Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa yang bisa menolak?
“Ines,” ucap Edmund terdengar dingin begitu wanita pelayan itu mulai berusaha melepaskan diri dari cengkeraman penjaga mansion yang diperintahkan mengawalnya keluar.
“Tidak! Nyo–nyonya tolong saya!” teriak Ines panik sampai suaranya terdengar serak. Wajah wanita itu sudah dipenuhi air mata sejak tadi. “Nyonya, saya tidak mau ikut wanita itu! Tolong saya!”
Elowen yang sejak tadi berdiri dengan wajah pucat langsung bergerak refleks seolah ingin mendekat. Namun baru satu langkah, Edmund lebih dulu menahan pergelangan tangan istrinya cukup kuat.
“Edmund!” Elowen menoleh tidak percaya. “Lepaskan! Kau tidak lihat dia ketakutan?!”
“Sudah cukup,” potong sang Marquis
“Tapi ....”
“Aku bilang cukup.” Nada suara Edmund kali ini jauh lebih berat dibanding sebelumnya sampai Elowen langsung terdiam. Tatapan pria itu tetap lurus mengarah ke depan tanpa sedikit pun berubah meski Ines masih menangis ketakutan.
“Tu–Tuan Marquis ...,” lirih Ines mulai bergetar hebat. “Saya sudah bekerja di rumah ini selama bertahun-tahun ....”
Namun Edmund sama sekali tidak menjawab. Sebaliknya, Aveline justru mencibir pelan sambil memandang wanita tersebut dari ujung kepala sampai kaki. Tatapan hitamnya terlihat datar tanpa rasa iba sedikit pun.
“Dramatis sekali,” ujarnya santai.
Kalimat itu langsung membuat tubuh Ines membeku sesaat. Kepala pelayan itu menatap Aveline dengan wajah pucat pasi seolah baru sadar tidak ada seorang pun di tempat itu yang benar-benar berniat menolongnya.
Sedangkan Aveline sendiri tampak tidak tertarik memperpanjang apa pun. Ia hanya merapikan ujung gaunnya sebelum akhirnya melangkah pergi begitu saja melewati halaman mansion.
Liora buru-buru mengikuti di belakang majikannya sambil sesekali melirik Ines dengan gugup. Sementara dua penjaga keluarga Grimwald mulai menyeret wanita itu keluar meski suara tangisan dan permohonannya masih terus terdengar memenuhi halaman belakang mansion.
Sementara di sisi lain, suasana mansion keluarga Greifenwald jauh lebih tenang dibanding rumah Marquis Grimwald.
William baru saja berdiri dari kursinya setelah percakapan panjang dengan Duke Alaric selesai. Pria itu merapikan sedikit bagian depan mantel militernya sebelum bergerak menuju pintu ruangan. Namun sebelum William benar-benar keluar, suara Alaric kembali terdengar dari belakang.
“Hati-hati saat keluar dari ruangan ini.”
Langkah William berhenti sepersekian detik. Ia menoleh sedikit ke belakang dengan salah satu alis terangkat samar.
Alaric justru menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya sendiri. “Cari aman sebelum putriku tahu bahwa anda sedang berada di mansion ini.”
William tampak diam beberapa detik sebelum sudut bibirnya bergerak tipis seperti menahan tawa kecil.
“Separah itu?”
“Tidak,” jawab Alaric cepat. “Lebih parah.”
William akhirnya terkekeh rendah. Namun Duke tua itu justru terlihat semakin lelah.
“Saya lebih memilih menghadapi rapat bangsawan selama tiga hari penuh dibanding menghadapi putriku saat dia mulai mencarimu.”
“Kedengarannya berlebihan.”
“Kau akan mengerti dalam lima detik lagi.” William baru saja membuka pintu ruangan dan melangkah keluar keluar. Baru saja kakinya terangkat ....
