NovelToon NovelToon
Setelah Aku Pergi

Setelah Aku Pergi

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:103.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Eys Resa

Follow IG othor @ersa_eysresa

Anasera Naraya dan Enzie Radeva, adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Namun tepat di hari pernikahan, sebuah tragedi terjadi. Pesta pernikahan yang meriah berubah menjadi acara pemakaman. Tapi meskipun begitu, pernikahan antara Ana dan Enzie tetap di laksanakan.

Namun, kebahagiaan pernikahan yang diimpikan oleh Ana tidak pernah terjadi. Karena bukan kebahagiaan yang dia dapatkan, tapi neraka rumah tangga yang ia terima. Cinta Enzie kepada Ana berubah menjadi benci di waktu sama.

Sebenarnya apa yang terjadi di hari pernikahan mereka?
Apakah Ana akan tetap bertahan dengan pernikahannya atau menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hidup Baru

Pagi-pagi sekali, Sera Valencia, atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Ana, sudah berdiri di depan cermin, mengulas senyum kecil. Apartemen barunya terasa seperti bungkus hadiah yang perlahan ia buka, mewah, aman, dan dipenuhi impian masa depan. Dinding-dindingnya yang berwarna krem lembut, jendela besar yang menyuguhkan pemandangan kota Paris, semuanya terasa jauh dari bayangan abu-abu dan rasa sakit dari kehidupan lamanya.

Namun, yang paling dekat justru adalah Fabian. Hanya terpisah oleh koridor selebar tiga langkah.

Ia mengenakan blazer sederhana dan celana panjang berwarna gelap, pilihan yang disarankan Fabian untuk hari pertamanya. Rambut cokelatnya yang baru dicat terurai rapi, menutupi bekas-bekas masa lalunya.

Tepat pukul 07.30, bel pintunya berbunyi. Itu pasti Fabian, selalu tepat waktu.

"Selamat pagi, Asisten Sera," sapa Fabian dengan senyum cerah, memegang dua cangkir kopi panas dan croissant di tangan satunya.

"Pagi, Bos," balas Sera, menerima salah satu cangkir kopi. Aroma kopi Arabika Paris yang kuat langsung membuatnya terjaga. "Aku sudah siap. Bagaimana penampilanku?"

"Sempurna. Pakaian itu membuatmu terlihat sangat profesional dan... Paris," puji Fabian, matanya menunjukkan rasa bangga. "Aku sudah mendaftarkanmu untuk kursus intensif bahasa Prancis di pusat kota. Tiga kali seminggu, setelah jam kerja. Kita harus membuat 'Sera Valencia' fasih berbahasa Prancis."

Sera merasa terharu sekaligus tertantang. "Terima kasih, Bian. Aku akan berusaha dengan keras."

Di kantor Fabian, yang merupakan firma konsultasi manajemen dengan klien internasional, Sera langsung tenggelam dalam kesibukan. Meja kerjanya berada tepat di luar ruangan Fabian. Tugasnya tidak hanya mengatur jadwal, tetapi juga mendampingi Fabian dalam rapat-rapat, mencatat, dan mulai berinteraksi dengan para klien serta direktur-direktur perusahaan.

Fabian dengan sengaja selalu memperkenalkan Sera sebagai "Asisten Pribadi yang Baru dan Sangat Kompeten," memastikan ia terlibat dalam percakapan bisnis.

"Sera, bagaimana menurutmu tentang proyek merger ini, dari sudut pandang efisiensi operasional?" tanya Fabian suatu kali, melemparkan pertanyaan padanya di depan seorang klien besar dari Dubai.

Sera, yang sudah membaca ringkasan proyek itu tadi malam, menarik napas. "Menurut saya, Tuan, efisiensi bisa ditingkatkan jika divisi logistik dan pemasaran digabungkan di tahap awal. Ini akan memotong biaya koordinasi antar-divisi sebanyak $X juta per kuartal. Namun, perlu ada pelatihan intensif untuk menyamakan budaya kerja kedua tim."

Klien itu menatap Sera dengan takjub. "Analisis yang tajam, Nona Valencia."

Sera merasa gembira. Ia tidak hanya menjadi dekorasi di samping Fabian, dia benar-benar bekerja dan kontribusinya diakui. Fabian tersenyum puas di sampingnya.

"Aku tahu, aku memilih orang yang tepat," bisiknya.

Keseharian Sera di Paris berputar di antara kantor Fabian, kelas bahasa Prancis yang menuntut, dan malam hari yang sering dihabiskan bersama Fabian di apartemen. Karena apartemen mereka hanya berjarak tiga langkah, undangan makan malam dari Fabian hampir menjadi ritual harian.

