kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
...****************...
Sejak pengumuman pertunangan mereka, kehidupan Evelyn Hills dan Arseno Andreas berubah drastis.
Jika sebelumnya mereka hanya menjadi perhatian dunia bisnis karena prestasi masing-masing, kini nama mereka hampir setiap hari muncul di berbagai media.
Namun yang paling mengejutkan...
Publik benar-benar percaya.
Foto mereka saat menghadiri acara bisnis, cara mereka berbicara, bahkan cara mereka saling melihat berhasil membuat semua orang yakin bahwa hubungan itu nyata.
Padahal hanya beberapa orang yang mengetahui kenyataan sebenarnya.
Bahwa semua itu dimulai dari sebuah kesepakatan.
Pagi itu di Hills Corporation...
Evelyn baru saja memasuki ruangannya ketika Naomi datang membawa beberapa dokumen.
"Nona."
"Hm?"
"Ada berita baru."
Evelyn langsung menghela napas.
"Jangan bilang ada rumor lagi."
Naomi tersenyum.
"Berbeda kali ini."
Evelyn menatapnya curiga.
"Apa maksudnya?"
Naomi menyerahkan tablet.
Di layar terlihat berbagai artikel.
Namun kali ini bukan berita buruk.
PASANGAN CEO MUDA PALING SERASI TAHUN INI
EVENLY HILLS DAN ARSENO ANDREAS, PASANGAN BISNIS YANG MENGINSPIRASI
Evelyn membaca beberapa komentar.
"Mereka terlihat sangat cocok."
"Jarang ada pasangan yang sama-sama sukses."
"Arseno yang terkenal dingin akhirnya menemukan seseorang."
Evelyn langsung mengerutkan kening.
"Menemukan seseorang?"
Naomi tersenyum.
"Menurut publik, iya."
Evelyn meletakkan tablet.
"Media memang suka berlebihan."
"Tapi..."
Naomi berhenti sebentar.
"Tapi apa?"
"Nona terlihat tidak terganggu."
Evelyn langsung menatapnya.
"Aku terganggu."
"Tapi?"
"Tapi..."
Evelyn terdiam.
Ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Karena beberapa hari terakhir...
Ia mulai terbiasa melihat namanya berdampingan dengan Arseno.
Sementara itu di Andreas Corporation...
Arseno juga sedang melihat berita yang sama.
Kosta berdiri di depannya sambil tersenyum kecil.
"Sepertinya publik sangat menyukai hubungan kalian."
Arseno meletakkan tablet.
"Ini hanya strategi."
"Saya tahu."
"Lalu kenapa tersenyum?"
Kosta mengangkat bahu.
"Karena saya belum pernah melihat Bapak membiarkan seseorang masuk begitu dekat."
Arseno menatapnya.
"Kau terlalu banyak bicara."
"Maaf, Pak."
"Tapi saya benar."
Arseno diam.
Kosta memang benar.
Sebelum Evelyn...
Tidak ada wanita yang bisa berbicara padanya dengan santai.
Tidak ada yang berani mengejeknya.
Tidak ada yang berani menentangnya.
Namun Evelyn berbeda.
Wanita itu bahkan pernah menendangnya tanpa berpikir panjang.
Dan anehnya...
Arseno tidak pernah benar-benar marah.
Sore hari...
Antonio Van Andreas mengundang Renata Hills ke mansion Andreas.
Pertemuan itu hanya dihadiri mereka berdua.
Tidak ada Arseno.
Tidak ada Evelyn.
Antonio menuangkan teh ke cangkir Renata.
"Sudah lama kita tidak berbicara seperti ini."
Renata tersenyum.
"Terakhir kali mungkin saat anak-anak kita masih hidup."
Suasana menjadi sedikit hening.
Keduanya mengingat masa lalu.
Namun kemudian Antonio kembali tersenyum.
"Kita memiliki cucu yang keras kepala."
Renata tertawa kecil.
"Itu benar."
"Evelyn mewarisi sifat ayahnya."
"Arseno juga sama."
"Mereka sama-sama tidak mudah menerima bantuan."
Renata mengangguk.
"Itulah masalahnya."
Antonio melihat keluar jendela.
"Mereka terlalu fokus pada tanggung jawab."
