Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Klan yang Kejam Rencana untuk Menghabisi Sisa Darah
Jauh di sebelah selatan Benua, di tengah pegunungan yang berkabut tebal dan selalu diselimuti hawa panas, berdiri kokoh sebuah benteng raksasa berwarna merah gelap. Di atas gerbang utamanya, terukir lambang seekor naga yang sedang meliuk-liuk menyemburkan api—simbol kebesaran Klan Naga Api.
Di ruang pertemuan utama yang megah namun suram, puluhan tetua dan tokoh penting klan berkumpul. Suasana ruangan itu berat, dipenuhi energi yang ganas dan aura kekuasaan yang menindas. Di kursi utama, duduk seorang pria paruh baya berwajah keras, bermata tajam bagaikan elang, dan janggut panjang yang memutih di ujungnya. Dialah Zhao Tianxiong, Kepala Klan Naga Api, ayah kandung dari ayah Ren, dan kakek dari Ren sendiri.
Di hadapannya, berlututlah dua sosok yang penuh luka dan malu: Zhao Shan si Paman Ketiga, dan Zhao Hu sepupu Ren. Tubuh mereka masih terasa nyeri bekas pukulan Ren kemarin, dan rasa malu karena dikalahkan oleh "sampah buangan" itu masih membakar hati mereka.
"Jadi... kalian berdua kalah? Dipermalukan habis-habisan oleh anak yang kami buang ke hutan bertahun-tahun lalu?" suara Zhao Tianxiong rendah namun mengandung tekanan yang membuat seluruh ruangan bergetar. Matanya menatap tajam ke arah cucu dan adiknya yang menunduk gemetar ketakutan.
"Maafkan kami, Ketua Klan... Bocah itu... bocah itu berubah total," Zhao Shan berbicara dengan suara parau, wajahnya pucat pasi. "Ia tidak lagi lemah seperti dulu. Kekuatannya melonjak gila-gilaan! Bahkan teknik apinya pun berbeda... warnanya merah keemasan, bukan merah ungu seperti kita. Ia bisa memantulkan serangan level Penduduk Bumi hanya dengan satu tangan saja!"
Zhao Hu menambahkan dengan suara terisak, "Kakek... dia mengaungkan bahwa dia sudah melampaui klan kita. Dia menghina nama baik keluarga di depan ratusan orang!"
TRANG!
Cangkir batu di tangan Zhao Tianxiong hancur berkeping-keping karena diremas terlalu kuat. Wajahnya yang dingin berubah menjadi penuh amarah dan kekhawatiran yang mendalam.
"Melampaui kita... hah! Dasar anak durhaka!" Zhao Tianxiong berdiri perlahan, langkahnya berat dan mengancam. "Dulu aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Itulah sebabnya aku memerintahkan kalian membuangnya ke hutan terpencil dan membiarkannya mati di sana. Aku sudah curiga sejak dia bayi... darah di tubuhnya terlalu panas, terlalu liar, dan terlalu murni."
Salah satu tetua tua yang duduk di sebelah kanan berbicara dengan nada serak dan serius, "Ketua, bukankah legenda kuno mengatakan bahwa hanya keturunan sejati dari Garis Darah Utama yang memiliki ciri-ciri itu? Ingatkah kau akan catatan leluhur? Bahwa ketika darah Kaisar mulai bangkit kembali, ia akan menyerap segala energi di sekitarnya dan membuat pemiliknya tampak seperti orang yang cacat?"
Zhao Tianxiong mengangguk pelan, wajahnya berkerut muram. "Aku ingat. Aku sangat ingat. Itulah alasan mengapa aku begitu membenci ayahnya, Zhao Feng. Karena dia adalah pewaris sejati, dan aku hanyalah cabang sampingan yang merebut kekuasaan dengan segala cara. Dulu aku meracuni Zhao Feng agar dia mati muda, dan membuang anaknya, Ren, agar garis keturunan utama itu musnah selamanya... supaya posisiku dan posisi anak-anakku tetap aman selamanya."
Pengakuan itu membuat para tetua yang lain saling pandang. Rasa takut mulai menjalar di hati mereka.
"Kalau begitu... kalau bocah itu sudah bangkit... dia adalah ancaman terbesar bagi kita," ucap tetua itu lagi. "Dia memiliki darah murni, dia memiliki hak sah atas kepemimpinan klan ini. Dan sekarang dia sudah tahu kebencian kita. Dia akan datang kembali untuk menuntut haknya dan membalas dendam."