“WIIMM!” Sebuah suara melengking dari seorang wanita melengking di setiap lorong mansion. Alaric yang masih berada di dalam ruangan spontan menepuk jidatnya keras.
“Astaga,” gerutunya pelan. “Bencana datang.” Langkah William otomatis berhenti. Tatapannya bergerak ke arah ujung lorong tepat saat seorang wanita muda berlari kecil mendekat sambil mengangkat sedikit bagian rok gaunnya.
Rambut panjang keemasan wanita itu bergoyang lembut mengikuti gerak tubuhnya. Wajahnya cantik dengan mata bulat cerah yang terlihat hidup dan hangat. Penampilannya sangat rapi dan anggun khas putri bangsawan, tetapi ekspresi wajahnya justru terlihat terlalu gembira begitu melihat William berdiri di sana.
Gaun warna gading lembut yang ia kenakan jatuh rapi mengikuti tubuhnya, sementara pita kecil dan aksesoris mutiara di rambutnya membuat penampilannya terlihat jauh lebih manis dibanding bangsawan wanita kebanyakan.
Beberapa pelayan yang melihat kedatangannya langsung menundukkan kepala cepat seolah sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Sedangkan wanita muda itu sama sekali tidak memperdulikan siapa pun. Matanya hanya tertuju lurus pada William sejak awal.
Pada akhirnya ia berhenti tepat di depan William dengan napas sedikit terengah akibat berlari kecil tadi. Namun ekspresi wajahnya justru terlihat semakin cerah begitu melihat pria itu benar-benar berdiri di hadapannya.
Lady Clarissa von Greifenwald.
Putri tunggal Duke Alaric yang cukup dikenal di kalangan bangsawan Silvercrest karena wajah cantiknya serta sifat lembutnya yang jauh berbeda dibanding sebagian besar keluarga aristokrat lain. Namun di balik pembawaannya yang anggun dan manis, Clarissa juga terkenal sangat keras kepala terhadap hal-hal tertentu.
Dan salah satu hal itu saat ini sedang berdiri tepat di depan matanya.
“Wim!” panggilnya lagi tanpa menahan senyum sedikit pun. “Kau benar-benar datang!” William bahkan belum sempat membuka suara ketika Clarissa langsung mulai berbicara tanpa jeda.
“Apakah kau kemari untuk menemuiku?” tanyanya cepat. “Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Kenapa kau tidak pernah datang lagi setelah terakhir kali? Apa pekerjaanmu benar-benar sesibuk itu sekarang?”
Pertanyaan demi pertanyaan langsung keluar beruntun sampai beberapa pelayan yang berdiri di sekitar lorong hanya bisa menundukkan kepala lebih dalam sambil berpura-pura tidak mendengar apa pun.
William sendiri masih tampak tenang seperti biasa meski suara Clarissa terus memenuhi lorong mansion. Sedangkan di belakang mereka, Duke Alaric mulai terlihat memijat keningnya.
“Clarissa,” panggil pria tua itu sambil menghela napas panjang. “Beri dia waktu untuk bernapas.”
Namun Clarissa sama sekali tidak terlihat ingin mendengarkan.
“Ayah, biarkan aku berbicara dengan Wim,” balasnya cepat tanpa menoleh sedikit pun. Alaric langsung menyipitkan mata tidak percaya.
“Di mana sikap hormatmu terhadap Yang Mulia Pangeran?” tegurnya datar. “Sejak kapan kau memanggil calon pewaris kerajaan seperti memanggil teman bermainmu?”
Clarissa akhirnya menoleh sebentar ke arah ayahnya.
“Tapi dia memang Wim.”
“Clarissa.”
“Lagipula dia juga tidak keberatan.”
Alaric tampak ingin membalas lagi, tetapi Clarissa justru bergerak maju lebih dulu. Gadis itu mengambil posisi tepat di antara William dan ayahnya sebelum mendorong tubuh Duke Alaric pelan menggunakan bahunya sendiri.
