Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3 - Bukan Seperti Rumornya
Pertanyaan itu belum sempat menemukan jawaban sampai bel istirahat kedua berbunyi.
Guru Bahasa Inggris akhirnya memanggil Kelvin masuk lima menit sebelum pelajaran selesai. Cowok itu kembali ke kursinya dengan wajah yang sama seperti saat dia keluar. Tidak kesal. Tidak malu. Tidak merasa perlu membuktikan apa pun.
Keiko menggeser buku Bahasa Inggris ke arahnya. "Terima kasih untuk bukunya."
Kelvin melirik halaman yang sudah dipenuhi garis bawah ungu muda. Ada jeda pendek di matanya, seperti dia tidak terbiasa melihat bukunya diperlakukan serapi itu.
"Kamu selalu nyatet sebanyak ini?"
"Kalau materinya penting."
"Bahasa Inggris halaman perkenalan diri penting?"
Keiko menutup pulpen. "Untuk murid pindahan, iya."
Sudut bibir Kelvin bergerak sedikit. Bukan senyum penuh, hanya retakan kecil pada wajah dinginnya. Namun retakan itu cepat hilang. Dia menarik buku ke mejanya sendiri, memasukkannya ke laci, lalu kembali menatap jendela.
Setelah bel berbunyi, kelas langsung pecah menjadi suara kursi dan langkah kaki. Seorang siswi berambut sebahu mendekati meja Keiko sambil membawa dompet kecil.
"Keiko, kan? Aku Anisa. Mau ke kantin bareng?"
Keiko berdiri sambil merapikan tas. Perutnya sejak tadi terasa kosong, tetapi bukan lapar. Ada rasa perih halus yang merambat dari ulu hati, tanda tubuhnya mulai mengingatkan bahwa pagi tadi dia hanya sanggup menelan dua sendok bubur.
"Terima kasih, tapi aku harus ke ruang tata usaha dulu. Ada berkas yang belum selesai."
"Oh." Anisa mengangguk. Matanya sempat melirik ke arah Kelvin, lalu kembali pada Keiko. Suaranya otomatis menjadi lebih pelan. "Kalau nanti butuh apa-apa, bilang aku aja. Jangan sungkan."
Keiko tersenyum. "Iya."
Setelah Anisa pergi, Keiko mengambil map dari tas. Di meja sebelah, Kelvin masih duduk, tidak ikut keluar bersama murid lain. Dari dekat, Keiko melihat luka di buku jarinya lebih jelas. Ada satu bagian kulit yang pecah, kemerahan.
Dia hampir bertanya.
Namun Kelvin lebih dulu mengangkat mata.
"Ruang tata usaha di gedung depan. Jangan lewat belakang."
Keiko berhenti. "Kenapa?"
"Ribet."
Jawabannya pendek, tidak menjelaskan apa pun.
Keiko menatapnya dua detik. "Terima kasih."
Kelvin tidak menanggapi.
Tentu saja, karena dia belum mengenal tata letak sekolah, Keiko tetap salah belok.
SMA Bina Bangsa lebih luas dari yang terlihat dari gerbang. Gedung kelas tersusun mengelilingi lapangan, dengan koridor yang saling terhubung seperti garis-garis pada buku kotak. Keiko mengikuti papan kecil bertuliskan `Administrasi`, tetapi setelah melewati kantin, papan itu menghilang. Dia berdiri di bawah pohon ketapang, menatap dua jalur yang sama-sama sepi.
Jalur kiri tampak menuju gedung olahraga.
Jalur kanan menuju area parkir motor.
Keiko memilih kiri karena terlihat lebih teduh.
Baru beberapa langkah, dia mendengar suara benda keras menghantam tembok.
Tubuhnya berhenti.
Lalu suara laki-laki mengumpat.
"Gila lu, Kel!"
Keiko seharusnya berbalik.
Itu pikiran pertama yang muncul di kepalanya. Dia murid baru. Dia tidak tahu apa-apa. Dia tidak punya urusan dengan perkelahian orang lain. Bu Tuti pasti akan memarahinya kalau tahu dia mendekati masalah di hari pertama sekolah.
Namun suara berikutnya membuat kakinya justru bergerak pelan ke arah sumber keributan.
"Udah gue bilang, jangan sok jago di sini."
Di belakang gedung olahraga, bayangan tiga siswa laki-laki tampak saling dorong di antara dinding dan pagar belakang. Satu siswa tersungkur di dekat tong sampah, memegangi bibirnya. Satu lagi mundur dengan wajah panik. Di tengah mereka, Kelvin berdiri dengan napas tidak teratur, kerah seragamnya tertarik miring, buku jarinya berdarah.
Matanya berbeda dari di kelas.
Tajam. Gelap. Berbahaya.
Siswa yang masih berdiri mengangkat tangan seperti ingin menyerang lagi. Kelvin bergerak lebih cepat. Dia mencengkeram kerah siswa itu, mendorongnya ke dinding, lalu berhenti tepat sebelum tinjunya benar-benar mengenai wajah lawannya.
"Minta maaf," kata Kelvin rendah.
"Sama siapa?"
"Kamu tahu."
Siswa itu menelan ludah. Wajahnya memerah, antara marah dan takut. "Gue cuma bercanda."
"Lucu?"
Keiko tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Dia hanya tahu suara Kelvin saat itu membuat udara di sekitarnya terasa lebih dingin.
"Kelvin!"
Suara berat dari ujung koridor memotong semuanya.