Zhao Shan mengangkat kepalanya, matanya berkilat jahat. "Benar! Kalau dia dibiarkan hidup, masa depan Klan Naga Api akan hancur! Dia akan menggulingkan Kakek, membunuh kita semua, dan membinasakan nama baik yang sudah kita bangun bertahun-tahun!"
Zhao Tianxiong menatap keluar jendela, ke arah puncak gunung yang tertutup kabut. Di matanya, tidak ada lagi rasa kasihan atau belas kasih terhadap darah dagingnya sendiri. Yang tersisa hanyalah ambisi, rasa takut kehilangan kekuasaan, dan kejahatan murni.
"Kita sudah salah langkah dulu dengan membiarkannya hidup. Kesalahan itu tidak boleh diulang lagi," ucap Zhao Tianxiong dingin dan penuh niat membunuh. "Ren tidak boleh hidup. Selama dia bernapas, Klan ini tidak akan aman. Darah sisa dari ayahnya itu harus dilenyapkan sampai ke akar-akarnya."
"Namun, karena kekuatannya ternyata sebesar itu... kita tidak bisa main-main lagi," Zhao Tianxiong berbalik menghadap para bawahannya. Matanya menyala penuh rencana gelap. "Zhao Shan, kau dan Zhao Hu hanya sampah yang tidak berguna. Aku akan mengirimkan Pasukan Pemburu Bayangan, pasukan elit yang tugasnya menghabisi musuh-musuh klan. Mereka adalah pembunuh profesional yang kejam, kuat, dan tidak akan membiarkan siapa pun lolos."
"Selain itu..." Zhao Tianxiong tersenyum miring, senyum yang mengerikan. "Aku akan mengirimkan pesan ke seluruh sekte dan organisasi di wilayah tengah. Aku akan menyebarkan berita palsu bahwa Ren telah mencuri Batu Api Suci, harta pusaka terbesar kita, dan membunuh tetua klan. Aku akan menjadikannya penjahat nomor satu di benua ini! Aku akan membuat seluruh dunia memburunya! Aku ingin dia tidak punya tempat untuk berpijak, tidak ada tempat bersembunyi, sampai akhirnya dia mati dalam penderitaan!"
Para tetua bersorak setuju. "Bijaksana sekali keputusan Ketua! Dengan begitu, tangan kita bersih, dan musuh kita mati di tangan orang lain!"
Zhao Hu tersenyum puas. "Ren... kau kira kemenangan kecilmu kemarin itu hebat? Tunggu saja. Kau tidak tahu neraka apa yang baru saja kau buka pintunya. Kau akan menyesal pernah lahir ke dunia ini."
Zhao Tianxiong mengangkat tangannya, menandakan keputusan mutlak telah diambil.
"Pergilah. Sebarkan berita itu. Kirimkan pembunuh. Jangan berhenti sampai kepalanya ada di tanganku. Aku ingin memastikan... tidak ada satu tetes pun sisa darah ayahnya yang tersisa di dunia ini. Klan Naga Api hanya akan diwarisi oleh keturunanku sendiri, keturunan yang patuh dan bisa dikendalikan!"
Di tempat lain, jauh di sana, di atas bukit yang sejuk di bawah langit berbintang...
Ren tiba-tiba merasakan sesuatu. Ia tersentak kaget, dadanya terasa sesak seolah ditindih beban berat. Di dalam dirinya, Batu Prasejarah berdenyut kencang dengan sinyal bahaya, dan roh Naga Emas mendengus marah.
Hah! Bau busuk kejahatan dan niat membunuh... Aku bisa menciumnya bahkan dari jarak ribuan li jauhnya! geram Leluhur Naga dengan suara berat dan marah. Cucuku, musuhmu tidak hanya membenci dan menghinamu. Mereka ingin membunuhmu. Dan bukan hanya kamu... mereka ingin memusnahkan seluruh jejak keberadaanmu, seluruh sisa darah yang mengalir di tubuhmu.
Ren mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku menancap ke daging. Matanya yang tadinya lembut kini berubah tajam dan dingin.
"Jadi begitulah... ternyata mereka tidak hanya membuangku karena aku lemah atau cacat..." bisik Ren dengan suara gemetar karena campuran rasa sakit dan amarah yang mendidih. "Mereka membuangku... karena mereka takut akan darahku. Karena mereka tahu aku adalah pewaris sejati yang akan merebut apa yang sebenarnya milikku."
