NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Aku Tidak Bisa

Pertanyaan itu jatuh di antara mereka seperti sendok yang terlepas di meja kaca.

Tidak pecah.

Tetapi bunyinya membuat Keira tidak bisa pura-pura tidak mendengar.

Ia menatap uap tipis dari teh jahe di depannya. Hangatnya naik ke wajah, tetapi telapak tangannya tetap dingin. Di seberang meja, Xavier tidak mendesak. Ia hanya menunggu, punggung tegak, kedua tangan di atas meja, wajah tenang yang justru membuat Keira makin sulit bernapas.

"Keira," katanya lagi, lebih pelan, "kalau kamu tidak suka, bilang tidak. Aku bisa terima."

Kalimat itu seharusnya mempermudah.

Namun Keira justru merasa dadanya seperti diremas.

Karena masalahnya bukan tidak suka.

Masalahnya ia terlalu suka.

"Kamu jangan ngomong begitu," gumamnya.

"Kenapa?"

"Karena kamu membuat aku terlihat seperti orang jahat kalau tidak jawab."

Sudut bibir Xavier bergerak tipis, tetapi matanya tetap serius. "Aku tidak bilang kamu jahat."

"Tapi aku merasa begitu."

"Itu karena kamu terlalu banyak berpikir."

Keira mengangkat wajah. "Kalau aku tidak berpikir, nanti siapa yang tanggung akibatnya?"

Kali ini Xavier diam.

Mesin kopi di belakang meja kasir berdengung. Sepasang mahasiswa di sudut ruangan tertawa pelan. Di luar jendela, gerimis mulai turun, menempelkan titik-titik air kecil di kaca. Semua hal di sekitar mereka berjalan normal, seolah dunia tidak sedang menunggu jawaban yang bisa mengubah hubungan dua orang.

Keira menarik napas.

"Aku..." Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia inginkan. "Aku butuh waktu."

Tatapan Xavier tidak berubah, tetapi Keira melihat rahangnya mengeras sedikit.

"Waktu untuk apa?"

Untuk memastikan aku masih hidup cukup lama untuk tidak menyakitimu.

Kalimat itu hampir keluar.

Keira menelannya kembali sampai tenggorokannya sakit.

"Untuk jawab dengan benar," katanya akhirnya. "Kamu tadi bilang jawab yang benar. Aku tidak mau jawab cuma karena aku kebawa suasana."

Xavier menatapnya lama.

"Kamu pikir aku suasana?"

"Bukan begitu."

"Atau kamu pikir aku cuma lewat?"

"Xavier."

Namanya keluar seperti peringatan dan permintaan maaf sekaligus.

Xavier menurunkan pandangan ke cangkir kopinya. Beberapa detik, ia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu yang tajam. Tetapi ketika ia kembali menatap Keira, suaranya sudah lebih tenang.

"Aku tidak minta kamu jawab malam ini."

Keira berkedip.

"Aku tanya karena aku perlu tahu apakah aku sedang mengejar orang yang memang ingin dikejar, atau aku cuma membuat kamu tidak nyaman."

Jantung Keira mencelos.

"Kamu tidak membuat aku tidak nyaman."

"Berarti?"

Ia benar-benar menyebalkan.

Selalu pendek. Selalu tepat. Selalu membuat Keira kehabisan tempat sembunyi.

Keira menggenggam cangkir lagi. "Berarti... aku tidak membenci semua ini."

"Semua ini?"

"Sarapan. Jemput. Kamu yang tiba-tiba muncul. Kamu yang sok tahu soal lambung aku. Kamu yang mengajak aku ke pameran." Ia berhenti, lalu menambahkan dengan suara nyaris tidak terdengar, "Kamu."

Hening setelah itu terasa panjang.

Xavier menatapnya seolah satu kata terakhir itu cukup untuk membuat seluruh wajahnya melembut.

"Kalau begitu aku tunggu," katanya.

Keira mengangkat kepala. "Apa?"

"Aku tunggu sampai kamu siap menjawab."

"Kalau lama?"

"Aku bukan orang yang gampang bosan."

"Kalau kamu berubah pikiran?"

"Kamu sedang berharap aku berubah pikiran?"

Keira langsung menggeleng.

Gerakan itu terlalu cepat. Terlalu jujur.

Xavier melihatnya, tentu saja. Kali ini senyumnya benar-benar muncul, kecil tapi hangat, membuat Keira ingin menutup wajah dengan menu kafe.

"Kalau begitu jangan minta aku pergi," katanya.

Keira menunduk. "Aku belum bisa bilang iya."

"Aku tahu."

"Tapi aku juga..." Ia menggigit bibir. "Aku tidak mau kamu berhenti."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Begitu keluar, Keira ingin menariknya kembali dan menelannya hidup-hidup.

Namun Xavier hanya mengangguk pelan, seperti seseorang yang baru menerima janji paling berharga.

"Baik."

Satu kata itu terlalu sederhana.

Terlalu aman.

Di luar, gerimis berubah menjadi hujan. Xavier mengantar Keira pulang dengan payung hitam yang cukup besar untuk dua orang, tetapi tetap membuat bahu mereka sesekali bersentuhan. Ia tidak menggenggam tangan Keira. Tidak menyentuh punggungnya. Hanya berjalan di sampingnya, menjaga langkahnya agar tidak tergelincir di lantai basah.

Di depan pintu apartemen, Keira berhenti.

"Makasih."

"Untuk?"

"Tidak memaksa."

