NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Konspirasi di Rumah Saudagar Kaya

Gerimis tipis mulai turun membasahi atap-atap genting distrik utara Kota Gusu, menciptakan kabut tipis yang menyamarkan kegelapan malam. Di balik dinding batu tinggi kediaman Keluarga Lin, suasana damai rumah saudagar kaya itu telah berubah menjadi neraka pertumpahan darah yang mencekam.

Suara jeritan ketakutan para pelayan fana berbaur dengan dentingan rantai besi pusaka milik Sekte Awan Darah yang menghantam pilar-pilar giok halaman. Lebih dari seratus pendekar berjubah merah darah telah menguasai pelataran utama, mengurung Saudagar Lin dan istrinya yang gemetar ketakutan di bawah ancaman ujung pedang baja yang berkilau tajam.

"Tuan Lin, kesabaran kami memiliki batas!" bentak seorang tetua Sekte Awan Darah yang memiliki tato ular merah di wajahnya.

"Serahkan kunci gudang emas logistikmu sekarang! Jika tidak, setiap kepala di kediaman ini akan menggelinding sebelum fajar!"

Tepat ketika tetua tersebut mengangkat pedangnya untuk memenggal salah satu pelayan, pintu gerbang kayu jati kediaman Lin yang tebal mendadak jebak hancur ber keping-keping akibat sebuah hantaman fisik yang luar biasa dahsyat dari arah luar.

GEBRAM!

Serpihan kayu besar berterbangan di udara, membuat ratusan pendekar Sekte Awan Darah refleks melompat mundur untuk melindungi wajah mereka. Di tengah kepulan debu gerbang yang hancur, Lin Yun melangkah masuk dengan napas memburu, dikawal oleh tiga sesosok manusia berpakaian rakyat jelata.

"Ayah! Ibu!" teriak Lin Yun dengan mata membelalak panik.

"Yun'er?! Kenapa kau kembali?! Lari!" seru Saudagar Lin dengan histeris saat melihat putranya justru masuk ke dalam perangkap maut ini.

Tetua bertato ular itu tertawa mengejek, tatapan keserakahannya menyapu sosok Gu Jue yang mengenakan jubah rami abu-abu, Shen Liya yang bercadar biru, dan Gu Yu kecil.

"Hahaha! Kau membawa bantuan? Tiga tikus pasar berbaju rami kasar? Kau benar-benar sudah bosan hidup, Tuan Muda Lin!"

Gu Jue melangkah maju satu tindakan, memindahkan posisi keranjang obatnya ke lantai batu dengan ketukan pelan. Wajah tampannya yang beralur dingin sama sekali tidak memancarkan ketakutan. Sepasang mata sehitam tintanya menyisit tajam, menghitung jumlah serangga berjubah merah di halaman luas tersebut. Ada sekitar seratus lima puluh pendekar inti.

Jumlah yang pas untuk melatih otot-otot anakku, batin Mo Jue, sudut bibirnya terangkat membentuk guratan senyum pembunuh yang sangat tipis dan dingin.

Ia melirik ke bawah, menatap Gu Yu kecil yang sudah menggenggam erat hulu pedang kayu di punggung jubah raminya. Sepasang mata hitam putranya berkilat penuh dengan semangat bertarung yang membara.

"Yu'er, kau urus barisan kiri yang menggunakan rantai besi pendek. Perhatikan pergerakan sendi bahu mereka sebelum mereka mengayun," perintah Gu Jue datar, memberikan instruksi taktik militer dalam wujud nasihat tabib manusia biasa. "Ingat teknik pernapasan perutmu."

Gu Yu menguji teknik pernapasan perutnya secara konstan. "Aku mengerti, pria dingin," jawab Gu Yu kecil dengan nada tegas, seulas senyuman sinis kecil terukir di wajah tampannya.

Wusss!

Dua pendekar berbaju merah dari Sekte Awan Darah melompat maju, mengayunkan rantai besi pendek mereka yang berdenting nyaring ke arah kepala Gu Yu. Di saat yang sama, sekelebat bayangan putih melesat dari balik bahu sang pangeran cilik.

Xiao Bai melompat lincah menembus gerimis malam, tubuh kecilnya bergerak secepat kilat di udara. Harimau kecil itu memanfaatkan tubuh ringannya untuk mendarat tepat di atas lengan belikat salah satu pendekar musuh.

Dengan geraman rendah yang sarat akan insting dewa perang purba, cakar perak Xiao Bai mencakar telak pergelangan tangan pria tersebut.

