NovelToon NovelToon
ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: NeyNaa

Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Kehilangan Kehangatan

Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan. Jika dulu Irwan masih berusaha menjaga keseimbangan antara rumah dan kehidupan di luar, kini ia semakin jarang terlihat di rumah. Kadang ia pulang hanya beberapa menit. Kadang hanya satu atau dua jam, lalu pergi lagi dengan alasan pekerjaan. Alasan yang bahkan Sulis sudah tidak lagi berusaha memeriksa kebenarannya.

Rumah yang dulu ramai kini terasa kosong. Dito dan Rara masih tinggal bersama nenek mereka di kampung. Irwan hampir tidak pernah menanyakan kapan anak-anak akan pulang. Sementara itu, Sulis menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang sama. Bangun sebelum subuh, menyiapkan pesanan makanan, mengurus rumah, lalu beristirahat ketika malam tiba. Hidupnya berjalan seperti mesin yang terus bergerak tanpa sempat menikmati perasaan apa pun.

Suatu sore Irwan pulang. Bukan untuk makan bersama, bukan untuk mengobrol, dan bukan pula untuk memperbaiki hubungan mereka. Ia hanya masuk ke kamar, mengambil beberapa pakaian bersih, lalu melemparkan tas berisi pakaian kotor ke sudut ruang cuci. Setelah itu ia pergi lagi dengan cepat, seolah rumah itu hanyalah tempat singgah sementara.

Sulis yang sedang melipat pakaian melihat semua itu. Namun ia tidak berkata apa-apa. Tidak bertanya, tidak memprotes, dan tidak lagi meminta penjelasan. Pengalaman telah mengajarinya bahwa seseorang akan terus berbohong selama ia belum siap menghadapi kenyataan.

Setelah Irwan pergi, Sulis masuk ke ruang cuci. Tas berisi pakaian kotor itu masih tergeletak di sana. Ia membuka resletingnya dan melihat beberapa kemeja, celana, serta kaos yang bercampur menjadi satu. Sulis memandang tumpukan pakaian itu cukup lama.

...****************...

Ada masa ketika ia mencuci pakaian suaminya dengan hati yang bahagia. Baginya, itu adalah bagian dari merawat keluarga yang ia cintai. Namun sekarang perasaannya berbeda. Meski begitu, tangannya tetap bergerak.

Satu per satu pakaian dimasukkan ke mesin cuci. Bukan karena ia tidak terluka atau tidak marah. Melainkan karena selama bertahun-tahun, kebiasaan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dan meskipun hatinya dipenuhi kekecewaan, Sulis tetap tidak tega membiarkan semuanya berantakan.

Beberapa hari kemudian, hal yang sama kembali terulang. Irwan datang menjelang malam, membuka lemari, mengambil pakaian, lalu pergi lagi. Mereka sempat berpapasan di ruang tamu. Untuk beberapa detik saling menatap. Namun tidak ada yang berbicara. Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan.

Hanya keheningan yang terasa semakin asing.

Kadang Sulis bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana mungkin dua orang yang pernah saling mencintai bisa berubah menjadi seperti ini?

Dulu mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol. Bercerita tentang mimpi, rencana masa depan, dan harapan-harapan sederhana tentang keluarga mereka.

Sekarang bahkan sepuluh detik berada dalam satu ruangan terasa begitu canggung.

...****************...

Suatu malam, saat sedang menyetrika pakaian Irwan, Sulis menemukan sebuah kancing yang lepas dari salah satu kemejanya. Tanpa sadar ia mengambil kotak jahit lalu memasangnya kembali. Gerakannya begitu otomatis, seolah tubuhnya masih mengingat semua kebiasaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun pernikahan.

Namun ketika pekerjaan itu selesai, air matanya tiba-tiba jatuh.

Bukan karena kancing yang lepas itu.

Melainkan karena ia sadar bahwa dirinya masih melakukan banyak hal untuk Irwan, sementara pria itu semakin jauh meninggalkan rumah dan keluarganya.

Meski begitu, Sulis tidak lagi mengejar. Ia tidak lagi memohon perhatian atau meminta cinta. Ia mulai memahami bahwa perasaan seseorang tidak bisa dipaksa kembali. Dan harga diri tidak boleh terus dikorbankan untuk mempertahankan sesuatu yang hanya diperjuangkan oleh satu pihak.

Sementara itu, Irwan semakin terbiasa hidup di antara dua dunia. Dunia rumah yang dipenuhi kesunyian dan dunia lain yang menurutnya memberikan ketenangan.

Ia tidak menyadari bahwa setiap kali meninggalkan pakaian kotor untuk dicuci, setiap kali pulang tanpa menyapa, dan setiap kali pergi tanpa penjelasan, ada luka baru yang perlahan terbentuk di hati Sulis.

Luka yang tidak terlihat.

Tidak berdarah.

Tidak meninggalkan bekas di kulit.

Namun jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik apa pun.

Tanpa disadari keduanya, rumah yang dulu dibangun dengan cinta perlahan berubah menjadi bangunan kosong yang hanya menyisakan kenangan tentang kebahagiaan yang pernah ada.

Namun di tengah rumah tangga yang semakin rapuh, ada satu hal yang justru mulai menunjukkan perkembangan baik dalam hidup Sulis.

Usaha katering rumahan yang ia jalankan perlahan tumbuh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.

