Cinta sejati seharusnya hanya terjadi sekali dalam hidup. Tapi bagi Alia, cinta itu datang berkali-kali, di dunia yang berbeda, dengan waktu dan takdir yang terus berganti.
Sejak kematian suaminya, Arya, hidup Alia telah kehilangan warna. Hingga suatu malam, alam semesta seolah mendengar jerit hatinya, Alia pun bertransmigrasi ke dunia paralel di mana Arya masih hidup.
Yang ajaib, Alia tidak hanya bertransmigrasi ke satu dunia paralel, melainkan dia terus berpindah-pindah ke berbagai dunia yang berbeda.
Di satu dunia paralel, Alia adalah sekretaris dan Arya adalah seorang CEO. Di dunia lainnya, dia remaja SMA sementara Arya adalah kakak kelas yang populer. Bahkan, ada dunia di mana ia menjadi seorang tante-tante sedangkan Arya masih seorang berondong muda. Dan masih banyak lagi situasi paralel yang lainnya.
Ini adalah perjalanan seorang wanita yang tak pernah bosan membuat pria yang sama jatuh cinta.
Jadi mari kita ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arc Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh-Musuh Alia
Malam di hari di mana Arya bereuni dengan Dela.
Dela yang dapat penolakan keras, sekarang berada di sebuah klub malam. Dia duduk lemas sementara ada berbagai botol berwarna-warni di meja dekatnya. Kepala dia sudah sangat pusing, tapi semakin tambah pusing setiap kali mengingat wanita yang tadi siang mengancamnya.
Dasar wanita barbar! Bagaimana bisa Arya menyukai wanita seperti dia!
Mungkin Arya diancam sehingga dia tak bisa menolak!
Dela selama hampir satu jam hanya duduk sendiri bertemankan botol-botol perusak ginjal. Sampai akhirnya ada seorang pria datang. Pria ini berjalan tak stabil, dia pincang, itu dikarenakan salah satu kakinya yang menekuk secara tidak wajar.
"Dela? Lu balik ke kota ini? Gue kira lu udah menikmati hidup di luar negeri sama si bule itu!"
"Berisik lu! Pergi sana!"
"Jangan begitu! Kita ini kan teman lama." Si pria pincang duduk di sebelah Dela, kemudian salah satu tangannya melingkar di pinggang Dela. "Bahkan kita udah berkali-kali main di ranjang bareng!"
"...."
"Jadi gimana? Apa pria bule itu beneran ninggalin lu!?"
"...."
Dela enggan menjawab.
"Hahahahaha! Dulu kan gue udah bilang, kalau lu mau pernikahan yang normal, jangan tinggalin Arya! Tapi lu malah bandel dan kepincut ama pisang si bule." Si pria pincang lanjut berbisik. "Emang pisang si bule segede apa? Apa lebih gede dari punya gue!"
Dela mendorong wajah si pria pincang menjauh. "Hmph! Jelas punya dia lebih gede! Punya lu mah kecil dan gak tahan lama."
"Hei, punya gue memang kecil, tapi sebelum ketemu ama si bule, yang memberi lu kepuasan kan gue." Dia mengecup pipi Dela. "Karena Arya adalah pria tradisional yang gak akan nyentuh lu sebelum nikah, jadinya kan harus gue yang memenuhi hasrat lu itu."
".. Oke oke, apa sih mau lu!? Kalau lu mau ngajak gue ke hotel, tunggu dulu! Gua masih belum puas minumnya."
Pria pincang ini memiliki nama Hadi. Dan Hadi pun tersenyum mendengar ucapan Dela.
"Oke, gue temenin dulu lu minum. Setelah itu, baru kita bersenang-senang seperti dulu lagi, oke?"
Kedua orang ini pun lanjut tak henti membahasi tenggorokan mereka dengan cairan 'panas' berwarna-warni. Semakin lama, kesadaran mereka kian menipis pula.
Mereka duduk berpelukan, terkadang juga berciuman sampai saling pegang sana-sini.
Di tengah semua itu, obrolan dengan suara mendayu serta sengau berlangsung.
"Jadi alasan lu ada di kota ini adalah supaya bisa balik lagi dengan Arya?" Hadi mengelus-ngelus paha Dela. "Kayaknya itu susah deh. Mana ada pria yang mau nerima cewek yang udah berselingkuh?"
"Enggak! Gue yakin bisa mendapatkan Arya lagi! Gue tahu Arya itu seperti apa! Masalahnya, sekarang ada cewek gila di dekat Arya. Gue jadi bakal susah ngedeketin dia."
