Pernahkan kalian melihat angsa? Berenang dan menari dengan anggunnya di tengah sungai.
Tapi tahukah kalian? Di balik ketenangan tubuhnya di atas permukaan, Angsa berjuang mengayuhkan kakinya di dalam air agar dapat terlihat anggun di permukaan.
Begitulah hidup Gisella,
Tak ada yang tahu perjuangan hidupnya selama ini,
Pribadi yang selalu tersenyum riang di depan orang-orang, ternyata memiliki masa lalu yang kelam.
Bergumul dengan masa kecilnya yang selalu di rundung oleh teman-temannya, dan trauma masa kecilnya,
"Dasar anak pembawa sial!"
Ibunya sendiri mengatainya sebagai anak pembawa sial dan mengusirnya dari rumah.
Sang sopir membawa Gisella pergi dari rumah dan membuangnya di tempat antah berantah.
"Nak, kenapa menangis di sini?" tanya seorang wanita paruh baya yang melihat Gisella duduk menangis di pinggiran kebun.
Gisella kecil hanya menatapnya, lalu kembali meringkuk menangis pilu.
"Nak, ikut Emak mau?" tanya suara lembut itu lagi, mengulurkan tangannya kepada Gisella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 27
Once you replace negative thoughts with positive ones, you’ll start having positive results.
^^^-Willie Nelson^^^
...----------------...
Mobil yang membawa rombongan Ella sudah memasuki halaman sebuah warung yang lumayan besar. Pak Haryadi mengajak mereka semua turun, kemudian mobil melaju mencari tempat parkir.
"Pak, kita makan di sini?" tanya Denis ragu-ragu melihat sebuah warung dengan papan nama bertuliskan 'Bakso Sapi Asli Pak Suta'.
"Benar, ayo masuk. Ini bakso langganan Bapak dari jaman SMA," jawab Pak Haryadi senang.
Denis yang masih melongo hanya diam di tempat.
"Yah.. Kirain mau diajak ke mana, Ka," bisik Denis pelan.
Arka segera menendang kaki Denis. Denis cuma nyengir saja sambil mengikuti langkah Pak Haryadi. Ella sendiri tertawa senang diajak makan bakso. Bagi Ella, bakso merupakan makanan yang cukup mewah.
"Bagaimana? Enak kan?" tanya Pak Haryadi begitu mereka memakan bakso yang disediakan.
"Iya Pak, enak banget," puji Ella.
"Hehe.. Kamu kalau suka boleh nambah La," jawab Pak Haryadi.
Tanpa ragu, Ella pun minta tambah. Denis dan Arka yang melihat pun juga tak ragu lagi minta tambah. Pak Haryadi puas melihat semua muridnya menikmati bakso favoritnya.
"Pak, benar baksonya enak, beda sama bakso langganan saya," ucap Denis.
###
Ella pulang saat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam lebih. Untung saja hari ini dia libur kerja. Setelah diturunkan di depan gang, Ella mengucapkan terima kasih dan berlari menuju kontrakannya.
"Ella!" teriak Ima begitu Ella membuka pintu dan langsung memeluknya.
"Kalian juara kan?" sapa Ferry tersenyum lebar.
"Loh ada kak Ferry. Sudah lama Kak?" tanya Ella melepas pelukan Ima.
"Belum, tadi Kakak chat nggak kamu balas, jadi kakak tanya Ima, katanya sekolahmu juara satu benar?"
"Hehe.. Iya Kak, kami juara pertama!" jawab Ella senang sekali.
"Hahaha, selamat ya, La. Ini hadiah buat kemenanganmu," ujar Ferry memberikan sebuah dus yang cukup besar.
"Apa ini Kak?" tanya Ella heran.
"Wah! Ayo buka La!" seru Ima tak sabar ingin melihat hadiah dari Ferry.
"Benar ini untuk Ella?" tanya Ella masih tak percaya.
"Benar. Ayo dibuka. kamu juga sudah banyak membantu Kak Ferry di dapur, jadi itu hadiah buatmu."
Ella dibantu Ima, segera membuka dus yang diberikan oleh Ferry dengan hati-hati.
"Wah, oven listrik La! Kamu bisa buatin aku macam- macam kue dong sekarang," seru Ima begitu melihat isi dalam dus.
"Kak Ferry, apa nggak kemahalan hadiahnya?" tanya Ella pelan.
"Nggak, itu pantas buat kamu. Dengan oven itu kamu bisa membuat cake ulang tahun dengan hasil lebih bagus dari oven tangkring," ucap Ferry tersenyum.
"Benar La. Nanti aku bantu promo ya. 10% komisi tetap milikku loh," seru Ima senang.
"Siap Ima, kita kerja keras ya biar bisa kuliah," ucap Ella dengan meneteskan air mata bahagia.
Ferry tersenyum melihat tingkah kedua remaja di depannya. Andai adikku masih ada, pasti seperti kalian, batinnya.
"Kakak pamit dulu ya, La. Mau balik ke cafe lagi," pamit Ferry berdiri hendak meninggalkan rumah itu. Langkahnya terhenti saat mendengar pintu diketuk.
Tok Tok Tok
Ima segera melebarkan pintu rumah.
"Eh.. Mpok Zaenab, ada apa Mpok? Silakan masuk," ajak Ima.
"Ella ada Im?"
"Ada Mpok."
"Ada apa Mpok?" tanya Ella baru keluar dari dapur habis menyimpan oven yang diberikan Ferry.
"La.. Besok Minggu sore bisa buatin kue ulang tahun nggak? Anak Mpok ulang tahun soalnya."