Pak Herman, kepala kedisiplinan sekolah, datang bersama seorang satpam. Wajahnya langsung mengeras ketika melihat Kelvin mencengkeram kerah siswa lain.
"Lepas!"
Kelvin melepaskan tangannya.
Siswa yang tadi tersungkur langsung berdiri terpincang-pincang. "Pak, dia duluan yang mukul!"
"Iya, Pak!" temannya menyahut cepat. "Kami cuma lewat. Tiba-tiba dia nyerang."
Kelvin tidak membantah.
Dia hanya berdiri di sana, buku jari berdarah, kerah berantakan, wajah tanpa ekspresi. Sikap diamnya membuat cerita dua siswa itu terdengar lebih mudah dipercaya.
Pak Herman menatapnya dengan kecewa yang sudah terlalu siap. "Kelvin Susanto. Hari pertama semester ini saja kamu sudah buat masalah lagi?"
Keiko meremas map di tangannya.
Dia tidak tahu kejadian lengkapnya. Dia tidak tahu siapa benar, siapa salah. Tapi dia tahu satu hal: sebelum Pak Herman datang, Kelvin sedang memaksa seseorang meminta maaf. Bukan tertawa. Bukan menikmati perkelahian.
"Pak."
Semua orang menoleh.
Keiko baru sadar suaranya keluar.
Pak Herman mengerutkan kening. "Kamu siapa?"
"Keiko Hartono. Murid pindahan di XI-IPA 4." Keiko menunduk sopan, lalu mengangkat wajah lagi. "Maaf, Pak. Saya tadi tersesat mencari ruang tata usaha."
"Lalu?"
Keiko menelan rasa perih di perutnya. "Saya tidak melihat dari awal. Tapi waktu saya sampai, saya dengar Kelvin menyuruh mereka minta maaf. Bukan memukul tanpa alasan."
Salah satu siswa langsung berseru, "Dia bohong, Pak!"
Kelvin menatap Keiko.
Untuk pertama kalinya, wajah dinginnya benar-benar berubah. Ada sesuatu seperti keheranan di matanya, tipis tapi nyata.
Pak Herman menatap Keiko lama. "Kamu yakin dengan yang kamu dengar?"
Keiko mengangguk. "Iya, Pak."
Rasa sakit di perutnya menusuk lebih dalam. Dia menekan map ke depan tubuhnya, menyembunyikan tangan yang mulai gemetar.
Pak Herman menghela napas. "Semua ikut saya ke ruang BK. Satpam, tolong panggil wali kelas mereka."
Dua siswa itu langsung protes, tetapi Pak Herman tidak mendengar. Kelvin tetap diam. Saat berjalan melewati Keiko, dia berhenti sebentar.
"Nona Murid," katanya pelan.
Keiko menoleh.
Kelvin menatap map yang diremasnya, lalu wajahnya. "Cukup berani juga."
Keiko tidak sempat menjawab karena Pak Herman sudah memanggilnya. Dia hanya melihat Kelvin berjalan menyusul yang lain, punggungnya tegak seperti saat berdiri di luar kelas tadi.
Sore itu, Keiko akhirnya menemukan ruang tata usaha setelah diantar Anisa.
Pak Arif juga sempat memanggilnya, bertanya dengan suara rendah apakah dia baik-baik saja. Keiko menjawab seperti biasa.
"Iya, Pak. Saya baik-baik saja."
Pak Arif menatapnya lebih lama dari guru lain. Lalu beliau hanya berkata, "Kalau lelah, langsung bilang."
Keiko mengangguk.
Dia pulang sebelum jam tambahan dimulai. Bu Tuti menjemputnya dengan wajah khawatir, membawa botol air hangat dan jaket tipis meskipun udara Bandung tidak terlalu dingin.
"Hari pertama capek, Nduk?"
Keiko tersenyum sambil masuk ke mobil. "Sedikit."
"Makan bubur nanti, ya. Jangan cuma dua sendok."
"Iya."
Malamnya, rumah keluarga Hartono terasa terlalu besar untuk dua orang yang benar-benar peduli satu sama lain.
Papa dan Mama belum pulang. Oma Tan tidak ada di Bandung. Hanya Bu Tuti yang mondar-mandir di dapur, memastikan bubur ayamnya cukup halus dan tidak terlalu berminyak.
Keiko duduk di kamar dengan lampu meja menyala kecil. Seragamnya sudah diganti piyama ungu muda. Di hadapannya, ada botol obat berwarna putih, strip tablet, segelas air hangat, dan map sekolah yang masih sedikit kusut karena terlalu kuat dia remas siang tadi.
Dia membuka tutup botol.
Satu tablet.
Dua.
Lalu obat anti mual yang harus diminum sebelum tidur.
Jari Keiko berhenti sebentar di atas meja. Di buku jarinya sendiri tidak ada luka seperti Kelvin. Hanya urat tipis yang terlihat lebih jelas dari seharusnya.
Di sekolah, semua orang mengira Kelvin Susanto adalah orang paling berbahaya di kelas.
Tidak ada yang tahu bahwa di bangku sebelahnya, ada seseorang yang membawa bahaya jauh lebih sunyi di dalam tubuhnya sendiri.
Keiko menelan obat satu per satu.
Rasa pahit menyebar di lidah. Air hangat tidak benar-benar menghilangkannya. Dia mematikan lampu meja, berbaring telentang, lalu menatap langit-langit kamar yang redup.
Dokter bilang paling lama tiga tahun.
Itu April tahun lalu.
Sekarang sudah tahun kedua.