Kehidupan Kinta seorang single parent yang memiliki dua orang anak. Setelah sekian lama ditinggal oleh suaminya dan menghidupi anak-anaknya seorang diri. Bertemu dengan Atta laki-laki petualang yang dicintainya dengan tulus namun ternyata dirinya hanya dipermainkan.
Bahkan tanpa berdosa lelaki itu mendekati sahabat dekat Kinta sendiri. Namun sakit hati terbalaskan karena ternyata Rani sudah memiliki seorang kekasih.
Dan Kinta pun dipertemukan dengan kawan lamanya yang menjodohkannya dengan Kakak laki-lakinya. Yang mencintainya dengan tulus.
Namun apalah daya Kinta begitu lama masih belum dapat melupakan Atta sepenuhnya.
Bahkan meskipun Kinta sudah menikah dengan Yusdi pun. Masih ada sisa-sisa perasaannya terhadap laki-laki petualang itu.
Dan akhirnya Atta muncul kembali di kehidupan Kinta dan ingin mendapatkan cintanya lagi.Bagaimana Kinta mempertahankan rumah tangganya bersama laki-laki yang selama ini telah mengobati lukanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delisa Sitari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 27 : Restu Ibu
Bu Kasih yang dari tadi memperhatikan sikap putrinya mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pembicaraan mereka tadi. Dilihatnya Kinta sedikit lelah dan tersungging rasa kesal di wajahnya setelah menerima pesan yang entah dari siapa.
Dibiarkannya putrinya itu melepaskan lelahnya sejenak di sofa. Yang akhirnya memejamkan matanya. Mungkin karena kegiatannya kemarin seharian bersama lelaki yang mengantarnya tadi malam yang tak lain adalah Yusdi.
Tadi malam beliau terbangun mendengar suara motor sport Yusdi yang menggelegar. Bu Kasih tak nyenyak tidur karena Kinta yang berangkat dari siang tanpa membawa motornya dan naik ojek online.
Pukul 10.00 Kinta belum terbangun juga. Bu Kasih segera mambangunkannya karena sudah waktunya Kinta bekerja.
" Kin... Bangun Nak..." panggil Bu Kasih dengan menggoyang-goyangkan tubuh Kinta.
Kinta mengerjapkan matanya. Dan langsung terbangun dengan terkejut.
" Ah... Jam berapa ini Bu ? Aku ketiduran... " ujar Kinta sambil sedikit mengucek matanya pelan.
" Belum terlambat... Kamu kan tidak membutuhkan waktu lama untuk berrias. " jawab Bu Kasih. " Sudah mandi sana..."
" Iya Bu... " ujar Kinta yang langsung bergegas menuju kamar mandi.
Sedangkan Bu Kasih duduk menyandarkan tubuhnya di sofa. Menonton televisi yang sedari tadi menyala. Bu Kasih adalah wanita yang sehat. Di usianya yang sudah menginjak 53 tahun ini dirinya masih aktif bergerak dalam melakukan hampir semua pekerjaan rumah tangga.
Hanya saja Kinta selalu melarangnya untuk bekerja terlalu keras. Untuk mencuci pakaian Kinta membelikan Ibunya sebuah mesin cuci agar tidak terlalu kelelahan.Dan jika ia tidak terlalu capek ia akan membantu Ibunya itu mengerjakannya.
Namun karena keterbatasan waktunya yang harus bekerja mencari nafkah sendirian ia tidak dapat total membantu Bu Kasih di rumah.
Selesai mandi Kinta pun berganti pakaian dan bersiap-siap untuk berangkat.
" Kinta berangkat ya Bu... Ingat... Jangan mengerjakan sesuatu berlebihan..." pamit Kinta sembari berpesan pada Ibunya. Kemudian mencium tangan beliau.
" Iya Nduk... Sampai kapan kata-katamu seperti itu hampir setiap hari..." jawab Bu Kasih.
Kinta tersenyum manis. " Assalamualaikum..."
" Wa alaikumsalam..." jawab Bu Kasih.
Kinta pun berlalu pergi dari hadapan Ibunya. Mengambil motornya dan mulai mengendarainya dengan hati yang riang. Ringan sekali langkahnya hari ini.
Sesampainya di tempat kerja seperti biasa Kinta disambut sapaan riang dari Rani dan rekan kerjanya yang lain. Namun entah kenapa hari ini semua orang tampak ceria, termasuk dirinya.
Udara terasa segar... Situasi terasa nyaman... Atau mungkin hanya perasaan Kinta saja.
" Ehm... Ehm..." deheman Rani sedikit mengejutkan Kinta di sela kegiatan mereka yang sedang prepare meja dan kursi pengunjung.
" Kenapa kamu Ran ? Keselek bulu kemoceng ? " sahut Kinta dengan candanya.
" Iihhh... Mbak Kinta. Selalu saja. Itu loh... Bibirnya... " jawab Rani sambil menunjuk ke arah wajah Kinta dari meja sebelah.
