Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027: Teman Baik
Serena Suwandi sangat pandai membuat dirinya dibutuhkan.
Itu kesimpulan Keira setelah dua minggu.
Awalnya, Serena hanya datang dua kali seminggu ke Sayap Giok. Membawa kue kecil, cerita ringan, atau daftar toko yang katanya cocok untuk Keira. Lalu entah bagaimana, kunjungan itu menjadi lebih sering. Tidak memaksa. Tidak berisik. Serena selalu tahu kapan harus masuk dan kapan harus mundur.
Dan justru karena itu, Keira mulai menurunkan penjagaan.
Suatu siang, Serena menemaninya ke Grand Indonesia.
Darren sedang di Hendrawan Tower. Rio mengirim dua pengawal dari jarak aman. Ningsih ikut, tampak lega karena kali ini tujuan mereka bukan toko yang membuat harga dirinya sebagai manusia biasa runtuh seperti Plaza Indonesia.
Keira berhenti di depan butik desainer Indonesia, menatap sebuah dress batik modern berwarna hijau gelap.
"Bagus," kata Serena.
"Bagus, tapi kelihatannya mahal."
"Cici Keira sekarang memegang Kunci Utama. Jangan terlihat seperti orang yang minta izin masuk rumah sendiri."
Keira menoleh. "Aku harus tersinggung atau mencatat?"
"Mencatat." Serena tersenyum. "Di lingkaran seperti ini, pakaian bicara sebelum kita bicara. Kalau Cici memakai sesuatu yang terlalu sederhana, mereka akan bilang Cici tidak tahu tempat. Kalau terlalu ramai, mereka bilang Cici kampungan. Jadi kita pilih yang tenang tapi mahal."
"Tenang tapi mahal," ulang Keira. "Seperti Darren."
Ningsih hampir tersedak.
Serena tertawa, lembut dan tidak berlebihan. "Mungkin."
Ia membantu Keira memilih dress, sepatu, tas kecil, lalu mengajarkan cara berdiri saat bertemu perempuan-perempuan sosialita yang tersenyum sambil menghitung kelemahan orang lain.
"Jangan langsung menjelaskan," kata Serena. "Orang yang punya posisi tidak sibuk membela posisinya."
Kalimat itu masuk akal.
Terlalu masuk akal.
Beberapa hari kemudian, Serena "kebetulan" bertemu Mama Lian di depan Pavilion Mama.
Keira ada di sana karena harus menyerahkan laporan anggaran bunga dan dapur. Ia masih merasa seperti murid dipanggil kepala sekolah setiap kali masuk wilayah Pavilion.
Serena membungkuk sopan. "Mama, selamat siang."
Mama Lian menatapnya sekilas. "Serena."
"Cici Keira akhir-akhir ini banyak belajar soal pengelolaan compound," kata Serena dengan suara hangat. "Dia sangat serius. Saya hanya membantu sedikit mencatat."
Keira langsung tegang.
Ia tidak suka dibicarakan di depan Mama Lian, apalagi dengan nada seolah dirinya anak TK yang baru bisa mengikat tali sepatu.
Namun Mama Lian hanya menatap Keira sebentar.
Tidak memuji.
Tidak mengejek.
Hanya berkata, "Kalau sudah diberi tanggung jawab, jangan setengah-setengah."
Lalu masuk ke Pavilion.
Keira berdiri beberapa detik.
Di dunia Mama Lian, kalimat itu mungkin sudah hampir setara tepuk tangan berdiri.
Serena menyenggol lengannya pelan. "Lihat? Mama tidak marah."
"Itu standar yang menyedihkan."
"Tapi tetap kemajuan."
Keira tidak bisa membantah.
Sedikit demi sedikit, Serena masuk ke ruang-ruang kecil yang sebelumnya kosong.
Ia bercerita tentang keluarga Suwandi, keluarga Tionghoa menengah yang katanya cukup dikenal tetapi tidak cukup besar untuk membuat orang takut. Ia tahu rasanya berada di antara orang yang lebih kaya dan lebih berkuasa. Ia tahu bagaimana tersenyum saat diremehkan.
"Aku tidak sepertimu, Cici," katanya suatu sore di Sayap Giok. "Aku tidak punya Pak Darren yang bisa langsung memotong lidah orang. Jadi aku belajar membuat orang menggigit lidah sendiri."
Keira tertawa.
Lalu, tanpa sadar, ia mulai bercerita.
Tentang Helena yang masih dibatasi geraknya.
