NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Bergerak

Langit di atas Desa Veria mulai meredup, menyapu sisa cahaya dengan bayangan senja yang datang lebih awal dari biasanya.

Hawa hangat yang sebelumnya menguar di ruang tengah keluarga Yoto berangsur menguap, tergantikan oleh embusan angin sore yang perlahan mendingin.

Di sudut ruangan, dengkur halus terdengar teratur. Takahiro kembali terlelap, sepenuhnya takluk pada efek kantuk dari ramuan herbal racikan Clyrie.

Sementara itu, di sisi meja yang berlawanan, sebuah perundingan kecil tengah berlangsung sengit. Tiga kepala. Cate, Vyora, dan Chtholly. Merapat saling berhadapan, tak sudi membiarkan rencana mereka kandas begitu saja.

Tanpa kehadiran Takahiro, Vyora mengambil inisiatif memimpin. Sebagai gadis yang paling peka terhadap seluk-beluk hutan dan lingkungan desanya, ia memutar otak sekeras mungkin. Ia berusaha menerjemahkan ulang teori-teori rumit yang sempat dicekokkan Takahiro kepadanya semalam.

"Aku setuju dengan pendapat Vyora," kata Cate tenang. "Kita tidak bisa membiarkan masalah ini tanpa titik terang. Kita harus bergerak cepat, sebelum semuanya terlambat!"

"Tapi yang jadi masalahnya, gimana caranya kita membuat alat pengukur itu?" tanya Chtholly. Wanita bergaun ungu itu mencondongkan tubuhnya ke depan.

Rasa penasarannya terlanjur tersulut setelah mendengar betapa cerdiknya pemikiran pemuda asing itu dari cerita adiknya.

"Kita sendiri tidak tahu apa saja bahan untuk membuat alat itu."

Vyora terdiam. Alisnya bertaut rapat. Memori di kepalanya ditarik paksa mundur ke obrolan rahasianya bersama Takahiro di luar rumah malam tadi, tepat saat Cate dan Uchi sudah tidur mendengkur.

Pemuda itu sempat mengoceh panjang lebar tentang cara mendeteksi kesehatan tanah menggunakan sebuah benda asing bernama 'alat pengukur'.

Meski penjelasan itu terlalu asing untuk dicerna utuh oleh nalar Vyora, entah bagaimana rentetan istilah aneh tersebut berhasil mengendap di kepalanya.

Gadis berambut abu-abu itu memejamkan mata. Tangannya tanpa sadar naik berpose—jari telunjuk kirinya mengetuk-ngetuk dagu sementara tangan kanannya bersilang memeluk dada.

Ia menggali laci ingatannya dalam-dalam, mengabsen satu per satu komponen yang disebut si pemuda malam itu.

Hingga akhirnya, sebuah gumaman pelan lolos dari bibirnya tanpa permisi, cukup keras untuk ditangkap telinga Cate dan Chtholly.

"Andai kita punya bunga telang dan kubis ungu, mungkin akan—"

Belum sempat Vyora menuntaskan gumamannya, punggung Cate mendadak tegak lurus. Telinganya merespons cepat, menangkap sinyal dari dua nama tanaman yang tak asing lagi baginya.

"Tunggu sebentar! Coba kamu ulangi lagi."

Vyora, yang sedari tadi merapal ingatan seraya menatap langit-langit rumah, refleks menunduk dan menoleh ke arah Cate. Raut mukanya berubah cengo, tak paham mengapa temannya itu tiba-tiba memotong dengan nada tegang.

"Naon maksudna?" ("Apa maksudnya?")

"Ulangi nama tanaman yang tadi kamu sebut."

"Bunga telang dan kubis ungu?"

Brak!

Tepat setelah nama kedua tanaman itu diulang oleh Vyora, Cate menyentak bangun dari duduknya. Telapak tangannya menghantam permukaan meja kayu dengan beringas.

Guncangan dahsyat itu langsung merambat tak karuan ke sudut meja. Uchi, yang sejak tadi terkapar pulas dengan wajah terkubur di dalam lipatan lengannya, nyaris melompat.

Gadis mungil itu tersentak bangun dengan rambut mencuat berantakan, wajahnya tertekuk kusut dengan kelopak mata yang masih lengket, linglung mencari tahu dari mana gempa barusan berasal.

"Aku tahu di mana kita harus mencarinya!"

Seruan Cate meledak dengan antusiasme yang kelewat batas. Sialnya, ketegasan itu bertepatan persis saat Chtholly tengah menyesap teh hangat buatan sang ibu.

Chtholly langsung tersedak hebat. Ia memalingkan wajah dan terbatuk-batuk, buru-buru menutup mulut agar tak menyemburkan cairan tehnya ke wajah Uchi yang nyawanya belum kumpul sempurna di seberang meja.

"Kau yakin tahu tempatnya?" tanya Vyora santai, matanya memicing penuh analisis menatap temannya itu.

"Apa kau meragukan wajahku yang penuh percaya diri ini?" cetus Cate.

Vyora hanya menarik sebelah sudut bibirnya ke kiri. Garis lengkung yang sangat menyebalkan, memancarkan aura skeptis tingkat tinggi yang sengaja ia pamerkan di wajahnya.

"Sedikit," jawab singkat Vyora. Bersamaan dengan itu, tangan kanannya terangkat ke udara. Ia menyatukan ujung ibu jari dan telunjuknya hingga menyisakan celah sempit berukuran mili—mengisyaratkan sebuah nilai yang nyaris tak ada artinya.

Provokasi visual itu sontak membuat desisan kesal lolos dari sela gigi Cate. Dalam sudut pandang Cate, gestur sahabatnya itu sama saja dengan menginjak-injak harga dirinya sebagai rimbawan andalan.

"Kurang ajar!" tegasnya sambil mempulaskan senyum menyeringai. "Kau meremehkanku."

"Aku tidak meremehkanmu," jawab cepat Vyora. "Aku hanya sedikit tidak yakin dengan pendapatmu."

"Kalau kau tidak percaya, ikutlah denganku."

Tanpa babibu lagi, Cate memutar tumitnya. Langkah kakinya menghentak lantai, berjalan melenggang ke luar rumah meninggalkan keributan itu, menelantarkan kedua teman dan satu kakak angkatnya di belakang begitu saja.

Chtholly dan Vyora saling bertukar pandang. Mereka membagi keraguan lewat isyarat mata selama beberapa detik.

Setelah menghela napas panjang merespons tingkah semena-mena Cate, mereka akhirnya bangkit menyusul langkah gadis berambut merah itu dari belakang.

Sementara itu, di pinggir meja, Uchi masih terdiam. Punggung tangannya mengucek-ngucek pelan kelopak matanya yang buram. Nyawanya benar-benar belum ter-install penuh ke dalam tubuh. Otak mungilnya gagal memproses satupun omongan berat yang baru saja diperdebatkan Cate dan Vyora.

Namun, karena instingnya berkata tidak mau ditinggalkan sendirian di ruangan itu, Uchi terpaksa menyeret kakinya.

Dengan langkah gontai yang masih sempoyongan menahan kantuk, ia mengekor pasrah seperti anak bebek di belakang punggung Chtholly.

Hanya dalam hitungan menit, ruang tengah yang tadinya gaduh langsung kosong melompong. Kini, tinggal Takahiro seorang diri yang terlelap di tengah pusaran keheningan senja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!