NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Begitu sampai di kebun bunga, Ruby langsung menarik Kimi ke loket dan membeli dua tiket tanpa pikir panjang. Lagi-lagi Ruby yang bayar.

Kimi merasa aneh, seperti dibayari kakak yang mengajak piknik. Tapi semua itu langsung hilang begitu matanya melihat pemandangan di depan.

"Matahari!" serunya sambil menunjuk ke hamparan bunga besar berwarna kuning. "Mawar! Anggrek! Celosia! Geranium! Salvia-"

"Kim, Kim, stop. Gak usah lo absen satu-satu, nanti bunganya pada layu," Ruby cepat-cepat menahan lengan Kimi sebelum cewek Teddy itu lepas kendali.

Kimi menoleh dengan mata berbinar, "Cantik banget, By."

Ruby sempat terpaku sebentar, lalu bergumam, "Masa sih? Di mata gw masih cantikan lo."

Ekspresi Kimi mendadak datar. "Sorry, Uby. Aku gak bakal ketipu sama trik kamu. Teman gak boleh ngomong kayak gitu, Catet ya."

Ruby reflek melepas tangannya, Sebelum sempat membalas, Kimi sudah kabur duluan, berlari kecil di antara bunga matahari. Ia cuma bisa menghela napas, lalu menyalakan kamera ponselnya, dan diam-diam memotret Kimi yang sedang tertawa sendiri di antara bunga-bunga.

Niatnya mau mengambil yang paling bagus, tapi entah kenapa jempolnya malah terus menekan tombol save.

Kimi masih asyik sendiri, sementara Ruby memutuskan jalan ke area mawar. Ia tak begitu paham jenis bunga, tapi setidaknya mawar paling aman, paling klasik, dan paling banyak tumbuh di taman rumahnya. Setelah mengambil gunting dan keranjang, Ruby mulai memetik beberapa tangkai.

"Uby mau kasih bunga buat Anela ya?" tanya Kimi yang tiba-tiba sudah berjongkok di sampingnya.

"Iya. Kenapa? Mau juga? Petik sendiri. Guntingnya di sana," Ruby menunjuk ke pos penjaga.

Kimi langsung manyun, "Gak usah deh. Mana seru metik buat diri sendiri."

"Jadi selama ini lo cuma nerima bunga?"

Kimi mengangguk polos. "Aku sering dikasih sama dua pacarku dulu. Terus sebelum ke sini, teman abang juga sering ngasih bunga tiap datang ke rumah. Kata abang, dia suka aku."

Ruby langsung berhenti, lalu pelan-pelan menoleh. "Terus bunganya lo terima?"

"Iya. Soalnya cantik banget."

"Itu artinya lo suka dia," Nada Ruby hambar, tapi tangannya kembali bergerak. "Abis pelatihan, apa kalian bakal jadian?"

Kimi melotot. "Uby ok jadi ngeselin?"

"Ngeselin gimana?"

"Kenapa nanya gitu? Aku tuh udah nembak kamu loh."

Ruby belum sempat menjawab, tapi Kimi sudah berdiri mau pergi. Ruby buru-buru menarik pergelangan tangannya, lembut tapi cukup buat menahan.

"Udah, gak usah ngambek. qw cuma becanda."

Kimi masih manyun, "Cium dulu biar gak ngambek."

Ruby mendengus, tapi wajahnya malah maju sendiri dan nyosor pelan ke kening Kimi. "Banyak maunya, cil," gumamnya, pura-pura sibuk lagi dengan bunga.

Kimi senyum-senyum sendiri, padahal niatnya cuma bercanda. Ia bergeser lebih dekat. "Bunganya buat aku aja ya, By. Jangan buat Anela."

Ruby melirik sekilas. "Kalau buat Nela kenapa? Cemburu?"

Senyum Kimi langsung pudar. "Terserah kamu aja deh, By."

"Emang dari awal buat lo kok," jawab Ruby santai.

"Serius?"

Ruby mengangguk. Melihat mata Kimi langsung berbinar lagi, ia bertekat memetik lebih banyak mawar. Bukan hanya merah, tapi warna putih, merah muda, kuning, dan orange. Kimi juga sempat memetik warna unik seperti ungu dan kombinasi.

Sambil terus memetik, Ruby tiba-tiba kepikiran sesuatu yang entah kenapa membuatnya penasaran.

"Kim,"

"Iya, By?"

"Kalau lo gak pacaran sama gw, lo bakal pacaran sama cewek lain gak?"

Kimi berpikir sebentar, lalu menjawab mantap. "Pasti itu. Pasti."

Ruby terdiam. Jawaban itu singkat, tapi malah bikin otaknya makin kusut.

**

Setelah per jalanan singkat ke kota, kehidupan asrama berjalan lagi seperti biasa. Agus sempat ribut menanyai kimi soal kenapa bisa pergi berdua dengan Ruby dan balik-balik bawa sekarung mawar.

Tapi kimi cuma menjawab santai, "Aku yang maksa, Gus. Nunggu kamu kelamaan, takut waktunya abis."

Jawaban polos tapi mematikan itu sukses bikin Agus terdiam. Apalagi ia memang baru keluar toko setelah ditelefon Kimi berkali-kali.

Mawar itu akhirnya Kimi bagi-bagi ke peserta lain. Ia tak tahu berapa banyak uang yang Ruby habiskan untuk membayarnya. Tapi semua senang, kecuali tiga orang: Nove, Juli, dan Janu yang lebih tertarik soal "Mawar ini bisa dimakan gak?"

Di bulan ketiga pelatihan, suasana kelas justru makin santai. Kadang mereka cuma ngobrol dengan pembimbing. Kata Kimi, "Kurang cemilan aja ini mah."

Semua masih sama. Peserta lain tetap ribut, Juli masih sering kabur buat ketemu Bu Salma, dan Kimi makin menempel ke Ruby. Diam-diam, tentu saja.

Malam itu Kimi terbangun karena seseorang mengguncang bahunya pelan. Begitu membuka mata, ia langsung menarik selimut lagi begitu melihat wajah Juli.

"Bangun dulu, cil. Temenin gw bentar. Urgent banget," bisik Juli panik.

Kimi melotot setengah sadar. "Apa? Apa? kebakaran ya?" Ia langsung sibuk mengumpulkan boneka-bonekanya ke pelukan.

"Bukan, woy. Sadar dulu. Ayo cepet!" Juli menarik selimutnya, lalu menyambar satu jaket dari gantungan. "Nih, pake. Btw, kenapa jaket lo semua kodok, Kim? Beda warna, tapi semua kodok."

Kimi memakai jaketnya sambil mengantuk. "Ya karena aku suka. Udah, buruan. Aku ngantuk."

Juli cuma mendesah, lalu menarik Kimi keluar kamar. Mereka jalan lewat pintu belakang asrama, menyusuri belakang gedung lain yang sepi.

"Mau ke mana sih, Jul?" Kimi mulai waspada.

"Udah, ikut aja," kata Juli malas, menariknya lagi.

Beberapa langkah kemudian, mereka berhenti di depan pintu ruangan yang samar-samar diterangi cahaya lilin dari jendela berembun.

Begitu pintu terbuka, Kimi refleks menahan napas.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!