NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 – Pangeran Tanpa Mana, Tapi Bisa Meninju Gajah Raksasa!

Enam belas tahun kemudian....

​BOOM!

​Hutan yang tadinya sunyi senyap seketika pecah oleh suara ledakan hebat.

​Tanah bergetar hebat, menciptakan gempa beruntun yang memaksa hewan-hewan kecil lari tunggang langgang demi menyelamatkan nyawa mereka.

​Dari balik kabut debu dan pepohonan yang tumbang massal, sesosok bayangan raksasa menerobos masuk. Tubuhnya yang luar biasa besar dengan mudah meruntuhkan pohon-pohon kuno yang menghalangi jalannya.

​Itu adalah Yogner—seekor monster gajah purba bergading empat. Ukuran tubuhnya abnormal, tingginya bahkan melampaui menara pengawas kerajaan.

​Makhluk itu tidak sedang mengamuk. Tidak juga sedang berburu. Menilai dari matanya yang terbelalak penuh horor, monster tingkat 5 yang ditakuti para petualang itu justru sedang... melarikan diri.

​Entah hal mengerikan apa yang bisa membuat monster sekelas bencana itu ketakutan setengah mati.

​"Oi, mau lari ke mana kau!?"

​Sebuah suara kasual bergema dari atas langit.

​Wush!

​Seorang pemuda mendadak melesat di udara, melewati kepala raksasa sang gajah. Monster itu tersentak, berniat menghindar, namun terlambat.

​Pemuda itu mengepalkan tangan kanannya. Sederhana, tanpa kuda-kuda sihir yang rumit.

​DUAKK!

​Satu pukulan mentah bersarang telak di dahi Yogner. Pukulan yang begitu kuat hingga mampu memaksa tubuh raksasa seberat puluhan ton itu tersungkur, menghantam tanah hingga menciptakan kawah baru.

​Sebelum debu sempat turun, pemuda itu sudah mendarat dengan santai di depan wajah sang gajah. Tanpa membuang waktu, ia mencengkeram belalai raksasa itu dengan satu tangan, mencengkeramnya erat layaknya menggenggam tali tambang biasa.

​"Satu... dua... tiii-gaaa!"

​Dengan seringai lebar, ia mulai memutar tubuhnya. Satu putaran, dua putaran—membuat monster gajah itu melayang berputar di udara seperti mainan anak-anak.

​SWING—!

​Genggamannya dilepas. Tubuh Yogner terlempar vertikal membelah awan, melesat jauh ke langit lepas sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.

​Pemuda itu bertepuk tangan, membersihkan debu imaginer di bajunya, lalu menoleh ke belakang dengan mata berbinar.

​"Lihat itu... bukankah itu rekor baru? Iya kan, Bernard?"

​Dari balik semak-semak, seorang pria tua berpakaian pelayan melangkah gontai. Napasnya terengah-engah parah, tersengal-sengal tak karuan layaknya orang yang baru saja lolos dari maut.

​Keringat dingin membanjiri tubuhnya yang gemetar. Wajahnya pucat pasi, dan tangannya terus mencengkeram dada kiri—merasa jantungnya bisa meledak kapan saja akibat syok berat.

​"Pan-Pangeran Edward..." Bernard berbisik lirih, suaranya parau. "Tolong... kasihani orang tua ini... Hah... Hah... Jantung saya bisa copot..."

​Edward—sang pangeran sekaligus bayi misterius dari langit belasan tahun lalu—hanya berkacak pinggang sambil tertawa renyah.

​"Ayolah, Bernard. Baru berjalan melewati dua hutan saja kau sudah seperti ini."

​"Itulah masalahnya... Hah... Hah... Tuan Muda masih muda... Sementara saya sudah tua...." Bernard menyahut di sela napasnya yang putus-putus.

"Tinggalkan saya saja, Tuan Muda...."

​"Baiklah...." Edward menyeringai tipis. Tubuh pemuda itu kembali melayang ringan di udara.

​Namun, alih-alih terbang meninggalkan Bernard sendirian seperti yang diminta, Edward justru menyambar kerah baju sang pelayan tua. Dengan satu gerakan santai, ia mengangkat tubuh Bernard dan membawanya melayang bersama.

