Xaviena Avanzi seorang petarung bebas di Mexico tidak pernah tau siapa orang tua kandungnya.
Hidup seorang diri membuat Xaviena hanya peduli dengan dirinya saja. Tidak pernah berusaha mengetahui dunia luar, dan hanya fokus pada pekerjaannya sebagai petarung. Xaviena tertidur panjang karena diracuni oleh seorang pria yang tidak terima dikalahkan oleh gadis itu.
Saat membuka mata, dia terkejut karna terbangun di tubuh seorang wanita asal Spanyol yang sudah menikah. Bukan pernikahan yang bahagia tapi pernikahan yang hanya membawa kesakitan dan penolakan untuk sang wanita. Xaviera bertekat untuk membalas semua kesakitan dan perbuatan suaminya.
Bagaimana jika jiwa Xaviena, si petarung bebas yang bodoh amat, masuk ke dalam tubuh Xaviera, si istri yang sangat mencintai suaminya?
Dan apa yang terjadi pada tubuh Xaviena? ikuti kisah mereka.
Ayo mampir, dijamin ga bikin bosen!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter twenty seven
Pagi itu di landasan pacu pribadi yang terisolasi dari bandara komersial, sebuah jet pribadi mewah berukuran besar dengan logo lambang keluarga Costa pada bagian ekornya sudah berdiri megah. Mesinnya telah dihangatkan sejak subuh, siap membawa keluarga besar ini kembali ke Spanyol.
Rombongan mobil hitam antipeluru berhenti tepat di samping tangga jet. Pintu-pintu terbuka, menurunkan para pelindung dunia bawah yang kini tampak jauh lebih santai namun tetap memancarkan aura yang tak tersentuh.
Sesuai dengan kesepakatan keluarga, Gabrielle yang sudah lelah merengek tapi tidak diperbolehkan terpaksa tetap tinggal di Peru bersama ayahnya untuk menyelesaikan beberapa urusan.
Jovanovic kembali mendingin sedingin es kutub. Pria berumur itu berjalan paling belakang dengan setelan jas hitam rapi wajahnya datar tanpa ekspresi, namun matanya sesekali melirik layar ponselnya menunggu pesan dari gadis polos yang kini terpisah jarak dengannya. Mereka memang tidak ikut mengantar, tapi tadi Gabrielle menangis terisak karena harus berpisah dengan Jovanovic. Posisi Dominic sudah terganti. Ella bahkan tidak menatap Dominic tadi.
Di dalam kabin jet pribadi yang super luas dan mewah suasana mulai tenang begitu pintu jet ditutup rapat dan tanda sabuk pengaman dipadamkan.
Di area lounge utama yang dilengkapi sofa melingkar, Xaviero duduk dengan sikap dominan yang mutlak. Lengan kekarnya melingkar posesif di pinggang Xaviera. Istrinya itu tampak sangat anggun dengan sweater rajut putih longgar, bersandar nyaman di dada bidang Xaviero sambil memegang secangkir teh hangat.
"Masih mengantuk, Sayang?" bisik Xaviero rendah di dekat telinga Xaviera, mengabaikan pramugari pribadi yang baru saja meletakkan nampan buah.
Xaviera mendongak, menatap sepasang netra hijau intens suaminya dengan senyuman manis.
"Sedikit. Lagipula perjalanan ini memakan waktu berjam-jam, Xavi. Aku mungkin akan tidur sepanjang jalan."
"Tidurlah di kamarku di bagian belakang. Aku akan menemanimu setelah menyelesaikan beberapa dokumen dengan Ayah," balas Xaviero pekat, mengecup sekilas pelipis Xaviera dengan ciuman yang sarat akan kepemilikan.
Di seberang mereka, Xavientro Costadan Victor Vargas sedang duduk berhadapan di kursi kapten yang mewah, menikmati segelas wiski mereka sambil sesekali terkekeh melihat anak-anak mereka. Sementara istri kedua orang itu langsung duduk menggosip.
Di sudut kabin yang agak terpisah dekat jendela besar, Xander sedang memangku laptop kerjanya dengan kacamata baca yang bertengger di hidung tegasnya. Di sampingnya, Axelian duduk meringkuk dengan menyandarkan kepalanya di bahu tegap Xander.
Axelian tampak memakai jaket kebesaran milik Xander (lagi), wajah cantiknya agak merona setiap kali mengingat malam itu di paviliun.
