NovelToon NovelToon
Setelah Aku Pergi

Setelah Aku Pergi

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:45.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Follow IG othor @ersa_eysresa

Anasera Naraya dan Enzie Radeva, adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Namun tepat di hari pernikahan, sebuah tragedi terjadi. Pesta pernikahan yang meriah berubah menjadi acara pemakaman. Tapi meskipun begitu, pernikahan antara Ana dan Enzie tetap di laksanakan.

Namun, kebahagiaan pernikahan yang diimpikan oleh Ana tidak pernah terjadi. Karena bukan kebahagiaan yang dia dapatkan, tapi neraka rumah tangga yang ia terima. Cinta Enzie kepada Ana berubah menjadi benci di waktu sama.

Sebenarnya apa yang terjadi di hari pernikahan mereka?
Apakah Ana akan tetap bertahan dengan pernikahannya atau menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hidup Baru

Pagi-pagi sekali, Sera Valencia, atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Ana, sudah berdiri di depan cermin, mengulas senyum kecil. Apartemen barunya terasa seperti bungkus hadiah yang perlahan ia buka, mewah, aman, dan dipenuhi impian masa depan. Dinding-dindingnya yang berwarna krem lembut, jendela besar yang menyuguhkan pemandangan kota Paris, semuanya terasa jauh dari bayangan abu-abu dan rasa sakit dari kehidupan lamanya.

Namun, yang paling dekat justru adalah Fabian. Hanya terpisah oleh koridor selebar tiga langkah.

Ia mengenakan blazer sederhana dan celana panjang berwarna gelap, pilihan yang disarankan Fabian untuk hari pertamanya. Rambut cokelatnya yang baru dicat terurai rapi, menutupi bekas-bekas masa lalunya.

Tepat pukul 07.30, bel pintunya berbunyi. Itu pasti Fabian, selalu tepat waktu.

"Selamat pagi, Asisten Sera," sapa Fabian dengan senyum cerah, memegang dua cangkir kopi panas dan croissant di tangan satunya.

"Pagi, Bos," balas Sera, menerima salah satu cangkir kopi. Aroma kopi Arabika Paris yang kuat langsung membuatnya terjaga. "Aku sudah siap. Bagaimana penampilanku?"

"Sempurna. Pakaian itu membuatmu terlihat sangat profesional dan... Paris," puji Fabian, matanya menunjukkan rasa bangga. "Aku sudah mendaftarkanmu untuk kursus intensif bahasa Prancis di pusat kota. Tiga kali seminggu, setelah jam kerja. Kita harus membuat 'Sera Valencia' fasih berbahasa Prancis."

Sera merasa terharu sekaligus tertantang. "Terima kasih, Bian. Aku akan berusaha dengan keras."

Di kantor Fabian, yang merupakan firma konsultasi manajemen dengan klien internasional, Sera langsung tenggelam dalam kesibukan. Meja kerjanya berada tepat di luar ruangan Fabian. Tugasnya tidak hanya mengatur jadwal, tetapi juga mendampingi Fabian dalam rapat-rapat, mencatat, dan mulai berinteraksi dengan para klien serta direktur-direktur perusahaan.

Fabian dengan sengaja selalu memperkenalkan Sera sebagai "Asisten Pribadi yang Baru dan Sangat Kompeten," memastikan ia terlibat dalam percakapan bisnis.

"Sera, bagaimana menurutmu tentang proyek merger ini, dari sudut pandang efisiensi operasional?" tanya Fabian suatu kali, melemparkan pertanyaan padanya di depan seorang klien besar dari Dubai.

Sera, yang sudah membaca ringkasan proyek itu tadi malam, menarik napas. "Menurut saya, Tuan, efisiensi bisa ditingkatkan jika divisi logistik dan pemasaran digabungkan di tahap awal. Ini akan memotong biaya koordinasi antar-divisi sebanyak $X juta per kuartal. Namun, perlu ada pelatihan intensif untuk menyamakan budaya kerja kedua tim."

Klien itu menatap Sera dengan takjub. "Analisis yang tajam, Nona Valencia."

Sera merasa gembira. Ia tidak hanya menjadi dekorasi di samping Fabian, dia benar-benar bekerja dan kontribusinya diakui. Fabian tersenyum puas di sampingnya.

"Aku tahu, aku memilih orang yang tepat," bisiknya.