“Ayah terlalu besar. Kau menutupi Wim.”
Alaric membelalak tak percaya saat tubuhnya benar-benar bergeser dari tempat semula akibat dorongan kecil putrinya sendiri. Duke itu langsung menatap Clarissa dengan kesal.
Selama puluhan tahun hidup sebagai Duke Silvercrest, belum pernah ada orang yang berani mendorongnya menjauh seperti itu.
Dan sekarang dirinya justru tersingkir hanya karena seorang pria muda yang menjadi pusat perhatian putrinya sendiri.
Clarissa sama sekali tidak merasa bersalah. Setelah berhasil menyingkirkan ayahnya dari tengah, gadis itu langsung kembali menoleh pada William dengan wajah jauh lebih cerah dibanding sebelumnya. Kemudian tanpa ragu, ia menggenggam lengan William sambil sedikit bergelayut manja.
“Aku sangat merindukanmu, Wim,” ujarnya lembut. “Kau terlihat jauh lebih sibuk sekarang.”
Tatapan matanya bergerak memperhatikan wajah William beberapa detik sebelum kembali bertanya dengan nada serius yang terdengar polos.
“Akhir-akhir ini apakah kau tidur dengan nyenyak?”
William menatap Clarissa beberapa saat sebelum menjawab singkat.
“Cukup.”
Clarissa tampak mengangguk kecil seolah puas mendengar jawaban itu.
“Kalau begitu bagus.” Kemudian matanya kembali berbinar seperti baru mengingat sesuatu.
“Oh iya,” ujarnya cepat. “Aku sebenarnya ingin pergi berbelanja hari ini.”
William belum sempat bereaksi ketika Clarissa kembali melanjutkan kalimatnya tanpa ragu sedikit pun.
“Apakah kau menemaniku sebentar?”
Suasana lorong seketika berubah hening. Para pelayan langsung pura-pura sibuk menunduk menatap lantai marmer. Sedangkan William perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Duke Alaric yang berdiri tidak jauh di belakang Clarissa.
Clarissa sendiri masih menatap William dengan penuh harap tanpa berniat melepaskan lengannya sedikit pun.
Sementara di sisi lain, Duke Alaric langsung menggeleng cepat sambil menggerakkan bibirnya diam-diam ke arah William. Jangan mau, jangan mau.
Ekspresi wajah Duke itu terlihat sangat serius meski tidak ada suara sedikit pun yang keluar dari mulutnya.
William hanya menatap pria tua tersebut sekilas beberapa detik. Setelah itu, pandangannya kembali turun pada Clarissa yang masih menunggu jawaban dengan mata berbinar.
“Baiklah,” ujar William tenang. “Mari kita pergi berjalan-jalan dan menemanimu berbelanja.”
“Benarkah?!” Clarissa langsung berseru girang.
Gadis itu spontan memeluk lengan William lebih erat sambil tersenyum lebar tanpa berusaha menyembunyikan rasa senangnya sedikit pun. Sedangkan duke Alaric menatap William dengan ekspresi datar penuh penyesalan.
Tatapan itu benar-benar terlihat seperti seseorang yang baru saja menyaksikan orang lain berjalan masuk ke medan perang atas kemauannya sendiri.
~oo0oo~
Mobil hitam itu melaju tenang membelah jalan utama Valdoria. Cahaya sore mulai turun perlahan di antara deretan bangunan kota, memantulkan warna keemasan samar pada kaca-kaca pertokoan dan jalan berbatu yang ramai oleh kendaraan bangsawan maupun kereta pengangkut.
Aveline duduk tenang di balik kemudi dengan satu tangan memegang setir. Tatapan matanya lurus ke depan tanpa banyak berubah, sejak mereka meninggalkan mansion keluarga Grimwald.
Gaun putih panjang yang ia kenakan tadi masih terlihat rapi meski bagian ujungnya sedikit bergerak mengikuti posisi duduknya. Wajah wanita itu tetap tenang seolah keributan besar yang baru saja terjadi di rumah Marquis Grimwald bukan sesuatu yang penting untuk dipikirkan.