Xue Ying yang duduk di sampingnya menyadari perubahan suasana hati kekasihnya. Ia meletakkan tangan lembutnya di atas tangan Ren yang berkeringat dingin.
"Ren... ada apa? Kau terlihat sangat marah dan sedih sekaligus," tanyanya lembut namun cemas.
Ren menoleh, menatap wajah gadisnya dengan tatapan yang penuh kesadaran baru.
"Aku baru saja mengerti segalanya, Xue Ying. Kenapa ayahku mati muda. Kenapa aku dibuang. Kenapa semua orang di klan begitu kejam padaku." Ren menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara bergetar. "Mereka bukan keluargaku. Bagi mereka, aku hanyalah duri dalam daging, ancaman yang harus dicabut. Dan sekarang... mereka mengirimkan pasukan pembunuh. Mereka menjadikan musuh seisi dunia. Mereka ingin memastikan aku mati, agar tidak ada lagi sisa darah yang mewarisi kebenaran klan itu."
Air mata menetes di pipi Ren. Bukan karena takut, tapi karena sedih. Sedih bahwa tempat yang seharusnya menjadi rumah, ternyata adalah sarang serigala yang siap memakan anak sendiri demi kekuasaan.
"Kejam sekali..." bisik Xue Ying, hatinya ikut sakit melihat penderitaan kekasihnya. Ia mendekat, memeluk bahu Ren erat-erat seolah ingin melindunginya dari segala kejahatan dunia. "Mereka tidak pantas disebut keluarga. Keluarga tidak akan pernah berencana memusnahkan sisa darahnya sendiri."
Ren mengangkat wajahnya, menghapus air matanya dengan kasar. Di matanya, kesedihan perlahan hilang, digantikan oleh api yang berkobar-kobar, api tekad yang tak terpadamkan.
"Benar. Mereka bukan keluargaku. Mereka adalah musuhku." Ren berdiri tegak, menatap ke arah selatan, ke arah asal kedatangan bahaya itu. "Mereka mengira dengan menjadikanku musuh dunia, aku akan hancur? Mereka mengira dengan mengirimkan pembunuh, aku akan takut dan lari?"
Ren mengepalkan tinjunya hingga otot-otot lengannya menonjol kuat. Aura emas merah kembali menyala, kali ini lebih ganas dan lebih agung dari sebelumnya.
"Mereka salah besar. Mereka tidak tahu apa yang baru saja mereka bangunkan." Suara Ren bergema dingin dan penuh ancaman. "Mereka ingin menghabisi sisa darah ini? Baiklah. Aku akan membuat darah ini menetes dan menimpa kepala mereka semua sebagai pembalasan!"
Ren menoleh ke arah Xue Ying, tatapannya tajam namun penuh kelembutan saat melihat gadisnya.
"Xue Ying, bahaya sudah di depan mata. Perjalanan kita tidak hanya mencari kekuatan lagi. Sekarang kita harus bertahan hidup melawan kejahatan terbesar dari masa laluku. Dunia mungkin akan berbalik melawan kita. Kau... masih mau ikut bersamaku?"
Xue Ying tersenyum indah, senyum yang penuh keberanian dan kesetiaan mutlak. Ia memegang gagang pedangnya sendiri, lalu berdiri sejajar dengan Ren, bahu membahu.
"Kau sudah bertanya janji di bawah bintang, ingat? Ke mana pun kau pergi, aku ikut. Siapa pun yang melawanmu, aku lawan. Kalau dunia memusuhi kita... maka kita akan melawan dunia bersama-sama."
Ren tersenyum lega dan bangga. Ia menggenggam tangan kekasihnya.
"Terima kasih. Bersamamu, neraka pun akan terasa seperti surga."
Ren menatap langit malam yang luas, di mana ancaman besar sedang bergerak diam-diam ke arah mereka.
"Datanglah... semua pembunuh, semua pengkhianat, semua kejahatan yang dikirim klan itu. Aku, Ren, penerus Kaisar Naga, siap menunggumu. Aku akan membuat kalian menyesal telah dilahirkan di dunia ini, dan menyesal berani mengancam sisa darah yang kalian remehkan ini!"
Perang sesungguhnya baru saja diumumkan. Dan kali ini, Ren tidak lagi berjalan sendirian dalam kegelapan. Ia berjalan dengan cahaya cintanya, dan membawa kekuatan legendaris yang akan mengguncang seluruh benua.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