"Kak Xander, berhenti membaca grafik-grafik membosankan itu. Mataku lelah melihatnya," protes Axelian dengan nada ketus yang manja, jemari lentiknya sengaja mengetuk-ngetuk layar laptop Xander untuk mengganggu fokus pria itu.
Xander menghentikan pergerakan tangannya. Ia menoleh sedikit, menatap Axelian dari balik kacamatanya dengan pandangan yang dalam. Tanpa memedulikan keberadaan ayah mereka yang duduk beberapa meter di depan, tangan kiri Xander bergerak mengunci pinggang Axel, menarik tubuh gadis itu agar semakin menempel padanya.
"Kalau matamu lelah, pejamkan, Axel. Jangan menggangguku atau aku akan menghukummu di sini," bisik Xander dengan suara beratnya yang teramat rendah, membuat Axelian langsung membungkam mulutnya sendiri dengan wajah memerah sempurna sampai ke leher.
Tak jauh dari mereka, di area bar kecil jet, Dominic sedang berdiri menuangkan kopi hitam ke dalam cangkirnya. Xaviena berdiri di sampingnya, dengan telaten merapikan kerah kemeja suaminya yang sedikit terlipat.
"Kamu kelihatan lelah, Dom. Kurang tidur?" tanya Xaviena lembut, menatap wajah tegas suaminya dengan binar penuh perhatian.
Dominic melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Xaviena, menarik istrinya mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka. "Bagaimana aku bisa tidur nyenyak kalau istriku terus bergerak sepanjang malam?" bisik Dominic dengan senyuman miring yang seksi, membuat Xaviena memukul pelan dada bidang Dominic karena malu.
"Itu karena kamu tidak mau melepaskan pelukanmu, Dominic!" balas Xaviena setengah berbisik, wajahnya ikut merona merah. Dominic hanya tertawa rendah, mengecup bibir Xaviena sekilas sebelum membawa istrinya duduk di salah satu sofa kosong.
Di bagian tengah kabin, suasana kocak seperti biasa berpusat pada Riccardo dan Clara. Riccardo sudah merebahkan tubuhnya secara horizontal di atas sofa panjang, menggunakan paha Clara sebagai bantal tidurnya yang paling nyaman.
"Clara, tolong pijat keningku sebentar. Kepalaku pening sekali melihat Tuan Xaviero dan Xander yang pamer kemesraan sejak masuk jet tadi," rengek Riccardo dengan cengiran, matanya terpejam menikmati kenyamanan. Hilang sudah sifat dinginnya dihadapan Clara.
Clara menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, namun jemari lembutnya tetap bergerak memijat pelipis Riccardo dengan sayang. "Makanya, Kak, mulutnya diam sedikit. Dari tadi Kak Xander sudah melirikmu seperti mau melemparmu keluar dari pintu darurat jet ini."
"Biar saja. Yang penting sekarang aku punya calon Nyonya Riccardo yang menjaga hidupku," sahut Riccardo tanpa tahu malu, meraih tangan Clara dan mengecup punggung tangannya dengan teramat dalam, memperlihatkan betapa pria ini yang katanya terpaksa bertunangan ini telah jatuh sejatuh-jatuhnya pada gadis di hadapannya.
Di kursi paling sudut, dekat area kompartemen bagasi dalam, Jovanovic duduk menyendiri dengan headphone nirkabel di lehernya. Matanya menatap keluar jendela, memandangi hamparan awan putih yang mulai menjauh dari daratan Peru.
Sebuah getaran di saku jasnya membuat pria es itu bergerak cepat. Ia merengkuh ponselnya dan membaca sebuah pesan singkat yang baru saja masuk.
> 'Kak Jovan, tunggu Ella ya! Safe flight, Calon suami❤️'
Sebuah senyuman miring yang sangat tipisyang hampir tidak pernah diperlihatkan pada siapa pun akhirnya terukir di sudut bibir Jovanovic.
Jantungnya berdesir hangat. Ia mengetik balasan pendek dengan satu tangan:'I will. Aku pasti akan menunggumu'
Jet pribadi itu terus melesat tinggi membelah langit, membawa pulang seluruh belahan jiwa Keluarga Vargas dalam satu penerbangan yang penuh dengan kehangatan, cinta, dan klaim kepemilikan mutlak yang tak akan pernah goyah oleh apa pun.
