NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 013

Kucing Kecilku

Ambil kucingmu sebelum dia benar-benar pindah ke sofaku.

Reynard membaca pesan Natasha di ruang kerja Hartono Group.

Rapat daring dengan tim Singapura masih berjalan di layar besar. Seorang direktur sedang menjelaskan proyeksi biaya, angka-angka bergerak di slide, dan semua orang di ruangan menunggu komentar Reynard. Namun mata Reynard berhenti pada foto yang baru masuk.

Foto itu tidak memperlihatkan wajah Seraphina dengan jelas. Hanya tubuhnya yang meringkuk di ujung sofa hijau, satu tangan di bawah pipi, selimut menutup bahu, rambut jatuh sedikit menutupi kening. Ia tampak kecil. Terlalu kecil untuk seseorang yang biasa berdiri di depan ruang penuh orang dan membuat mereka diam.

Direktur di layar berhenti bicara. "Pak Rey?"

Reynard mengangkat mata. "Potong biaya logistik tiga persen. Risiko vendor kedua terlalu tinggi. Kirim revisi besok pagi."

"Baik, Pak."

"Rapat selesai."

Layar mati.

Stanley yang berdiri di sisi ruangan menatap jam. Hampir tengah malam.

"Mobil sudah siap, Pak?"

Reynard mengambil jas dari sandaran kursi. "Ke apartemen Natasha Wibowo."

Stanley tidak bertanya. Ia hanya mengangguk.

Di apartemen Natasha, suasana ruang tamu sudah berubah dari medan perang mahjong menjadi tempat penampungan orang lelah. Jessica duduk di lantai sambil makan kue terakhir. Michelle sedang merapikan ubin ke kotak. Natasha membuka pintu dengan wajah sangat puas.

"Cepat juga," katanya.

Reynard masuk tanpa banyak ekspresi. "Kau mengirim pesan seperti ancaman."

"Karena kalau aku menulis, Sera tidur manis, silakan datang kalau tidak sibuk, kau pasti akan pura-pura masih rapat."

"Aku tidak pernah pura-pura."

"Benar. Kau hanya membuat seluruh orang di sekitarmu pura-pura tidak takut."

Jessica berbisik kepada Michelle, "Dia berani sekali."

Michelle berbisik balik, "Itu sebabnya dia masih hidup. Orang bingung mau marah atau kagum."

Reynard mendengar, tetapi mengabaikan.

Ia berjalan ke sofa.

Seraphina masih tidur. Napasnya pelan. Alisnya yang biasanya tegas tampak lebih lembut. Selimut sedikit melorot dari bahunya. Reynard membungkuk, menarik selimut itu kembali dengan gerakan hati-hati.

Natasha melipat tangan di dada, mengamati. "Aku belum pernah melihat Tuan Muda Hartono bergerak seperti takut membangunkan bayi."

"Diam."

"Itu bukan bantahan."

Reynard menoleh sekilas. Natasha tersenyum tanpa rasa takut.

Seraphina bergerak sedikit, mungkin karena suara mereka. Bibirnya menggumam sesuatu yang tidak jelas, lalu ia kembali meringkuk.

Reynard menatapnya. Tatapan dingin yang biasa ia pakai untuk ruang rapat hilang dari wajahnya. Yang tersisa sesuatu yang lebih sunyi, lebih berbahaya justru karena terlalu lembut.

"Kucing kecil," gumam Natasha pelan, menggoda.

Reynard menunduk lebih dekat, suaranya turun sampai nyaris hanya terdengar oleh Seraphina.

"Kucing kecilku."

Ruang tamu mendadak hening.

Jessica hampir tersedak kue.

Michelle menutup senyum dengan punggung tangan.

Natasha membuka mulut, lalu menutupnya lagi, sebuah kejadian langka yang mungkin pantas dicatat sejarah.

Seraphina tidak sepenuhnya bangun. Namun bulu matanya bergetar. Di antara tidur dan sadar, ia mendengar suara Reynard, merasakan aroma cedar yang sudah mulai ia kenali, dan tubuhnya yang tegang sejak sore perlahan mengendur.

"Rey..." gumamnya.

"Hmm."

"Aku kalah mahjong."

Senyum tipis muncul di wajah Reynard. "Aku tahu."

"Jangan bilang siapa-siapa."

"Rahasia besar."

Natasha berbisik, "Kami semua mendengar."

Reynard menatapnya.

Natasha mengangkat tangan. "Baik. Rahasia negara."

Reynard menyelipkan satu tangan di bawah punggung Seraphina dan satu lagi di belakang lututnya. Gerakannya begitu mudah sampai Jessica membelalakkan mata. Seraphina terbangun sedikit ketika tubuhnya terangkat.

