Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Langit pagi masih diselimuti warna keunguan yang pekat dan hawa dingin yang menusuk tulang saat Alexa sudah berdiri tegap di tengah lapangan belakang mansion.
Takut akan ancaman hukuman dua kali lipat yang dijanjikan Raiden, Alexa bahkan sudah bersiap sejak pukul 04.45 WIB. Ia mengenakan pakaian olahraga serba hitam—kaos longgar, celana training, serta sepatu lari yang terikat kencang. Dengan napas beruap karena udara lembap pagi hari, Alexa melipat kedua tangannya di dada, melompat-lompat kecil untuk mengusir rasa dingin yang menggigit kulitnya.
Satu jam berlalu... matahari mulai menyelinap naik menembus cakrawala.
Dua jam berlalu... hawa dingin berubah menjadi sengatan hangat matahari pagi.
Hingga mendekati jam delapan pagi—hampir tiga jam Alexa berdiri terlunta-lunta di tengah lapangan bagaikan patung jemuran—sosok yang ditunggunya baru menampakkan batang hidungnya.
Raiden berjalan santai menyusuri koridor terbuka menuju lapangan. Pria itu tampil sangat santai namun tetap memancarkan aura intimidasi yang kuat dalam balutan kaos fit lengan pendek warna hitam yang memperlihatkan lelekuk otot lengannya yang mengintimidasi, serta celana olahraga bernuansa senada. Di tangannya, ia memegang sebotol air mineral dingin.
Melihat kehadiran pria itu, darah Alexa seketika mendidih sampai ke ubun-ubun!
Gadis itu melangkah lebar menghampiri Raiden dengan menghentakkan kakinya kasar. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam memberikan tatapan paling horor dan membunuh yang sanggup ia keluarkan.
"Tuan Raiden yang terhormat!" jerit Alexa protes dengan suara cemprengnya yang melengking kesal. "Katanya jam lima pagi?! Aku sudah berdiri di sini dari jam lima kurang lima belas menit! Tiga jam aku menunggu di sini sampai kakiku kesemutan dan kulitku hampir gosong dijemur matahari! Mana janji tepat waktunya?!"
Namun, Raiden seolah tuli total.
Pria itu sama sekali tidak membalas protes atau tatapan horor Alexa. Wajah tampannya tetap datar, dingin, dan kaku tanpa merasa bersalah sedikit pun. Ia hanya menyesap air mineralnya santai, lalu melemparkan botol kosong itu ke tempat sampah di pinggir lapangan dengan akurasi sempurna.
"Latihanmu dimulai sekarang," pangkas Raiden dingin, suaranya mengalun datar tanpa kompromi.
"Hah?! Tapi aku sudah capek menung—"
"Lari lima belas putaran mengelilingi lapangan ini. Sekarang," potong Raiden tegas, menyilangkan tangannya di dada sembari menatap Alexa tanpa pendar belas kasihan.
DEG.
Mata Alexa membelalak lebar, menganga tak percaya menatap luas lapangan di depannya. Lapangan pelatihan militer ini berukuran raksasa—satu putaran saja jaraknya hampir sama dengan satu putaran stadion bola penuh!
"L-lima belas putaran?!" pekir Alexa histeris. "Kamu gila?! Aku ini baru keluar rumah sakit seminggu yang lalu! Perutku baru sembuh! Kalau lari lima belas putaran, ususku bisa melilit dan lepas di tempat!"
Raiden tidak mengedipkan matanya sedikit pun. Pria itu justru melangkah satu tindak mendekati Alexa, menghujamkan pandangan mata hitam legamnya yang membeku.
"Ditambah dua putaran karena kau berani membantah," desis Raiden berdarah dingin. "Menjadi tujuh belas putaran. Mulai lari sekarang, atau aku tambahkan jadi tiga puluh."
Glek.
Mendengar ancaman tiga puluh putaran, nyali Alexa langsung meluncur bebas ke dasar sepatu. Ia tahu persis Raiden tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Dengan wajah bersungut-sungut, bibir mengerucut maju, dan napas yang dihela kasar, Alexa akhirnya berbalik dan mulai menyeret kakinya untuk berlari mengelilingi lapangan raksasa tersebut di bawah tatapan dingin sang pelatih iblis.
