Leerant Quan adalah mahasiswa S2 paling njelehi sedunia. Dia tidak mau menyelesaikan tugas akhir akibat pundung sama dosen pembimbingnya ditambah nilai bahasa Inggris nya D gara2 dosennya tua! Akibatnya, ayahnya Timothy Quan ( dr triad Quan Taiwan ) mengultimatum harus lulus dalam waktu kurang dari setahun. Leerant harus kuliah lagi bahasa Inggris dan ternyata dosennya ... Katerina Reeves. Gadis yang empat tahun lebih tua darinya mampu membuat Leerant jungkir balik. Segala cara dilakukan agar putri Kaivan Reeves itu mau dengannya. Sementara Katerina tidak suka pria malas dan njelehi ditambah dia sudah punya pacar. Leerant pun berusaha menikung meskipun harus adu senjata.
Gen 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yelena dan Amura
"Yelena!" panggil Ambar saat melihat keponakannya datang dengan gaya centil. "Ya ampun, pinky-pinky."
Yelena salim ke Ambar yang langsung berjongkok dan mendapatkan pelukan serta ciuman di pipi dari batita itu.
"Wangi bayi itu emang enak ya Kate," kekeh Ambar sambil memeluk Yelena.
"Iya lho Mbak," senyum Katerina.
Ambar pun berdiri dan cipika cipiki dengan Katerina. "Bagaimana harimu?"
"Alhamdulillah baik. Mbak Ambar ada tindakan?" Katerina menggandeng tangan Yelena lagi. Mereka berjalan ke ruangan Amura.
"Nggak. Aku hari ini tidak ada tindakan. Hanya visite saja. Makanya aku mau dipeluk cium Yelena. Karena tidak ada acara ops." Ambar menoleh ke Katerina. "Yelena baik-baik saja?" tanyanya dengan bahasa Jerman.
"Dia baik-baik saja." Bukan tanpa alasan Ambar dan Katerina memakai bahasa Jerman karena Yelena belum belajar. Yelena baru bisa bahasa Korea dan Russia dikit-dikit. Sisanya bahasa Inggris dan Indonesia.
"Semoga traumanya mulai terkikis ya," ucap Ambar.
"Juno dan Zela gimana Mbak?" tanya Katerina.
"Baik. Sekarang mereka di Singapura, kerja di sana." Putra Ambar dan Guinandra akhirnya menikah dengan Azalea, putri angkat Bella, sebelum mantan istri Guinandra itu berpulang. Setahun setelah menikah, Azalea dan Herjuno dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Brayasta yang berarti tegas dan pemberani. Mereka sekarang bekerja di Mount Elizabeth Hospital di Singapura sebagai dokter bedah.
"Oh ...." Mereka bertiga sampai di depan pintu ruang kerja Amura.
"Mas Guide sekarang ada alasan ke Singapura tiap Minggu," kekeh Ambar.
"Yang penting sehat-sehat Mbak," senyum Katerina.
"Oh Mas Guide sehat banget. Dia kan sangat menjaga pola makan, olahraga dan stress. Justru aku yang amburadul dan kena omel melulu. Katanya aku dokter bandel," gelak Ambar yang hampir berusia enam puluh tapi masih tetap cantik.
Katerina tahu Herjuno dan Azalea harus menikah muda karena permintaan Bella yang berjuang melawan kanker payudara yang menyerang kembali. Setelah hampir dua dekade mendapatkan remisi, kankernya datang kembali dan kali ini langsung parah.
"Tapi mereka baik-baik saja kan?" tanya Katerina.
"Alhamdulillah baik. Sebenarnya Juno dan Zela saling cinta cuma ya kadang ego masing-masing," jawab Ambar.
Jarak usia Katerina dan keponakannya tidak beda jauh karena jarak usianya dengan Ambar cukup jauh, sekitar enam belas tahun. Di klan Pratomo, Ambar dan Andre de la Borde sepantaran. Memang paling tua Ambar kalau dirunut. Baru Andre, Mandaka dan Mandasari Pratomo, Kenneth Peterson, Brayden Carrington, Akira Léopold dan Grayson Darling.
Yelena mengetuk pintu ruang kerja Amura dan tak lama, muncul seorang wanita cantik dengan blus bewarna merah maroon dan celana katun warna hitam serta sepatu Louboutin hak tiga sentimeter.
"Halooo. Ayo masuk. Ya ampun Lena, cantiknyaaaa," seru Amura sambil memeluk Yelena.
"Lena kan emang cantik," kekeh Yelena dengan percaya diri.
"Oke, kalau begini kelihatan Reeves nya model Opa Macan deh!" tawa Amura. "Yuk masuk."
Katerina pun masuk bersama dengan Yelena dan Ambar. Yelena merasa senang karena ada camilan favoritnya.
***
Pagi itu, Yelena duduk di lantai sambil memainkan rubik seperti yang diajarkan Alger tapi tetap saja dia bingung. Amura sengaja memisahkan Yelena dari Katerina agar bisa bebas bercerita.