Kinta pun meraih bibirnya takut ada sesuatu yang menempel. " Ada apaan Ran... "
" Itu loh bibirnya.... Dari tadi senyum-senyum sendiri...Hihihi... " jawab Rani dengan cekikikan. Dan disambut tawa karyawan lain yang kebetulan berada di dekat mereka.
Kinta langsung mencibirkan mulutnya kesal dengan perkataan Rani. Pipinya memerah menahan malu karena memang sedari tadi dia bekerja sambil melamun. Membayangkan Yusdi tentunya. Tentang sopan santunnya, sikap lembutnya, dan kata-kata manisnya saat saling berkirim pesan.
Apalagi jika mengingat-ingat saat tanpa sadar ia memeluk pria itu. Tubuhnya bergetar dan dadanya berdetak begitu kencang. Ohh Tuhan... Apa tandanya semua ini...
" Iya Mbak... Baru kali ini aku melihat Mbak Kinta tersenyum seperti itu. Sepertinya sedang bahagia nih..." sindir Barta, anak cleaning servis yang masih seumuran dengan Rani.
" Ah... Kalian ini ada-ada saja. Masa kerja sambil cemberut. Nanti tidak enak dilihatnya kan..." jawab Kinta mengelak. Malu sekali dia kalau ketahuan sedang melamunkan seorang pria di usianya yang tidak lagi muda.
Cinta tidak mengenal usia Kinta.... Ingat itu...
Cinta ? Apa Kinta sudah benar-benar jatuh cinta pada Yusdi ?
" Bisa saja Mbak Kinta mengelak. Bukan saja sedang bahagia Bar... Mbak Kin sedang jatuh cinta sepertinya... " ujar Rani mengejek.
" Hmmm... Dasar anak-anak... Suka menggoda orang dewasa. " keluh Kinta yang disambut tawa para rekan kerjanya.
" Eh... Kita sudah dewasa loh Mbak. Aku saja sudah punya pacar, Rani juga. Hanya Mbak Kin yang belum... padahal sudah...." belum sempat Barta melanjutkan kata-katanya Kinta sudah menjewer kupingnya. " Awww.... Aduh.... "
" Tidak boleh mengejek orang tua... " kesal Kinta.
" Iya maaf... Sakit Mbak... " keluh Barta sambil mengelus telinganya seolah anak SD yang dijewer gurunya karena tidak mengerjakan PR.
Kinta segera pergi dari tempat itu menuju dapur cafe berpura-pura mengecek ada yang belum beres atau tidak. Berusaha menghindari ejekan kawan-kawannya. " Awas kalian kalau aku sudah bersanding dengan Mas Yusdi..." gumamnya dalam hati.
Kinta dan para karyawan bekerja seperti biasa. Saat siang hari cafe tak seramai malam hari. Jadi Kinta tidak terlalu merasakan lelah.
Hari-hari Kinta masih dihiasi dengan pesan-pesan mesra dari Yusdi. Hatinya kini sudah merasakan ada bunga-bunga bermekaran di sana.
Kini dia yakin akan membicarakan hubungannya yang lebih serius dengan Ibunya. Tak perlu menunggu lama lagi untuk menjalin sebuah hubungan yang disertai niat baik. Menurutnya Yusdi adalah pria baik. Dan tidak mungkin sahabatnya sendiri akan menjerumuskannya dalam kubangan hitam dengan menjodohkannya dengan Kakaknya sendiri.
Kinta pulang kerja dengan perasaannya yang dag dig dug. Sepertinya Ibunya akan merestui keputusannya, hanya saja ia merasa grogi karena sudah lama tidak mengenalkan seorang laki-laki pun pada Ibu dan anak-anak yang sangat disayanginya.
Sesampainya di rumah ia parkirkan motornya di halaman rumahnya yang lumayan luas. Meskipun sederhana namun rumah Kinta begitu nyaman dan asri. Di depannya berdiri pagar setinggi separuh badan, halaman yang cukup asri dihiasi pohon mangga yang rindang dan beberapa tanaman bunga, bangunan rumahnya model lama namun terawat dan bersih.
" Assalamualaikum..." ucap Kinta memasuki rumahnya.
" Wa alaikumsalam... " jawab Ibu dan putra putrinya bersamaan.
Kedua anaknya langsung berhamburan menghampirinya dan mencium tangannya bergantian. Sedangkan Kinta mencium tangan Ibunya kemudian.
" Kamu mandi dulu Nduk... Lalu makan sama-sama. " ujar Bu Kasih.
" Iya Bu... " jawab Kinta sambil berjalan memasuki kamarnya.
Sementara Dian dan Riyanti menunggu duduk di meja makan bersama Neneknya yang sedang menyiapkan makan malam.
Kinta meletakkan tasnya di meja kamar dan segera membersihkan diri. Setelah selesai ia mengganti pakaian dengan kaos oblong santai dan celana kolor selutut, kebiasaannya saat di rumah.
Mereka berempat makan dengan nikmat.
" Bu... Setelah ini aku ingin bicara serius sama Ibu. " ujar Kinta sehabis menyelesaikan makan malam mereka.