​Sontak saja, sang pelayan langsung panik setengah mati. "Uwaaa?! Tuan Muda, apa yang Anda lakukan?!"

​"Jika aku harus berjalan menunggumu, itu akan memakan waktu lama. Kau tahu sendiri, kan, kita harus menyelesaikan masalah ini sebelum kegelapan malam tiba," jelas sang Pangeran dengan nada kelewat santai, seolah-olah membawa manusia terbang adalah hal paling normal di dunia.

​"T-tapi—!"

​"Sudah, pegangan saja yang erat."

​BOOM!

​Edward mendadak menambah kecepatannya secara ekstrem. Udara di sekitar mereka meledak, menciptakan efek sonic boom mini yang membuat Bernard merasa jiwanya tertinggal jauh di belakang.

​Hanya butuh beberapa detik bagi Edward untuk memindai area dari ketinggian. Matanya yang tajam segera menemukan Yogner raksasa tadi. Monster malang itu kini terbaring lunglai di atas tanah, mengerang menahan sakit yang luar biasa. Tampaknya serangan Edward mematahkan beberapa tulang besarnya, membuat makhluk itu mustahil untuk kembali bangkit.

​Tap.

​Edward mendaratkan kakinya ke tanah, menurunkan Bernard yang seluruh tubuhnya sudah gemetaran layaknya jeli. Tanpa membuang waktu sekejap pun, tubuh sang Pangeran kembali melesat cepat, meluncur lurus ke arah Yogner.

​Sungguh nasib malang bagi sang monster tingkat 5.

​Belum sempat otaknya yang lambat memproses apa yang sedang terjadi, bayangan Edward sudah berkelebat tepat di depan wajahnya.

​JEDARRR!

​Satu terjangan murni tanpa ampun menghantam telak. Hantaman itu begitu mengerikan hingga membuat kepala raksasa sang gajah berlubang besar, menembus langsung hingga ke bagian belakang. Seketika itu juga, sang monster mati total tanpa sempat mengeluarkan lengkingan terakhir. Tubuh raksasanya ambruk, tak bergerak lagi untuk selamanya.

​Di kejauhan, Bernard hanya bisa memandang ngeri ke arah kawah darah tersebut.

​Gila. Benar-benar gila.

​Selama puluhan tahun hidup dan mengabdi pada kerajaan, belum pernah sekali pun Bernard melihat ada kesatria atau penyihir hebat yang mampu melubangi kepala Yogner hingga tembus secara instan. Bahkan, Yang Mulia Raja yang agung maupun para Penyihir Agung legendaris kerajaan pun masih harus bersusah payah jika berhadapan dengan monster sekelas ini.

​Namun, di hadapan remaja berusia enam belas tahun ini... monster bencana itu tak lebih dari sekadar hama yang bisa dihancurkan dalam satu kedipan mata.

Edward berjalan menghampirinya dengan busungan dada penuh kebanggaan. "Yap, selesai! Ayo kita pulang."

​"T-tunggu, Tuan Muda. Saya mohon... kali ini kita jalan kaki saja," ratap Bernard, masih berusaha mengumpulkan jiwanya yang sempat tertinggal.

​"Ah, sudahlah, biar cepat! Kali ini aku janji akan terbang pelan-pelan, deh."

​Tanpa menunggu persetujuan, Edward kembali menyambar tubuh sang pelayan tua dan melesat ke angkasa menuju istana. Kali ini, gerakannya memang jauh lebih lembut. Tentu saja, sang Pangeran sama sekali tidak berniat ditinggalkan Bernard sebelum waktunya.

​Sebenarnya, Bernard tidak terlalu keberatan dengan sensasi melayang di udara ini. Malahan, ia cukup menikmatinya—tentu saja dengan catatan jika kecepatannya berada di batas normal, bukan kecepatan gila yang ia rasakan sebelumnya.

​Dari ketinggian ini, Bernard bisa menyaksikan dunia dari sudut pandang baru yang belum pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Pemandangan indah yang tersaji sejauh mata memandang tidak pernah gagal membuat pria tua itu berdecak kagum.

