Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nasihat bu kirana
Pagi itu, Dimas datang lebih awal dari biasanya, meski kebiasaannya memang selalu jadi orang pertama di kantor. Ia duduk gelisah di ruang tunggu di luar ruang kerja Kirana, mengulang-ulang kalimat yang sudah ia susun semalaman di kepalanya, mencoba mencari cara paling tepat untuk memulai percakapan yang, entah kenapa, terasa jauh lebih menegangkan daripada presentasi bisnis apa pun yang pernah ia lakukan.
"Masuk aja, Dimas," kata Kirana, membuka pintu ruang kerjanya sendiri begitu melihat Dimas duduk kaku di kursi tunggu. "Nggak usah setegang itu. Ini bukan rapat evaluasi kinerja."
Dimas tersenyum canggung, mengikuti Kirana masuk ke ruangannya yang kini jauh lebih luas dari ruang kerja kecil di ruko lama, meski tetap menyimpan satu elemen yang tidak pernah berubah: buku catatan kulit cokelat milik almarhum ayah Kirana, selalu tergeletak rapi di sudut meja kerjanya.
"Jadi," kata Kirana, duduk santai di kursinya, "ada apa? Kelihatannya bukan soal kerjaan biasa."
Dimas menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian. "Ini soal Alya, Bu. Klien dari Studio Alinea."
Kirana mengangkat alis sedikit, tapi tidak terkejut. "Ada masalah sama kerja samanya?"
"Bukan soal kerja sama bisnisnya," jawab Dimas, wajahnya mulai memerah tipis. "Ini lebih ke... perasaan saya sendiri, Bu. Saya rasa saya mulai suka sama dia. Bukan cuma sebagai klien."
Kirana terdiam sesaat, menatap Dimas dengan ekspresi yang sulit dibaca—bukan marah, bukan juga terkejut berlebihan, lebih seperti sedang mempertimbangkan jawaban yang tepat.
"Itu bukan hal yang aneh, Dimas," kata Kirana akhirnya, nadanya lembut. "Kamu manusia biasa, bukan robot yang cuma bisa mikirin angka dan laporan keuangan seharian."
"Tapi ini bisa jadi masalah, kan, Bu?" tanya Dimas, cemas. "Saya yang pegang proyek investasinya. Kalau ternyata ada konflik kepentingan, atau kalau ini malah bikin hubungan kerja kita berantakan..."
Kirana mengangguk pelan, memahami kekhawatiran itu. "Kamu benar, ini memang perlu dipikirkan hati-hati. Tapi bukan berarti perasaan itu salah, Dimas. Yang penting, kamu harus tetap profesional dalam menjalankan tugasmu, apa pun yang terjadi di luar itu."
Ia berhenti sejenak, menatap keluar jendela ruang kerjanya sebelum melanjutkan, suaranya menjadi sedikit lebih pribadi. "Saya pernah belajar hal penting dari pengalaman saya sendiri, Dimas. Dulu, saya terlalu takut sama perasaan saya, terlalu sibuk berusaha jadi orang yang 'benar' menurut standar orang lain, sampai saya lupa mendengarkan apa yang sebenarnya saya inginkan. Jangan ulangi kesalahan itu."
Dimas mendengarkan dengan saksama, merasa nasihat itu jauh lebih dalam dari sekadar arahan bisnis biasa.
"Tapi gimana caranya saya pastikan ini nggak ganggu profesionalisme saya, Bu?" tanyanya lagi.
"Sederhana," jawab Kirana. "Pisahkan dengan jelas kapan kamu bicara sebagai perwakilan Cahaya Abadi Investama, dan kapan kamu bicara sebagai Dimas yang punya perasaan pribadi. Jangan campur adukkan keduanya dalam keputusan bisnis. Kalau ada keputusan besar terkait investasi Alinea, biar tim lain yang review juga, biar nggak ada bias personal yang masuk. Itu cara paling aman, buat kamu, buat Alya, dan buat perusahaan."
Dimas mengangguk, merasa beban di dadanya sedikit berkurang mendengar solusi konkret itu. "Terima kasih, Bu. Saya nggak nyangka bakal dapat nasihat kayak gini dari atasan saya sendiri."
Kirana tersenyum kecil. "Saya bukan cuma atasan kamu, Dimas. Kamu udah kerja sama saya dari ruko kecil berdebu itu, dari saya belum punya siapa-siapa selain Pak Hadi dan tekad nekat. Saya anggap kamu bagian penting dari perjalanan saya. Wajar kalau saya peduli juga sama kebahagiaan kamu, bukan cuma kinerja kamu."
Percakapan itu berakhir dengan Dimas merasa jauh lebih lega dari sebelumnya, meski tantangan sesungguhnya baru akan dimulai: bagaimana menjaga keseimbangan antara profesionalisme dan perasaan yang mulai tumbuh, sambil tetap menghadapi kekhawatiran Reza yang belum sepenuhnya reda.
Siang harinya, saat rapat tim riset berlangsung untuk membahas evaluasi lanjutan proyek Alinea, Dimas secara sengaja mengusulkan agar Rani, analis junior di timnya, ikut turun langsung meninjau laporan keuangan studio itu bersama dirinya—langkah kecil untuk memastikan transparansi dan menghindari kesan bahwa keputusan investasi hanya bergantung pada hubungan personalnya dengan Alya.
"Kenapa tiba-tiba minta aku ikut, Bang?" tanya Rani, sedikit heran dengan perubahan kebiasaan Dimas yang biasanya menangani klien besar sendirian.
"Biar lebih transparan aja," jawab Dimas, tersenyum tipis. "Dan biar kamu juga dapat pengalaman langsung nangani klien tipe kreatif kayak gini. Bagus buat perkembangan karier kamu ke depan."
Rani mengangguk antusias, tidak menyadari alasan sesungguhnya di balik keputusan itu—sebuah langkah kecil namun penting yang diambil Dimas untuk menjaga integritas profesionalnya, persis seperti yang disarankan Kirana.
Sore harinya, Dimas mengunjungi studio Alinea bersama Rani, kali ini dengan suasana kerja yang terasa sedikit berbeda—lebih formal dari pertemuan kafe kemarin, meski Dimas tetap berusaha bersikap wajar di depan Alya.
"Kok bawa tim sekarang?" tanya Alya, sedikit heran melihat kehadiran Rani.
"Biar lebih menyeluruh evaluasinya," jawab Dimas, mencoba terdengar profesional. "Rani bakal bantu pantau laporan keuangan lebih detail ke depannya."
Alya menatap Dimas sesaat, seperti menangkap sesuatu yang tidak terucap di balik alasan itu, tapi memilih tidak bertanya lebih jauh, hanya mengangguk dan melanjutkan rapat evaluasi seperti biasa.
Di sudut ruangan, Reza memperhatikan interaksi itu dengan saksama, ekspresinya sedikit melunak melihat perubahan sikap Dimas yang kini terasa lebih hati-hati dan transparan—meski ia tetap menyimpan kewaspadaan di dalam hatinya, menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar yakin bahwa niat Dimas terhadap Alya memang setulus yang ia ucapkan.