Keseharian Sera di Paris berputar di antara kantor Fabian, kelas bahasa Prancis yang menuntut, dan malam hari yang sering dihabiskan bersama Fabian di apartemen. Karena apartemen mereka hanya berjarak tiga langkah, undangan makan malam dari Fabian hampir menjadi ritual harian.

"Makan malam hari ini, aku yang masak. Steak frites," ujar Fabian sambil memegang kunci unitnya, ketika mereka kembali dari kantor.

"Baiklah. Aku tidak akan menolak," jawab Sera, sambil mengeluarkan kunci apartemennya.

Di salah satu malam, saat mereka sedang makan blanquette de veau (rebusan daging sapi muda khas Prancis) yang lezat buatan Fabian, Sera membuka diri dan menceritakan apa yang dia rasakan.

"Aku semakin terbiasa, Fab. Tetapi terkadang, bayangan Enzi... dia muncul. Apakah yang aku lakukan ini benar?"

Fabian meletakkan garpunya. "Dengarkan aku, Sera. Apa yang dia lakukan padamu, pengkhianatan dan pengabaiannya, hampir membunuhmu secara mental. Sekarang Kamu memilih untuk tetap hidup. Kamu memilih kesempatan kedua. Itu adalah hal yang paling benar yang bisa kamu lakukan. Dan, jika suatu saat nanti kamu merasa cukup kuat untuk kembali ke Indonesia dan menghadapinya, aku akan bersamamu. Tapi untuk saat ini, fokuslah pada Sera Valencia. Dia sedang membangun kerajaan barunya."

Fabian selalu memberinya nasehat tanpa menghakimi, dan membantu Sera untuk bangkit dan bisa mandiri. Dia membiarkan Sera kemanapun dia suka tanpa mengenangnya, tetapi selalu memastikan ponselnya aktif dan mengetahui lokasinya. Dia membiarkan Sera membangun relasi bisnis, tetapi selalu mengecek latar belakang orang yang ditemui Sera.

Kedekatan mereka tumbuh secara alami. Diawali dari sebuah persahabatan dan kini menjadi rekan kerja dan tetangga. Entah kelak akan berkembang sejauh mana.

*************

Jauh di Jakarta, hidup Enzi seperti berada dalam film hitam-putih. Ia melakukan rutinitasnya tanpa warna, tanpa gairah.

Kantor adalah tempat pelariannya dari bayang-bayang Ana, Namun rumah adalah tempat penyiksaan baginya. Melihat rumah itu kosong tanpa nyonya rumah, menjadikan rasa bersalah itu kembali datang. Dia akan duduk di sofa ruangan keluarga dan melihat bayangan Ana sedang, membaca buku atau tertidur saat menunggunya pulang.

Arvin telah mengambil alih peran sebagai direktur operasional tidak resmi. Dia menghadiri rapat, menganalisis proyek, dan menutup setiap kerugian yang timbul dari keputusan Enzi yang tidak fokus.

"Kita hampir kehilangan proyek energi baru itu, Zie! Kau tahu berapa besar dampaknya pada harga saham kita?" hardik Arvin suatu sore di ruang kerja Enzi.

Enzi, yang sedang menatap foto pernikahannya dengan Ana, hanya bisa bergumam. "Aku tidak peduli, Vin. Uang... uang tidak bisa mengembalikan Ana."

"Tentu saja tidak! Tapi tanggung jawabmu pada ribuan orang itu nyata! Kau adalah pemimpin, Zie! Bertanggung jawablah!" Arvin menarik kursi dan duduk di depan Enzi. "Kau harus mencari bantuan. Rasa bersalah ini mencekikmu. Kau sudah kehilangan Ana, jangan kehilangan nyawamu juga."

Melihat temannya semakin terpuruk, Arvin akhirnya memaksa Enzi untuk berobat ke psikolog untuk konsultasi masalah depresi yang mungkin dia alami. Awalnya Enzi menolak, karena dia merasa masih waras. Tapi melihat hidupnya yang semakin kacau akhirnya Enzi setuju, bukan karena ingin sembuh, tetapi karena ingin menghentikan omelan Arvin.

Kunjungan pertama Enzi ke psikiater adalah sebuah kegagalan. Ia hanya duduk diam, sesekali menjawab dengan gumaman. Tetapi Arvin tidak menyerah. Dia selalu ada untuk menjemput Enzi dari sesi terapi, membawanya makan malam, dan memaksanya untuk tetap menjalani hidup.