"Aku bisa jalan," gumamnya.

"Kau bisa. Tapi kau tidak harus."

Kalimat itu membuat mata Seraphina terbuka setengah. Ia melihat garis rahang Reynard dari dekat, cahaya lampu menyentuh sisi wajahnya. Untuk sesaat ia ingin protes. Lalu ia mengingat malam di rumah Lim, semua orang menyuruhnya kuat agar mereka tidak perlu merasa bersalah.

Di sini, seseorang mengatakan ia tidak harus.

Ia menutup mata lagi.

Natasha mengantar sampai pintu. "Kembalikan dia besok dalam kondisi utuh."

"Dia bukan barang pinjaman."

"Bagus. Berarti kau sadar."

Michelle ikut mendekat dengan tas kecil Seraphina. "Ponsel dan kartu aksesnya ada di sini. Dia belum makan banyak, tapi sudah minum teh."

Jessica menyelipkan kue lapis yang dibungkus tisu ke dalam tas. "Untuk sarapan darurat. Jangan menilai, ini sistem dukungan emosional."

Reynard menerima tas itu. "Terima kasih."

Jessica berkedip, seperti tidak menyangka ia akan menjawab dengan sopan. "Wow. Dia bisa bicara seperti manusia."

Natasha langsung menyikutnya pelan.

Reynard berhenti sebentar di ambang pintu. "Terima kasih sudah menjaganya."

Nada itu membuat Natasha tidak langsung membalas. Ia hanya mengangguk, lebih serius daripada biasanya.

"Dia temanku sekarang," katanya. "Aku memang akan menjaganya."

Di lift, Seraphina masih berada dalam pelukan Reynard. Ia seharusnya malu. Mungkin besok pagi ia akan malu. Untuk saat ini, kepala terlalu berat dan tubuh terlalu lelah.

"Kucing kecilku?" gumamnya tiba-tiba.

Reynard menunduk. "Kau dengar?"

"Sedikit."

"Keberatan?"

Seraphina membuka mata sedikit. "Aku bukan kucing."

"Aku tahu."

"Dan aku tidak kecil."

"Tentu."

"Kau terdengar tidak percaya."

"Aku hanya tidak ingin berdebat dengan orang yang tertidur setiap tiga kalimat."

Seraphina ingin membalas, tetapi menguap lebih dulu. Reynard menahan senyum.

Mobil menunggu di lobi. Hujan sudah berhenti, meninggalkan aroma aspal basah. Reynard meletakkan Seraphina di kursi belakang, memasangkan sabuk pengaman, lalu melepas jasnya untuk menutupi kakinya.

Sebelum pintu ditutup, Seraphina menangkap ujung lengan kemejanya.

"Jangan bawa aku ke Lim."

Reynard menatap jemarinya yang menggenggam kain.

"Tidak akan."

Genggaman Seraphina tidak langsung lepas. Matanya masih setengah terpejam, tetapi suaranya lebih jernih daripada sebelumnya.

"Kenapa kau selalu datang?"

Reynard menutup pintu mobil separuh, menahan tubuhnya di luar agar bisa menatapnya. "Karena kau selalu terlihat seperti tidak akan memanggil siapa pun."

"Itu bukan jawaban."

"Itu alasan."

Seraphina mengerutkan kening tipis. "Aku tidak selemah itu."

"Aku tahu."

"Kalau begitu jangan perlakukan aku seperti harus diselamatkan."

Reynard diam sebentar. Lampu lobi apartemen Natasha memantul di kaca mobil, membuat wajahnya tampak lebih lembut daripada biasanya.

"Aku tidak datang karena kau lemah," katanya. "Aku datang karena orang yang kuat juga boleh dijemput pulang."

Kalimat itu membuat Seraphina kehilangan tenaga untuk membalas.

Ia menatapnya lama, lalu berbisik, "Kau pandai sekali membuat orang bingung."

"Hanya kau."

"Rey."

"Hmm?"

"Kalau aku benar-benar jadi kucing, aku akan mencakar."

Senyum tipis menyentuh bibir Reynard. "Aku akan siapkan obat merah."

Seraphina memejamkan mata lagi, tetapi kali ini sudut bibirnya bergerak sedikit. "Aneh."

"Apa?"

"Aku tidak marah mendengarnya."

"Ke mana?"

"Pulang."

"Apartemenku?"

Reynard menatapnya beberapa detik. "Kalau kau mau."

Seraphina terlalu mengantuk untuk membaca makna di balik jeda itu. Ia hanya mengangguk kecil.

Mobil melaju menuju SCBD. Di belakang mereka, dari motor yang parkir terlalu lama di seberang apartemen Natasha, seseorang mengangkat ponsel dan mengirim pesan.

Target dijemput Hartono lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!