Amura duduk di sampingnya. “Yelena.”
Yelena menoleh. “Tante.”
Yelena menunjuk ke arah pintu. “Mama mana?”
Amura diam sebentar. “Mama di luar sama Tante Ambar. Yelena sama Tante dulu ya."
"Tante, aku merasa Appa lagi kerja," ucap Yelena tiba-tiba sambil memandang Amura.
“Papa kerja?" beo Amura
Yelena diam. Lalu bibir kecilnya mulai bergetar. “Yelena kangen Papa ... kata Mama, Appa sudah di surga tapi nggak kerasa."
Amura langsung memeluknya. “Iya. Kangen Appa, ya?”
Yelena mengangguk di dada Amura. “Appa pergi...”
“Iya.”
“Jauh ya?”
“Iya, Sayang.”
“Naik mobil atau naik motor ya?”
Amura mengusap rambutnya. “Bisa mobil bisa motor.”
Yelena tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya memeluk Amura semakin erat.
Amura tidak memaksanya bicara. Dia tahu Yelena belum mengerti sepenuhnya apa itu kematian.
Yang Yelena tahu hanya satu. Biasanya Papanya ada. Sekarang Papa tidak ada. Dan setiap kali mencari, Papa tidak datang.
Amura kemudian bertanya pelan. “Yelena takut?”
Yelena menggeleng.
“Sedih?”
Yelena diam.
Amura menunjuk dadanya sendiri. “Sedih di sini?”
Yelena memegang dada kecilnya. “Iya.”
Amura tersenyum lembut. “Hmm ... Tante juga sedih.”
Yelena memandangnya. Dia tahu semua orang sedih.
Amura mulai bertanya perlahan. “Mama sedih?”
“Iya.”
“Mama nangis?”
“Iya."
"Cerita sama Tante kenapa Mama nangis." Amura lalu mendengarkan cerita Yelena.
Setelahnya Yelena langsung berdiri. “Mau Mama.”
“Iya. Ayo.”
Saat mereka berjalan menuju ruang tunggu, terdengar suara Katerina sedang mengobrol dengan Ambar dengan bahasa Jerman. Keduanya menoleh saat mendengar pintu terbuka.
“Yelena?” senyum Katerina.
Yelena langsung berlari kecil. “Mama!”
Katerina lalu berlutut dan segera memeluk putrinya.
Yelena memegang wajah ibunya. “Mama jangan nangis.”
Katerina terdiam. “Iya, Sayang.”
“Jangan sedih.” Yelena mencium ujung hidung ibunya.
Katerina tersenyum sambil menahan air mata. “Iya.”
Yelena memeluk leher ibunya. “Yelena sayang Mama.”
Katerina memejamkan mata. “Mama juga sayang Yelena.”
Dari belakang, Amura dan Ambar yang berjalan ke arahnya memperhatikan mereka. Rasanya keduanya ingin ikut menangis.
Amura tahu bukan hanya Yelena yang terluka. Katerina juga sedang berduka. Apalagi setelah semua perkataan buruk yang diterimanya dari orang tua Tristan.
Kakek dan nenek Yelena sering datang dalam keadaan marah.
“Anak kami sudah mati!”
“Kamu yang membawa semua masalah ini!”
“Seandainya Tristan tidak menikah denganmu...”
Katerina tidak pernah membalas. Dia hanya diam. Kadang menangis setelah mereka pergi.
Dan Yelena melihat semuanya.
Anak sekecil itu mungkin belum mengerti arti kata-kata mereka.
Tetapi dia mengerti suara keras. Dia mengerti wajah Mama yang menangis. Dia mengerti ketika Mama diperlakukan dengan kasar.
Amura akhirnya duduk di samping Katerina.
“Kate,” katanya pelan, “kamu nggak harus selalu bilang kamu baik-baik saja.”
Katerina menunduk. “Aku harus kuat buat Yelena.”
Amura menggeleng. “Kuat bukan berarti nggak boleh nangis.”
Katerina memeluk Yelena lebih erat. Yelena kemudian mengusap pipi ibunya. “Mama jangan nangis ...”
Katerina tersenyum. “Iya. Mama di sini.”
Yelena mengangguk puas. Lalu dia kembali memeluk ibunya.
Amura tersenyum kecil. Untuk saat ini, itu sudah cukup. Yelena tidak perlu mengerti semuanya..Dia hanya perlu tahu bahwa ketika ia mencari Mama, Mama ada.
Dan ketika kangen Appanya, dia boleh berkata, “Yelena kangen Appa.”
***
Yuhuuu up Sore yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Boleh peluk Yelena ga ?
mewek asli saya pas Yelena meluk mama nya 😭😭😭😭😭😭
sekarang jualan bawang ato lagi kupas bawang 😭😭😭😭😭😭
ga sbr nunggu smuanya trungkap,biar mreka dpt blsn stimpal.....