Seorang putri Adipati menikahi putra mahkota melalui dekrit pernikahan, namun kebahagiaan yang diharapkan berubah menjadi luka dan pengkhianatan. Rahasia demi rahasia terungkap, membuatnya mempertanyakan siapa yang bisa dipercaya. Di tengah kekacauan, ia mengambil langkah berani dengan meminta dekrit perceraian untuk membebaskan diri dari takdir yang mengikatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Mentari pagi baru saja merekah, namun kediaman Adipati Cheng sudah dikejutkan dengan kedatangan tamu dari keluarga Jenderal Tang. Nyonya tua Tang, dengan tongkat berukir naga di tangannya, dan Nyonya Besar Tang, yang wajahnya tampak pucat pasi, bergegas menemui Cheng Xiao di paviliun utama.
Cheng Xiao, yang tengah menyesap teh paginya dengan tenang, terkejut mendapati kedua wanita dari keluarga Tang itu tiba-tiba berlutut di hadapannya. "Nona Cheng," suara Nyonya Tua Tang bergetar, "aku datang untuk memohon maaf atas perbuatan cucu kurang ajar kami."
Nyonya Besar Tang menambahkan dengan nada penuh penyesalan, "Keluarga Tang siap bertanggung jawab penuh atas segala kesulitan yang Nona Cheng dan tuan muda alami."
Cheng Xiao meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. "Nyonya, saya mampu membesarkan putra saya sendiri. Anda berdua tidak perlu khawatir. Saya tidak akan pernah mengungkap bahwa anak saya adalah keturunan keluarga Tang." Ucapnya dengan nada dingin.
Dalam hati, Cheng Xiao mengerti betul maksud kedatangan mereka. Selain untuk mengkonfirmasi kelahiran putra nya, mereka juga ingin memastikan ia bungkam selamanya. Bagaimanapun, ia adalah mantan menantu kekaisaran. Jika sampai tersebar kabar bahwa keluarga Tang terlibat dalam penyebab perceraiannya dengan Putra Mahkota, reputasi Jenderal Tang dan masa depan pernikahan para pewaris keluarga Tang akan hancur berantakan.
"Tidak, Nona Cheng, bukan itu maksud kedatangan kami," sela Nyonya Besar Tang dengan cepat, wajahnya memerah karena panik.
Cheng Xiao merasa muak dengan sandiwara ini. "Saya lelah dan ingin beristirahat," ujarnya seraya bangkit dan meninggalkan ruang tamu, tanpa mempedulikan tatapan memohon dari kedua wanita itu.
Adipati Cheng, yang sedari tadi hanya diam menyaksikan, menghela napas panjang. "Nyonya Tua, Nyonya Besar, maafkan atas ketidaksopanan putri saya. Ia masih sangat terpukul dengan kejadian yang menimpanya. Ia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri."
Nyonya Tua Tang menyeka air mata yang mulai membasahi pipinya. "Adipati, sungguh malang nasib anak-anak kita. Siapa sangka hubungan mereka akan berakhir seperti ini?"
Adipati Cheng kembali menghela napas, bahunya tampak merosot karena kelelahan. "Ini adalah pukulan berat bagi putri saya, Nyonya. Saya harap Anda bisa memahami."
Satu bulan berlalu, dan Cheng Xiao merasakan kehidupannya yang dulu berangsur-angsur kembali. Kedamaian yang sempat hilang kini mulai merayapi hatinya, mengisi kekosongan yang selama ini menganga.
"Nona, lukisan Anda sungguh menakjubkan!" puji Lian'er, dengan mata berbinar-binar. Ia membawa nampan berisi kudapan manis dan secangkir teh hangat, lalu meletakkannya di dekat Cheng Xiao.
Cheng Xiao sendiri tengah asyik melukis di taman belakang kediamannya. Objek lukisannya kali ini adalah putra kesayangannya, Cheng Xiao Lin, yang baru berusia satu bulan lebih dan sedang berbaring tenang di keranjang bayinya. "Benarkah begitu?" tanya Cheng Xiao, senyum tipis menghiasi bibirnya.
Lian'er mengangguk dengan semangat. "Tentu saja, Nona! Tuan muda Xiao Lin sangat menggemaskan, dan lukisan Anda benar-benar menangkap keindahan dan kepolosan bayi itu. Sungguh luar biasa!" seru Lian'er, tak henti-hentinya memberikan pujian.
Cheng Xiao tertawa kecil melihat antusiasme pelayannya itu. "Lian'er, bawa Xiao Lin masuk ke dalam, ya. Udara di luar sudah mulai dingin, dan dia tidak boleh terlalu lama berada di luar," ujar Cheng Xiao dengan nada lembut.
