Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan dimulai
"Aku mau bicara soal Wanda."
Hampir saja Panji Hasta terbatuk mendengar ucapan di luar dugaannya.
Dewa mengamati ekspresi Panji yang sempat berubah.
"Wanda?" ulang Panji dengan tatapan bingung.
Dewa mengangguk.
"Ada apa dengan Wanda?" tatap Panji penuh selidik walaupun sekarang dia sudah mulai tenang.
"Kata Kian, Wanda anak pegawai kamu, ya?" Sengaja Dewa tidak menggunakan istilah pembantu, karena di hatinya terdapat sedikit perasaan curiga.
Tadi pagi, dengan dibantu Malik, dia menyelidiki siapa Wanda. Karena itu sore ini Dewa baru bisa datang menemui Panji.
Flashback on
"Neneknya Wanda sudah lama bekerja di keluarga Panji Hasta. Mungkin sejak Panji masih kecil.," urai Malik.
Dewa mengangguk. informasi yang mereka dapatkan sama, jadi tinggal mereka sinkronkan saja.
"Mamanya Wanda pernah bekerja di tempat Panji, tapi hanya beberapa bulan. Kemudian katanya dia pulang kampung. Aku sudah nyuruh orang pergi ke kampungnya, tapi ternyata mereka sudah lama ngga pulang kampung," jelas Malik.
Dewa menganggukkan kepalanya. Informasi dari Malik lebih banyak dari yang dia dapatkan. Karena dia ngga kepikiran umtuk memeriksa kampung halaman neneknya Wanda.
"Kian sama Azka juga sudah menyelidiki tentang Wanda. Mereka juga sampai menyelidiki SMP Wanda sebelum satu SMA bareng anak anak kita.dan Aditama," sahut Dewa.
"Mereka juga baru pindah ke kota ini saat SMP," tambah Malik.
"Yang mencurigakan, siapa papa Wanda," cuit Dewa lagi. Karena data yang dia peroleh, Wanda hanya hidup berdua dengan mamanya.
"Kamu curiga papanya Wanda...., Panji?" Malik mengedikkan bahunya.
"Di aktenya ada nama orang lain sebagai papanya Wanda. Tapi sepertinya fiktif," sambung Malik. Dia sudah menyelidikinya.
"Kalo Panji adalah papanya Wanda, semuanya terlihat jelas. Mama Wanda menyerahkan Wanda pada Panji untuk dia rawat karena dirinya sedang sakit keras," analisa Malik.
"Hubungan Panji dan istrinya juga kurang baik. Itu kata Cassie. Dia sempat mendengar gosip. Mungkin Emily juga pernah dengar," tambah Malik demgan seringai di bibirnya.
"Ya, Emily pernah mengatakannya." Dewa memg-iyakan. Waktu dia sempat membahas soal orang tua Aditama dengan istrinya.
"Kata ibu ibu temanku, mereka sudah jarang terlihat berdua. Padahal dulunya sangat romantis."
"Kita tinggal ambil sumber dnanya saja, kan." Malik tersenyum miring.
Dewa mengangguk dengan senyum miring juga di bibirnya. .
Flashback off
Panji Hasta mengangguk, mulai menebak maksud relasi bisnisnya.
"Ya."
Dewa tersenyum tenang. Dia menyesapkan lagi kopinya baru mulai berkata. Topik ini mulai serius.
"Putraku Kian, dia ingin merekrut Wamda, sekaligus membiayai sekolah Wanda."
Panji terdiam. Dalam hatinya kaget, karena Kian mempedulikan Wanda.
"Kian ngga tega melihat perlakuan Aditama pada Wanda. Katanya awal pertengkaran mereka karena itu." Dewa tersenyum untuk membuat suasana tetap santai.
Panji mengangguk mengerti. Dia.juga sudah lihat sendiri kelakuan buruk putranya, juga istrinya terhadap Wanda.
"Kian tertarik dengan Wanda?" pancing Panji.
"Mungkin." Dewa menjawab tenang.
"Kamu ngga melarang? Maksudku, strata Kian jauh diatas Wanda." Panji benar benar ingin tahu, karena keluarga Dewa dan circlenya kalangan yang diperhitungkan di dalam dan di luar negeri.
"Aku terserah Kian aja."
DEG
Kagum, itu yang dia rasakan. Juga perasaan senang yang entah datang dari mana langsung menyelimuti hatinya. Tapi diantara semua rasa itu terselip perasaan malu.
"Nanti akan aku pikirkan," ucap Panji, tapi ada perasaan berat untuk melepaskan Wanda.
"Mungkin berat bagi neneknya Wanda, ya, untuk jauh dari cucu satu satunya." Dewa seakan mengerti sekaligus memancing Panji bersuara tentang kecurigaannya.