"Makan malam hari ini, aku yang masak. Steak frites," ujar Fabian sambil memegang kunci unitnya, ketika mereka kembali dari kantor.

"Baiklah. Aku tidak akan menolak," jawab Sera, sambil mengeluarkan kunci apartemennya.

Di salah satu malam, saat mereka sedang makan blanquette de veau (rebusan daging sapi muda khas Prancis) yang lezat buatan Fabian, Sera membuka diri dan menceritakan apa yang dia rasakan.

"Aku semakin terbiasa, Fab. Tetapi terkadang, bayangan Enzi... dia muncul. Apakah yang aku lakukan ini benar?"

Fabian meletakkan garpunya. "Dengarkan aku, Sera. Apa yang dia lakukan padamu, pengkhianatan dan pengabaiannya, hampir membunuhmu secara mental. Sekarang Kamu memilih untuk tetap hidup. Kamu memilih kesempatan kedua. Itu adalah hal yang paling benar yang bisa kamu lakukan. Dan, jika suatu saat nanti kamu merasa cukup kuat untuk kembali ke Indonesia dan menghadapinya, aku akan bersamamu. Tapi untuk saat ini, fokuslah pada Sera Valencia. Dia sedang membangun kerajaan barunya."

Fabian selalu memberinya nasehat tanpa menghakimi, dan membantu Sera untuk bangkit dan bisa mandiri. Dia membiarkan Sera kemanapun dia suka tanpa mengenangnya, tetapi selalu memastikan ponselnya aktif dan mengetahui lokasinya. Dia membiarkan Sera membangun relasi bisnis, tetapi selalu mengecek latar belakang orang yang ditemui Sera.

Kedekatan mereka tumbuh secara alami. Diawali dari sebuah persahabatan dan kini menjadi rekan kerja dan tetangga. Entah kelak akan berkembang sejauh mana.

*************

Jauh di Jakarta, hidup Enzi seperti berada dalam film hitam-putih. Ia melakukan rutinitasnya tanpa warna, tanpa gairah.

Kantor adalah tempat pelariannya dari bayang-bayang Ana, Namun rumah adalah tempat penyiksaan baginya. Melihat rumah itu kosong tanpa nyonya rumah, menjadikan rasa bersalah itu kembali datang. Dia akan duduk di sofa ruangan keluarga dan melihat bayangan Ana sedang, membaca buku atau tertidur saat menunggunya pulang.

Arvin telah mengambil alih peran sebagai direktur operasional tidak resmi. Dia menghadiri rapat, menganalisis proyek, dan menutup setiap kerugian yang timbul dari keputusan Enzi yang tidak fokus.

"Kita hampir kehilangan proyek energi baru itu, Zie! Kau tahu berapa besar dampaknya pada harga saham kita?" hardik Arvin suatu sore di ruang kerja Enzi.

Enzi, yang sedang menatap foto pernikahannya dengan Ana, hanya bisa bergumam. "Aku tidak peduli, Vin. Uang... uang tidak bisa mengembalikan Ana."

"Tentu saja tidak! Tapi tanggung jawabmu pada ribuan orang itu nyata! Kau adalah pemimpin, Zie! Bertanggung jawablah!" Arvin menarik kursi dan duduk di depan Enzi. "Kau harus mencari bantuan. Rasa bersalah ini mencekikmu. Kau sudah kehilangan Ana, jangan kehilangan nyawamu juga."

Melihat temannya semakin terpuruk, Arvin akhirnya memaksa Enzi untuk berobat ke psikolog untuk konsultasi masalah depresi yang mungkin dia alami. Awalnya Enzi menolak, karena dia merasa masih waras. Tapi melihat hidupnya yang semakin kacau akhirnya Enzi setuju, bukan karena ingin sembuh, tetapi karena ingin menghentikan omelan Arvin.

Kunjungan pertama Enzi ke psikiater adalah sebuah kegagalan. Ia hanya duduk diam, sesekali menjawab dengan gumaman. Tetapi Arvin tidak menyerah. Dia selalu ada untuk menjemput Enzi dari sesi terapi, membawanya makan malam, dan memaksanya untuk tetap menjalani hidup.

"Aku merasa seperti pembunuh, Dokter," akhirnya Enzi mengaku dalam beberapa sesi terapi yang dia jalani. "Aku membunuhnya. Aku membuatnya putus asa. Kata-kata kasarku, keegoisanku, pengkhianatanku... Aku sudah membakar istriku sendiri."

