NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Malam semakin larut, namun kantuk enggan menyapa Fatih. Ia duduk di kursi kayu di sudut kamar, memandangi bross rembulan yang tadi ia temukan. Logam dingin itu seolah memancarkan panas yang membakar ingatannya. Pikirannya melayang, menembus dinding waktu, kembali ke sepuluh tahun yang lalu—saat di mana keberaniannya hanya didorong oleh satu hal: rasa cinta yang meluap pada seorang gadis bernama Wulan.

Memori di Teras Rumah Abah Darman

Fatih memejamkan mata. Seketika, aroma tanah basah dan wangi kebun di Tasikmalaya menyeruak dalam benaknya. Ia ingat hari itu, dengan seragam santri yang sedikit berantakan dan gaya "tengil" yang menjadi ciri khasnya, ia nekat mendatangi sebuah rumah panggung yang asri. Itu adalah rumah Wulan.

"Assalamu’alaikum, Bah...!!"Wulannya ada..??" seru Fatih lantang sambil berdiri di depan pintu yang terbuka.

Seorang pria paruh baya dengan raut wajah tegas namun teduh muncul. Itu Abah Darman. Beliau menatap pemuda di depannya dengan dahi berkerut. "Wa’alaikumussalam. Ananda ini siapa ya? Ada keperluan apa ke Wulan?" tanya Abah Darman menyelidik.

Bukannya gugup, Fatih justru membusungkan dada dengan penuh percaya diri. "Saya pacarnya, Bah!" jawabnya tanpa beban. "Nama saya Abbas, santri dari pesantren Darul Ilmi, yang disebelah bah.." tambahnya sambil menunjuk ke arah gedung pesantren yang tak jauh dari sana.

Di balik tirai ruang tengah, Wulan yang sedang duduk bersandar karena kurang enak badan, hampir saja tersedak. Jantungnya berdegup kencang, antara malu, kaget, dan geli. "Lelaki aneh... berani-beraninya dia datang ke rumah dan bicara begitu pada Abah," bisik Wulan dalam hati. Bibirnya menyunggingkan senyum yang tak sanggup ia tahan. Ada rasa bahagia yang konyol merayap di dadanya.

Abah Darman terdiam sejenak, lalu terkekeh kecil melihat keberanian santri di depannya. "Oalah... pacar katanya. Ya sudah, masuk dulu," ajak Abah.

Fatih masuk dengan langkah ringan. "Iya, Bah. Katanya Wulan lagi sakit, ya? Ini saya bawa oleh-oleh," ucap Fatih sambil menyodorkan dua kantong besar berisi buah-buahan dan camilan khas Jakarta. "Tadi kebetulan Abi dan Umi habis jenguk saya di pesantren, mereka bawa banyak oleh-oleh. Wulan pernah bilang suka jajanan Jakarta, jadi saya bawakan ke sini."

Ambu Nengsih keluar dari dapur membawa secangkir teh hangat. "Diminum dulu, Nak Abbas. Terima kasih ya sudah repot-repot," ucap Ambu dengan ramah.

"Kamu tahu dari mana Wulan tinggal di sini?" tanya Abah Darman sambil menyeruput kopinya.

Fatih nyengir. "Tanya orang-orang sini, Bah. Saya bilang, 'Mana ya rumah Wulan yang suka bercadar, kayak anak ninja..!!"Oh, itu anak Abah Darman disana rumahnya..!!" Kata orang-orang sini.

Kenapa kamu mau datang kerumah wulan, apalagi rumahnya jelek begini..?" Tanya Abah Darman kembali. Karena saya ingin kenal dekat dengan wulan, gak apa-apa rumahnya jelek juga yang penting wulannya cantik..?" Hehe.. jawab Fatih konyol.

jawaban Fatih yang ngasal, disambut tawa oleh Ambu Nengsih.

"Kamu benar-benar suka sama anak Abah?" Abah Darman menatap mata Fatih dengan serius, mencoba mencari ketulusan di balik sikap tengil itu.

"Kata siapa, Bah, saya suka?" Fatih mengelak sambil pura-pura sibuk memandangi cicak di dinding.

"Lho, tadi di luar bilangnya pacarnya!" cecar Abah Darman sambil menahan tawa.

"Oh... itu... eh... anu, Bah..." Fatih mendadak kikuk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini merona merah.

Abah Darman menepuk bahu Fatih pelan. "Nak, kalau kamu benar-benar serius sama anak Abah, pesantren dulu yang benar sampai lulus. Tunjukkan kamu bisa jadi lelaki yang berilmu. Baru setelah itu, bawa orang tuamu ke sini untuk melamar Wulan secara resmi. Jangan cuma modal nekat dan oleh-oleh."

Fatih mengangguk mantap, meski hatinya berdesir hebat. "Iya, Bah. Saya janji."

Di dalam kamar, Wulan yang mendengarkan percakapan itu merasa ingin berteriak dan melompat kegirangan. Rasanya ia ingin berguling-guling di atas kasur karena bahagianya bukan main. Ternyata, Abbas si santri tengil itu benar-benar serius padanya.

"Sebelum kamu pulang, kamu harus makan dulu," perintah Abah Darman. "Ini yang masak Wulan sendiri, meskipun lagi kurang sehat dia maksa masak sayur lodeh kesukaan Abah. Kamu coba dulu masakannya, kalau kamu cocok di lidah, mungkin itu pertanda kamu memang cocok jadi menantu Abah."