Deru mesin jet pribadi yang halus menjadi latar belakang yang konstan di dalam kabin mewah yang kedap suara itu. Pramugari baru saja selesai menyajikan makan siang premium, lalu kembali ke kompartemen belakang untuk memberikan privasi bagi keluarga penguasa dunia bawah ini.
Di sofa utama, Xaviero perlahan meletakkan cangkir kopinya. Ia melirik Xaviera yang rupanya sudah memejamkan mata, tertidur lelap dengan kepala bersandar di dada bidangnya. Wajah cantik istrinya tampak begitu damai, dengan helaian rambut hitam yang sedikit menutupi pipinya yang merona samar.
Dengan gerakan yang teramat hati-hati agar tidak membangunkan sang istri, Xaviero menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Xaviera, lalu mengangkat tubuh ramping itu ke dalam gendongannya. Ia berdiri, menatap tajam ke arah Riccardo yang baru saja mau membuka mulut untuk menggoda.
Isyarat mata Xaviero yang sedingin es langsung membuat Riccardo membungkam mulutnya sendiri rapat-rapat.
Xaviero membawa Xaviera berjalan menuju kamar tidur utama di bagian paling belakang jet. Begitu pintu kamar kedap suara itu tertutup, ia membaringkan Xaviera di atas kasur queen size yang empuk, menyelimutinya dengan hati-hati. Xaviero tidak langsung keluar. ia ikut berbaring di samping istrinya, menarik tubuh Xaviera ke dalam pelukan posesifnya dan ikut memejamkan mata, menikmati waktu istirahat yang sesungguhnya hanya bersama wanitanya. Tentu saja penyatuan tidak terlewat, Xaviero kan tidak mengenal tempat.
Sementara itu, di luar kamar, keheningan kabin mendadak terusik oleh gumaman kesal dari arah kursi Xander.
"Lepas, Kak Xander... tanganku pegal," bisik Axelian setengah memprotes, meskipun matanya sendiri sudah setengah terpejam karena kantuk yang menyerang akibat penerbangan panjang.
Xander tidak membalas dengan kata-kata. Sejak pengakuannya di paviliun, sisi posesif pria kaku ini tampaknya naik ke level yang berbeda. Bukannya melepaskan, Xander justru menarik Axel agar berbaring menyamping di atas kursinya yang berukuran besar, menyembunyikan tubuh model itu di dalam dekapannya dan menutupi mereka berdua dengan selimut rajut.
"Tidur, Axel. Berhenti mengeluh kalau tidak mau aku cium di depan Ayah," ancam Xander rendah, suaranya yang berat terdengar mutlak di dekat telinga Axel.
Axelian langsung menyurukkan wajahnya di dada bidang Xander, menyembunyikan rona merah padam di pipinya. Sifat tomboinya benar-benar lumpuh jika
Xander sudah mengeluarkan mode diktator romantisnya seperti ini. Tangan mungilnya diam-diam meremas kemeja Xander, mencari kenyamanan dari detak jantung pria yang kini telah mengklaim hidupnya seutuhnya.
.
.
.
Setelah penerbangan belasan jam membelah samudra, jet pribadi Keluarga Vargas akhirnya mendarat dengan mulus di landasan pacu pribadi milik Xaviero.
Sesuai dengan pembagian wilayah dan privasi masing-masing pasangan, rombongan besar itu perlahan memisahkan diri begitu tiba di daratan Spanyol. Xander membawa Axelian ke kediamannya sendiri.
Dominic bersama Xaviena, sementara Riccardo dan Clara langsung menuju kediaman mereka untuk mempersiapkan rencana pernikahan.
Iring-iringan mobil hitam antipeluru milik Xaviero membelah jalanan yang mulai lengang, membawa sang penguasa dan istrinya menuju ke mansion pribadi mereka yang terletak di kawasan eksklusif yang tenang dan terisolasi dari hiruk-pikuk kota.
Begitu gerbang besi tinggi terbuka, mansion megah dengan arsitektur modern klasik itu menyambut kedatangan mereka. Pelayan dan pengawal pribadi yang sudah berjaga langsung menunduk hormat saat pintu mobil dibuka oleh kepala pelayan.
Xaviero turun terlebih dahulu. Tanpa menunggu lama, ia berbalik dan langsung mengulurkan tangan besarnya yang hangat untuk menuntun Xaviera keluar dari mobil.
"Selamat datang kembali di rumah, Nyonya Vargas," bisik Xaviero rendah, mengecup sekilas punggung tangan istrinya saat mereka melangkah masuk melewati pintu utama yang menjulang tinggi.