Awalnya hanya beberapa tetangga yang memesan makanan. Lalu teman-teman pelanggan mulai ikut mencoba. Setelah itu, rekomendasi dari mulut ke mulut menyebar semakin luas. Tanpa disadari, hampir setiap hari ponselnya menerima pesan pesanan baru.

...****************...

Suatu pagi, Sulis sudah berdiri di dapur sejak pukul empat subuh. Beberapa panci besar mengepul di atas kompor. Aroma ayam kecap, sambal goreng kentang, dan tumis sayuran memenuhi seluruh rumah.

Biasanya kesibukan seperti itu membuatnya lelah.

Namun kali ini berbeda.

Kesibukan justru membantu mengalihkan pikirannya dari masalah rumah tangga. Ketika memasak, ia tidak perlu memikirkan Irwan, Lastri, atau luka-luka yang terus bertambah di hatinya.

Ia hanya fokus pada pekerjaannya.

Pelanggan mulai berdatangan dari berbagai tempat. Ada yang memesan untuk rapat kantor, acara keluarga, bahkan kegiatan sekolah. Jumlah pesanan yang semakin banyak membuat Sulis kewalahan jika harus bekerja sendirian.

Akhirnya ia mempekerjakan dua ibu rumah tangga di sekitar rumah untuk membantu memasak dan mengemas makanan.

"Alhamdulillah, Mbak Sulis," kata salah satu pekerjanya sambil membungkus nasi. "Pesanannya makin banyak sekarang."

Sulis tersenyum kecil.

"Iya, semoga terus lancar."

Meski sederhana, ucapan itu keluar dari hati yang penuh rasa syukur.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sulis merasakan sesuatu yang hampir hilang dari hidupnya.

Kepercayaan diri.

Bukan karena penampilan atau perhatian dari orang lain.

Melainkan karena ia berhasil berdiri dengan kemampuannya sendiri.

Setiap pelanggan yang puas membuatnya merasa dihargai. Setiap pesanan baru membuatnya yakin bahwa dirinya masih mampu melangkah maju.

Suatu siang, seorang pelanggan lama menelepon.

"Mbak Sulis, bulan depan saya ada acara keluarga."

"Berapa porsi, Bu?"

"Sekitar dua ratus."

Sulis sempat terdiam. Jumlah itu jauh lebih besar dibanding pesanan biasanya. Namun setelah menghitung kemampuan produksi dan bantuan para pekerjanya, ia akhirnya menerima pesanan tersebut.

Setelah telepon ditutup, Sulis tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

Dua ratus porsi bukan angka kecil.

Itu berarti usahanya mulai dipercaya untuk menangani acara yang lebih besar.

Sementara itu, kondisi usaha reklame milik Irwan justru berjalan sebaliknya. Beberapa pelanggan lama mulai beralih ke tempat lain. Kesalahan demi kesalahan masih terjadi. Pemasukan tidak lagi sebesar dulu.

Namun Irwan terlalu sibuk mencari pelarian dari masalah untuk benar-benar memperbaiki keadaan.

Ironisnya, ketika usaha yang dulu menjadi kebanggaannya mulai menurun, usaha kecil yang dibangun Sulis dari dapur rumah justru berkembang semakin pesat.

Malam hari setelah semua pekerjaan selesai, Sulis duduk sendirian sambil memeriksa catatan keuangan. Angka demi angka ia tulis dengan rapi. Sebagian keuntungan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara sebagian lagi ia sisihkan sedikit demi sedikit.

Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu.

Melainkan karena ia sedang mempersiapkan masa depan.

Masa depan yang mungkin suatu hari harus ia hadapi tanpa bantuan Irwan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sulis merasa memiliki sesuatu yang benar-benar menjadi miliknya. Sesuatu yang ia bangun sendiri dari kerja keras, ketekunan, dan luka yang justru mengajarinya menjadi lebih kuat.

Ia memang belum tahu bagaimana akhir rumah tangganya nanti.

Namun satu hal mulai ia pahami.

Jika dulu ia bertahan karena bergantung pada Irwan, kini ia bertahan karena sudah mulai mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Dan kesadaran itu perlahan menghadirkan keberanian baru di dalam hatinya.

Keberanian untuk menghadapi apa pun yang mungkin datang di masa depan.

1
Yati Adek
dasar janda bolong wkwkwk
NeyNaa: wkwkwkw tenangin diri kak 🤣🤣
total 1 replies
Yati Adek
dasar janda gatal
Yati Adek
memang perempuangktau malu
NeyNaa: mksh ud mmpir kak 😄
total 1 replies
Neriya Naura
Si lakor kayaknya pke guna2, si iwan ampe segitunya, author matiin tu lakor, gatal bgt....
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
NeyNaa: jgn emosi kak 🤭
total 1 replies
NeyNaa
ud buta sma cnta, efeknya amnesia 🤭
Lili Amalia
laki2 klau sdh mulai mengalami puber ke 2 atau apapun itu alasannya, TDK akan bisa mendengar nasihat dari siapapun.
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: 🕺🏻💃🏻🤙🏻👍🏻
total 3 replies
Neriya Naura
Gak tau malu bgt 🤭
Neriya Naura
Ni si pastri gatel ya gak ketulungn, gatel+gak tau malu, si iwan juga silau bgt ama godaan janda🤭, lemah bgt imannya.
NeyNaa: tenangkan dirimu kak...🤭
total 1 replies
Neriya Naura
Cerita menarik, makin seru, si suami naksir janda gatel...
Neriya Naura
Si pastri gatel bgt sih.... 🤭
NeyNaa
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!