NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 19

Senopati Mandala terkejut setengah mati. Namun dia beruntung masih bisa mengangkat pedangnya untuk melakukan tangkisan, sepersekian detik sebelum kepalanya terbelah menjadi dua.

Ting!!!

Dentingan suara logam yang beradu terdengar menusuk gendang telinga. Tapi itu tidak berlaku bagi Arya yang sudah terbiasa berlatih menggunakan tenaga dalam besar. Sejak kecil dia dilatih oleh ibunya, benturan tenaga dalam yang kuat dan menimbulkan suara ledakan memekakkan telinga, sudah sering mereka lakukan. Sehingga dentingan suara logam yang beradu tidak akan bisa membuat gendang telinganya terganggu.

Arya sedikit mengangkat alisnya ke atas begitu melihat pedang di tangannya mengalami kerusakan parah. kini tinggal satu pedang di tangan kirinya, tapi dia tidak yakin jika pedang itu bisa bertahan lama menghadapi pedang kedua pejabat penting itu.

Benar apa yang menjadi dugaannya, satu pedang yang tersisa bernasib sama dengan pedang sebelumnya. Rusak dan tak bisa digunakan lagi setelah berbenturan dengan senjata yang digunakan Senopati Mandala. Arya mendengus kesal, lalu membuang pedang di tangannya jauh-jauh.

"Ini kesempatan baik untuk membunuhnya!" gumam Patih Mahasura. Sosok kedua terpenting di kerajaan Kanjuruhan setelah Raja Gajayana, melesat dengan kecepatan terbaiknya memberi serangan.

Arya merasakan adanya energi yang mengarah kepadanya dari belakang. Dalam hitungan sepersekian detik, pemuda berambut merah itu mencabut pedang langit, lalu bergerak menyamping sambil menebaskan pedangnya.

"Awas, Tuan Patih!" teriak Senopati Mandala.

Namun Patih kerajaan Kanjuruhan itu terlanjur bergerak maju menyerang dan tak mungkin bisa menarik pulang serangannya. Tubuh tuanya terus meluncur cepat meski sekilas dia melihat pemuda itu mengeluarkan pedang yang tergantung di pundaknya.

Patih Mahasura hanya bisa menurunkan arah pedangnya untuk menangkis serangannya dadakan yang dilepaskan Arya dengan begitu cepat.

"Tidaak!" pekikan terakhir yang keluar dari bibir keriput Patih Mahasura tidak mampu mencegah Dewa kematian menjemput nyawanya.

Meski pedangnya bisa melakukan tangkisan di detik-detik terakhir, namun kualitas senjata yang akhirnya menjadi pembuktiannya. Pedang Langit adalah salah satu pusaka terbaik di daratan China yang ditempa Wan Fenli dari batu meteorit dan sebelumnya sudah melalui proses gesekan kuat dengan atmosfer sebelum mendarat di Bumi. Sedangkan pedang Patih Mahasura hanya senjata biasa meski terbuat dari besi terbaik.

Pedang beserta tubuh tua Patih Mahasura akhirnya terpotong menjadi dua bagian dengan begitu mudah tanpa ada ganjalan yang menghadang.

Arya mendesah pelan melihat jasad Patih Mahasura sudah teronggok bagai sampah yang tak bertuan. Dia sedikit menyesalkan, kenapa Patih kerajaan Kanjuruhan itu di usia senjanya malah mempunyai niat buruk dan tidak bisa menjaga nama baiknya setelah mengabdi puluhan tahun.

Seandainya ambisi tidak memenuhi pikiran, Arya yakin jika Raja Gajayana akan memberi penghormatan besar, dan bukan aib besar sebagai penghianat, andai Patih Mahasura pergi meninggalkan dunia.

"Sekarang giliranmu!" Arya berbalik badan menunjuk Senopati Mandala dengan ujung pedang langit di tangannya. Sinar biru yang keluar dari bilah pedang pusaka pemberian Mei Hwa, berpendar kuat menerangi gelapnya malam.

Namun pemuda itu dibuat terkejut setelah yang dilihatnya bukan hanya Senopati Mandala saja, melainkan ada sosok lain berdiri di sampingnya. Seorang lelaki berjubah hitam dan memakai tudung kepala yang menutupi wajahnya.

"Ternyata kau pemilik energi yang tadi aku rasakan!" Arya tersenyum tipis sedikit mencibir. Dia sadar jika sosok di samping Senopati Mandala tidak bisa diremehkan begitu saja.

