Sejak awal, Arini tahu posisinya. Dia bukan pilihan pertama.
Dia hanya "rumah singgah" bagi Rayhan yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, di pelukan Sahira.
Bertahun-tahun Arini bertahan, berharap Rayhan akan memilihnya.
Sampai suatu hari Sahira kembali, sakit, dan butuh Rayhan lebih dari siapapun.
Di persimpangan itu Arini dihadapkan dua pilihan: bertarung mempertahankan, atau pergi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Rayhan tidak menjawab apapun perkataan Sahira dan melepaskan tangannya yang merangkulnya tapi mengangguk kepada sang bos yang menyuruhnya itu.
"Baik bos, saya akan keruangan rapat sekarang, dan kamu Sahira pergilah dulu, kamu harus mengurus kekacauan ini dan jelaskan pada bos yang terjadi!!".
Rayhan pergi dari sana tanpa memperdulikan tanggapan dan rengekan Sahira padanya, dia merasa jika ini bukan saatnya mereka membahasnya secara berdua.
Sahira mendengus jengkel dan juga dongkol melihat sikap Rayhan yang mulai berubah kemudian dia berbalik dan mengangguk kepada sang bos yang kini menatap mereka semua.
Dulu dia tidak pernah seperti itu padanya, dia akan selalu diutamakan dari semua hal sekarang dia bahkan terkesan tidak peduli
"Keruangan saya sekarang!!". Ucapnya sambil berjalan lebih dulu dengan suara hentakan sepatu yang seperti palu keputusan untuk mereka
Ketiga orang yang menyerang Sahira tadi akhirnya menunduk ketakutan sambil berjalan mengikuti langkah bos mereka begitu juga Sahira yang menyusul dibelakang mereka.
"Apa yang kalian lakukan sebenarnya?, mengapa kalian berkelahi ditempat kerja, kalian semua mau jadi sok jagoan dikantor?". Tanyanya dengan dingin.
Mereka semua menahan nafas melihat kemarahan dari pimpinan mereka itu.
"Maafkan saya bos, mereka membully saya tentang masalah pribadi saya, saya hanya membela diri saya dari perkataan dan hinaan mereka yang sudah keterlaluan dan melampaui batas".
Sahira menjawab dengan berani, menurutnya dia memang tidak salah jadi dia melakukan itu.
"Kami tidak mau dia merusak citra perusahaan pak, dia berselingkuh dengan suami orang yang tak lain pak Rayhan sendiri saat dia masih memiliki istri, kemarin dia juga menjadi penyebab perceraian mereka pak". Jawab salah satu dari ketiganya.
Dia mendelik tidak suka kepada Sahira yang ternyata memakai banyak topeng selama ini.
"Benar pak, video mereka viral di internet, dan wajah mereka terpampang jelas disana, mereka juga menyinggung perusahaan karena mereka tahu jika keduanya adalah karyawan perusahaan kita, bukankah itu berdampak buruk bagi kita semua?".
Sang bos mengangguk mengerti, dia menatap tajam Sahira karena dia tidak menyangka jika Sahira adalah orang yang suka mengambil suami orang seperti itu.
"Kamu tahu resiko dari perbuatan kalian pada perusahaan?, kalian pikir kalian hanya orang biasa yang bisa seenaknya diluar tanpa bisa membuat cacat nama perusahaan?".
Sahira menunduk pelan, dia mengeram kesal rasanya ingin memaki setiap orang yang menghinanya tapi itu juga karena kesalahannya, andai dia mau mendengar apa perkataan Rayhan untuk tidak menemui orangtuanya, kejadian seperti ini tidak akan terjadi, dia tidak akan kena masalah sampai sefatal ini
"Maaf pak, ini adalah ruang pribadi kami, kami sudah saling mencintai sejak dulu, dan masalah pernikahan itu, Rayhan hanya melakukannya karena terpaksa dan mengikuti perkataan orangtuanya, mereka juga membuat perjanjian pernikahan dan lagian mantan istrinya itu juga tahu kalau kami saling mencintai".
Ketiganya mendengus sinis mendengar jawaban dari Sahira yang berusaha membela diri.
Mendengar hal itu sang direktur utama itu menghela nafas pelan kemudian menatap tajam kearah Sahira.
"Kamu adalah seorang perempuan Sahira, apa kamu tidak punya empati sedikitpun tentang hancurnya pernikahan orang lain?, bagaimana jika itu terjadi padamu dan juga adikmu, apa kamu bisa bicara seperti itu, saya tidak menyalahkan cinta kalian tapi harusnya kalian tahu batasan, kalian bisa melakukannya setelah mereka bercerai bukan disaat seperti itu, itu namanya kamu mencari masalah dengan menjadi pelakor".
