Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Berambut Putih
Di ruang keluarga yang kini terasa lebih lapang, Cate menyendok suapan terakhir hidangan makan malamnya. Kehangatan masakan Bellinda sukses mengisi perutnya yang sejak sore tadi kosong.
Sementara itu, di luar rumah, embusan angin malam mulai terasa menggigit kulit. Takahiro, yang sudah menyelesaikan makannya lebih awal, duduk menyendiri.
Kepalanya mendongak, menatap lurus ke arah kanvas gelap langit Desa Veria. Pikirannya melayang, mencoba menyusun serpihan ingatan tentang bagaimana ia bisa terdampar di tempat asing ini.
Pemuda itu sama sekali tak menyadari kehadiran seseorang. Seorang gadis berambut putih panjang—dengan kedua sisi rambut dikepang rapi—berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
Sebelum bibir mungil gadis itu sempat menyapa, rona merah menjalar memenuhi kedua pipinya. Kepalanya menunduk dalam-dalam, sementara sepuluh jarinya bertaut di depan perut, meremas ujung bajunya hingga kusut.
"Emmm...," gumamnya, suaranya bergetar.
Takahiro tak bergeming.
"Per... mi... si," lanjut gadis itu terbata. "Bolehkah aku... bertanya?"
Suaranya kelewat pelan, teredam embusan angin malam. Gadis itu mendongak pelan-pelan. Ia menarik napas pendek...
"Anu!"
Suaranya melengking tinggi. Kepalanya kembali menunduk drastis, kedua matanya terpejam rapat.
Bahu Takahiro berjengit kaget. Ia buru-buru menoleh ke arah sumber suara, mengedipkan mata cepat untuk memfokuskan pandangan di tengah temaram malam. Di luar dugaannya, berdiri seorang gadis mungil yang sama sekali tak ia kenal.
"Ke-kenapa?" tanyanya terbata.
Mendengar itu, si gadis segera mengangkat wajahnya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"A-aku Uchi Tjan, teman dekat Cate. Apa dia ada di dalam?"
Takahiro bangkit dari kursinya. Matanya menelusuri sosok di depannya—dari ujung sepatu hingga ke pucuk kepalanya yang berambut putih.
Uchi tersentak kaget. Ia mundur selangkah, menyilangkan kedua lengan menutupi dada.
"He-hentai!"
Mulut Takahiro setengah terbuka. Wajahnya seketika memerah, lalu ia buru-buru membuang muka ke sisi lain.
Di saat bersamaan, suara melengking Uchi sempat menembus dinding gubuk. Cate, yang baru saja meletakkan piring kosongnya, mengerutkan kening. Ia berjalan keluar menuju pintu depan.
Setibanya di ambang pintu, matanya menyipit menembus kegelapan halaman. Ia melihat pemuda yang ditolongnya kemarin sore sedang berdiri berhadapan dengan seorang gadis.
Sudut mata Takahiro melirik Uchi dengan kikuk, lalu menangkap pergerakan dari arah rumah. Di ambang pintu, berdiri seorang gadis berambut merah. Ini pasti Cate.
Takahiro berseru memanggil putri sulung Joe itu.
"Hei, Cate... ada seseorang yang mencarimu. Dia namanya...?"
Kalimatnya menggantung. Takahiro melirik ke arah gadis berambut putih itu.
"Uchi," ucap gadis itu pelan.
Takahiro kembali menatap ke ambang pintu. "Dia namanya Uchi."
Alis Cate menukik tajam. 'Si sialan itu sok akrab banget!' gerutunya dalam hati. Dengan langkah dihentakkan, ia berjalan menghampiri Takahiro dan Uchi.
Tepat saat langkahnya melewati Takahiro, Cate menoleh lambat-lambat. Kedua matanya menyipit, menembakkan tatapan setajam belati.
Bulu kuduk Takahiro seketika meremang. Tubuhnya menegang.
'Gila, tatapannya serem banget!' jerit Takahiro dalam hati.
Takahiro mematung di tempat. Ia menyusutkan postur tubuhnya dengan bahu merosot, lalu membuang pandangan ke arah lain.
"Hai, Cate," sapa Uchi. Nadanya tenang dan normal. "Lama tak berjumpa."
Cate membalas dengan senyuman lebar. Tangan kanannya terangkat setinggi dada, jari-jemarinya melambai lincah.
"Kamu datang ke sini sama siapa?" tanya Cate.
"Sendiri," jawab Uchi. "Ayah dan ibuku masih sibuk, jadi mereka tidak bisa ikut pulang ke sini. Oh, iya, gimana kabar Paman dan Bibi. Apa mereka sehat?"
"Mereka sehat, kok."
Dari posisinya yang kaku, Takahiro diam-diam melirik dari sudut mata. Ia keheranan. 'Kenapa saat bicara denganku dia gagap, tapi saat mengobrol dengan Cate suaranya selancar itu?' batinnya.
"Biar ngobrolnya makin enak, gimana kalau kita masuk ke dalam?" ajak Cate. "Di sini cuacanya lagi dingin, takut nanti kamu masuk angin setelah perjalanan panjang."
"E-emang nggak ngerepotin—"
Krucukkk!
Suara nyaring dari dalam perut Uchi seketika membungkam mulut gadis itu.
Cate terdiam. Matanya perlahan turun, menjatuhkan pandangan tepat ke perut sahabatnya. Senyum tengil terbit di bibirnya.
"Cie... Ada yang lagi lapar nih!" ejek Cate. Tubuhnya sedikit membungkuk mengarah ke perut Uchi, lalu sepuluh jarinya menari-nari setinggi telinga.
Wajah Uchi langsung memerah. "C-Cate... hentikan!"
Cate tertawa lepas. Kedua sahabat itu akhirnya berbalik dan melangkah bergandengan masuk ke dalam rumah.
Di halaman tanah yang dingin, Takahiro tertinggal sendirian. Ia menatap ke arah pintu kayu yang perlahan tertutup itu. Suara canda tawa Cate dan Uchi yang mengalun dari dalam rumah terdengar meriah.
Takahiro menghela napas panjang. Rasanya, ia ingin sekali kembali ke dunia asalnya, berkumpul dan menertawakan hal-hal bodoh bersama teman-temanya. Namun ia terjebak di dunia antah-berantah yang sama sekali tak ia kenali.