"Bisa Mpok, mau harga berapa?"
"Jangan mahal-mahal, harga 150.000 aja bisa? Warna pink ya, La."
"Siap Mpok. Saya catet dulu ya," jawab Ella berlalu ke kamar mengambil buku catatan pesanannya. "Jam 3 Ella antar ya ke rumah,"
Setelah selesai mencatat pesanan, Mpok Zaenab sekalian memberikan uang 150 ribu dan pamit pulang.
"Wah La, kalau tiap hari ada yang pesen tart mah cepat kaya ya" seloroh Ima tertawa.
"La, besok Kakak bawain hiasan kue ulang tahun ya. Di rumah ada banyak, sisa kursus dulu," ujar Ferry tersenyum melihat Ella mendapat pesanan kue.
"Makasih Kak, jadi ngerepotin," jawab Ella sungkan.
"Nggak papa dari pada nggak dipakai. Ya sudah Kak Ferry pergi sekarang ya," pamit Ferry untuk kedua kalinya.
###
Sabtu siang sepulang sekolah, Ella pergi ke toko bahan-bahan kue, membeli bahan yang ia butuhkan untuk membuat kue ulang tahun besok. Ella juga membeli beberapa bahan lain, untuk belajar membuat kue kering.
Ella berjalan pulang ke rumah dengan hati senang. Dirapikannya belanjaannya ke atas meja dapur.
"Hmm, bahan-bahan kuenya banyak sekali." Ella mengamati meja dapur yang terlihat berantakan karena penuh oleh tepung, mentega, dan peralatan-peralatan untuk membuat kue.
Ella lalu melihat ke tumpukan dus, bekas belanja bahan-bahan kue. Terbesit sebuah ide di kepalanya.
"Daripada beli. mending aku buat rak sendiri," gumamnya tersenyum.
Ella pun mengambil gunting dan lakban dari dalam kamar. Dengan kreativitasnya, Ella menggunting dan menyatukan kardus tersebut menjadi sebuah rak ukuran 2x2. Ella tersenyum puas melihat hasil karyanya.
"Abis ngapain, La?" tanya Ima yang baru pulang. Ia melihat potongan-potongan kardus di ruang tengah.
"Abis bikin rak, Ima. Hahaha," Ella menunjuk rak buatannya dengan bangga.
Ima pun mengamati rak buatan Ella, "Wah.. bagus juga ya, La. Digabungin gini jadi tebel juga."
"Hehehe, iya, Im. Biar lebih hemat. Nanti kalau rusak, tinggal bikin lagi aja. Dusku masih banyak," jawab Ella tersenyum.
"Kamu udah mandi, La?" tanya Ima.
"Belum, Im. Kamu duluan aja, aku mau rapiin ini dulu," jawab Ella menunjuk ke potongan-potongan kardus dan bahan-bahan kue di atas meja. dapur.
"Aku juga nanti deh, Aku mau makan dulu. Hehe, nggak sempet makan abis ekskul tadi."
###
Seperti biasa, Ella selalu lebih banyak membantu Ferry di dapur. Kecuali jika pengunjung cafe ramai sekali, barulah Ella turun tangan membantu melayani para pengunjung.
"La, Apa keluargamu yang lain nggak ada lagi?" tanya Ferry begitu selesai menata cake di etalase.
Ella terdiam mendengar pertanyaan Ferry. Dia teringat mamanya yang membuangnya dan tidak menginginkan dirinya. Pa, maafin Ella.. Ella nggak mau nyusahin kalian lagi..
"Maaf Kak, Ella cuma hidup sendirian," jawab Ella pelan sambil menunduk.
"Maaf kalau pertanyaan Kakak membuat kamu sedih."
"Nggak kok, Kak."
Ella melangkah keluar dapur dan berjalan ke arah Ima yang lagi merapikan gelas-gelas.
"Dapur sudah beres, La?" tanya Ima.
"Iya, Im."
**Prang**!!
Tiba tiba terdengar suara gelas pecah dari dining area. Semua pelayan berlari ke arah meja asal suara tersebut, dimana terlihat dua orang wanita dan seorang pria sedang bertengkar.
"Apa-apaan kamu Sher?!" bentak Alex marah melihat tingkah Sherly yang membanting gelas saat datang.
Farah yang sedang asyik ngobrol dengan Alex juga terkejut melihat tindakan Sherly.
"Dengar Lex, aku nggak suka kamu dekat-dekat dengan cewek lain!" teriak Sherly.
"Cih.. Apa urusannya denganmu, memang kamu siapa?!" bentak Alex dengan nada dingin.
"Kamu tahukan Lex, aku cinta sama kamu. Aku nggak rela kamu dekat dekat cewek lain," rayu Sherly sambil memegang tangan Alex yang langsung di tepiskan.
"Dengar ya, gue nggak pernah suka sama cewek model lo!" ucap Alex tegas, sambil berjalan ke kasir.
"Ayo Far, kita pulang," ajak Alex menggandeng tangan Farah tanpa menoleh ke arah Sherly yang menangis sesenggukan.
"Sudah bereskan semua, jangan nonton," perintah Firman.
Ella masuk ke dalam dapur dan duduk termangu. Apa Farah pacar Alex ya? Tapi mereka memang serasi sih.. Tapi kenapa hatiku kok rasanya sakit ya..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih.❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah teman teman mengejek Eh kakaknya juga ikutan ...
Tapi YG membuat Tambah sedih mama nya kok cuek Amat...