"Aku merasa seperti pembunuh, Dokter," akhirnya Enzi mengaku dalam beberapa sesi terapi yang dia jalani. "Aku membunuhnya. Aku membuatnya putus asa. Kata-kata kasarku, keegoisanku, pengkhianatanku... Aku sudah membakar istriku sendiri."

Psikiater mendengarkan dengan sabar. "Pak Enzi, Anda tidak membakar istri anda. Anda tidak menyebabkan kecelakaan itu. Tetapi Anda harus mengakui bahwa Anda telah menyebabkan luka emosional yang dalam. Rasa bersalah ini adalah reaksi alami dari cinta dan penyesalan Anda. Kita harus belajar bagaimana hidup dengannya, dan mengarahkan energi itu menjadi sesuatu yang produktif, sebagai penghormatan pada istri anda." sebuah nasehat bijak dari sang dokter.

Mendengar itu mungkin hati Enzi sedikit tenang dan menghilangkan sedikit rasa bersalahnya. Ya hanya sedikit saja, karena perasaan bersalah itu masih cukup besar menganga di dalam hatinya.

Perlahan, Enzi mulai mencoba. Ia memaksa dirinya melihat presentasi, mencoba membaca laporan, dan sesekali memberikan instruksi yang rasional. Dia mencoba bangkit dengan perlahan.

Suatu malam, Enzi mengirim pesan kepada Arvin. "Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana harus hidup tanpanya, tapi aku tahu aku tidak bisa hidup tanpamu juga. Maafkan aku atas kekacauan ini."

" Kita melewatinya bersama, Zie. Sekarang, tidurlah. Besok kita punya rapat penting."

1
umi istilatun
👍
Sumar Sutinah
mksh thor karyamnya, semangat terus karya" y, aku tunggu. ada lanjutannya gitu thor 👍❤️👍
Eys Resa: ga ada kak
total 1 replies
Lusy Purnaningtyas
sayang sekali, enzi dibikin jomblo sampe tua sama othor nih....
Eys Resa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Mundri Astuti
Selamat Tahun Baru juga thor
Eys Resa: ❤❤❤🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sunaryati
Terimakasih kutunggu karyamu selanjutnya
Eys Resa: inshaAllah bulan 2 kak. ini sudah mulai nabung bab buat novel baru. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
total 1 replies
Akasia Rembulan
terima kasih teruslah berkarya.. 😍😍😍
Eys Resa: makasih kak, stay tune di bulan Februari ya
total 1 replies
Hana Roichati
Terimakasih kak, terus berkarya sukses selalu, Aamiin 🤲
Eys Resa: sama2... aamiin ya robbal alamin🙏🏼
total 1 replies
Sunaryati
Ini beneran end, terimakasih happy ending
rian Away
Tch.. dasar Ningen
Mefiani
dan tamatlah cerita ini...inilah cerita khas kak resa yg selalu happy ending...dan ditunggu cerita kukira g-golo ternyata ceo nya..semoga segera hadir..👍😘
Eys Resa: ga ada kak, cuma epilog
total 3 replies
Arin
/Heart/
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Enzi bisa berdamai dengan Fabian dan Sera dan menjadi keluarga sekaligus sahabat 😄
Sunaryati
Bagus Enzi sekarang kamu lebih bijak, Lisa pengkhianatan kamu telah menghancurkan hidupmu
Mundri Astuti
sehhhh si Lisa ...maksain banget
Machmudah
biar Enzi sendiri sj Thor jgn dikasih wanita apalg lisa
Sunaryati
Bagaimana karma Amel, ya?
Sunaryati
Fabian dan Sera sungguh merupakan orang tua yang benar-benar berupaya membahagiakan Aidan putranya dengan menghilangkan ego dan dendam pada Enzi yang dulu pernah menginjak- injak harga diri Ana. Kini demi kebahagiaan Aidan, Ana telah memaafkan dan berdamai dengan Enzi. 👍👍
Sumar Sutinah
akhirnya dengan kelapangan dn ketulusan hati sera dn fabian berdamai, buat enzi semangat sekarang tujuan hidupmu untuk Aidan
Sunaryati
Ikut lega rasanya Enzi sudah berubah tidak ada niat merebut Ana dari Bian. Aidan bisa membuat dia pria yang berseteru bisa damai.
rian Away
YAUDAH LU DAMAI SELAMANYA GOBLOK
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!