Psikiater mendengarkan dengan sabar. "Pak Enzi, Anda tidak membakar istri anda. Anda tidak menyebabkan kecelakaan itu. Tetapi Anda harus mengakui bahwa Anda telah menyebabkan luka emosional yang dalam. Rasa bersalah ini adalah reaksi alami dari cinta dan penyesalan Anda. Kita harus belajar bagaimana hidup dengannya, dan mengarahkan energi itu menjadi sesuatu yang produktif, sebagai penghormatan pada istri anda." sebuah nasehat bijak dari sang dokter.

Mendengar itu mungkin hati Enzi sedikit tenang dan menghilangkan sedikit rasa bersalahnya. Ya hanya sedikit saja, karena perasaan bersalah itu masih cukup besar menganga di dalam hatinya.

Perlahan, Enzi mulai mencoba. Ia memaksa dirinya melihat presentasi, mencoba membaca laporan, dan sesekali memberikan instruksi yang rasional. Dia mencoba bangkit dengan perlahan.

Suatu malam, Enzi mengirim pesan kepada Arvin. "Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana harus hidup tanpanya, tapi aku tahu aku tidak bisa hidup tanpamu juga. Maafkan aku atas kekacauan ini."

" Kita melewatinya bersama, Zie. Sekarang, tidurlah. Besok kita punya rapat penting."

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
happy endings 😍😍😍
Heni Setiyaningsih
pria dewasa tapi kayak remaja labil 😲
Heni Setiyaningsih: gitu kok bisa jadi pemimpin perusahaan
total 1 replies
Marina Tarigan
good very good happy ending
Marina Tarigan
kok jadi penghianat Lisa lamu ydk tahu hidup Enzi secara nyata fia hancur ke ttk terendah hidupny a enxi. sangat 2 menderita kamu nerulah demi cintamu dia sdh mati rasa yg namanya cinta
Marina Tarigan
aidan tdk akan diambil paksa oleh Enzi biarkan dia memeluk anaknya demi anakmu dan enzi walaupun dia meninghal dlm penuh pemyesalan supsya kamu juga tdk merada bersalah seumur hidupmu okuti perkayaan suamimu
Marina Tarigan
bisrkan enzi memeluk anaknya yg terachir zana enzi tdk mengambil anakmu biar enzi puas memeluk anaknya senelum hifupnya berschir kebenarsm tdk bisa ditutupi selamanys demi Aidan juga
Marina Tarigan
memang kesalahanmu sangat fstal enji biatkan anakmu bersama ibunya dan ayahnya percayalah sesdh besar nanti dia akan mencari kebenaran Sera bukan istrimu dia tdk mungkin kembali pfmu dia sdh punya kelusrga sendiri
Marina Tarigan
oo rupanya afa udang dibalik kelamnu ya kamu mencintai enji hati2 nak kupikir dari bab2 terdahulu kamu super segalanya jgn tambah masallah ikuti alurnya jgn maksa kehendak enji belum pernah melihat kamu sebagai wanita
Marina Tarigan
yg terpenting Enzi sdh tahu bahwa Aidan adalah darah dagingnya tapi jgn dipaksa merebutnya bisrkan dia dewada dan Ana itu tdk bisa kembali pd Enzi karena sdh cerai
Marina Tarigan
gimanapun Enzi berhak darah dagingnya walau bagaimanapun lama kelamaan pasti terkuak memang Ana walau bagaimanapun tdk bisa balik sm Enki ksrena putusan perceraian dari pengadilan sah
Marina Tarigan
semoga kamu akan baik dan sembuh total Enzi kita sebensrnya kasihan sm kamu perbuatanmu dulu diluar nalar sm Anna yg kamu cintai sebensrnya semuanya menyakiti nya lahir batin semoga kamu dpt wanita seperti Ana lagi bukan wsnita jalang seperti Amel
Marina Tarigan
kok ana meninggal sih
Marina Tarigan
ana patuh lah sm Drakula dgn taktik yg jitu utk apa melawan tekat sdh bulat
Marina Tarigan
begitu dong jgn mau disakiti terus pergi jsuh
Marina Tarigan
lanjut enzi suka2mu terserah kamu saja
Marina Tarigan
berkinisambungan thour jgn bolak nalik terus kekerasan yg nerulang 2 itu tdk baik
Marina Tarigan
model kaya Amel semua pelacur mau menggaet prria berduit jgn kau lampiaskan pd idtrimu biadap
Marina Tarigan
jgn mau ditindas Ana kau juga bisa hixup semdiri
Marina Tarigan
semoga Ana cepat terlepas dari psikopat dadakan itu pafuka Enzi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!