"Aakhh!". Pendekar itu memekik kesakitan, membuat cengkeraman tangannya melonggar dan ayunan rantai besi pusakanya mendadak melenceng kaku dari sasaran semula.

Pergerakan lincah Xiao Bai yang melompat dari satu bahu ke bahu musuh lainnya sukses memecah fokus barisan kiri aliansi merah tersebut, menciptakan celah terbuka yang teramat lebar bagi serangan lanjutan.

Gu Yu kecil tidak menyia-nyiakan kesempatan emas dari sahabat bulunya. Ia melangkah maju dengan satu tindakan cepat, mengayunkan pedang kayu kecilnya yang membawa sisa hawa dingin pelindung dari ayahnya, mematahkan setiap pedang baja dan lutut kaki musuh-musuh dewasa di sekelilingnya dengan akurasi yang teramat keji dan dingin.

Prak! Prak!

"Ah Jue... berhati-hatilah," bisik Shen Liya cemas dari belakang, sebelah tangannya meremas lengan jubah rami Gu Jue sebelum ia mundur untuk melindungi Lin Yun dan kedua orang tuanya menggunakan sihir pembatas angin tipis yang samar.

"Masuk ke dalam kamar dan jangan melihat ke halaman, Liya. Udara di sini terlalu amis oleh bau darah kotor mereka," ujar Gu Jue lembut, sebelum akhirnya tubuh tegapnya melesat maju menembus barisan musuh bagaikan sekerat bayangan rami yang tidak kasat mata.

Sret!

Pertempuran fisik skala besar tanpa sihir dimulai dalam keheningan yang mematikan.

Gu Jue bergerak murni menggunakan kecepatan fisik mutlak dan kekuatan otot monster iblisnya yang ditekan. Dalam waktu satu kedipan mata, ia sudah berada di tengah-tengah kelompok pendekar barisan depan.

Tangan kanannya bergerak secepat kilat, merenggut hulu pedang baja dari tangan seorang musuh, mematahkannya menjadi dua bagian hanya dengan kekuatan jepitan jarinya, lalu menusukkan patahan logam tersebut ke titik meridian Tian-Tu di leher pendekar lainnya.

Brak! Buk! Prak!

Suara retakan tulang dan hantaman fisik keras berdentum beruntun di pelataran tengah. Gu Jue bergerak bak badai sunyi; setiap kali lengannya berayun atau kakinya menendang, tiga sampai lima pendekar Sekte Awan Darah akan terlempar sejauh beberapa meter, menghantam pilar batu hingga pingsan atau mati dengan organ dalam yang hancur seketika.

Ia tidak menggunakan energi kegelapan luar sedikit pun, namun efisiensi pembunuhan fisiknya begitu mengerikan hingga membuat para master pedang manusia fana terbelalak sempurna.

Di sisi kiri halaman, Gu Yu kecil juga mulai menunjukkan kebuasannya sebagai pangeran cilik Alam Kegelapan.

Wusss!

Bocah berusia tujuh tahun itu melompat dengan lincah, menghindari sabetan rantai besi pendek dari dua pendekar merah. Mengikuti petunjuk ayahnya, mata tajam Gu Yu mengunci pergerakan sendi bahu musuh. Begitu celah terbuka, Gu Yu menghantamkan pedang kayu kecilnya lurus ke arah pergelangan tangan lawan.

KLANG!

Meskipun ia tidak melepaskan segel iblis luarnya secara penuh agar tidak memicu radar langit, sisa hawa dingin yang melekat di dalam pedang kayu tersebut berpadu dengan kekuatan fisik murninya yang mengerikan. Rantai besi pendek musuh seketika terpental hancur, dan hantaman lanjutan dari pedang kayu Gu Yu mendarat telak di dahi pendekar tersebut, membuatnya langsung roboh tak sadarkan diri di atas lantai batu yang basah.

"Monster kecil! Bocah ini adalah iblis kecil!" Empat pendekar Sekte Awan Darah yang tersisa di sektor kiri berteriak panik, buru-buru mengepung Gu Yu dengan menghunus pedang panjang mereka bersamaan.

Gu Yu kecil tidak mundur satu langkah pun. Ia memasang kuda-kuda siaga rendah, menarik napas melalui perut secara konstan, lalu berputar seperti gasing maut, mengayunkan pedang kayunya mematahkan setiap pedang baja dan lutut kaki musuh-musuh dewasa di sekelilingnya dengan akurasi yang teramat keji dan dingin.