Sedangkan di kursi belakang, suasananya jauh berbeda. Liora duduk kaku sambil sesekali melirik wanita setengah baya di sampingnya dengan cemas.
Marielle Voss masih belum sadarkan diri sejak tadi. Tubuhnya bersandar lemah di kursi belakang dengan rambut berantakan jatuh menutupi sebagian wajahnya. Bekas darah di sudut bibirnya mulai mengering, meninggalkan warna merah gelap yang kontras dengan kulitnya yang pucat.
Meski napasnya masih ada, kondisinya tetap terlihat mengenaskan. Liora bahkan masih belum benar-benar mengerti bagaimana Aveline bisa membuat semua orang percaya bahwa wanita itu sudah mati hanya dalam beberapa detik.
Sementara itu, di kursi penumpang depan, Ines duduk dengan wajah kaku. Tidak ada lagi tangisan seperti saat berada di mansion keluarga Grimwald. Namun raut wajah kepala pelayan itu jelas menunjukkan ketidaksenangan yang bahkan tidak berusaha ia sembunyikan.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan sampai akhirnya Ines membuka suara lebih dulu.
“Nona,” ujarnya pelan sambil melirik Aveline dari samping. “Apa Anda tidak takut jika saya tiba-tiba merebut setir mobil ini?”
Kalimat itu membuat Liora refleks menoleh cepat ke depan.
Namun berbeda dengan reaksinya, Aveline justru tersenyum kecil sambil tetap menatap jalan di depannya.
“Tidak.” Jawaban singkat itu membuat Ines menyipitkan mata.
“Anda terlalu percaya diri,” balas wanita itu dengan nada meremehkan. “Jalanan seperti ini cukup ramai. Sedikit saja mobil kehilangan kendali, kita semua bisa mati.”
“Ya,” ujarnya tenang. “Lagi pula jika kau nekat merebut setirku ....” Sudut bibir wanita itu terangkat tipis.
“Aku juga tidak bisa memastikan bahwa kau mati dalam keadaan utuh.”
Mobil tetap berjalan mulus seperti biasa. Namun ucapan datar itu justru membuat suasana di dalam kendaraan langsung berubah hening.
Ines spontan terdiam.
Wanita itu perlahan memalingkan wajah ke arah jendela dengan rahang sedikit mengeras seolah menahan sesuatu. Sedangkan di kursi belakang, Liora buru-buru menundukkan kepala sambil menggigit bibir bagian dalam kuat-kuat agar tidak tertawa.
Beberapa detik kemudian, gadis itu akhirnya mencoba mengalihkan pikirannya dengan melihat ke arah jalan di luar jendela. Namun semakin lama, dahinya mulai mengernyit kecil. Mobil mereka tidak menuju ke arah kediaman William.
“Nona?” panggil Liora hati-hati. “Kenapa Anda berbelok arah?”
Aveline memutar setir dengan tenang melewati persimpangan besar sebelum menjawab singkat.
“Aku ingin mengambil pakaianku.”
Liora tampak sedikit bingung beberapa detik. Akan tetapi, tidak lama setelah itu, matanya langsung mulai membesar seperti baru mengingat sesuatu.
Seminggu lalu, Aveline memang pernah menyuruhnya pergi ke sebuah butik di pusat Valdoria untuk membuat pakaian berburu khusus sesuai desain yang diinginkan wanita itu sendiri.
Bahkan saat itu pemilik butik sampai terlihat bingung melihat model pakaian yang diminta karena jauh berbeda dibanding gaun berburu bangsawan wanita pada umumnya.
“Oh ...,” lirih Liora pelan.
“Di mana butik itu?”
Liora buru-buru kembali fokus.
“Masih di wilayah Valdoria bagian tengah, Nona,” jawabnya cepat. “Dekat distrik pertokoan bangsawan.”
