Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Egar dan Amanda
Egar mendengar pemotretan hari ini dijalankan membuatnya ingin mengecek ke lokasi. Orang-orang tampak begitu fokus yang terlibat dalam pemotretan tersebut baik kru dan juga model. Egar berdiri di belakang beberapa orang pria yang menjalani pemotretan tersebut.
Dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya menghampiri sekretaris Gina yang tampak fokus pada layar monitor.
"Bagaimana semuanya Gina?" tanya Egar.
Gina kaget mendengar suara pimpinannya itu membuatnya menoleh ke sebelahnya.
"Pak...." lirih Gina memegang dadanya.
"Kenapa? melihat saya seperti itu? Kamu pikir saya setan?" tanya Egar.
"Ti-tidak pak," jawabnya dengan geleng-geleng kepala.
"Saya kaget saja tiba-tiba saja Bapak muncul," jawabnya.
"Lalu bagaimana apa semuanya lancar?" tanya Egar.
"Lancar pak, lihatlah dari monitor model kita terlihat sangat profesional," jawabnya sejak tadi mengagumi Amanda.
Egar melihat layar monitor tersebut, Egar mengerutkan dahi saat melihat wanita yang menjadi model dari produknya tersebut menurutnya wajahnya sangat tidak asing dan untuk memastikan hal itu Egar langsung melihat ke arah tempat pemotretan dan sesuai dugaannya bahwa itu adalah gadis yang menabrakkan beberapa kali dia juga bakal sempat datang menemuinya Untuk mengantarkan jasnya.
"Wanita itu!" ucap Egar.
"Terlihat fress dan sangat cocok dengan produk yang akan kita keluarkan," lanjut Gina.
"Oke rehat sebentar!" kru memberi informasi membuat Amanda menghela nafas dan para perias menghampirinya dengan memberi tisu kepada Amanda dan juga merapikan rambut Amanda.
Amanda tidak sengaja melihat ke arah Egar yang ternyata masih memperhatikannya.
"Kenapa dia melihatku seperti itu? Apa ada yang salah atau jangan-jangan dia pangling lihat kecantikanku," batin Amanda benar-benar sangat percaya diri.
"Pak saya permisi sebentar!" Gina berpamitan dan menghampiri Amanda.
"Amanda kamu benar-benar keren," puji Gina.
"Terimakasih Gina," sahut Amanda.
"Hmmmm, kita istirahat 1 jam, kamu mau makan apa biar aku yang pesan?" tanya Gina.
"Tidak usah repot-repot," sahut Amanda.
"Bagaimana mungkin hal itu sangat merepotkan dan sementara kamu adalah bagian dari produk ini yang sudah pasti kami akan memberikan fasilitas dan kenyamanan untuk kamu dan termasuk untuk masalah perut!" tegas Gina.
"Kamu baik sekali, kalau memang aku harus dipaksa, kamu cukup memesankan salat saja untukku," ucap Amanda.
"Pantes saja tubuh dan kulit kamu sangat bagus dan makanan kamu juga benar-benar sehat," ucap Gina membuat Amanda hanya tersenyum.
"Baiklah kalau begitu kamu tunggu sebentar, aku akan membeli makanan untuk kamu," ucap Gina membuat Amanda menganggukkan kepala.
Setelah Gina pergi dan tidak lama Egar menghampirinya, dua wanita yang membantu riasannya itu menundukkan kepala dan kemudian meninggalkan Amanda dengan Egar.
"Bagaimana mungkin kamu bisa berada di tempat ini dan sekarang menjadi model dari perusahaan ini?" tanya Egar dengan datar.
"Kenapa menanyakan hal itu kepadaku dan bukankah jika sekretaris kamu yang memintaku untuk menjadi model dari produk ini yang seharusnya itu juga berdasarkan persetujuan kamu bukan," sahut Amanda.
"Jadi sekretaris saya yang merekrut kamu?" tanya Egar.
"Ya," jawabnya.
"Hah!" Egar sepertinya kelewatan sesuatu sampai tidak mengetahui bahwa model yang dibutuhkan perusahaan tersebut tak lain adalah Amanda.
"Kenapa ekspresi Tuan seperti itu? Apa meragukan saya dalam melakukan pekerjaan ini?" tanya Amanda.