"Iya. Neneknya belum lama.juga bertemu dengannya."
"Oh ya? Aku pikir, Wanda dibesarkan di rumahmu." kejar Dewa sambil memegang cangkir kopinya. Menyesapnya lagi. Tadi dia pura pura kaget. Panji.sudah masuk dalam perangkapnya.
"Karena neneknya bekerja di rumahmu," sambung Dewa lagi.
Panji merasa gerah. Dia meneguk cepat kopinya yang sudah tidak terlalu panas.
"Orang tua Wanda memutuskan pergi ketika mamanya Wanda hamil. Mamanya Wanda baru kembali ke sini tiga tahun yang lalu," jelaa Panji dengan pikiran menerawang jauh.
Dewa menyimak, menunggu kelanjutan cerita Panji.
Panji menghela nafas panjang. Terasa berat seolah banyak beban.yang dipikul di dadanya
"Sebelum mamanya meninggal, dia.menitipkan Wanda ke nenekanya." Panji mengetuk.jari jarinya bergantian dengan resah di atas meja.
"Papanya bagaimana? Dia sekarang bekerja di perusahaanmu?" Dewa berusaha tenang saat mengeluarkan kalimatnya. Dia tidak ingin Panji merasa diinterogasi olehnya.
Panji terdiam sejenak, kemudian menggelengkan kepala.
"Papanya sudah lama.meninggal, sebelum Wanda dilahirkan." Leher Panji seakan tercekik hingga dia sulit mengambil nafas.
"Oooh.... Aku ikut berduka." Dewa menatap wajah Panji yang tampak tegang.
"Terimakasih." Jantung Panji berdebar keras. Baru kali ini dia membuka cerita hidup Wanda pada orang lain. Panji melirik jam di pergelangan tangannya.
"Maaf, aku terpaksa pergi duluan. Ada janji dengan klien," pamitnya sambil berdiri.
"Oke. Aku kebetulan janjian dengan teman di sini." Dewa juga ikut berdiri.
Panji mengangguk.
"Katakan terimakasihku pada Kian," ucapnya tulus sambil menatap lekat Dewa.
"Akan aku sampaikan."
Panji tersenyum tipis sebelum berjalan pergi.
Dewa terus memperhatikan. Begitu Panji sudah tidak terlihat lagi, Dewa mengamankan.dna.di cangkir kopi Panji.
*
*
*
"Melamun terus. Mikirin Wanda?" ejek Denish. Mereka sedang berada di kolam renang milik keluarganya.
Hukuman skors diisi dengan kegiatan renang. Tawa dan teriakan terdengar seakan akan mereja sedang menikmati liburan yang cuma sehari.
"Aku makin yakin kamu memang sudah kecintaan dengan Wanda," cibir Alen yang baru saja berenang mendekat ke arah Kian dan Denish. Kedua cowo itu sedang berjemur di samping kolam renang di atas kursi sun lounger. Kaca mata nangkring di atas hidung mereka.
"Dia jadikan kita timbal," dengus Gio kemudian menceburkan dirinya lagi ke air.
BYUURR!
Percikan air mengenai ketiga orang itu. Alen dan Denish langsung memaki. Tapi Kian diam saja.
Azka yang berada di kolam memperhatikan kembarannya.
"Cewe itu terlalu banyak yang ngebully," tukas Reyhan yang sudah berada di samping Azka. Seakan tau yang dikhawatirkan Kian. Setelah mengatakannya, dia kemudian menyelam dan berenang menjauh.
Azka akui kebenaran ucapan Reyhan.
"Harusnya nitip pesan sama Dira atau Vira. Mereka pasti mau melindungi Wanda," celutuk Emil yang sempat mendengar kata kata Reyhan.
"Atau Keyra," sambung Dylan.
Azka mengangguk.
Mungkin sudah, tebaknya dalam hati. Dia yakin kembarannya cukup smart. Pasti dia sudah lakukan. Mungkin ngga seratus persen aman.Tapi setidaknya para pembully itu akan pikir panjang untuk mengerjai Wanda.
"Hukuman besok membuatku merasa setres," omel Zio. Berenang saat ini dapat meredakan kemumetan di dalam kepalanya.
"Ditambah kita harus menahan sabar kalo Aditama dan teman temannya memprovokasi," sambung Emil sebal.
"Aku rasa Aditama sudah tau konsekuensinya." tukas Naresh.
"Mungkin kita nanti akan diajaknya lagi berkelahi di luar sekolah," sambung Naresh.
"Siapa takut," sentak Alen dengan rahang mengeras. Sekarang saja dia sudah ngga sabar melayangkan tinjunya pada wajah menjengkelkan Aditama.