Melihat lebih dari separuh pasukan intinya tumbang secara mengenaskan dalam waktu kurang dari dua menit murni oleh seorang tabib rami dan anak kecil bermata hitam, Tetua bertato ular merah itu seketika gempar. Seluruh tubuhnya gemetar kaku dilingkupi rasa takut yang teramat sangat. Keserakahan akan keabadian langit di matanya lenyap total, berganti oleh insting bertahan hidup yang panik.

"K-Kalian... siapa sebenarnya kalian?!" teriak sang Tetua dengan suara bergetar hebat, mencoba melompat ke atas atap genting untuk melarikan diri dari halaman neraka tersebut.

Namun, sebelum kakinya sempat menyentuh permukaan genting, sosok Gu Jue sudah berdiri menghadang tepat di depannya dengan ketenangan yang teramat membekukan.

"Aku sudah mengatakannya pada anak buahmu di gang tadi," ujar Gu Jue, suaranya yang rendah, dalam, dan magnetis menggema tepat di dekat telinga sang Tetua, mengirimkan sensasi dingin yang mematikan langsung ke dalam sumsum tulangnya.

"Hama yang sudah melihat wajahku... tidak diizinkan untuk melangkah pergi dari tempat ini."

Tangan kanan Gu Jue bergerak maju dengan gerakan lambat yang tidak bisa dihindari. Dua jari jemarinya yang kokoh mencengkeram jepitan jarum perak akupunktur tipis yang telah dilumuri ekstrak racun kutukan Jiwa Mati.

Tusuk!

Jarum perak tersebut menancap akurat tanpa cela tepat di titik meridian tengah dahi sang Tetua Sekte Awan Darah. Pria bertato ular itu seketika membelalakkan matanya sempurna, seluruh pembuluh darah di wajahnya berubah menjadi warna hitam pekat seketika saat racun tersebut menghentikan detak jantung dan mengunci aliran sukmanya dalam keheningan yang absolut.

Tubuh sang Tetua jatuh terjerembap dari atas atap, menghantam lantai batu halaman dengan suara berdebam keras.

Melihat pemimpin mereka tewas mengenaskan hanya dengan sekali tusuk jarum obat, beberapa puluh pendekar Sekte Awan Darah yang masih tersisa langsung membuang senjata mereka ke tanah.

Mereka berlutut ketakutan, memohon ampun dengan kepala menghantam lantai berulang kali di depan kaki Gu Jue yang berdiri tegak di tengah halaman yang kini telah bersih dari ancaman.

Seluruh pertempuran fisik skala besar melawan seratus lima puluh pasukan inti sekte manusia serakah itu selesai dengan kemenangan mutlak, bersih tanpa memicu riak energi magis luar yang bisa mengusik radar pembatas langit atas.

Shen Liya melangkah keluar dari dalam koridor rumah bersama Lin Yun dan kedua orang tuanya yang masih mematung syok, tidak mempercayai bahwa gubuk kediaman mereka baru saja diselamatkan dari kepunahan oleh seorang tabib fana pengembara dan putranya yang luar biasa hebat.

Gu Yu kecil menyarungkan kembali pedang kayunya ke punggung jubah raminya dengan gerakan yang sangat rapi, lalu berjalan mendekati Gu Jue. Bocah cerdas itu menengadah, menatap mata hitam ayahnya dengan binar kekaguman dan rasa hormat yang kian membumbung tinggi, mengira ayahnya benar-benar adalah dewa pelindung manusia fana tertinggi yang menyamar di dunia bawah.

"Pria dingin... teknik tusukan jarummu tadi fajar besok harus kau ajarkan padaku," kata Gu Yu kecil dengan nada yang kaku namun sarat akan kebanggaan cilik yang dalam.

Gu Jue menurunkan pandangannya, menepuk pucuk kepala putranya dengan elusan yang pelan sebelum ia berbalik memunguti kembali keranjang obatnya dari atas lantai.

Sandiwara sebagai ayah tabib dan pangeran kecil "master kungfu manusia tersembunyi" berjalan dengan sangat sukses di bawah siraman gerimis malam Kota Gusu, merajut ikatan batin keluarga mereka kian erat, menyongsong babak baru di mana adegan kedatangan Lan Xi yang menyamar jadi pelayan Ah Xi di rumah sewaan baru mereka esok pagi akan mulai memicu gelombang komedi manis di antara rahasia besar mereka kelak.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!