Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Pacaran Diam diam
Malam, langit terlihat sangat cerah. Bintang-bintang bertaburan memenuhi langit hitam pekat, sementara bulan menggantung indah di atas rumah keluarga Argas. Angin malam bertiup lembut, membuat daun-daun di taman bergerak pelan.
Suasana rumah sudah tenang. Lampu ruang tamu dimatikan. Feni sudah tidur. Indah dan Bagaskara juga sudah masuk kamar sejak dari tadi.
Hanya suara jangkrik malam yang terdengar samar dari taman. Aurel duduk sendirian di bangku taman. Ia memakai sweater tipis karena udara malam terasa sedikit dingin. Rambutnya tergerai sederhana, sementara kedua tangannya memeluk lututnya sendiri.
Tatapannya mengarah ke langit, ke bulan dan ke bintang-bintang. Namun sebenarnya, pikirannya tidak sedang memikirkan langit malam, melainkan seseorang, yaitu rvano.
Sejak tahu buah itu dari Arvano, hatinya benar-benar tidak tenang. Setiap kali mengingat perhatian Arvano, jantungnya selalu berdebar aneh. Dan itu membuat Aurel takut.
Karena semakin hari, perasaannya semakin sulit disembunyikan.
Aurel menghela napas pelan. “Harus sadar diri.” gumamnya kecil.
Suara langkah kaki terdengar mendekat, Aurel menoleh dan langsung membeku. Yang datang yaitu Arvano.
Arvano berjalan santai menuju taman dengan tangan di saku celana. Tatapannya langsung tertuju pada Aurel. “Lo belum tidur?”
Aurel buru-buru duduk tegak. “Belum, Mas.”
Arvano berjalan mendekat, kemudian duduk di bangku yang sama. Dekat. Lebih dekat dibanding biasanya.
Sebab itu membuat jantung Aurel langsung tidak karuan.
Mereka hanya diam sambil melihat langit. Suasana malam terasa terlalu tenang.
“Sudah sembuh?” Tanya Arvano pelan.
Aurel mengangguk kecil.
“Sudah mendingan.” Sahut Aurel Sambil Tersenyum.
“Hm.” Ucap Arvano yang singkat.
Sunyi lagi. Namun kali ini terasa berbeda. Seolah ada sesuatu yang sedang ditahan, dan memang benar.
Karena sejak tadi, Arvano sebenarnya sedang mengumpulkan keberanian. setelah itu menghela napas pelan, lalu menatap langit lagi. “Aurel.”
“Iya?”
Arvano diam beberapa detik, seolah memilih kata-kata. Membuat Aurel mulai gugup.
“Aku mau ngomong sesuatu.” Ucapan Arvano sudah ganti dari gue jadi aku.
Jantung Aurel langsung berdetak lebih cepat. “Apa…?”
Arvano tertawa kecil hambar. Bahkan dirinya sendiri merasa aneh.
CEO dingin yang biasanya tegas dan tidak pernah ragu pada apa pun, kini justru gugup hanya untuk bicara pada seorang gadis.
“Aku…” Arvano berhenti sebentar, tatapannya perlahan beralih ke Aurel.
Pertama kalinya, tatapan itu terlihat sangat lembut.
“Aku suka sama kamu.”
Aurel berhenti sesaat, matanya langsung membesar. “Hah…?”
Arvano langsung mengalihkan pandangannya sebentar, seolah malu karena sudah mengatakannya. Setelah itu Arvano kembali menatap Aurel serius. “Bukan cuman suka biasa.” Suara Arvano pelan, tapi terdengar sangat tulus. “Aku cinta sama kamu.”
Deg, deg.
Jantung Aurel benar-benar terasa tidak normal sekarang. Ia bahkan lupa cara bernapas beberapa detik. “Mas jangan bercanda.”
“Aku serius.”
Aurel langsung panik. “Tapi saya…”
“Kamu kenapa?”
“Saya pembantu.” Ucapan itu keluar dengan pelan.
Dan langsung membuat suasana berubah.
Aurel menunduk, tangannya saling menggenggam gugup. “Saya nggak pantas buat Mas.”