Meskipun rasanya ingin menangis dan menyerah di tengah jalan, Alexa memaksakan kakinya untuk terus melangkah. Setiap pijakan kakinya di atas tanah lapangan terasa membakar, dan paru-parunya seperti dihantam hawa panas yang menyiksa. Ia menyapu keringat deras yang terus mengalir membasahi pelipis dan lehernya, tidak membiarkan rasa lelah menghentikan langkahnya.
Kali ini, Alexa benar-benar latihan dengan serius.
Ia mengingat kembali ngilu rasa sakit saat pisau menembus perutnya beberapa waktu lalu. Rasa trauma itu diubahnya menjadi pecutan tekad. Putaran demi putaran diselesaikannya dengan usaha maksimal—satu, dua, lima, hingga akhirnya putaran kelima belas berhasil diinjakkannya di garis akhir.
Hah... hah... hah...
Tubuh Alexa meluruh, bertumpu pada kedua lututnya dengan dada yang naik turun hebat. Napasnya terengah-engah, sangat patah-patah bagaikan tinggal satu-satu. Wajahnya yang semula pucat kini memerah padam akibat menguras seluruh daya tahan fisiknya. Pandangannya agak berkunang-kunang, namun ada kepuasan tersendiri saat menyadari bahwa ia sanggup menyelesaikan siksaan tersebut.
Namun, pemandangan di sudut lapangan seketika membakar kejengkelan di dadanya.
Di bawah payung peneduh yang rindang, Raiden duduk dengan sangat santai di atas kursi kebesaran berukir yang sengaja dipindahkan oleh anak buahnya. Pria itu tampil begitu tenang dan tanpa cela, menyesap cangkir kopi hitamnya yang beraroma harum. Dua pengawal bertubuh tegap berdiri siaga di samping kiri dan kanannya, menjaga sang penguasa yang sejak tadi menonton perjuangan mati-matian Alexa dari kejauhan bagaikan menyaksikan pertunjukan hiburan.
'Bisa-bisanya dia minum kopi dengan sangat santai saat aku hampir mati kehabisan napas?!' batin Alexa mengutuk, matanya menatap tajam ke arah Raiden dari kejauhan. Pemandangan itu benar-benar sangat menyebalkan.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Alexa menegakkan tubuhnya. Langkah kakinya gontai dan gemetaran, menyeret sepatunya di atas tanah menuju tempat Raiden berteduh. Setiap langkah rasanya begitu berat, namun ia menolak untuk ambruk sebelum menuntaskan perintah pria itu.
STOMP.
Alexa berhenti tepat di depan meja kopi Raiden, bersedekap dengan napas yang masih tersengal-sengal. Air keringat menetes dari ujung dagunya.
"S-sudah..." pangkas Alexa serak, suaranya hampir habis. "Tujuh belas... eh, lima belas putaran... selesai!"
Raiden tidak langsung merespons. Pria itu secara perlahan meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan. Iris mata hitam legamnya bergulir menyapu penampilan Alexa yang kacau—baju olahraganya yang basah kuyup oleh keringat, nafasnya yang memburu liar, namun ada pendar kegigihan di matanya yang tidak redup.
Tidak ada pujian, tidak ada senyuman, dan tidak ada tepuk tangan.
Raiden berdiri secara anggun dari kursi mewahnya, merapikan kaus hitamnya yang tak berseri sedikit pun. Pria itu menatap Alexa dari ketinggian posturnya yang tegap, memberikan jawaban yang teramat singkat dan dingin.
"Cukup untuk hari ini," ujar Raiden datar.
Tanpa menunggu balasan atau kepuasan dari Alexa, Raiden memutar tubuhnya dan melangkah pergi menyusuri lorong mansion, diikuti oleh kedua pengawal pribadinya yang mengekor dari belakang. Pria itu meninggalkan Alexa seorang diri di tengah lapangan dengan tubuh yang rasanya remuk, namun menyimpan rasa lega luar biasa karena berhasil melewati hari pertama pelatihan iblis tersebut.
ok...let's play 🤣🤣
Alexa swaaaag🤣🤣🤣🫣
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