​Mereka melewati barisan pegunungan yang megah, rimbunan hutan hijau yang luas, hamparan padang rumput yang memanjakan mata, kilauan sungai-sungai berarus deras, hingga barisan rumah penduduk dan hiruk-pikuk kota. Dari atas sini, seluruh dunia tampak begitu menakjubkan dan damai.

​Sejak ditunjuk menjadi pelayan pribadinya, ke mana pun sang Pangeran pergi, Bernard akan selalu ada di sampingnya. Tugas ini adalah titah langsung dari sang Raja. Jadi, mau tidak mau, Bernard harus rela "diculik" dan dibawa terbang setiap kali Edward ingin bepergian ke suatu tempat.

​Awalnya, pengalaman itu adalah mimpi buruk yang menakutkan bagi Bernard. Namun seiring berjalannya waktu, tubuh tuanya mulai terbiasa. Baik itu terbang dengan kecepatan santai, maupun kecepatan ekstrem yang sanggup membuat jantungnya copot. Dan jika boleh jujur... pengalaman terbang yang membuat jantungnya hampir meledak justru adalah jenis penerbangan yang paling sering ia alami bersama Edward.

...****************...

​Sebelum langit berganti warna menjadi jingga kemerahan, keduanya akhirnya tiba di area istana.

​Tap.

​Mereka mendarat dengan mulus tepat di tengah taman luas yang biasanya digunakan oleh Yang Mulia Ratu, Tiana, untuk bersantai.

​Dan benar saja, tebakan mereka tidak meleset. Wanita jelita dengan pembawaan anggun itu sudah duduk di sana, sedang menikmati teh sorenya di dalam sebuah paviliun taman yang asri.

Ia tidak sendirian, melainkan ditemani oleh seorang pelayan wanita berkacamata yang berdiri dengan sikap takzim di sisinya.

​"Loh, sudah pulang?" ucap Ratu Tiana hangat, melirik dari balik topi musim panasnya yang lebar begitu menyadari kehadiran mereka.

"Sudah Ibu duga kau pasti akan menyelesaikannya dengan cepat."

​"Tentu saja! Siapa dulu dong," sahut Edward, menepuk dadanya dengan bangga.

​"Kau tidak membuat Bernard jantungan lagi, kan?" tanya Tiana, menatap jenaka ke arah pelayan tua di belakang putranya.

​Edward mengibaskan tangannya dengan santai. "Ah, dia bisa mengatasinya. Bukan begitu, Bernard?"

​"I-iya..." Bernard menjawab dengan suara bergetar. Langkah kakinya masih goyah saat berjalan mendekat, sebelum akhirnya berdiri di samping pelayan wanita berkacamata yang kini menatapnya dengan pandangan penuh rasa iba.

​"Iya deh, putra Ibu memang yang terkuat," ucap Ratu Tiana sembari tersenyum manis lalu menyeruput teh hangatnya.

"Lalu, apa kau menggunakan pedang pemberian Pamanmu?"

​Seketika, tubuh Edward tersentak. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. "Ehehehe... t-tidak, Ibunda."

​"Edward, Ibu sudah bilang berapa kali padamu untuk menggunakan pedang itu. Sesekali cobalah untuk mengasah keahlian pedangmu, jangan hanya mengandalkan kekuatan fisikmu saja," nasihat Ratu Tiana panjang lebar.

​"T-tapi Ibunda, pedang itu bahkan tidak bisa menggores kulit Yogner. Jika aku tidak menggunakan kekuatanku, pasti aku masih akan tertahan di sana sampai malam tiba," bela Edward jujur.

​Uhuk!

​Ratu Tiana langsung tersedak tehnya sendiri mendengar penuturan polos sang putra. Ia buru-buru menyeka bibirnya dengan saputangan sutra.

​"Y-Yogner?!" pekik Tiana terkejut, matanya membelalak. "Untuk apa kau menyerang Yogner?! Ayahandamu kan hanya menyuruhmu untuk berpatroli dan membereskan area perbatasan hutan!"

​"T-tapi aku memang melakukan itu! Yogner itu menerobos perbatasan, jadi aku menghabisinya seperti yang diperintahkan Ayahanda," Edward membela diri, tidak merasa ada yang salah dengan tindakannya.

