Disclaimer: No plagiat, no boom like❗
Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Terpaksa berangkat bersama
Fajar perlahan menyingsing, menggantikan gelapnya malam dengan semburat cahaya keemasan yang hangat. Sinar matahari menembus celah-celah jendela rumah keluarga Alzavian, menyinari setiap sudut ruang makan dengan cahaya yang menenangkan.
Aroma roti panggang, telur dadar, dan secangkir teh hangat menyeruak di udara, menusuk indra penciuman tanpa permisi.
Di meja makan, Tya duduk bersama keluarga Alzavian. Di hadapannya telah tersaji berbagai sarapan yang disiapkan oleh ibu Faris. Sesekali terdengar percakapan ringan di antara kedua orang tua Faris, sementara Faris lebih banyak menghabiskan sarapannya tanpa banyak bicara.
Tya sendiri masih terlihat sedikit canggung. Tatapannya sesekali memandang sekeliling meja makan, lalu kembali menundukkan kepala sambil menyuap makanan perlahan.
Rasa asing itu masih ada, tapi Tya berusaha membiasakan dirinya. Bagaimanapun juga, rumah ini telah menjadi tempat tinggalnya. Suka atau tidak, ia kini telah menjadi bagian dari keluarga Alzavian.
Meski begitu, jauh di dalam hatinya, Tya masih belum mampu menerima kenyataan bahwa dirinya telah menikah dengan Faris. Pernikahan itu masih terasa seperti sesuatu yang datang terlalu cepat, sebelum ia benar-benar siap menjalaninya.
Ibu Faris yang sedari tadi memperhatikan Tya perlahan tersenyum. Tanpa kata, ia mengambil sepotong ayam goreng dari piring saji, lalu meletakkannya ke atas piring Tya.
"Tya," ujar ibu Faris lembut. "Yang banyak makannya. Tambah lagi, masa makannya dikit banget."
Tya yang hendak menyuapkan sesendok nasi seketika menghentikan gerakannya. Matanya membulat, lalu menoleh ke arah ibu Faris dengan ekspresi terkejut. "Eh, Tante," ujarnya lirih. "Gak usah repot-repot."
Ibu Faris hanya tersenyum hangat. "Kamu ini, masih aja malu-malu." Ujarnya. "Ayo, dihabiskan. Biar semangat sekolahnya."
"Te-terima kasih, Tante," ujar Tya pada akhirnya.
Pemandangan itu ternyata tidak luput dari perhatian Faris. Ia langsung mengangkat sebelah alis, lalu memalingkan sedikit pandangannya.
"Hm," gumam Faris pura-pura mengaduk tehnya. "Padahal anak kandung Mama ada di sini. Tapi perhatiannya malah ke anak orang."
Semua mata langsung tertuju pada Faris. Ayah Faris yang duduk di ujung meja langsung berdehem pelan, membuat Faris spontan menoleh.
"Ekhem!" Tatapan ayahnya tajam ke arah Faris. "Sopan."
Faris langsung menggaruk tengkuknya pelan. "Iya, Pah," sahutnya dengan ekspresi yang tidak rela.
Hening, tidak ada yang berbicara setelahnya. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Di sela keheningan itu, ibu Faris tiba-tiba merogoh saku roknya. Sebuah gantungan kunci motor kemudian ia letakkan tepat di hadapan Faris. "Nih, Mama kembalikan kunci motor kamu."
Faris yang semula sedang menyuap nasi langsung menghentikan gerakannya. Matanya membulat saat melihat benda yang begitu dikenalinya. "Kunci motor Faris?" Gumamnya tidak percaya.
Ibu Faris tersenyum tipis. "Iya, Mama balikin motor kamu."
Seketika wajah Faris berubah cerah, "Hah? Serius, Mah?" Tanyanya antusias, bahkan kursinya sedikit bergeser ke depan.
Ayah Faris yang sedari tadi menikmati sarapan hanya mengangguk pelan. Faris langsung menyambar gantungan kunci itu. Senyumnya sedikit melebar, seolah baru saja memenangkan undian berhadiah.
"Thank you, Mah, Pah," ujar Faris.
"Tapi..." Ujar ibu Faris sengaja memberikan jeda. Gerakan Faris langsung terhenti, tatapannya refleks mengarah ke arah ibunya. "Tapi mulai hari ini, kamu harus berangkat dan pulang sekolah bareng Tya."
