Cinta Caca mengajarkan Alex arti kehidupan, kebahagiaan dan kehilangan.
Namun siapa sangka, Caca meninggalkan Alex dan membawa cinta mereka ke surga.
Begitu banyak kenangan dan kebaikan yang ditinggalkan Caca.
Dia mendonorkankan matanya untuk Meli. Bahkan dia juga menitipkan cintanya pada Meli.
Akankah Meli menggantikan posisi Caca di hati Alex?
Ikuti terus kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Genik Amarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngidam
Hari ini, usia kandungan Dian sudah genap empat bulan. Meli selalu mendampingi segiap bulannya untuk memeriksakan kandungan. Begitu juga dengan Mars dan Venus, mereka sering berkunjung untuk memastikan kandungan Dian baik-baik saja.
Saat di rumah sakit, Meli bertemu dengan Jhony yang kebetulan juga praktek di sana. Mereka saling menyapa dan berjabat tangan. Meli juga menganlakan Dian kepada Jhony.
"Hai, apa ada masalah dengan matamu?" tanya Jhony khawatir.
"Nggak kok, aku cuma nganter Dian periksa kandungan," jawab Meli tersenyum.
"Oh oke, kalau gitu aku kerja dulu ya Mel," pamit Jhony.
"Oke pak dokter!" seloroh Meli tertawa kecil.
"Hahaha kamu ini bisa aja, mari Dian, pamit Jhony seraya meninggalkan mereka.
"Orangnya udah pergi kali, diliatin mulu dari tadi," goda Meli.
Dian tersipu malu sambil menarik tangan Meli dan berjalan ke kursi antrian. Beberapa saat kemudian mereka keluar dari ruang periksa dengan raut wajah bahagia. Mereka menghela nafas lega, karena kesehatan ibu dan janinnya baik-baik saja.
Saat kembali ke rumah, Mars dan Venus sudah menanti mereka di ruang tv. Sekeranjang buah untuk Dian sudah bertengger di atas meja.
"Beb, aku kupasin jeruk apa apel nih?" tanya Pia.
Dian mengerucutkan bibirnya sambil mengvelengkan kepalanya.
"Nggak ah, aku pengennya rambutan," tolak Dian.
"Ya kali rambutan, musim rambutan udah berkhir deh kayaknya," sahut Dicky.
"Pasti masih ada yang jual, dua biji aja nggak apa kok," rengek Dian.
"Yaudah, biar aku sama Meli yang beli," ujar Alex.
"Hehehe thanks ya," Dian tersenyum girang.
Semenjak Dian tinggal di rumahanya, Meli jarang ke rumah Alex. Dia juga jarang menghabiskan waktu berdua dengan kekasihnya. Mereka senang bisa berduaan, meskipun hanya untuk membeli rambutan.
Setelah hampir satu jam berkeliling, mereka beristirahat sejenak di sebuah kedai minuman. Sambil menikmati minumannya, Meli membuat story di whatssapp dan instagramnya.
Tak lama kemudian, ponsel yang masih dalam genggamannya berdering.
"Ya Jhon, tumben telepon," ucap Meli di sambungan telepon.
"Kamu nyari rambutan ngapain seheboh itu sih, kaya orang ngidam aja," goda Jhony.
"Yee ... kan emang buat orang ngidam."
"Haaa ... kamu ngidam?"
"Bukan aku, tapi Dian."
"Oh yang kita ketemu tadi?"
"Iyes, hmm masih inget aja nih Pak Dokter."
"Yaudah, tunggu di kafe biasa ya, nanti aku bawain rambutan."
"Seriusan nih? Oke, buruan ya Jhon, nggak pakai lama!"
"Oke."
"Sayang yuk kita ke kafe," ajak Meli girang.
"Kan belum dapet rambutannya, kok malah ke kafe?" jawab Alex heran.
"Jhony nyuruh kita, tunggu di kafe biasa, nanti mau dibawain rambutan." Meli beranjak dari duduknya dan menarik tangan Alex.
"Akhirnya dapet juga, anak Dian biar nggak ileran. Yaudah yuk ke kafe sekarang aja," ujar Alex tersenyum.
"Hahaha, yaudah yuk."
Setelah sampai di kafe, mereka memesan cemilan sambil menunggu Jhony dengan rambutannya. Tak lama kemudian, Jhony datang dan menghampiri mereka.
"Nih rambutannya," Jhony meletakkan sekantong plastik rambutan di meja.
"Yeaay, thanks ya Jhon."
"Sama-sama, tapi kenapa kalian yang nyariin sih? Bukannya kalian musuhan sama Dian?"
"Pesen dulu gih, nanti aku ceritain." ucap Alex.
"Iya deh, aku pesen dulu."