​Tiana menarik napas dalam-dalam, lalu beralih menatap sang pelayan tua. "Apa itu benar, Bernard?"

​"I-iya, Yang Mulia. Saya bersaksi bahwa Yang Mulia Pangeran berkata jujur," jawab Bernard dengan takzim, meski wajahnya masih agak pucat.

​Mendengar konfirmasi tersebut, Ratu Tiana hanya bisa memijit keningnya yang mendadak pusing. Beliau benar-benar kehilangan kata-kata.

​Sejak kecil, potensi fisik Edward memang berkembang dengan sangat pesat dan tidak masuk akal, padahal pemuda itu sama sekali tidak memiliki aliran Mana di dalam tubuhnya.

Namun, sampai bisa menghabisi seekor Yogner—monster bencana yang bahkan suaminya sendiri, sang Raja, masih merasa kesulitan untuk menghadapinya—adalah hal yang berada di luar nalar.

​Itu sudah jauh melampaui kata menakjubkan. Itu adalah anomali murni.

​"Kalau begitu, temui Ayahmu. Lebih baik kau melapor padanya dulu dan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi," jelas Ratu Tiana dengan nada serius.

"Kemunculan Yogner bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Seharusnya monster sekelas itu terisolasi jauh di dalam hutan liar. Jika tiba-tiba dia sampai muncul di perbatasan, pasti ada sesuatu yang sangat mendesak yang membuatnya keluar dari sarang."

​"Baik, Ibunda." Edward membungkuk hormat dengan takzim sebelum akhirnya berbalik pergi dengan langkah kaki yang riang.

​"Ah, Yang Mulia, tunggu saya!" seru Bernard setengah panik, langsung berlari kecil menyusul di belakangnya.

​Ratu Tiana hanya bisa tersenyum simpul menatap punggung putranya yang perlahan menjauh. Sifat Edward yang sekarang benar-benar sudah berbeda jauh dengan dirinya yang dulu.

​Dulu, Edward kecil adalah sosok yang sangat tertutup. Ia tumbuh dalam kesepian, dikucilkan dan dijauhi oleh lingkungan istana karena kondisinya. Terutama... karena fakta bahwa tubuhnya sama sekali tidak memiliki aliran Mana.

​Penghinaan demi penghinaan kerap mampir ke telinganya. Saat jamuan makan besar atau pesta kerajaan diadakan, Edward selalu memilih untuk menyendiri di sudut ruangan yang gelap, tahu betul bahwa tidak akan ada yang sudi berbicara atau sekadar mendekatinya.

​Bahkan, Ratu Tiana tidak akan pernah bisa melupakan hari kelam di mana pihak Gereja menghina Edward di depan publik, menyebut bocah malang itu sebagai "Anak Terkutuk."

​Namun, awan mendung di hati Edward mendadak sirna seiring bertambahnya usia. Ia tumbuh menjadi pemuda yang ceria, hangat, dan terbuka. Terlebih lagi sejak ia mendapatkan pelayan pribadinya sendiri, Bernard, yang selalu setia menemani hari-harinya.

​Tangan lentik sang Ratu bergerak mengambil cangkir tehnya, lalu menyeruputnya perlahan. Ia menatap pantulan dirinya yang beriak di permukaan teh hangat tersebut, lalu tersenyum lembut.

​Sebagai seorang ibu, meskipun Edward bukanlah putra kandung yang lahir dari rahimnya sendiri... ia selalu mendoakan kebaikan dan kebahagiaan yang terbaik untuk pemuda itu.

​Jika saatnya tiba nanti, Ratu Tiana sangat yakin, dunia akan melihat Edward sebagai seorang penyelamat—bukan sosok pembawa kehancuran seperti yang diramalkan orang-orang munafik itu.

​"Teh ini enak sekali seperti biasanya, Emma," ucap Ratu Tiana memecah keheningan.

​"Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia," sahut pelayan wanita berkacamata di belakangnya dengan busur hormat yang sempurna.

​Sang Ratu pun kembali menikmati sore harinya yang tenang di paviliun istana, ditemani semilir angin hangat dan keharuman kelopak bunga yang bermekaran dengan indah.

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!