"Ya, saya mengetahui bahwa kamu wanita ceroboh dan tidak yakin jika kamu bisa bekerja profesional," jawab Egar.
"Jangan sembarangan Tuan mengatakan bahwa saya ceroboh dan tidak profesional," sahut Amanda tersinggung dengan kata-kata Egar.
"Ya, untuk menjadi model di perusahaan ini bukanlah hal yang mudah, saya tidak tahu kamu berasal dari agensi mana, tetapi saya akan lihat beberapa hari kedepannya dan bagaimana perkembangan kamu yang berurusan dengan produk ini, jika menurut saya benar-benar tidak cocok dan maka kamu harus meninggalkan pekerjaan ini!" tegas Egar.
"Hah!" Amanda justru menanggapi dengan mengendus yang membuat Egar kebingungan.
"Ternyata mendapatkan uang dengan jumlah yang fantastis cukup mudah, saya hanya cukup melakukan kesalahan saja dan maka akan diberhentikan secara sepihak dan dengan itu saya tetap menerima bayaran saya dengan kontrak penuh selama 1 tahun," ucap Amanda.
"Apa maksud kamu?" tanya Egar.
"Astaga, ternyata seorang pimpinan di perusahaan sebesar ini tidak teliti dalam membaca kontrak atau memang tidak tahu menahu mengenai urusan kontrak pekerjaan," ucap Amanda senyum miring melihat kebo Egar yang sepertinya kelewatan sesuatu.
Egar justru bingung.
"Tuan, tolong minggir lah dari hadapan saya, saya ingin duduk," ucap Amanda terdengar begitu santai Egar menghalangi jalannya.
Egar membuka jalan tersebut dengan ekspresi dingin dan sementara Amanda tidak peduli sama sekali.
Pernyataan Amanda membuat Egar kembali memasuki ruangannya dan memeriksa kontrak yang baru saja diberikan oleh sekretarisnya kepadanya karena Egar meminta kontrak kita untuk diantarkan kembali. Dengan sangat cepat Egar membuka kontrak tersebut.
Betapa terkejutnya Egar di saat kontrak itu ditekankan dengan jelas. Amanda telah menjadi brand ambassador dari produk terbaru tersebut sampai 1 tahun kedepan yang artinya segala pemotretan berhubungan dengan produk yang tertera di dalam kontrak itu.
Amanda yang akan terus menjalaninya dari pemotretan, iklan dan sampai promosi dan bahkan bayaran yang diterima Amanda juga tidak main-main.
"Apa-apaan ini? kenapa Gina tidak memberitahuku kontraknya sampai seperti ini," ucap Egar benar-benar lalai.
"Hahhhhh!" Egar mengusap wajah menggunakan kedua tangannya bahkan sampai kepalanya terlihat frustasi dengan kebodohan yang telah dia lakukan.
*****
"Kamu seharusnya bicarakan terlebih dahulu kepada saya siapa model yang akan direkrut, bukan sembarangan menerima seseorang dan tidak tahu asal-usulnya dari mana dan belum mengetahui bagaimana latar belakang orang tersebut dan bagaimana pekerjaannya di tempat lain sebelumnya!" tegas Egar marah-marah pada Gina yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Maaf pak, tetapi bukannya sebelum-sebelumnya semua ini juga saya yang mengatur dan Bapak hanya tinggal menandatangani kontrak?" tanyanya.
"Tetap saja hal sebesar ini harus dibicarakan dulu dengan saya dan apalagi dan kontrak dan bayarannya tidak masuk akal!" tegas Dikta.
"Tetapi saya yakin jika Amanda akan profesional dan membawa keberuntungan pada produk kita dan akan laku di pemasaran, kru-kru dalam pemotretan juga memberi pujian kepadanya, produk ini benar-benar cocok dengan aman dan maka dari itu saya memilihnya!" ucap Gina dengan yakin.
"Lalu bagaimana jika sebaliknya? Apa kamu mau bertanggung jawab dengan semua ini dan kamu tahu sendiri anggaran produk ini tidak murah!" tegas Egar.
Gina terdiam bagaimana mungkin dia harus bertanggung jawab atas suatu produk yang tidak berjalan dengan baik hanya karena salah pemilihan model, itu sama saja mengorbankan pekerjaannya.
Bersambung.....