Arvano langsung mengernyit. “Siapa bilang?”
“Ya jelas.....” Aurel tertawa kecil hambar. “....Mas itu siapa? saya siapa?”
Arvano menatapnya serius. “Aku enggak peduli.”
“Tapi saya peduli.” Aurel menggigit bibirnya sendiri.
“Orang tua Mas gimana nanti.”
“Diam-diam dulu.” Jawaban Arvano yang cepat membuat Aurel langsung menoleh. “Hah?”
“Kita jalanin diam-diam.”
Aurel makin panik. “Tapi Mas—”
“Tapi apa lagi, Aurel?” Nada suara Arvano tiba-tiba lebih tegas. Arvano mendekat sedikit. “Aku sangat mencintaimu.” Ucapan itu membuat Aurel langsung terdiam total.
Karena tidak ada keraguan sedikit pun di mata Arvano. Tidak ada main-main, tidak ada bercanda, dan itu justru membuat hati Aurel makin kacau.
Arvano menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis. “Awalnya aku juga bingung.” Tatapannya kembali ke langit. “Kenapa aku terus mikirin kamu.”
Aurel diam mendengarkan.
“Mulai dari pertama ketemu.” Arvano tertawa kecil.
“Kamu jatuh dari lemari.”
Wajah Aurel langsung merah. “Mas…”
“Terus jatuh lagi depan teman-temanku.” Lanjut lah Ucapan Arvano
Aurel menutup wajahnya malu. “Jangan diinget-inget.”
“Terus jatuh lagi waktu ngepel.” Arvano menatapnya pelan. “Dan semuanya bikin aku makin sadar.”
Aurel perlahan menurunkan tangannya. Tatapan mereka bertemu lagi. “Aku jatuh cinta sama kamu.” Ucap Arvano.
Jantung Aurel terasa hangat sekaligus sesak, karena sebenarnya, Ia juga merasakan hal yang sama.
Wajah Aurel kembali berubah ragu. “Mbak Erika gimana…”
Tatapan Arvano langsung berubah dingin saat nama itu disebut. “Kamu tahu sendiri aku enggak suka dia.”
“Tapi keluarga kalian kerja sama,”
“Aku enggak peduli.” Jawaban Arvano begitu cepat dan begitu tegas.
“Kalau kerja sama itu hancur karena dia, itu bukan salahku.”
Aurel terdiam.
Arvano melanjutkan, “Papa juga harus tahu sendiri siapa Erika sebenarnya.” Tatapannya menjadi tajam.
“Dia selingkuh.” Tanya Aurel yang tepat.
“Aku tahu, dia cuma mau harta keluarga kami.” Nada suara Arvano terdengar dingin penuh rasa muak.
Jantung Aurel kembali berdebar.
“Aku beneran cinta sama kamu.” Ucap Arvano dengan serius.
Aurel mulai terasa panas sedikit, karena semakin Arvano bicara, semakin sulit baginya bertahan. “Mas…”
“Hm?”
“Sebenarnya…” Aurel menunduk malu.
“Saya juga suka sama Mas.”
Arvano benar-benar tersenyum, senyum kecil tapi hangat. “Jadi?”
Aurel menggigit bibirnya gugup. “Saya takut…”
“Ada aku.” Kata Arvano.
“Tapi—” Ucapan Aurel langsung memotong sama Arvano. “Enggak ada tapi.”
Arvano mendekat sedikit. Tatapannya serius. “Kamu sekarang milikku.”
Wajah Aurel langsung merah total. “Mas…”
“Aurel.” Sebut gantian.
“Iya…” Sahut Aurel.
“Mau jadi pacarku?”
Aurel memejamkan mata sebentar, lalu akhirnya, mengangguk pelan. “Iya…”
Senyum Arvano makin terlihat jelas. Arvano merasa benar-benar bahagia.
Malam semakin larut. Namun suasana taman terasa jauh lebih hangat dibanding sebelumnya.
Aurel dan Arvano masih duduk berdampingan sambil melihat langit malam.
Kini hubungan mereka berubah, bukan lagi sekadar majikan dan pembantu, melainkan sepasang kekasih. Meski harus diam-diam.