Xavier menatapnya. "Aku mau kamu datang karena kamu mau. Bukan karena kamu tidak enak."

Keira hampir menjawab.

Namun kalau ia membuka mulut lagi, ia takut semua hal yang ditahan sejak tadi akan tumpah.

Jadi ia hanya mengangguk, masuk ke apartemen, lalu menutup pintu perlahan.

Begitu sendirian, tubuhnya seperti kehilangan tenaga.

Keira duduk di lantai dekat tempat tidur. Hujan memukul kaca jendela. Kamar yang biasanya terasa akrab mendadak terlalu luas, terlalu sepi, terlalu jujur.

Ia mengambil Nokia tua dari laci.

`Poin Kehidupan bertambah: 2 bulan.`

Angka itu masih di sana. Bukti bahwa keajaiban kecil memang terjadi.

Tetapi dua bulan bukan selamanya.

Dua bulan bukan janji lulus kuliah.

Dua bulan bukan jaminan bahwa ia bisa berdiri di samping Xavier satu tahun lagi, lima tahun lagi, sampai mereka bisa tertawa tentang masa-masa aneh saat ia menyamar sebagai orang yang kebetulan selalu memakai baju mirip dengannya.

Keira menekan ponsel itu ke dada.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Ia tidak menangis seperti orang di drama. Tidak ada isakan besar, tidak ada kata-kata panjang. Hanya napas yang patah, bahu yang bergetar kecil, dan rasa sakit yang terlalu penuh untuk diberi nama.

"Aku suka kamu," bisiknya ke ruangan kosong.

Kalimat itu akhirnya keluar saat orang yang perlu mendengarnya tidak ada di sana.

"Aku suka kamu, Xavier."

Ia tertawa pelan di antara air mata, pahit dan bodoh.

"Tapi aku takut."

Malam itu, Keira tertidur dengan mata bengkak dan Nokia tua masih di samping bantal. Pagi harinya, ia bangun karena panggilan dari Angela.

Nama `Mama` menyala di layar ponsel modernnya.

Keira menatapnya beberapa detik sebelum mengangkat.

"Halo?"

"Keira, hari ini jadwal kontrol. Mama sudah di bawah."

Suara Angela terdengar rapi seperti biasa, tetapi ada ketegangan halus di baliknya. Keira baru ingat. RS Borromeus. Pemeriksaan darah. Konsultasi yang sejak semalam ia dorong jauh-jauh dari kepala.

"Aku bisa ke sana sendiri," kata Keira otomatis.

"Mama tahu kamu bisa. Tapi Mama tetap jemput."

Keira terdiam.

Dulu, ia mungkin akan menolak hanya untuk membuktikan bahwa ia tidak membutuhkan siapa pun. Hari ini ia terlalu lelah untuk berperang.

"Oke," katanya pelan. "Aku turun sebentar lagi."

Di mobil, Angela tidak banyak bicara. Ia hanya menyerahkan botol air hangat dan satu kotak kecil berisi biskuit tawar.

"Kalau mual, makan sedikit dulu."

Keira menatap kotak itu, lalu jendela.

Orang-orang di hidupnya belakangan ini seperti diam-diam belajar cara menjaganya. Angela dengan air hangat. Xavier dengan sarapan. Celine dengan omelan. Tania dengan kalimat tenang.

Dan Keira, yang seharusnya paling ingin hidup, justru sering menjadi orang pertama yang menyerah dalam pikirannya sendiri.

Di RS Borromeus, aroma antiseptik langsung membuat perutnya menegang. Angela mengurus pendaftaran dengan cepat. Keira duduk di kursi tunggu, menatap orang-orang yang datang dan pergi dengan map hasil lab di tangan.

Setelah pengambilan darah dan pemeriksaan, mereka menunggu hampir satu jam sebelum dipanggil masuk.

Dokter yang menangani Keira membuka berkas di layar komputer. Wajahnya tetap profesional, tidak terlalu cerah, tetapi juga tidak seberat pertemuan pertama.

Keira menggenggam tali tas.

Angela duduk di sampingnya, punggung tegak, tetapi jari-jarinya saling mengunci rapat di atas pangkuan.

"Secara umum," kata dokter itu, "hasil kali ini menunjukkan beberapa indikator membaik."

Keira tidak langsung paham.

Angela lebih dulu menoleh. "Membaik, Dok?"

Dokter mengangguk. "Belum bisa disebut aman. Kita tetap harus lanjut observasi dan terapi sesuai rencana. Tapi dibanding pemeriksaan sebelumnya, respons tubuh Keira lebih baik dari perkiraan."

Suara ruangan mendadak mengecil.

Keira menatap layar komputer, angka-angka yang tidak sepenuhnya ia mengerti, grafik kecil, catatan medis, semuanya blur di depan mata.

"Maksudnya..." Ia harus berhenti untuk menelan. "Ada harapan?"

Dokter menatapnya, kali ini dengan senyum tipis yang hati-hati.

"Ada alasan untuk lebih optimis."

Angela menghela napas dengan suara yang hampir pecah.

Keira duduk diam.

Di dalam tasnya, Nokia tua tidak bergetar. Tidak ada pesan sistem. Tidak ada angka baru.

Tetapi untuk pertama kalinya, harapan tidak hanya datang dari layar kecil yang mustahil dijelaskan.

Harapan juga muncul dari mulut seorang dokter, di ruangan putih yang dulu terasa seperti tempat vonis.

Keira menunduk, menggenggam ujung bajunya.

Mungkin.

Mungkin ia memang belum selesai.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!