"Ukhukk!!"
Seketika, Tya dan Faris tersedak di waktu yang bersamaan. Faris buru-buru mengambil gelas di depannya, sementara Tya menutup mulutnya sambil batuk kecil.
Tya lebih dulu menggeleng pelan. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap ibu Faris dengan senyum sopan. "Enggak usah, Tante," ujarnya lembut setelah berhasil mengatur nafas. "Tya bisa berangkat dan pulang naik ojek atau angkutan umum, kok. Gak merepotkan."
Kalimat itu terdengar sangat santun. Namun, di saat yang bersamaan, kedua mata Tya diam-diam melirik Faris yang duduk di seberangnya. Tatapan itu seolah berkata, 'Siapa juga yang mau dibonceng sama dia?'
Faris yang menangkap lirikan itu justru mengangguk mantap. "Nah, setuju!" Serunya. "Tuh, Tya aja nolak."
Cowok itu menoleh ke arah ibunya. "Mending naik angkutan aja, Mah. Emangnya Faris supir pribadi? Antar jemput tiap hari."
Tya hanya menarik nafas pelan sambil menahan diri untuk tidak menanggapi. Jemarinya kembali meraih gelas di hadapannya, berusaha tetap terlihat tenang, meski dalam hati ia sudah menggerutu kesal.
Melihat reaksi keduanya, kedua orang tua Faris hanya saling bertukar pandang sekilas. Mereka sama-sama tahu, keduanya memang belum akur. Namun, setidaknya, dengan cara ini mereka bisa belajar saling mengenal satu sama lain. Ya, setidaknya begitulah yang diyakini oleh kedua orang tua Faris saat ini.
"Sebetulnya," ujar ibu Faris lembut, tatapannya jatuh pada wajah Tya. "Mama juga khawatir kalau Tya harus pulang pergi sendiri setiap hari."
Tya hanya mendengarkan dengan tenang. "Dan sekalian," lanjut ibu Faris sambil melirik putranya yang masih memegang gelas. "Mama juga mau minta tolong sama Tya."
Tya sedikit mengernyit, "Minta tolong apa, Tante?"
"Tolong ingetin Faris supaya setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah. Jangan keluyuran terus sama teman-temannya sampai lupa waktu." Jelas ibu Faris.
"Ukhukk... Ukhukk!!"
Faris yang kebetulan sedang minum langsung tersedak hebat. Ia buru-buru meletakkan gelasnya di atas meja sambil menepuk dadanya beberapa kali. "Mah," protesnya begitu nafasnya kembali normal. "Kenapa malah jadi Faris yang diawasin?"
Ibu Faris hanya tersenyum tipis. "Karena Mama tau persis sifat kamu."
Faris langsung menggeleng. "Enggak, enggak, enggak. Ini namanya udah berlebihan." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Sejak nikah sama Tya, hidup Faris rasanya makin banyak aturannya. Kamar dibagi dua, motor dibalikin pakai syarat," Faris kembali menggeleng sambil menunjuk Tya si seberangnya. "Sekarang pulang sekolah juga harus ditempel terus sama dia."
Faris menghela nafas panjang dengan wajah dramatis. "Mana kebebasan Faris, Mah?!"
Ayah Faris yang sejak tadi memilih diam akhirnya meletakkan sendoknya dengan tenang. Tatapannya beralih pada putranya. "Faris."
Hanya satu kata, namun cukup membuat Faris menghentikan celotehannya. "Kamu sudah kelas tiga SMA," ujar ayahnya dengan nada datar namun tegas. "Sudah waktunya belajar lebih bertanggung jawab."
Faris menghela nafas pelan, tetapi tidak menyela. "Bermain dengan teman itu tidak salah," lanjut ayahnya. "Tapi jangan sampai kamu lupa kalau sebentar lagi kamu akan lulus. Mulailah pikirkan masa depanmu dari sekarang."
Faris mengacak rambutnya frustasi. "Tapi, Pah," ujarnya sambil menghembuskan nafas panjang. "Faris cuma gak mau tiap hari berangkat dan pulang bareng dia."
Ayahnya masih tetap menatap Faris tanpa mengubah ekspresi. "Itu bukan alasan."
