NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 27

Laras berdiri di tengah hutan Amazon yang kini berbisik dengan suara kehidupan yang baru. Tanah yang tadinya mati kini dipenuhi tunas-tunas berpendar yang tumbuh dengan irama yang sinkron. Namun, saat ia melangkah menuju kapsulnya, kakinya tersandung sesuatu yang keras di balik lapisan abu menara The Hollow yang telah runtuh.

Ia berjongkok, menyibak tanah yang masih hangat. Di sana, terkubur di bawah fondasi teknologi gelap tadi, terdapat sebuah lempengan logam yang tidak berkarat, diukir dengan simbol-simbol yang sama dengan yang ia lihat di Pustaka Ceres, namun dengan satu perbedaan besar: ada koordinat yang merujuk pada bulan-bulan di planet Jupiter.

"Paman Aan, kau menangkap koordinat ini?" Laras mengirimkan pindaian visual melalui sensor helmnya.

Hening sejenak di saluran komunikasi, lalu terdengar suara napas Aan yang tertahan. "Lar, itu bukan sekadar koordinat. Itu adalah frekuensi transmisi balik. Menara hitam tadi bukan hanya menghisap energi; ia mengirimkan sinyal laporan ke sebuah pangkalan di Europa, salah satu bulan Jupiter. Laras, The Hollow bukan sekadar sisa Konsorsium yang bersembunyi. Mereka adalah bagian dari operasi yang jauh lebih besar."

Dio masuk ke percakapan, suaranya diiringi suara dentuman logam—ia pasti sedang membongkar sisa-sisa drone di Jakarta. "Jadi maksudmu ada 'bos' di Jupiter yang sedang menunggu paket kiriman energi dari kita? Itu menjelaskan kenapa mereka begitu agresif di Amazon."

Laras menatap lempengan itu, lalu menatap ke langit yang kini mulai gelap, di mana Jupiter bersinar terang di antara bintang-bintang. "Mereka tidak hanya menunggu energi, Dio. Mereka menunggu sinyal bahwa Jantung Bumi sudah takluk. Dan karena aku baru saja menghancurkan menara ini, mereka akan segera tahu bahwa rencana mereka gagal."

"Lar, ada pergerakan di orbit Neptunus," suara Aan mendadak tajam, penuh peringatan. "Bukan kapal Hegemony. Sinyal ini lebih tua, lebih berat. Mereka bergerak menuju Jupiter. Sepertinya 'tuan' dari The Hollow sedang memanggil pasukannya."

Laras merasakan piston retak di lehernya berdenyut, seolah-olah logam itu bisa merasakan ketegangan yang merambat di seluruh tata surya. "Kita tidak bisa hanya bertahan di Bumi, Paman. Selama pangkalan di Jupiter itu ada, mereka akan terus mengirimkan parasit seperti menara ini."

"Kau mau pergi ke Jupiter?" suara Sinta terdengar, penuh kecemasan yang mendalam. "Laras, itu perjalanan berbulan-bulan. Astra Mawar tidak dirancang untuk perjalanan jauh secepat itu."

"Astra Mawar mungkin tidak," jawab Laras sambil berdiri tegak, matanya terpaku pada Jupiter. "Tapi 'Mawar Hitam' bisa, jika kita menggunakan teknologi pelompat ruang yang kita pelajari dari Sang Arsitek. Dio, kau bilang kau butuh total overhaul pada kapal itu, kan?"

"Aku bisa membuatnya melompat sampai ke ujung galaksi kalau kau mau, Lar," tantang Dio dengan nada antusias yang khas. "Tapi kita butuh bahan bakar Arca yang sangat murni untuk itu."

Laras menoleh ke arah hutan yang kini berpendar hijau. "Kita punya seluruh planet sebagai baterai sekarang, Dio. Bumi akan meminjamkan energinya kepada kita, karena kita adalah perisainya."

Di kejauhan, Sang Arsitek Andromeda muncul di ambang pintu kapsul Laras, wujudnya kini menyerupai seorang pelaut tua. "Perjalanan menuju Jupiter bukan sekadar perjalanan fisik, Laras. Di sana, tekanan gravitasi dan radiasi akan menguji apakah integrasi sarafmu dengan Bumi bisa bertahan dalam jarak jutaan kilometer. Jika kau terputus dari frekuensi Bumi di sana, kau akan kehilangan perlindunganmu."

Laras melangkah masuk ke dalam kapsul, menutup pintu palka dengan mantap. "Kalau begitu, aku harus membawa sedikit bagian dari Bumi bersamaku. Paman Aan, siapkan tim lulusan Angkatan Pertama. Kita akan membagi dua tugas: sebagian menjaga stabilitas di permukaan, dan sebagian lagi ikut denganku menuju Jupiter. Kita akan menutup pintu masuk mereka untuk selamanya."

Kapsul itu melesat meninggalkan Amazon, meninggalkan keajaiban hijau yang baru lahir menuju tantangan dingin yang menanti di raksasa gas. Di Jakarta, Pandu menatap ke atas, melihat jejak cahaya Laras yang membelah atmosfer. Ia tahu, meskipun Bumi telah sembuh, kedamaian sejati hanya bisa dicapai jika mereka berani menghadapi bayangan yang selama ini mengintai dari kegelapan ruang angkasa.