Xaviera tersenyum manis, menghirup aroma familiar dari mansion mereka yang selalu terasa menenangkan.
Xaviero memberi kode dengan lambaian tangan singkat kepada kepala pelayan agar semua barang bawaan langsung dibawa ke kamar utama, sementara para pelayan diperintahkan untuk tidak mengganggu mereka sampai besok pagi.
Xaviero merangkul pinggang ramping Xaviera, menuntunnya menaiki tangga marmer menuju lantai atas di mana kamar utama mereka berada. Begitu pintu kamar ganda yang tebal itu terbuka, suasana hangat dan super nyaman langsung menyambut mereka. Ranjang berukuran king size dengan seprai sutra abu-abu gelap.
Xaviera langsung berjalan menuju balkon kamar yang luas, membuka pintu kaca geser dan membiarkan angin sore yang sejuk menerpa wajah cantiknya. Dari atas sini, pemandangan halaman belakang yang dipenuhi tanaman hijau dan kolam renang pribadi mereka terlihat begitu menenangkan.
Namun, ketenangannya tidak bertahan lama. Sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar erat di perutnya dari belakang. Xaviero menyandarkan dagunya di bahu Xaviera, memeluk istrinya dengan erat seolah menolak ada jarak sekecil apa pun di antara tubuh mereka.
"Udara di luar mulai dingin, Sayang. Jangan berdiri di sini terlalu lama," gumam Xaviero, suara beratnya terasa bergetar halus di dekat leher Xaviera.
Xaviera terkekeh renyah, menyandarkan seluruh bobot tubuhnya pada dada bidang kokoh sang mafia yang selalu terasa seperti dinding pelindung terbaiknya. Ia menggenggam jemari hangat Xaviero yang mengunci pinggangnya.
Xaviero membalikkan tubuh Xaviera dengan mudah hingga mereka kini saling berhadapan. Sepasang mata milik Xaviero menatap dalam-dalam wajah cantik yang tampak sedikit kuyu karena kelelahan jet lag.
Tanpa aba-aba, Xaviero kembali mengangkat tubuh Xaviera ke dalam gendongan bridal style-nya, membawa wanita itu berjalan menjauh dari balkon dan merebahkannya dengan teramat lembut di atas kasur yang empuk.
"Xavi..." lirih Xaviera, mengira suaminya akan kembali menuntut permainan panas seperti di jet tadi.
Namun kali ini, Xaviero mengejutkannya. Pria itu ikut naik ke atas ranjang, berbaring miring di samping Xaviera, lalu menarik tubuh istrinya masuk ke dalam dekapan hangatnya. Satu tangan kekar Xaviero beralih memijat lembut tengkuk dan bahu Xaviera dengan ritme yang pas, membantu melemaskan otot-otot istrinya yang tegang.
"Tidurlah, Sayang. Aku tidak akan melakukan apa-apa sekarang. Aku tahu kamu lelah," bisik Xaviero pekat, mengecup kening istrinya dengan sangat lama dan dalam, menyalurkan rasa cinta dan kepemilikan yang begitu menenangkan.
Mendapat perlakuan yang begitu manis dan penuh perhatian dari sang suami, rasa kantuk yang berat langsung menyerangnya.
Ia menyurukkan wajahnya di dada bidang Xaviero, memeluk pinggang suaminya erat-erat seolah mencari posisi paling nyaman di dunia.
"Terima kasih, Tuan Xavi... Aku mencintaimu," gumam Xaviera sangat pelan dengan mata yang sudah terpejam rapat.
Xaviero tersenyum miring. Sebuah senyuman tipis yang penuh dengan kepuasan dan kebahagiaan.
“Aku lebih mencintai mu, Sayang” Ia mempererat pelukannya, membungkus tubuh mereka berdua di bawah selimut tebal, dan ikut memejamkan mata, membiarkan malam pertama kepulangan mereka berlalu dalam keheningan.
badassss🤣👍
duuuh kalo liat cara kerja mafia ,,
ngeri2 sedaaap🤭🤭🤭🤭
ayooooo qta lihaat masa2 Xander bucin ke axel 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
sayang byk2 ,, 🫰🫰🫰🫰🫰
mafia juga manusia kn ,, bisa sakit ,, bisa manja ,, bisa Nangis juga ,, 🤭🤭🤭🤭 ,,
semoga kalian selalu bahagia ,, 😁😁
lanjuuuut kak ,,