Tamparan Realitas di Tengah Malam

"Fatih, sedang apa kamu, Nak...?"

Suara berat dan berwibawa itu seketika memecahkan gelembung lamunan Fatih. Ia tersentak, bross di tangannya segera ia sembunyikan dalam kepalan tangan. Ia menoleh dan melihat Abi Ahmad Bashir berdiri di ambang pintu balkon.

"Eh... ini, Abi... saya sedang... sedang mencari udara segar," jawab Fatih menggantung, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tertinggal di masa lalu.

Abi berjalan mendekat, berdiri di samping anak lelakinya itu. Beliau menatap langit malam dengan pandangan yang dalam. "Abi tahu apa yang sedang kamu pikirkan, Fatih. Abi tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam hatimu."

Fatih hanya menunduk, tak berani menatap mata ayahnya.

"Nak, Gadis pujaanmumu itu sudah hampir sepuluh tahun tidak ada kabarnya. Sepuluh tahun itu waktu yang sangat lama untuk sebuah penantian yang tidak pasti," suara Abi terdengar begitu bijak, namun setiap katanya terasa seperti sembilu yang mengiris hati Fatih.

"Sementara itu," lanjut Abi sambil menoleh pada Fatih, "Allah telah mendatangkan Bella ke dalam hidupmu. Dia istrimu yang sah. Kamu adalah pimpinannya, kamu adalah imamnya. Allah menitipkannya padamu lewat sebuah peristiwa yang tidak mungkin terjadi secara kebetulan."

Fatih terdiam, tangannya semakin erat mengepal bross itu.

"Apa adil buat kamu, apa adil buat Bella, dan bahkan apa adil buat dia gadismu itu jika kamu terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu seperti ini?" Abi menepuk bahu Fatih, persis seperti yang dilakukan Abah Darman sepuluh tahun lalu. "Doakan saja Wulan di sana bahagia. Mungkin memang garis takdirnya tidak berjodoh denganmu. Syukuri apa yang telah Allah beri secara nyata di depan matamu sekarang, Fatih. Jangan sampai kamu kehilangan mutiara di tanganmu hanya karena mengejar bintang yang sudah lama hilang dari pandangan."

Perkataan Abi benar-benar menampar kesadaran Fatih. Ia merasa seperti baru saja dibangunkan dari tidur panjang yang penuh mimpi indah namun semu. Selama ini, ia hanya mencintai bayangan yang ia ciptakan sendiri, sementara ada sosok nyata yang butuh perlindungannya di balik pintu kamar itu.

"Iya, Abi... Abi benar," gumam Fatih rendah. Suaranya pecah oleh emosi yang tertahan. "Saya akan mencoba... saya akan mencoba untuk menerima dan mencintai Bella sepenuh hati. Saya akan mencoba menjadi imam yang baik untuknya."

Abi tersenyum puas, lalu mengusap punggung Fatih sebelum akhirnya berlalu meninggalkan anaknya dalam keheningan.

Dilema di Balik Dinding

Fatih tidak tahu bahwa di balik dinding kamar yang sedikit terbuka, Bella berdiri mematung. Ia telah mendengar semuanya. Sejak Fatih melamun hingga percakapan mendalam antara ayah dan anak itu.

Hati Bella bergemuruh hebat. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Di satu sisi, ada kebahagiaan kecil saat mendengar Fatih berjanji akan mencoba mencintainya. Namun di sisi lain, rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun.

"Aku tidak sengaja telah merusak hidupnya," batin Bella pedih. "Fatih adalah pria yang setia, dia punya masa lalu yang begitu suci dan indah dengan wanita pilihannya itu. Sedangkan aku? Siapa aku? Aku hanya wanita dari kegelapan yang datang menghancurkan rencana masa depannya."

Bella merasa sangat dilematis. Ia mulai merasa betah di rumah ini. Ia mencintai kasih sayang Umi, kebijakan Abi, dan bahkan konyolnya Zahra. Tapi melihat Fatih yang tersiksa karena memikul tanggung jawab atas dirinya sementara hatinya tertinggal di masa lalu, membuat Bella merasa seperti pencuri.

"Haruskah aku pergi? Haruskah aku tinggalkan tempat ini agar dia bisa bebas mencari kebahagiaannya kembali?" pikir Bella. Namun, setiap kali ia berpikir untuk pergi, hatinya terasa sangat sakit. Ia juga menyadari, jika ia pergi sekarang, ia akan melukai hati Umi dan Abi yang sudah menganggapnya anak sendiri.

Bella merosot di balik pintu, menutup mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak terdengar. Ia terjebak di antara keinginan untuk tetap tinggal dalam hangatnya keluarga ini, atau pergi demi memberikan kebebasan pada pria yang—tanpa ia sadari sepenuhnya—juga mulai ia cintai.

Malam itu, di rumah yang tenang itu, dua jiwa sedang bertarung dengan diri mereka sendiri. Fatih dengan janjinya untuk melupakan masa lalu, dan Bella dengan ketakutannya sebagai penghalang masa depan. Mereka tidak tahu, bahwa bross rembulan yang digenggam erat oleh Fatih adalah bukti bahwa masa lalu dan masa depan mereka sebenarnya adalah satu benang merah yang sama.

"Kang Abbas, andaikan kamu tahu aku disini.. aku ingin menumpahkan semuanya tentang hidupmu padamu..  batin Bella menambah dalam perih dihatinya.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!