Di bengkel utama Astra Mawar, suasana menyerupai dapur raksasa yang sedang mengolah logam dan cahaya. Dio tidak lagi menggunakan kunci pas biasa; ia mengenakan sarung tangan haptic yang terhubung langsung dengan sistem manufaktur molekuler stasiun. Di depannya, "Mawar Hitam" melayang di dalam medan antigravitasi, lambungnya yang tadinya kusam kini dilapisi oleh lempengan kristal Arca tipis yang berkilau seperti sisik ikan predator.

"Paman Aan, naikkan output tekanan ke dua ratus persen!" teriak Dio tanpa menoleh. "Aku sedang mencoba menyambungkan urat saraf kapal ini langsung ke modul sinkronisasi Laras!"

Aan, yang duduk di ruang kendali pusat, mengusap keringat di keningnya. "Dio, jika kau melakukan itu, Laras tidak akan lagi menerbangkan kapal ini dengan tuas. Kapal ini akan bergerak mengikuti detak jantungnya. Kalau dia panik di tengah jalan, kita bisa terlempar ke luar galaksi."

"Laras tidak pernah panik kalau soal mesin," balas Dio sambil menyeringai, meskipun matanya menunjukkan keletihan yang luar biasa. "Dia butuh kecepatan yang tidak masuk akal untuk menempuh jarak Bumi-Jupiter sebelum armada The Hollow di sana melakukan manuver balik. Kita tidak punya waktu untuk perjalanan konvensional."

Laras masuk ke bengkel, mengenakan setelan penerbang baru yang ditenun dari serat bio-Arca. Setelan itu tampak hidup, dengan cahaya biru tipis yang berdenyut di sepanjang jahitan sarafnya. Ia mendekati Dio, melihat modifikasi yang dilakukan sahabatnya itu.

"Kau memberikan jantung pada kapal ini, Dio?" tanya Laras, menyentuh lambung "Mawar Hitam" yang kini terasa hangat, seolah memiliki suhu tubuh.

"Lebih dari itu, Lar," jawab Dio, melepaskan sarung tangan haptiknya. "Aku mengubahnya menjadi organ tambahanmu. Kristal di lambung ini akan bertindak sebagai antena penguat. Selama kau memiliki koneksi batin dengan 'Jantung' di Palung Jawa, kapal ini akan mendapatkan suplai energi tanpa batas. Kau adalah baterainya, dan dia adalah ototmu."

Di sudut lain bengkel, sepuluh lulusan Angkatan Pertama—termasuk Pandu yang baru saja ditarik dari Jakarta—sedang melakukan simulasi navigasi. Wajah mereka tegang, namun ada tekad yang tidak tergoyahkan. Mereka bukan lagi mekanik jalanan; mereka adalah kru pertama dari kapal pelindung Bumi.

"Laras," Pandu menghampirinya, membawa sebuah tabung kecil berisi tanah Amazon yang masih berpendar. "Ini saran dari Sang Arsitek. Kita harus menanam ini di dalam palka kapal. Ini akan menjadi 'jangkar' frekuensi kita. Selama tanah ini tetap hidup, kita akan selalu merasa seperti berada di rumah, sejauh apa pun kita pergi."

Laras menerima tabung itu dengan khidmat. "Terima kasih, Pandu. Masukkan ke dalam ruang meditasi kapal."

Tiba-tiba, alarm Astra Mawar meraung. Bukan peringatan serangan, melainkan sebuah transmisi gelombang gravitasi dari arah Jupiter.

"Mereka sudah mulai, Laras!" seru Aan dari interkom. "Satelit pemantau menangkap distorsi besar di Europa. Mereka sedang membuka gerbang wormhole buatan. Jika mereka berhasil menstabilkannya, armada utama mereka dari luar sistem tata surya akan masuk melalui pintu itu!"

Laras menatap Dio dan Pandu bergantian. Tidak ada lagi waktu untuk uji coba.

"Semua kru, masuk ke posisi masing-masing!" perintah Laras. "Paman Aan, sinkronisasikan Astra Mawar dengan 'Mawar Hitam'. Kita akan menggunakan dorongan gravitasi stasiun untuk melontarkan kita keluar dari orbit."

Laras duduk di kursi pilot yang kini terasa seperti pelukan hangat. Begitu ia meletakkan tangannya di konsol sensor, pandangannya meluas. Ia bisa merasakan setiap baut, setiap aliran energi di dalam kapal. Ia tidak lagi melihat layar; ia "melihat" ruang angkasa di sekelilingnya melalui kulit kapal.

"Ibu," suara Laras bergetar sejenak saat melihat Sinta di layar transmisi.

"Jangan menoleh ke belakang, Penjaga," ucap Sinta dengan suara yang kuat. "Bumi akan menunggumu mekar kembali."

"Mawar Hitam" melepaskan diri dari dermaga. Dengan satu denyut cahaya putih yang mematikan pandangan, kapal itu melesat, membelah ruang dan waktu, meninggalkan orbit Bumi dalam sekejap mata. Di belakang mereka, Bumi tampak bersinar tenang, sementara di depan mereka, raksasa gas Jupiter menunggu dengan badai yang siap menelan siapa saja yang berani mengusik kegelapannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!