Tentang Mama Lian yang keras tetapi tidak selalu salah.
Tentang beberapa staf lama yang ternyata malas luar biasa.
Tentang betapa anehnya memegang Kunci Utama ketika dulu ia bahkan tidak punya kunci kamar sendiri.
Serena mendengarkan semuanya dengan cara yang berbahaya: tidak terlalu antusias, tidak terlalu dingin. Ia tahu kapan harus terkejut, kapan harus diam, kapan harus berkata, "Cici pasti lelah," tepat saat Keira sendiri baru menyadari bahwa ia memang lelah.
Keira pernah berpikir teman adalah kemewahan orang yang hidupnya tidak sibuk bertahan.
Mungkin karena itu, ketika Serena menawarkan diri menjadi teman, Keira tidak langsung tahu bagian mana yang harus dicurigai.
Tidak tentang Santet Darah.
Tidak tentang Stempel Keluarga.
Tidak tentang masa depan yang terbakar.
Tetapi cukup untuk membuat Serena tahu peta rumah ini lebih baik dari tamu biasa.
Malam itu, di sudut koridor belakang compound, Serena berdiri dalam bayangan.
Senyum hangatnya sudah hilang.
Ia memegang ponsel di telinga.
"Tenang," katanya pelan. "Dia sudah percaya padaku."
Di ujung lain, suara seseorang tidak terdengar jelas.
Serena menatap pintu samping yang biasa dipakai staf administrasi.
"Orang yang mengurus dokumen sudah setuju. Setiap berkas yang lewat Ruang Kerja akan difoto sebelum dikembalikan. Tidak semua, hanya yang penting."
Ia diam sebentar, mendengarkan.
"Tinggal tunggu waktu."
Keesokan sorenya, Jessica Suwandi datang ke Sayap Giok.
Jessica adalah salah satu perempuan paling mudah dibaca di compound. Jika senang, ia tertawa keras. Jika kesal, alisnya naik. Jika lapar, ia langsung bertanya apakah dapur punya kue.
Keira menyukainya karena Jessica tidak pernah terlihat seperti sedang menyusun pisau di balik punggung.
Serena sedang duduk bersama Keira ketika Jessica datang.
"Ci Jessica," sapa Serena dengan hangat. "Kebetulan sekali. Aku memang membawa sesuatu untuk Ci."
Jessica menunjuk dirinya sendiri. "Untuk aku?"
Serena mengeluarkan kotak beludru merah dari tasnya.
Keira menatap kotak itu.
Entah kenapa, bagian belakang lehernya terasa dingin.
"Aku pesan ini dari seorang pengrajin lama di Surabaya," kata Serena. "Gelang akik merah. Katanya bagus untuk perlindungan dan keberuntungan. Aku lihat Ci Jessica sering pakai warna hangat, jadi kupikir cocok."
Kotak dibuka.
Di dalamnya ada Gelang Akik Merah.
Butir-butir akiknya halus, merah tua dengan garis-garis alami yang tampak hidup ketika terkena cahaya. Kerjanya rapi, tidak murahan, dan cukup cantik untuk membuat Jessica langsung berseru.
"Aduh, cantik sekali!"
Serena tersenyum. "Coba pakai."
Jessica mengulurkan tangan tanpa ragu.
Keira hampir berkata tunggu.
Kata itu sudah naik ke lidahnya.
Tetapi ia berhenti.
Kenapa?
Karena gelang itu cantik?
Karena Serena selama dua minggu ini baik?
Karena ia lelah curiga pada semua orang?
Jessica memasang gelang itu di pergelangan tangannya dan mengangkatnya ke cahaya.
"Pas sekali. Serena, kamu terlalu baik."
"Teman harus saling menjaga," kata Serena.
Keira melihat senyum Serena.
Senyum itu sama seperti biasa.
Hangat.
Halus.
Tidak ada yang salah.
Justru karena tidak ada yang salah, rasa tidak nyaman di dada Keira terasa bodoh.
Mungkin ia memang terlalu curiga.
Mungkin setelah terlalu sering diserang, ia mulai melihat pisau bahkan pada tangan yang memberi hadiah.
Jessica menggoyangkan pergelangan tangannya, tertawa senang.
"Cici Keira, lihat. Cocok, kan?"
Keira memaksa dirinya tersenyum.
"Cocok."
Serena menatap mereka berdua dengan mata lembut.
Di ruangan itu, semua orang tampak seperti teman.
Jessica tidak tahu bahwa kebahagiaan itu beracun.