NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 27.

Satu jam kemudian, mobil mereka tiba di rumah sakit.

Rumah sakit itu termasuk salah satu yang terbaik di kota, gedung VIP berdiri terpisah dari bangunan utama. Semua biaya pengobatan, dokter spesialis, terapi, hingga peralatan medis terbaik ditanggung penuh oleh keluarga Salendra. Bahkan sejak pernikahan Liora dan Dewangga berlangsung, Keivan langsung memindahkan ibu Liora ke lantai khusus yang biasanya digunakan oleh keluarga konglomerat.

Saat memasuki koridor rumah sakit, langkah Liora perlahan melambat. Perasaannya selalu berubah setiap kali datang ke tempat ini. Dalam hatinya ada harapan, kesedihan dan rasa bersalah. Semuanya bercampur menjadi satu.

Dewangga yang berjalan di sampingnya mendadak diam, ia memperhatikan perubahan ekspresi istrinya. Tanpa banyak bicara, pria itu menggenggam ujung lengan baju Liora seperti kebiasaannya selama ini.

“Ada apa?“ Liora merasa Dewangga sedang butuh sesuatu.

"Aku ada di sini."

Ucapan Dewangga membuat hati Liora sedikit menghangat. Perempuan itu tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya untuk mengusap pelan rambut Dewangga. Seperti biasa, ia harus berjinjit lebih dulu agar bisa menjangkau kepala Dewangga dengan nyaman.

Perbedaan tinggi badan mereka memang cukup jauh. Lalu Dewangga sedikit menundukkan kepalanya, untuk memudahkan Liora mengacak rambutnya.

Liora terkekeh kecil melihat respons spontan tersebut sebelum kembali mengacak rambutnya pelan.

"Iya," jawabnya lembut.

Mereka masuk ke dalam ruang perawatan. Ruangan itu luas, tenang, dan bersih. Seorang wanita paruh baya terbaring di atas ranjang dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya. Wajahnya masih pucat, namun kondisinya jauh lebih baik dibanding beberapa bulan lalu.

Liora berdiri diam beberapa saat tanpa bersuara. Setiap kali melihat ibunya seperti ini, dadanya tetap terasa sesak.

"Mama..." Ia mendekat lalu duduk di samping ranjang, tangannya perlahan menggenggam tangan sang ibu.

Dulu tangan ibunya itu selalu hangat, bekerja tanpa lelah dan selalu melindunginya. Kini, tangan itu hanya terbaring diam tanpa bisa membalas genggamannya.

"Liora datang, aku baik-baik saja sekarang."

Matanya mulai terasa panas, namun ia menahannya. Ia tidak ingin menangis di depan ibunya, krena selama ini ibunya selalu mengajarkannya untuk selalu kuat.

"Mama nggak perlu khawatir lagi, utang kita sudah lunas." Liora tersenyum tipis.

Jarinya menggenggam tangan sang ibu lebih erat. "Aku juga sudah menikah."

Kalimat itu membuat Dewangga yang berdiri di belakangnya mengangkat kepala. Kata 'menikah' dari bibir Liora terasa aneh, tapi juga sekaligus menyenangkan baginya.

"Suamiku memang sedikit aneh." Liora melanjutkan.

Sedikit?

Dewangga langsung cemberut.

Keivan yang berdiri di dekat pintu hampir tersedak mendengarnya.

Liora terkekeh kecil, ia tersenyum lembut. "Tapi dia sangat baik, namanya Dewangga. Anaknya juga baik... meskipun kadang menyebalkan, keras kepala, dan sok pintar."

Kali ini Dewangga langsung tersenyum puas. Sebaliknya, Keivan yang berdiri di dekat pintu malah mengerutkan kening tak suka.

"Aku tidak sok pintar."

Liora melirik anak tirinya. "Oh ya?"

"Aku memang pintar." Jawaban penuh tekanan anak itu membuat Dewangga tertawa lebih dulu, sementara Liora hanya menggelengkan kepala.

Dewangga lalu mendekati ranjang. Dengan wajah berpura-pura polos, ia menatap ibu Liora. "Halo... Mama."

"Dewangga?" Liora berkedip, tak menyangka pria itu akan bicara pada ibunya yang koma.

Pria itu tetap menatap wanita yang terbaring di atas ranjang dengan wajah polosnya. "Aku Dewangga, suami Liora."

Liora membeku, tiba-tiba saja dadanya terasa hangat. Karena meskipun Dewangga terlihat seperti anak kecil, pria itu benar-benar berusaha menerima ibunya sebagai keluarga.

"Aku janji akan menjaga Liora dengan baik." Senyum di wajah Dewangga terlihat polos dan tulus saat menatap ibu Liora yang masih terbaring di atas ranjang. "Tapi Mama harus cepat bangun, ya. Jangan tidur terus seperti ini. Liora sering datang menjenguk Mama, sering cerita banyak hal, tapi Mama nggak pernah menjawab. Kasihan loh Liora..."

Pria itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang masih sederhana seperti anak kecil. "Liora kelihatannya kuat, tapi sebenarnya dia sering sedih. Dia juga sering memikirkan Mama, jadi Mama harus cepat sembuh supaya bisa pulang dan bicara sama Liora lagi."

Tatapan Dewangga tetap tertuju pada ibu mertuanya. "Aku memang ada di samping Liora sekarang, tapi aku nggak bisa menggantikan Mama. Karena Mama... orang yang paling penting buat Liora."