Lian'er mengangguk patuh. "Baik, Nona," jawabnya, lalu dengan hati-hati mengangkat keranjang bayi Xiao Lin untuk dibawa masuk ke dalam kediaman.
Selama satu bulan terakhir ini, kegiatan Cheng Xiao sehari-hari disibukkan dengan mengurus Xiao Lin. Sementara itu, ayahnya, Adipati Cheng, masih terus sibuk dengan urusan pemerintahan di istana. Cheng Xiao sendiri berulang kali menolak undangan acara penjamuan yang diadakan di istana, entah itu yang diadakan oleh para selir Kaisar, atau bahkan Permaisuri. Ia selalu punya alasan untuk menolak setiap undangan yang datang.
Tiba-tiba, seorang pelayan wanita menghampiri Cheng Xiao dengan wajah sedikit khawatir. "Nona, Permaisuri Pangeran Kedua datang dan ingin bertemu dengan Anda," ujar pelayan itu dengan nada hati-hati.
Tangan Cheng Xiao yang sedang lincah bergerak di atas kertas seketika terhenti. Su Jing Ying, Permaisuri Pangeran Kedua, sudah berulang kali datang dan menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan Cheng Xiao, namun ia selalu menolak kedatangan wanita itu.
"Usir saja. Katakan padanya aku tidak ingin bertemu dengan siapapun," perintah Cheng Xiao dengan nada dingin, tanpa mengalihkan pandangannya dari lukisannya.
Pelayan itu mengangguk patuh. "Baik, Nona," jawabnya, lalu bergegas pergi untuk menjalankan perintah nona mudanya.
"Maafkan kami, Yang Mulia Putri, namun nona muda kami tetap menolak kunjungan Anda," ujar pelayan kediaman Adipati dengan nada sopan namun tegas. Ia berdiri tegak di depan gerbang, menghalangi jalan Su Jing Ying.
"Aku mohon, biarkan aku bertemu dengan nona kalian barang sebentar saja," pinta Su Jing Ying, suaranya lirih dan penuh permohonan.
Pelayan itu benar-benar merasa jengah dan kesal. Hampir setiap hari Su Jing Ying datang, dan kehadirannya itu benar-benar mengganggu ketenangan nona mudanya. "Yang Mulia, harus berapa kali saya katakan? Nona muda kami tidak ingin bertemu dengan siapapun. Mohon pengertiannya," ujar pelayan itu pada akhirnya, berusaha menahan emosinya.
Mengingat kehidupan menyedihkan yang dialami nona mudanya di istana, sebelum akhirnya bercerai dengan Putra Mahkota, para pelayan kediaman Adipati menjadi sangat protektif dan memusuhi siapapun yang datang mencari Cheng Xiao, terutama jika mereka berasal dari istana dan berpotensi menyakiti wanita itu lagi.
"Tapi..." Kalimat Su Jing Ying kembali tertelan di tenggorokannya saat melihat kereta kuda Adipati Cheng berhenti tepat di depan gerbang kediaman. Jantungnya berdegup kencang, merasa gugup dan takut.
Tak lama kemudian, Adipati Cheng turun dari dalam kereta kudanya. Wajah pria itu tampak datar dan tanpa ekspresi, namun aura dingin dan tak bersahabat terpancar jelas saat matanya bertemu dengan Su Jing Ying. "Putri, sebaiknya Anda segera kembali ke istana, dan jangan pernah berharap untuk bertemu dengan putriku lagi. Kunjungan Anda hanya akan sia-sia," ujar Adipati Cheng dengan nada datar namun penuh penekanan.
"Tuan Adipati, aku mohon, berikan aku satu kesempatan saja untuk bertemu dengan Cheng Xiao. Aku hanya ingin berbicara dengannya," ujar Su Jing Ying, memohon dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Adipati Cheng mendengus sinis, menunjukkan ketidaksukaannya. "Putri, jangan biarkan pengorbanan yang telah dilakukan putriku untukmu menjadi sia-sia karena sikap keras kepala Anda. Anda tahu betul, bukan hanya Cheng Xiao yang saat ini benar-benar membenci Anda, tapi aku juga. Aku bisa saja menghancurkan kehidupan Anda di istana Pangeran Kedua dalam sekejap mata, jika Anda tetap memaksa dan mengganggu putriku. Jangan remehkan kekuatanku," ancam Adipati Cheng, yang sudah sangat muak dengan kehadiran wanita itu. Nada suaranya dingin dan menusuk, membuat Su Jing Ying bergidik ketakutan.
memberikan mahkota yg sangat berharga istrinya kepada orang lain, baru bilang cinta 🤦♀️😤
semangat up nya 💪
semangat up lagi 💪💪💪
Semangat thor 💪