohan sedemikian rupa. 

Seperti halnya Zack dan Karl, kedua mantan anak buah Danesh itu pun bergegas berdiri. “Kamu yang bawa mobil,” perintah Marco. 

“Kenapa aku?” gerutu Bastian. 

“Aduh! Lututku—” Tiba-tiba Marco mengeluhkan lututnya. “Sepertinya ototnya kaget, karena aku bergerak tiba-tiba.” 

Sekali lagi Bastian hanya bisa manyun, “Bukannya kaget, tapi kamu saja yang kurang gerak!” 

“Lihat, bukankah itu Karl dan Zack?” Marco mengalihkan topik. 

“Kamu benar, ayo cepat, sebelum kita kehilangan jejak!” 

Pensiun membuat hidup mereka terlalu santai, bila Bastian masih beberapa kali datang ke kantor polisi, Marco sudah sepenuhnya di rumah, karena sudah purna tugas. 

Jadi saat melihat ada situasi menegangkan begini, adrenalin mereka terpacu, berasa masih usia dua puluhan, padahal lutut dan persendian sudah tak sekuat dulu. Kini mereka adalah geng pria paruh baya yang tak bisa bersantai menikmati masa tua. 

•••

Di tempat Mayra di sekap. 

Gadis itu baru saja membuka mata, ia duduk dengan posisi kedua mata terpejam, untunglah, mereka tak mengikat tangan dan kakinya, sementara Zea hanya dibiarkan tiduran di sofa. Mayra khawatir saat bangun nanti mungkin Zea akan menangis, karena merasa asing dengan tempat ini. 

“Sialan betul mereka, berani-beraninya menyekap gadis secantik aku. Apa mereka tak tahu jika sedang mengundang bencana datang mendekat?” desis Mayra, sambil menahan rasa pening di kepalanya. 

Gadis itu menegakkan posisi duduknya, lalu menyadari tasnya telah hilang. “Kartu kreditku— harta karunku yang berharga—” rengeknya, menyesali hilangnya kedua harta karun tersebut. 

Mayra mendengus marah, seperti banteng yang siap mengamuk. 

Brak! 

Brak! 

Brak! 

Gadis itu berdiri dan berjalan menghampiri pintu, tanpa rasa takut sedikitpun ia menggebrak pintu beberapa kali sambil berharap Zea tidak terbangun. 

Tak lama kemudian pintu terbuka, seorang pria tinggi menjulang, berdiri di depan pintu. 

“Why?” tanyanya dengan bahasa asing. 

“Gue nggak peduli lu orang mana! Tapi di sini bahasa Indonesia yang berlaku!” hardik Mayra, sok nasionalis. Padahal sekali kepret saja tubuhnya mungkin melayang di tangan pria itu. 

Atau mungkin—

“Mana tas gue!” 

“What do you say?” 

“Ya, Tuhan ini preman dari mana, sih? Bisa-bisanya bikin heboh di indonesia, sementara dia sendiri gak bisa bahasa Indonesia?” Mayra menepis tubuh besar pria itu, lalu melenggang keluar dari ruangan hanya untuk mencari tasnya. 

“Hey, Girl, what do you want?” 

“Bodo amat,” sahut Mayra pura-pura tak paham.

Tiba di sebuah ruangan, beberapa pria sedang menikmati pizza yang sepertinya masih panas. “Mana tas gue, Sialan!” 

“Kenapa kau biarkan dia keluar?” tanya orang-orang disana, pastinya bukan pada Mayra. 

Lalu pria yang membukakan pintu untuk Mayra itu, mencekal lengan Mayra dengan kuat, tujuannya untuk menyeret Mayra agar kembali ke kamarnya. 

Tapi, sesuatu tak terduga terjadi. 

Set! 

Srek! 

Wush! 

Brugh! 

“Akhh! Shittt!” umpat pria yang baru saja dihempaskan Mayra. 

Mayra menangkis cekalan tangan pria itu, menjegal kakinya, dan dengan mudah membanting pria tersebut, hingga tubuh pria itu membentur lantai yang dingin. 

“Kan, gue cuma mau tas, kenapa pada suka nyari ribut, sih? Nggak perlu nyari ribut, sebentar lagi juga kalian yang akan ribut, lari kalang kabut.” 

“Aku, tuh, nggak mau cape. Secara, aku, kan tuan putri. Tahu, nggak?!” sembur Mayra acuh, lalu berjalan mendekati meja tempat tasnya berada, “Yaa, ponsel habis baterai lagi, Ck ck ck!” gerutunya, lalu melenggang pergi kembali ke kamar tempat ia disekap sebelumnya. 

Sekelompok pria itu melongo saling pandang. tubuh Mayra lebih kecil dari lawannya, tapi dengan mudah gadis itu menjegal dan menjatuhkannya, seolah tubuh pria itu hanya setumpuk karung bekas. 

1
Shee_👚
wah kayanya zea bakalan punya adik inu
Shee_👚
ini kalau udah gese persis mayra kayanya, atau lebih2 dari mayra
Shee_👚
kayanya ada dendam tersembunyi zea sama Romeo🤣
Shee_👚
ampun bu gulu sampai hapal😂
Dozky 2 Crazy
😁😁😁 jgn cpt gede y Zea gemesss deh
Dozky 2 Crazy
😁😁😁 gemess deh
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sepertinya kalian berdua hamil 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mantap nih 🤤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
wah 🤣🤣🤣
vania larasati
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
tertarik*
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
akhirnya nambah up jg🤭
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸: SEMANGAT KAK OTHOR 💪💪💪
total 4 replies
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
semangat up othor
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Habisin dulu baksonya,ga enak kl dingin 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul banget🤭🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🤣🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
wowwwwww🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪💪❤️❤️❤️❤️❤️
🌷Vnyjkb🌷
👍👍🙏🙏❤️❤️❤️❤️❤️
Shee_👚
siap
Shee_👚
zain itu baksonya boleh buat aku gak🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!