Lisa Anggraeni , seorang gadis yang tengah berjalan dengan sahabatnya setelah dari aktifitas kuliah mengalami kecelakaan saat dia tengah menunggu bus yang ada di sebrang jalan. Dia menoleh dan melihat ada motor melanu cepat membuatnya mendorong Hani. Dan membuatnya menjadi korban kecelakaan. Lisa yang mengalami luka luka sempat di bawa ke rumah sakit. Namun sayang, saat dirinya sedang di operasi, nyawanya tak bisa di selamatkan.
Lisa yang tahu dirinya mengalami kecelakaan sebelumnya mengira dia selamat, dan berada di salah satu rumah sakit.
Tapi saat dia sadar justru, dia sedang di salah satu ruangan kosong gelap dan pengap.
Namun saat dirinya berusaha mencari jalan keluar, dia justru melihat bayangan seseorang dari kaca hias kecil.
"Aaaaaa... Wajah siapa yang ada di mukaku ini!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira_Mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om Om
setelah seharian sekolah,
kini Ruby tengah bersiap untuk pulang, dan melepas penat lelah hari ini. dia berjalan santai, dan sesekali mengajak ngobrol teman sekelas yang berjalan di sisi kanan.
namun lagi dan lagi dia di hadang oleh Aaron yang entah bagaimana pemuda itu sudah tiba di sekolah ini.
Rubby terdiam, dengan sorot sedikit bingung. Ruby menatap Aaron di depannya, dan tidak mengerti dengan senyum Aaron yang begitu lebar.
"kenapa kak?"
"pulang bareng. aku sekalian mau traktir kamu jajan."
Binar sorot mata Rubby menjadi semangat, jajan satu kata ajaib yang bisa membuat Rubby kegirangan. dia lalu melangkah lebih dulu setelah menganggukan kepalanya dan Aaron mengikuti dari belakang.
"nggak usah protes kalo duit kamu hari ini habis buat nraktir aku, kak."
"hmmm, tidak akan habis." sombong Aaron yang begitu bangga.
Dia senang mendengar suara Rubby yang begitu meremehkan dirinya. bukannya sombong, tapi dia hanya ingin membuat waktu bersama Rubby dan mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat dirinya semakin galau dengan apa yang akan di jawab Rubby.
setibanya di parkiran dia berdiri sembari menggoyangkan tasnya. Aaron yang melihat itu sedikit gemas, jika dia tidak sedang membenarkan posisi motor. mungkin dia akan mencubit pipi gadis itu hingga menangis.
Aaron tertawa, dan Rubby langsung menatap bingung Aaron yang tengah tertawa.
karena takut sesuatu hal, Rubby mengulurkan tangannya dan menempelkan ke dahi Aaron. Aaron yang justru kini bingung dengan apa yang di lakukan Rubby.
"enggak panas."
"apaan?"
"kamu nggak kesambet setan kan kak?"
"maksudnya?"
Rubby menggeleng kecil, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang tak sepenuhnya tulus. Tanpa sepatah kata protes lagi, dia menaiki motor sport hitam milik Aaron, tangannya lantas berpegangan di bahu pemuda itu dengan canggung namun penuh kepercayaan.
Udara siang menjelang sore hari yang hangat mengelus kulitnya, sementara Aaron menoleh sekilas, berkata dengan nada setengah bercanda, "Pake itu buat nutupin," sambil menunjuk ke arah rok Rubby yang tersibak oleh hembusan angin.
Rubby buru-buru menyesuaikan kain panjang seragamnya, jari-jarinya meremas lembut kain itu, menahan rasa kesal yang tertahan. Ia memang benci harus memakai rok panjang—selalu merasa gerah dan terkekang—tapi kini, bersama Aaron, semuanya terasa berbeda. Ada sesuatu dalam tatapan pemuda itu yang membuatnya diam dan menyerah tanpa perlawanan.
Aaron menyalakan mesin motor dengan suara berat yang menggelegar di antara deru kendaraan lain, lalu segera memacu motor keluar dari parkiran sekolah. Rubby menahan napas, membiarkan angin menerpa wajahnya, sambil tetap berpegangan erat pada Aaron. Jantungnya berdetak lebih cepat, campuran antara takut, penasaran, dan sedikit harapan.
Di sudut lain, Xevar berdiri terpaku, matanya mengikuti sosok kakak kembarnya yang pergi bersama gadis asing itu. Wajahnya berubah tegang, alisnya berkerut dalam bingung dan sedikit cemburu.
"Apa ibu mu tau ini?" gumam teman Xevar dengan pelan,
Xevar terdiam dan menggeleng pelan, suara hatinya penuh tanda tanya yang tak kunjung terjawab. Dia merasakan gelisah yang aneh, seolah ada sesuatu yang berubah dalam dunia mereka, sesuatu yang belum ia mengerti.
"aku hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik."
*
*
Brakh...
Iram menggebrak meja kerjanya saat mendengar putrinya bersama seorang pemuda dari sekolah lamanya.
"Siapa pemuda itu?"
"Aaron Demond. Putra kembar dari Bobby Demond" Terangnya dengan jelas.