Sahira mengepalkan tangannya mendengar perkataan itu, perkataan keterlaluan dan menghancurkan harga dirinya, dia tidak perduli Dnegan orang lain, baginya mendapatkan hidup enak dan kaya adalah tujuannya walau harus menghancurkan siapa saja.
"Maaf pak, saya bersalah, tolong jangan pecat saya". Ucapnya mengalah.
Dia tidak mungkin tidak bekerja, apalagi sekarang Rayhan hanya karyawan diperusahaan bukan pewaris seperti keinginannya, dia lebih baik bekerja dan bertemu banyak klien, mungkin dia bisa mendapatkan lelaki jauh lebih kaya dan sempurna dari Rayhan.
"Kamu akan pindahkan kekantor cabang, saya masih membutuhkan Rayhan disini, jika tidak dia yang akan saya kirim kekantor cabang, saya tidak bisa membiarkan kalian satu kantor, dibaliknya perbuatan kalian, kalian karyawan yang berdedikasi dan punya kemampuan jadi saya memisahkan kalian agar bisa tetap bekerja".
Sahira mengepalkan tangannya, dia menahan amarahnya yang bergejolak menahan emosi
"Baik pak, kalau begitu saya pamit" .
"Ya silahkan, ambil suratnya nanti diruang HRD, lusa kamu bisa bekerja ditempat yang baru".
Rayhan yang baru masuk langsung mematung mendengar perkataan bosnya itu, Sahira dipindahkan kekantor cabang dan akan berpisah darinya,
"Apakah ini adalah cara Tuhan menunjukkan padanya jika mereka memang tidak ditakdirkan bersama?".
"Maaf pak, saya keberatan soal itu, ini adalah perkara pribadi kami bukan untuk dijadikan bahan gosip dikantor, kenapa Sahira sampai dipindahkan kekantor cabang??
Mereka semua menatap tajam Rayhan kecuali Sahira yang menatap kesal kearahnya.
"Video kalian yang bertengkar di pengadilan bersama orangtua mu dan juga ibu-ibu itu beredar luas, orang-orang bahkan tahu siapa kalian, perusahaan mendapatkan komentar jelek karena mendukung kalian padahal kami tidak tahu jika kalian seperti itu".
"Kalian berdua membuat perusahaan malu, dan sekarang kamu mempertanyakan kebijakan saya, kamu mau saya pecat?".
Sang bos menatap dingin kearahnya karena berusaha membela diri padahal dia sendiri salah soal itu.
"Maaf pak". Jawabnya menundukkan kepalanya.
Dia mengepalkan tangannya karena emosi, sejak awal dia sudah memperingatkan Sahira untuk tidak mendekati dan berbicara kepada orangtuanya karena mereka tidak mau dan tidak akan menerimanya tapi Sahira sangat keras kepala dan malah mendatangi mereka Dnegan sok akrab setelah sidang, dan beginilah jadinya.
"sudahlah, kalian semua keluar, keputusan saya sudah bulat, jika kamu tidak terima kamu bisa angkat kaki dari perusahaan saya, tidak akan ada yang melarang!!".
Sang bos mengalihkan pandangannya kepada tiga perempuan yang berada disamping Sahira dengan tatapan tajam
"Dan untuk kalian bertiga, lain kali jaga mulut kalian kepada orang lain, ingat ini kantor bukan tempat arena berkelahi jadi pastikan kalian tidak melakukannya lagi".
"Baik pak, kami keluar dulu".
Kelima orang itu keluar dari ruangan sang bos sambil menatap tajam keduanya dengan sangat kesal.
"Kalian memang cocok, satu pelakor dan satu lagi manusia tidak punya hati, lihat saja kalian berdua akan menerima karmanya!!".
Ketiganya meninggalkan keduanya yang kini menatap kepergian mereka.
Rayhan menghela nafas kasar dan mengusap wajahnya dengan jengkel dan menahan amarah.
"Lihatlah!".
"Sudah kukatakan padamu sejak awal untuk tidak mendatangi orangtuaku tapi kamu tidak mau mendengar apapun, lihat sekarang, kita akan kembali berpisah, aku bukan lagi pewaris keluargaku, kamu harus paham".
"Bodoh amat, jika seperti itu kita pisah saja!!".
semoga bos nya gk pilih kasih walau rayhan Salah ttp hrs di Pecat.
Cerita ini bagus tidak bertele-tele ,tapi sayang upnya lama , hingga lupa alurnya.