Dewangga tersenyum kecil. "Jadi nanti kalau Mama sudah bangun, Mama nggak perlu khawatir. Aku akan menjaga Liora, Kei juga akan menjaga Liora. Kita semua... akan menjaga dia bersama-sama. Tapi Mama harus bantu kami juga. Makanya cepat bangun, ya. Jangan bobo terus. Nanti Liora pasti senang sekali kalau melihat Mama membuka mata."

Liora menundukkan kepala. Matanya perlahan memerah, sementara dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Ia tahu Dewangga mengucapkan semua itu dengan kepolosannya. Namun setiap kata yang keluar dari mulut pria, itu terasa begitu tulus. Tenggorokannya mendadak tercekat. Untuk beberapa saat, Liora bahkan tidak mampu mengucapkan apa pun.

Di belakang mereka, Keivan ikut terdiam sambil menurunkan pandangannya. Tidak ada yang lebih tahu daripada dirinya bahwa sang ayah sedang berpura-pura. Namun Keivan juga tahu, Ayahnya tidak sedang berbohong. Mungkin sang ayah memang menyembunyikan banyak hal dari Liora, tetapi keinginannya untuk menjaga wanita itu adalah nyata.

Setelah hampir satu jam berada di ruang perawatan, dokter datang untuk memberikan laporan kondisi terbaru.

"Kondisinya stabil."

"Benarkah?"

Dokter mengangguk dengan yakin. "Beberapa respons saraf menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Kami belum bisa memastikan kapan pasien akan sadar, tetapi peluangnya jauh lebih besar dibanding enam bulan lalu."

Jantung Liora berdetak lebih cepat.

"Jadi Mama bisa bangun?"

"Kami berharap begitu."

Liora benar-benar tersenyum, senyuman yang lahir dari harapan.

Dewangga memperhatikan wajah istrinya. Dan saat itu juga, sebuah keputusan semakin kuat di dalam dirinya. Apa pun yang terjadi nanti, siapa pun musuh yang harus ia hadapi. Ia akan memastikan wanita itu tidak kehilangan keluarganya lagi.

Saat mereka keluar dari rumah sakit, wajah Liora terlihat jauh lebih tenang, bahkan langkahnya terasa lebih ringan. Namun suasana baik itu tidak berlangsung lama. Begitu mereka tiba di area parkir VIP, seorang wanita berdiri di dekat mobil mereka.

Liora langsung mengenalinya, wajahnya seketika membeku. Dewangga yang melihat perubahan itu langsung menyipitkan mata.

Sementara Keivan menutup tablet yang sedang dibacanya, ekspresi bocah itu berubah sangat dingin. Wanita di depan mereka tersenyum tipis, senyuman yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.

"Sudah lama tidak bertemu, Liora."

Napas Liora tertahan, karena orang yang berdiri di hadapannya bukan orang asing. Melainkan wanita yang selama ini paling ingin ia hindari, Ibu tirinya. Orang yang menghancurkan hidup ibunya, dan orang yang seharusnya tidak mungkin mengetahui keberadaannya di tempat ini.

Keivan ikut terkejut melihat kemunculan wanita itu. Otaknya langsung bekerja cepat, mencoba menyusun kemungkinan demi kemungkinan. Tatapannya bergeser ke arah ayahnya.

Pada saat yang sama, Dewangga juga menoleh ke arah anaknya itu. Ayah dan anak itu saling berpandangan beberapa detik. Tak ada satu kata pun yang terucap, namun keduanya memahami hal yang sama. Kemunculan ibu tiri Liora di tempat ini... tidak mungkin sekadar kebetulan.

Tidak mungkin wanita itu tiba-tiba mengetahui keberadaan mereka tanpa alasan. Artinya, ada seseorang yang memberinya informasi. Dan jika dugaan mereka benar, orang di balik semua ini kemungkinan adalah pihak yang sama yang telah mencelakai Dewangga setahun lalu.

Sorot mata Keivan perlahan berubah dingin, dan Dewangga menyipitkan mata tipis.

1
tinie
ooh rombongan pria berkaca mata
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
tinie
uuh kapan mulai perang ini
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tinie
keivan anak cerdas
tau jika ada perubahan dari ayahnya
tinie
ayook Liora kamu pasti bisaa
tinie
ooh jadi teriakan itu yang membuat kepalamu sakit
karna mengingat semuanyaa
tinie
jangan jangan saat dirumah sakit
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
tinie
ahahhkeluarga gila
dihadapan tetua 🏃
tinie
dua kali di cium bocah tua🤣🤣
tinie
semoga dewangga bisa sembuh
Muft Smoker
waah ad udang di balik bakwan niih ,, 😒😒😒😒 ,,
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
Muft Smoker
loooo Blum sadar juga kah🤭🤭🤭😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
pov keeivan : tuk sementara dy bukan papa saya yx kak author ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
Muft Smoker
saya juga penasaran ,, ayoo laa duduk Manis ,, jgn lupa kopi sama popcorn ny ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
tinie
dia terjebak karna kecelakaan
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala
Lovita BM
brati usia Liora masih 🤔😁 berapa kak, lupa usia dewangganya ???
Lovita BM: 23th 😁
total 2 replies
Rita
wah bikin penasaran dan makin tegang
Rita
curhat dan nyindir lgsg depan orang2nya🤣
Rita
😂😂😂😂😂lah mang bener
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣yg besar kyk anak kecil yg anak kecil dah mikir terlalu dewasa
Rita
dasar👍👍👍😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!