Iram menatap asisten yang berdiri di depannya dengan mata tajam, napasnya sedikit memburu karena amarah yang sulit ia sembunyikan. “Aaron Demond?” suaranya meninggi, penuh ketidakpercayaan dan kekhawatiran.
Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah, bibirnya menegang menahan ledakan emosi. Ia mengingat reputasi dari keluarga Aaron, diaanak pesaing yang terkenal lihai dan penuh tipu daya dalam setiap langkahnya.
Asisten yang berdiri kaku di hadapannya menunduk, wajahnya memucat. “Maaf, Tuan. Saya lalai mengawasi nona Ruby,” ucapnya dengan suara gemetar, takut akan konsekuensi dari kelalaiannya.
Iram menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun di dalam hatinya, gelombang amarah dan kekhawatiran terus berkecamuk. “Mulai sekarang, awasi mereka dengan ketat. Jangan sampai Bobby tahu soal ini. Aku tidak ingin masalah ini makin rumit,” perintahnya dengan nada dingin penuh kewaspadaan.
"baik tuan."
Matanya yang tajam menatap jauh ke luar jendela, bayangan strategi licik Bobby terlintas di benaknya—pria itu akan memanfaatkan hubungan ini sebagai alat untuk memperluas kekuasaannya, mengatur perjodohan demi keuntungan bisnisnya sendiri.
Iram menutup matanya sejenak, merasakan beban tanggung jawab yang makin berat menghimpit dadanya. Ia tahu, perang bisnis keluarga ini bukan hanya soal perusahaan, tapi juga masa depan putrinya yang sedang terancam jika putrinya masuk dalam permainan licik itu.
Iram menggeram kesal, matanya menatap tajam ke arah asistennya yang berdiri canggung di depan pintu. "Keluar," suaranya tegas tanpa memberi ruang untuk menolak. Asisten itu mengangguk cepat lalu melangkah keluar, pintu tertutup dengan suara pelan yang menandakan ketegangan masih menggantung di ruangan itu.
Setelah pintu tertutup rapat, Iram mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jasnya. Tangannya sedikit gemetar saat meraih sebatang rokok dan menyulutnya dengan korek api. Kepulan asap putih mengepul perlahan keluar dari bibirnya, melayang mengisi udara di ruangan yang terasa berat.
Raut wajahnya penuh kecemasan, alisnya berkerut dalam, dan matanya menatap kosong ke luar jendela yang memperlihatkan barisan gedung-gedung tinggi berlapis kaca. Namun di balik pemandangan itu, pikirannya berputar tanpa henti.
"Takkan ku biarkan putriku berjodoh dengan putra dari Bobby. masa depan Ruby terlalu cerah untuk bersanding dengan mereka," gumamnya pelan, suaranya hampir terselip di antara hembusan asap.
Iram tahu ini bukan sekadar masalah keluarga biasa. Ada tekanan yang lebih besar, sebuah ancaman yang bisa merusak masa depan putrinya. Duduk dengan posisi tegak di kursi kulit hitam itu, dia meremas ujung rokoknya, mencoba menenangkan diri sambil mencari cara agar putrinya bisa menjauh dari belitan keluarga itu. Pikiran-pikiran gelisah itu berkecamuk, memenuhi ruang hatinya yang berat dan penuh kekhawatiran.
*
*
Motor sport hitam melambat hingga berhenti tepat di lampu merah yang menyala merah menyala. Rubby duduk santai di belakang, tubuhnya sedikit bersandar di punggung Aaron, tangan satu memegang erat jaket kulit yang membalut tubuhnya.
Matanya yang tajam mengamati sekeliling tanpa tergesa, namun secara diam-diam pandangannya tertarik ke sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat yang berhenti tak jauh dari situ. Jendelanya terbuka, memperlihatkan seorang pria tampan dengan kacamata hitam yang menempel rapi di hidungnya, wajahnya menunjukkan ketenangan sekaligus aura percaya diri yang sulit disembunyikan.
Rubby tersenyum kecil, sudut bibirnya terangkat. “Waaah, cakep banget tuh cowok. Beeh aura bau duitnya tembus,” gumamnya dalam hati dengan nada bercanda dan sedikit takjub.
Matanya tidak sengaja bertemu tatap dengan pria itu, sekejap waktu seolah berhenti. Merasa ketahuan, Rubby cepat-cepat mengedipkan matanya beberapa kali, lalu dengan gaya genit ia meniupkan ciuman jauh ke arahnya. Tawa kecilnya pecah, menyaksikan ekspresi pria itu yang tampak terkejut dan sedikit bingung.
“Hahaha, sugar daddy ini sih,” pikir Rubby sambil menggelengkan kepala.
Ia merasa seperti sedang memainkan sebuah permainan kecil, di mana dirinya tahu betul bagaimana membuat suasana menjadi santai meski hanya di tengah keramaian lampu merah. Motor sport hitam itu pun siap melaju kembali saat lampu berubah hijau, meninggalkan pria tampan di balik kaca mobil mewah yang masih menatapnya dengan rasa penasaran.
"Kenapa lo ketawa?"
"Ada om om ganteng,"
hayo loh rimba anak orang nangis 💃💃💃💃