.
Pusat pertokoan bangsawan Valdoria sore itu terlihat jauh lebih ramai dibanding biasanya. Deretan butik mewah dengan jendela kaca besar berdiri memenuhi sisi jalan utama, sementara beberapa kendaraan keluarga aristokrat terparkir rapi di sepanjang area depan gedung.
Lampu-lampu gantung mulai dinyalakan satu per satu ketika matahari perlahan turun, membuat kawasan tersebut terlihat semakin mahal dan elegan. Di antara keramaian itu, Clarissa berjalan di samping William dengan wajah yang sejak tadi tidak berhenti menatap ceria.
Jemarinya masih menggantung santai di lengan pria itu seolah takut William tiba-tiba menghilang jika dilepaskan beberapa detik saja.
“Wim, lihat yang itu,” ujarnya sambil menunjuk salah satu etalase toko perhiasan.
Namun belum sampai William benar-benar melihat ke arah yang dimaksud, Clarissa sudah kembali berbicara lagi.
“Tidak, tunggu dulu. Yang tadi lebih bagus.” Gadis itu langsung menarik lengan William pelan menuju toko lain tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk menolak.
William sendiri tampak tetap tenang seperti biasa. Langkahnya stabil mengikuti Clarissa meski sejak tadi wanita muda itu terus berpindah-pindah toko sambil berbicara tanpa henti. Sementara beberapa bangsawan yang kebetulan berada di sekitar kawasan pertokoan mulai diam-diam memperhatikan mereka.
Bagaimanapun juga, sulit untuk tidak menoleh saat melihat Lady Clarissa von Greifenwald berjalan sambil bergelayut manja pada seorang Kolonel kepercayaan Duke Silvercrest.
Tidak jauh di belakang mereka, Bram dan Kellan berjalan sambil menjaga jarak seperti biasa. Namun berbeda dibanding sikap formal mereka saat berada di barak militer, kali ini keduanya justru terlihat jauh lebih santai.
Tatapan Bram bergerak ke arah Clarissa dan William beberapa detik sebelum akhirnya ia menghela napas pelan.
“Mereka terlihat cocok sekali.” Kellan melirik sekilas ke depan sebelum mengangguk kecil.
“Kau benar.”
Beberapa detik suasana tetap tenang sampai akhirnya Bram kembali membuka suara dengan nada pelan.
“Namun bagaimana jika Lady Aveline melihat pemandangan seperti ini?”
Kellan langsung menoleh.
“Aku khawatir nasib Tuan tidak akan baik-baik saja.”
Bram justru mendengus pelan mendengar ucapan tersebut. “Bukankah rumor mengatakan bahwa Lady Aveline adalah wanita yang lemah?”
Kalimat itu langsung membuat Kellan menatapnya datar.
“Wanita lemah?” Pria tersebut mengulang pelan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Apa kau tidak melihat saat Lady Aveline menendang meja tahanan waktu itu?”
Bram tampak diam beberapa detik. Sedangkan Kellan melanjutkan dengan wajah serius.
“Meja besi itu langsung bergeser dan bagian sampingnya penyok.” Bram perlahan mengernyit seperti kembali mengingat kejadian tersebut.
“Kau benar. Dan itu sangat-sangat mengerikan.”
Keduanya sempat terdiam sesaat sambil kembali melihat ke arah William dan Clarissa yang kini sedang berhenti di depan butik pakaian. Clarissa tampaknya mengatakan sesuatu dengan penuh semangat sambil menunjuk gaun di balik kaca etalase. Sedangkan William tetap berdiri tenang mendengarkannya tanpa terlihat terganggu sedikit pun.
Bram akhirnya menghela napas kecil.
“Namun dengan wajah, sikap, dan status bangsawan seperti Lady Clarissa ....”
“Pria mana lagi yang bisa menolaknya?”
.
.
.
Bersambung