ini adalah cerita tentang seorang anak laki-laki yang mencari jawaban atas keberadaannya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Suasana menegang.
Udara terasa berat, seolah paru-paruku diperas dari dalam. Aku menatap pria bernama Julian itu dengan tajam, rahangku mengeras. Adelia menggeram tertahan—meski tubuhnya nyaris tak sanggup berdiri. Darah masih membasahi bibirnya. Kelvin dan Luna membeku, wajah mereka pucat seperti disapu abu.
“Kenapa…” suara Kelvin bergetar, nyaris tak terdengar, “keluarga Adikara berdiri di samping kutukan itu?”
Julian terdiam sejenak.
Lalu—
“Hahaha!”
Tawanya meledak, keras dan penuh ejekan, memantul di pemisah ruang seperti suara besi dipukul palu.
“Apa kau masih belum mengerti?” katanya sambil menyeringai. “Tentu saja karena kutukan tingkat empat di sampingku ini—”
Ia menarik Ari lebih dekat.
“—adalah budakku.”
Kata itu jatuh seperti palu penghukum.
Kelvin dan Luna membelalak. Napas mereka tersendat. Adelia menggertakkan giginya, amarah dan kebencian bercampur jadi satu. Seolah sejak awal, ia sudah menduga ini semua.
Sementara Ari… tetap diam. Wajahnya kosong. Tidak membantah. Tidak bereaksi.
Julian merangkul bahu Ari dengan tangan kanannya, santai—terlalu santai.
“Pada awalnya,” lanjutnya, suaranya penuh kepuasan menjijikkan, “wanita ini terlahir kembali sebagai kutukan tingkat 10. Kebenciannya padaku begitu besar hingga membentuk inti jiwanya.”
Ia terkekeh.
“Tapi aku bertemu dengannya lebih dulu—tepat setelah kelahirannya sebagai kutukan. Dan sejak saat itu…”
Julian mengangkat satu jarinya.
“…aku menanamkan teknik keluarga Adikara.”
Nada suaranya berubah menjadi sombong.
“Boneka Berbaji Jiwa.”
Kelvin ternganga. Luna menahan napas.
“Teknik mutlak,” lanjut Julian, “yang menancapkan baji kutukan ke inti jiwa target. Membentuk identitas palsu sebagai budak, membuka jalur kendali dua arah. Aku bisa melihat, mendengar—dan memerintahnya kapan pun aku mau.”
Julian meraba dada Ari tanpa rasa malu, jemarinya menekan seolah memastikan sesuatu yang memang sudah menjadi miliknya.
Lalu—
ia menjilat pipi Ari dengan senyum mesum yang menjijikkan.
“Ah—”
Ari tersentak kecil. Wajahnya memerah, pipinya berkilat karena panas yang tiba-tiba membara. Matanya membelalak sekejap, lalu menunduk, seolah ingin menahan sesuatu yang menggelegak di dalam dirinya. Bibirnya sedikit terbuka, napas tersendat, dan desahan tipis lolos tanpa bisa ia kendalikan—bukan karena paksaan Julian, tapi refleks yang telah tertanam terlalu dalam.
Tubuh Ari bergetar halus, jemarinya mencengkram ujung seragamnya sendiri sekuat tenaga, mencoba menahan dorongan yang berapi-api untuk menyerah pada hasratnya sendiri. Dadanya naik-turun cepat, seakan jantungnya menolak untuk tenang. Setiap inci tubuhnya merasakan kombinasi antara takut, marah, dan keinginan yang mendesak—ingin menyerah pada hasrat itu secepat mungkin, tapi terhalang oleh realitas pertarungan yang sedang berlangsung.
Matanya menatap sekilas ke arahku, bibirnya gemetar, ada kilatan kebingungan dan penderitaan di sana, seakan memohon tanpa kata, sambil berjuang menahan sesuatu yang tidak bisa ia lepaskan.
Udara di sekitar kami membeku.
Kelvin mengepalkan tangan.
Luna memalingkan wajahnya dengan rahang mengeras.
Adelia gemetar karena marah.
Julian tertawa kecil, puas.
“Dulu dia hanya kutukan lemah,” katanya santai, seolah sedang membicarakan barang rusak. “Tapi tubuhnya? Sempurna. Sangat cocok untuk memuaskan hasratku kapan pun aku mau.”
Ia merangkul Ari lebih erat.
“Kami melakukannya setiap hari.
Setiap minggu.
Setiap bulan.
Setiap tahun.”
Suaranya semakin menjijikkan.
“Wanita yang mati dan terlahir kembali sebagai kutukan demi membalas dendam padaku… sekarang malah menjadi budak seksku sendiri.”
Hahaha.
Tawanya menggema, penuh ejekan dan kemenangan.
“Aku memperkosanya. Berulang kali.
Sampai dia hancur.
Sampai kebenciannya berubah bentuk.”
Julian menyeringai.
“Sekarang dia adalah kutukan yang dipenuhi hasrat. Tidak bisa hidup tanpa menyentuh, tanpa memiliki, tanpa menginginkan tubuh orang lain.”
Ia mengangguk puas.
“Identitas barunya pun lahir. Dari kutukan pembalasan… menjadi sesuatu yang jauh lebih menyenangkan.”
Ia berpikir sejenak, lalu tertawa lagi.
“Kalau harus ku beri nama—
‘Kutukan Pelacur’ terdengar cocok.”
Hahahaha.
Tawa itu menusuk telinga.
“Dan berkat identitas barunya,” lanjut Julian, “setiap kali dia tidur dengan pria, dia menyerap hasrat, energi, dan emosi mereka. Semua itu menjadi miliknya.”
Ia menatap Ari.
“Itulah sebabnya dia sekarang berada di tingkat 4.”
Hening.
Kelvin dan Luna menatap Julian dengan jijik yang tak disembunyikan.
“Dasar sampah,” desis Adelia, giginya bergemeletuk menahan amarah.
Dadaku panas.
Tanganku mengepal.
“BAJINGAN!” teriakku.
Semua mata menoleh ke arahku.
“Aku akan menghajarmu!” Aku meronta, berusaha melepaskan diri dari rantai merah muda yang membelengguku.
KRAK—KLANG!
Rantai itu hanya bergetar, tidak bergeming.
Julian mendengus.
“Huuuh…”
Ia menatapku dengan jijik.
“Kau berisik sekali, bangsat,” katanya dingin. “Kau hanya manusia rendahan. Beraninya berbicara seperti itu padaku.”
Lalu, tanpa emosi—
“Ari. Bunuh dia.”
Ari tersentak.
“Ta—tapi, tuan…”
“Jangan membuatku mengulanginya!” bentak Julian tajam.
Tubuh Ari menegang.
Teknik keluarga Adikara mencengkeram jiwanya.
Bibir dan tangannya gemetar hebat.
Namun perlahan—
tatapannya menjadi kosong.
Ia melangkah ke arahku.
Kabut bulat berwarna merah muda terbuka di sampingnya. Dari dalamnya, ujung rantai runcing muncul perlahan, berkilau dingin.
“Ari—!” Adelia memaksakan diri berdiri.
Kelvin menyelimuti tubuhnya dengan petir.
Luna membentuk tombak darah dengan wajah panik.
Tangan Ari terangkat.
Bibirnya bergetar. Kata-kata tersangkut di tenggorokan.
Air mata mengalir deras di pipinya.
Ia tidak ingin melakukan ini.
Namun ia tidak bisa melawan.
Aku menatapnya—
dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihat penderitaannya.
“Maaf… Arya…”
Suaranya pecah.
Tangannya mengayun.
Rantai tombak itu melesat.
JLEB.