Bu Kasih mengangguk dengan menatap lembut anaknya itu. Mereka pun membereskan peralatan makan bersama-sama.
Setelah selesai Kinta menggandeng tangan Ibunya dan mengajaknya duduk kembali di meja makan. Sementara anak-anaknya masih duduk pula di tempat itu. Fikirnya tak apalah jika mereka juga mendengarkan pembicaraannya karena toh dia membutuhkan restu juga dari para buah hatinya itu.
" Ada apa Nduk... Sepertinya serius sekali..." tanya Bu Kasih penasaran.
" Melanjutkan pembicaraan kita tadi pagi Bu... Tentang pria itu. " jawab Kinta. Dia menatap kedua anaknya yang juga mendengarkannya.
Tapi mereka hanya diam mencoba memahami apa yang akan dikatakan Ibu mereka.
" Bagaimana hubungan kalian... Apa dia berniat serius denganmu Nduk ? " tanya Bu Kasih.
" Iya Bu. Dari awal Mas Yusdi tidak ingin berpacaran terlalu lama. Ia sedang mencari seorang istri. Itu pun sudah disampaikan Reva dari awal. Apa Ibu setuju kalau aku menikah lagi ? " jelas Kinta dengan menggenggam tangan Ibunya.
" Ibu akan menikah lagi ? " tanya Dian tiba-tiba.
Kinta menoleh pada putra sulungnya itu dan tersenyum. " Iya Nak. Apa Dian sama Riyanti setuju kalau Ibu menikah lagi ? Kalian mau punya Ayah baru ? " tanya Kinta pada kedua anaknya.
" Aku mau Bu... " sahut Riyanti tersenyum girang. " Tapi Ayah baru kita harus yang baik dan sayang sama kita. Iya kan Kak ? tanyanya pada Dian.
" Iya... Aku mau Bu. Tapi Ayah baru kita harus baik. Tidak boleh meninggalkan kita lagi. Seperti..." Dian menggantungkan kata-katanya. Rupanya ia juga terluka dengan kepergian Ayah kandungnya yang tidak bertanggung jawab. Ia menundukkan wajahnya dan matanya sudah berkaca-kaca.
Dian masih kecil saat Ayah kandungnya pergi meninggalkan mereka, namun ia sudah bisa merasakan sedihnya dan dulu ia selalu menunggu Ayahnya akan pulang membawa hadiah untuknya. Karena Kinta selalu mengatakan pada anak-anaknya Ayahnya tak kunjung pulang karena sedang bekerja di luar kota dan akan kembali ke rumah membawa hadiah yang istimewa untuk mereka.
Namun apa dikata... Laki-laki itu sudah tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Sejak saat itu kedua kakak beradik itu sangat merindukan kasih sayang seorang Ayah.
Kinta pun merasakan kesedihan anaknya itu. Matanya juga mulai berkaca-kaca. Ia beranjak dari duduknya dan memeluk kedua buah hatinya itu dan mengecup kening mereka bergantian.
" Inshaa Allah Ayah baru kalian nanti orang yang baik Nak. Kalian juga berdoa ya agar kita akan hidup bahagia dan takkan terpisahkan. " Kinta mencoba menghibur Dian dan Riyanti. Mereka berdua hanya mengangguk.
Lalu Kinta kembali di samping Ibunya dan menatapnya.
" Inshaa Allah Ibu juga setuju Nak. Semoga dia memang orang yang baik, menyayangi kalian dan menerima kalian apa adanya. " ucap Bu Kasih dengan tersenyum. " Cepat kenalkan dia pada Ibu dan anak-anak. Jangan menunggu terlalu lama. "
Kinta kembali tersenyum dan menggenggam lagi tangan Ibunya. " Terima kasih Bu. Secepatnya Kinta akan kenalkan Mas Yusdi pada kalian."
" Namanya Yusdi ? " tanya Bu Kasih.
" Iya Bu. " jawab Kinta.
" Om Yusdi ? " seru Dian dan Riyanti hampir bersamaan.
" Yeiii... Aku akan punya Ayah baru ! " seru Riyanti sambil mengangkat kedua tangannya. " Aku akan bilang sama teman-temanku di sekolah. Mereka tidak akan mengejek aku lagi...." ujarnya lagi dengan menjetikkan jarinya.
Kinta tertegun mendengar ucapan Riyanti. Berarti selama ini teman-teman di sekolahnya sering mengejeknya kalau dia tidak punya Ayah... Ya Tuhan... Kasihan sekali kamu Nak...
Kinta semakin yakin untuk menerima pinangan Yusdi dan tidak akan terlalu lama menunggu mengesahkan hubungan mereka.
mampir juga ya ke CSku
Like ku udah melayang tuh
Ditunggu feedback nya ya 😁
salam "ANGKASA: Salam penghuni bumi"
baca juga cerita ku Choice Of Love ❤
sebenarnya sy berharap kinta menemukan jodoh lain selain yusdi yg menurutku tdk tegas dan sering salah langkah..tp bukan berarti kembali dg atta
-AKU BUKAN LESBIAN.