"Mereka lupa menikmati hidup."
Renata kemudian tersenyum kecil.
"Sebenarnya..."
"Apa?"
"Aku merasa mereka cocok."
Antonio menoleh.
"Kau juga berpikir begitu?"
"Tentu."
"Evelyn membutuhkan seseorang yang bisa mengimbanginya."
"Dan Arseno membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya keluar dari dunianya sendiri."
Antonio tertawa kecil.
"Jadi kita memiliki pemikiran yang sama."
Renata mengangguk.
"Tapi jangan salah."
"Aku tidak ingin memaksa Evelyn."
"Aku juga tidak ingin memaksa Arseno."
"Kita hanya membantu mereka memiliki kesempatan."
Antonio tersenyum.
"Kesepakatan?"
Renata mengulurkan tangannya.
"Kesepakatan."
Kedua orang tua itu berjabat tangan.
Sebuah kerja sama baru dimulai.
Bukan untuk bisnis.
Tetapi untuk kehidupan anak-anak mereka.
Malamnya...
Evelyn mendapatkan pesan dari Arseno.
Besok ada acara amal keluarga. Kita harus hadir bersama.
Evelyn membaca pesan itu.
Lalu membalas.
Apakah aku harus tersenyum selama tiga jam?
Tidak lama kemudian Arseno membalas.
Ya.
Evelyn mengetik cepat.
Tidak bisa.
Arseno menjawab.
Kau CEO. Kau bisa menghadapi investor miliaran dolar. Tidak mungkin tidak bisa tersenyum.
Evelyn tersenyum kecil.
Investor tidak membuatku ingin memukul mereka.
Beberapa detik kemudian...
Balasan Arseno masuk.
Aku akan menganggap itu sebagai pujian.
Evelyn tertawa kecil.
Kau memang aneh.
Kau baru menyadarinya?
Tanpa sadar...
Evelyn tersenyum cukup lama melihat percakapan itu.
Keesokan harinya...
Acara amal keluarga besar berlangsung di sebuah hotel mewah.
Arseno datang lebih dulu.
Ia mengenakan setelan hitam elegan.
Beberapa wanita di acara itu langsung memperhatikannya.
Namun ketika Evelyn datang...
Perhatian semua orang langsung beralih.
Evelyn mengenakan gaun panjang sederhana namun sangat elegan.
Arseno yang sedang berbicara dengan seseorang berhenti sejenak.
Untuk beberapa detik...
Ia hanya melihat Evelyn.
Sampai akhirnya Evelyn mendekat.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
Arseno tersadar.
"Tidak."
"Kau jelas melihat."
"Aku hanya memastikan kau tidak datang dengan rencana menendangku lagi."
Evelyn langsung memutar mata.
"Masih membahas itu?"
"Itu pengalaman yang sulit dilupakan."
"Aku sudah meminta maaf."
"Setelah aku hampir kehilangan masa depan keluarga."
Evelyn menahan tawa.
"Kau berlebihan."
"Bagiku tidak."
Mereka kemudian berjalan masuk bersama.
Tangan Arseno perlahan menawarkan lengannya.
Evelyn melihatnya sebentar.
Lalu menerimanya.
Sebuah gerakan kecil.
Namun cukup membuat beberapa kamera menangkap momen itu.
Dan sekali lagi...
Publik semakin yakin bahwa hubungan mereka nyata.
Di kejauhan...
Antonio dan Renata memperhatikan mereka.
Renata tersenyum.
"Lihat?"
"Mereka mulai terbiasa."
Antonio mengangguk.
"Ya."
"Tapi mereka belum sadar."
Renata tersenyum penuh arti.
"Perasaan sering datang tanpa izin."
Sementara itu...
Evelyn dan Arseno masih berjalan bersama di tengah acara.
Mereka berbicara tentang bisnis.
Mereka saling bercanda.
Mereka saling menyindir seperti biasa.
Namun kali ini...
Tidak terasa seperti sebuah sandiwara.
Dan tanpa mereka sadari...
Hubungan yang awalnya hanya sebuah kontrak mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
Sesuatu yang bahkan tidak bisa dikendalikan oleh strategi bisnis mana pun.
...****************...