"Pah, serius deh," ujar Faris kemudian. "Faris gak mau jadi ojek pribadi dia." Ia lagi-lagi menghela nafas panjang, menunjukkan penolakan yang begitu jelas. "Faris keberatan, Pah."
"FARIISS!!"
Bentakan singkat dari ayahnya membuat suasana di meja makan mendadak sunyi. Faris langsung terdiam, bahunya sedikit turun, sementara tatapannya perlahan mengarah ke meja makan.
"Iya, Pah," ujar Faris pada akhirnya setelah hening beberapa saat.
Jawaban itu nyaris terdengar seperti gumaman. Meski jelas masih tidak rela, Faris sudah tahu satu hal, jika ayahnya sudah berbicara dengan nada seperti itu, maka keputusan tersebut tidak bisa diganggu gugat.
Ibu Faris menghela nafas pelan. Tatapannya kemudian beralih pada Tya yang sejak tadi hanya terdiam. Perlahan, wanita itu meraih sebelah tangan Tya di atas meja. Genggamannya hangat, disertai senyum lembut yang seolah menyiratkan sebuah permohonan.
"Tya," ucap ibu Faris pelan. "Mama titip Faris, ya."
Tya sedikit tertegun. Ia menatap tangan ibu Faris yang masih menggenggam tangannya, lalu mengangkat pandangan ke wajah wanita itu.
"Mama tau ini mungkin merepotkan buat Tya," lanjut ibu Faris. "Tapi Faris itu anaknya susah di atur. Kalau sudah kumpul sama teman-temannya, kadang sampai lupa waktu." Wanita itu mengusap punggung tangan Tya dengan lembut. "Kalau dia mulai keluyuran lagi, tolong diingatkan. Ajak dia pulang."
Tatapan Tya perlahan melembut. Sejujurnya, ia tidak pandai menolak siapapun ketika memohon dengan tulus seperti itu. Apalagi orang yang kini menggenggam tangannya adalah orang yang selalu menguatkannya setelah kepergian ibunya.
Tya menghela nafas pelan, lalu akhirnya mengangguk perlahan. "Baik, Tante," jawabnya lembut. "Tya akan coba."
Senyum ibu Faris langsung merekah. "Terima kasih, sayang."
Meskipun berat hati, Tya hanya bisa tersenyum kecil. Sementara di seberang meja, Faris hanya bisa mendesah pelan. Ia kembali menyuapkan nasi ke mulutnya, kali ini jauh lebih pelan dibanding sebelumnya. Namun, di balik wajah datarnya, isi kepala justru penuh dengan keluhan.
"Mantap. Sekarang hidup gue resmi diawasin bocil galak non-stop selama 24 jam penuh." Gerutu Faris dalam hati. "Tanggung banget, sekalian aja pasang GPS di badan Faris, Mah."
Meski begitu, Faris lebih memilih diam. Ia tahu, mengeluh lagi hanya akan berakhir dengan bentakan lain dari ayahnya.
Setelah selesai sarapan dan berpamitan kepada kedua orang tua Faris, kini keduanya berjalan menuju garasi rumah. Pintu garasi terbuka lebar. Dua motor sport yang terparkir berdampingan di dalamnya menjadi fokus utama pandangan Faris.
Sementara Tya berdiri beberapa langkah dari pintu garasi. Kedua tangannya bersedekap dada, sengaja memunggungi Faris. Tatapannya mengarah ke halaman rumah, sama sekali tidak berniat memulai percakapan.
Faris sendiri tampak mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ia menekan nama seseorang di layar. Pada nada sambung ketiga, panggilan itu langsung diangkat.
"Woi, ketua. Ada apa lo telpon gue?" Suara Dhyo dari seberang telepon.
"Dhyo," ujar Faris singkat. "Ambil motor lo di rumah gue."
Faris langsung menjauhkan ponselnya dari telinga, waspada jika sewaktu-waktu sahabatnya itu berteriak. Dan benar saja, tepat di detik berikutnya, suara Dhyo naik satu tingkat.
"Wiiiihhh!" Ujar Dhyo heboh dari seberang telepon. "Motor ketua kita udah resmi bebas dari sitaan ibu negara! Udah bisa balapan lagi, nih!"
Faris menghela nafas kasar. "Buruan datang, ambil motor lo."
"Yoi, gue otw bareng GMA." Ujar Dhyo dipenuhi tawa. "Tunggu ya, bos! Gue berang-"
Tutt.