Setelah memesan minuman dan cemilan, Jhony memburu Alex untuk bercerita. Meli menggodanya karena begitu antusias tentang Dian. Alex menceritakan secara detil tentang apa yang terjadi pada Dian.
"Kok, Pak Dokter antusias banget sih, mirip wartawan deh," goda Meli.
"Nggak ah, biasa aja." Jhony mengelak dengan wajah yang memerah.
"Naksir ya Bro? Ayolah ngaku aja!" desak Alex.
"Sama kaya Dian nih yank, tadi di rumah sakit, Dian juga merah gitu mukanya pas ketemu Jhony."
"Masa sih, wah jangan-jangan Dian juga naksir nih." goda Alex.
Jhony terkekeh mendengar velotehan teman-temannya. Wajahnya memerah karena menahan malu.
"Jhon, kamu kan udah tau semua tentang kisah Dian, jadi kamu tau juga dong resikonya kalau kamu menjalin hubungan dengannya. Kalau kamu serius sih nggak apa, tapi kalau kamu cuma mau mainin perasaannya, aku nggak akan ijinin," terang Meli.
"Oke Mel. Kamu tenang aja, aku nggak akan mainin perasaannya, kok."
"Tapi, apa keluargamu bisa menerimanya?" tanya Alex.
"Ya ... mungkin aku butuh waktu untuk menjelaskan ini ke orang tuaku. Tolong jangan kasih tau Dian dulu ya, aku mau pastiin keluargaku dulu."
"Siap, Pak Dokter!" jawab Meli sambil berpose hormat.
"Hahaha kamu ini bisa aja." Jhony tertawa kecil sambil mengacak rambut Meli.
"Aduh ... berantakan nih," Meli mengerucutkan bibirnya sambil merapikan rambutnya.
"Yaudah, kita balik duluan ya Jhon, thanks lho rambutannya," ungkap Alex.
"Oke bro, sama-sama."
"Bye Jhon ...," pamit Meli sambil melambaikan tangan.
Sementara itu, Dian terus memandangi jam tangannya. Sesekali dia menengok ke arah pintu. Tak lama kemudian, terdengar suara motor berhenti di halaman. Dian berjalan ke luar diikuti Mars dan Venus.
"Nih rambutannya," Meli manghampiri Dian dan menyerahkan sekantong plastik rambutan.
"Thanks ya Mel, thanks ya Lex," Dian terharu dan kemudian memeluk Meli.
Mereka menikmati rambutan itu bersama-sama. Saat sedang asik dengan rambutan, tiba-tiba ada dua pria berbadan kekar menghampiri mereka.
Mars segera memasang badan untuk melindungi Venus dan Dian. Rupanya dua pria berbadan kekar itu sedang mencari Dian.
"Ngapain kesini? Disuruh papi?" tanya Dian santai sambil memakan rambutannya.
"Maaf Non, kami hanya menjalankan tugas. Silakan Nona baca surat ini dan membalasnya," ucap salah satu pria tersebut sambil menyerahkan sepucuk surat.
Dian membaca surat itu dengan mata berkaca-kaca. Mars dan Venus menenangkannya. Dian beranjak dari duduknya lalu menghampiri dua pria itu.
"Bilang sama mereka, aku nggak akan gugurin kandunganku! Kalau mereka malu, coret saja namaku dari Kartu Keluarga!" tegas Dian menahan air mata.
Alex meminta dua pria kekar itu untuk segera pergi. Air mata Dian tak tertahankan lagi, tangisnya pecah membasahi pipinya. Meli memeluknya erat, lalu menuntunnya ke kamar. Venus berlari kecil menyusul mereka.
"Simpan air matamu, ingatlah, ada janin tak berdosa di dalam kandunganmu. Jangan biarkan bayimu merasakan kesedihanmu," bujuk Meli sembari mengusap air mata Dian.
"Jangan sedih beb, kan ada kita." hibur Chika.
"Sebisa mungkin, kita akan bantu kok," imbuh Pia.
"Yup, yg penting sekarang kamu harus happy biar dedek juga happy. Jaga kesehatan dan lupakan masa lalu yang kelam," tandas Mhocan.
"Thanks ya guys," jawab Dian terharu.
"Senyum dong," pinta Meli.
Dian mengusap air matanya, menghela nafas panjang, lalu tersenyum manis. Venus tersenyum lega melihat Dian yang sudah kembali tersenyum.
Sementara itu, papi Dian terlihat marah mendengar laporan anak buahnya. Sedangkan istrinya, menangis meratapi nasib putri kesayangannya.
"Jangan tangisi anak tak tau diri itu!" bentak Papi Dian seraya meninggalkan ruang tamu.
tulisan rapi. ditambah menjabarkan adegan bagus banget