"Cewek gila?"
"Nama dia itu ... Alia Pratama kalau gak salah. Dia sangat gila karena sampai mengancam mau ngelempar gue keluar jendela."
"Apa!? Alia Pratama!?" Hadi yang dari tadi berwajah santai berubah drastis menjadi tegang.
"Hm? Lu kenal dengan cewek ini?" tanya Dela penasaran.
"Ya jelas kenal lah!" Hadi mengangkat satu kakinya yang pincang. "Dia itu cewek yang dulu pas kuliah matahin kaki gue!"
"!?" Giliran Dela yang kaget. Dia pun jadi makin takut pada Alia. "Jadi cewek yang hampir mau lu perk*sa itu Alia."
Dela memang sempat mengetahui masa lalu Hadi saat kuliah. Yang tak di sangka, wanita yang dulu jadi target Hadi sekarang malah jadi pacarnya Arya.
"Apaan!? Gue bukan mau merk*sa dia! Gue cuma mau membantu dia merasakan nikmatnya dunia. Tapi dia malah marah dan matahin kaki gue."
Dela mengerutkan keningnya. "Tapi gue masih gak ngerti kenapa lu membiarkan Alia begitu aja. Apa lu gak kepikiran buat balas dendam?"
"Ya jelas gua kepikiran. Tapi setelah kejadian pas kuliah waktu itu, pihak polisi hampir terlibat. Kalau ayah gue gak punya kuasa, gue udah bakal mendekam di penjara." Setiap ingat masa lalu, emosi Hadi selalu menggebu. "Keluarga gue dengan keluarga Alia udah buat kesepakatan, bahwa mereka akan mencabut laporan polisi selama gua gak menggangu Alia lagi. Gue pun juga gak punya pilihan karena diancam bokap."
Dela berkata, "Tapi kan sekarang bokap lu udah mati."
"Itu ... Bener juga! Kenapa gue baru kepikiran! Gak seperti bokap, nyokap gue itu pasti bakal ngedukung gue kalau mau balas dendam."
Senyum jahat terbentuk di wajah Hadi. Otaknya yang terpengaruhi alk*hol membuat pikiran dia liar.
Dela pun melihat kesempatan untuk menyingkirkan Alia dari Arya. "Kalau begitu ayo balaskan dendam lu! Kita bisa kerjasama untuk membuat hidup Alia ancur!"
"Hahahahahaha! Bener! Gue masih gak bisa lupa tubuh seksi Alia sampai sekarang. Gue gak akan mati dengan tenang kalau belum merasakan tubuhnya itu!"
"...."
Dela punya motif kuat untuk mendukung Hadi. Sebab di saat Hadi mendapatkan yang ia mau, Dela bisa leluasa menaklukkan hati Arya lagi.
"Gue jadi nafsu nih. Ayo kita ke hotel sekarang!" Hadi mendekap tubuh Dela. Mata dan wajahnya sudah sangat merah.
"Sama, gue juga!" Dela mengiyakan ajakan itu dengan senang hati.
Dua musuh Alia ini ternyata saling kenal dan beraliansi.
Pertanyaannya, apakah mungkin Alia bisa menghadapi niat jahat mereka?
...****************...
Dua hari kemudian.
Di satu sore, Alia yang baru mau keluar gedung perusahaan hendak pulang, dihentikan oleh panggilan seorang satpam.
"Bu Alia, ada surat untuk Anda," ucap si satpam.
Alia menerima surat dalam keadaan bingung. Tapi setelah membuka surat itu lalu membacanya, dia malah tambah tak paham.
Apa yang wanita ini mau?
Surat dari amplop putih polos ini ternyata berasal dari Dela. Di kertas dalam amplop, tertulis kalau Dela mau bertemu dengannya empat mata.
Dela sampai meninggalkan satu kalimat ancaman di akhir surat.
"Kalau kau tidak datang, masa lalumu saat kuliah akan aku beritahukan kepada Arya."
Mata Alia berubah tajam. Ancaman Dela ini membuat pikirannya berspekulasi sana-sini.
Pasti dia merencanakan sesuatu supaya bisa menyingkirkan ku.
Tebak Alia.
Tapi bagaimana pun, tantangan itu tetap Alia terima. Dia ingin sesegera mungkin menyelesaikan masalah dengan Dela, supaya wanita gatal ini tak lagi muncul di hidup Arya.
Alia percaya diri mampu mengatasi Dela sendiri. Yang Alia belum tahu, Dela yang menunggu kedatangannya tidaklah sedang sendiri.