Seperti biasa, Faris langsung memutus panggilan telepon bahkan sebelum Dhyo menyelesaikan kalimatnya. "Ck! GMA datang... Entah kenapa firasat gue jadi gak enak," gumam Faris lirih sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Tak jauh darinya, Tya yang sedari tadi berdiri membelakanginya hanya memutar bola mata malas. Meski tidak mendengar seluruh percakapan, teriakan Dhyo yang nyaris memekakkan telinga barusan cukup jelas sampai ke tempatnya berdiri.
"Anak buahnya eror, ketuanya apa lagi," bibir Tya bergerak tanpa suara.
Tak berselang lama, suara deru dua motor memasuki halaman rumah keluarga Alzavian. Seperti biasanya, Dhyo bareng Andre, sementara Lex sendiri dengan motornya.
Setelah memarkirkan kendaraannya, ketiganya berjalan santai menuju garasi. Namun, baru beberapa langkah, langkah Dhyo langsung berhenti. Tatapannya bergantian mengarah pada Faris lalu ke Tya.
"Buseett!" Senyum Dhyo perlahan melebar, sebelah alisnya terangkat. "Ris, lo berangkat bareng Tya?"
Faris hanya mendengus pelan tanpa menjawab. Keheningan itu justru membuat Dhyo, Lex, dan Andre langsung saling bertukar pandang.
"Diem, berarti iya," ujar Dhyo sambil mengangguk-angguk.
"Widihhh," timpal Lex sambil menyeringai. "Kena jampi-jampi apa lo, tumben banget."
Andre hanya memalingkan wajahnya, berusaha menahan tawa. Sementara Tya langsung mendengus kecil, tatapannya bergantian menatap ketiga teman Faris.
"Kalau bukan Tante Mira yang nyuruh," sahut Tya. "Gue juga ogah berangkat bareng dia."
Belum sempat Faris menanggapi, Dhyo langsung melangkah sedikit sambil merapikan rambutnya dengan tangan. "Ya udah, bareng gue aja. Tuh, bangku belakang kosong gak ada penghuninya."
"Naik motor gue juga boleh," timpal Lex tanpa dosa.
Andre hanya menggeleng-geleng kepala melihat dua sahabatnya mulai kambuh. Tya memutar bola matanya melihat tingkah sahabat Faris. Baginya, seorang saja sudah cukup membuatnya kesal pagi ini. Namun kini, justru datang tawaran dua orang lainnya yang membuat atmosfer di sekitarnya mendadak terasa panas.
Tanpa banyak bicara, Tya melangkah mendekati Faris yang masih berdiri di samping motornya. Namun, tanpa diduga, jemari Tya justru menarik seragam bagian belakang Faris cukup keras, membuat cowok itu terhuyung setengah langkah ke belakang.
"Ayo!" Seru Tya.
"Woi... Wooiii!" Protes Faris sambil menoleh tajam. "Apaan sih? Lo kira gue kambing pakai ditarik-tarik segala?!"
"Heh, inget ya," Balas Tya cepat. "Kalau bukan nyokap lo yang minta, gue ogah berurusan sama lo!"
Faris memejamkan mata sesaat, lalu menghela nafas panjang. "Ck, iya-iya!" Dengan wajah yang sudah ditekuk habis, ia mengambil helm cadangan lalu menyodorkannya ke arah Tya. "Nih!"
Tya menerima helm itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dengan sangat terpaksa, Faris menaiki motornya. Sesaat kemudian, Tya ikut naik ke jok belakang dengan ekspresi yang sama tidak ikhlasnya.
Keduanya sama-sama tidak ingin berangkat bersama. Namun karena perintah kedua orang tua Faris yang tidak bisa dibantah, mereka akhirnya hanya bisa pasrah. Sementara di belakang mereka, tawa GMA pecah melihat dua musuh bebuyutan itu terpaksa berangkat ke sekolah menggunakan motor yang sama.
"Waduh," gumam Dhyo sambil menyenggol lengan Andre.
"Ketua kita bisa jinak juga, cuy!" Timpal Lex.
"Sepertinya begitu," jawab Andre singkat.
Faris memasang helm full face nya dengan kasar. Di balik helm, ia bergumam. "Sial, pagi-pagi udah bikin gue ribet."
^^^Bersambung...^^^
tapi mamamu buat Tya dulu mwehehe