Lelaki berjubah hitam itu sempat dibuat terkejut saat Arya mengeluarkan pedang langit sebelum membunuh Patih Mahasura. Pikirannya tertuju kepada sepasang pendekar legenda yang sudah lama menghilang dari dunia persilatan.

"Siapa kau sebenarnya, Anak muda? Kenapa kau memiliki Pedang Langit yang telah lama menghilang?"

"Apa aku harus menjawab pertanyaan tidak penting yang kau lontarkan itu?" Arya lama-lama dibuat bosan dengan pertanyaan yang sama setiap kali dia mengeluarkan pedang Langit.

Lelaki berjubah itu tidak merasa emosi meski Arya sudah bersikap meremehkannya. Dia tahu akan sangat sulit jika harus mengadu pedangnya melawan pedang Langit yang sudah tidak terbantahkan lagi kekuatannya.

"Kenapa kau terlalu banyak bicara, Ki? Aku membayarmu untuk membunuhnya, bukan berbicara dengannya!" ucap Senopati Mandala.

Lelaki berjubah hitam itu menatap Senopati Mandala dengan tatapan tajam. Dia tidak suka jika ada yang berani berkata seperti itu kepadanya. "Ini bukan masalah uang, Senopati. Kau sudah membuat masalah besar dengan mengusik pemuda itu!"

"Apa maksudmu, Ki? Bukankah organisasimu memang jasa pembunuh bayaran dan dibayar untuk membunuh seseorang? Lalu kenapa kau bersikap seperti ini sekarang?"

"Apa kau tahu kesalahanmu, Senopati ... Kau sudah memberi informasi yang salah kepadaku! Saat itu kau bilang jika calon korban yang harus dihabisi hanya pemuda biasa, tapi nyatanya dia adalah titisan dari sepasang pendekar legenda yang lama mundur dari dunia persilatan."

"Aku tidak peduli, Ki. Yang aku tahu kau kubayar untuk membunuhnya!" sahut Senopati Mandala sengit.

"Aku tidak akan bisa menang melawannya, Senopati. Jadi perjanjian kita sudah selesai sampai di sini!"

Senopati Mandala terkejut mendengarnya. Belum sempat dia menjawab, lelaki berjubah hitam itu sudah pergi meninggalkannya. 'Bangsat, pengecut!" umpatnya keras.

Pantas jika Senopati Mandala bereaksi keras, selain sudah membayar penuh untuk membayar jasa membunuh Arya, kini dia juga harus sendirian menghadapi pemuda yang menyeringai bagai singa kelaparan.

Berkali-kali Senopati Mandala menelan ludahnya. Rasa takut yang hampir tidak pernah dirasakannya, kini telah memenuhi pikirannya. Jiwanya sebagai seorang pejuang yang tak kenal rasa takut, saat ini telah lenyap ditelan heningnya malam.

Rasa takut Patih Mandala semakin menjadi-jadi ketika kedua matanya melihat Arya berjalan ke arahnya. melarikan diri atau melawan, hanya itu yang ada dalam pikirannya.

"Di mana tawa lantangmu tadi? Kenapa kau ketakutan seperti itu? Menyerahlah, maka aku jamin kematianmu tidak akan menyakitkan!" Arya mengembalikan ucapan yang tadi dilontarkan Senopati Mandala kepadanya.

Tanpa berpikir panjang, Senopati Mandala melarikan diri dari tempat itu dengan mengerahkan kemampuan ilmu meringankan tubuh sebisanya. Tak sekalipun pandangan matanya menoleh ke belakang sekedar untuk melihat keberadaan Arya.

Namun tak disangkanya, pemuda berambut kemerahan itu sudah mendahuluinya dan berdiri menghadang ayunan cepat langkah kakinya.

"Cepat sekali!"

Senopati Mandala seketika berhenti berlari. Lututnya bergetar kuat seolah tak mampu menahan beban tubuhnya sendiri. Suhu udara yang menusuk tulang di malam itu seolah tidak bisa dirasakan Senopati Mandala. Indera perasanya sudah tidak berfungsi lagi saking takutnya menghadapi Dewa kematian yang sudah berdiri di depannya.

"Sayang sekali jika kerajaan sebesar ini harus memiliki senopati pengecut sepertimu! Bersiaplah dijemput kematian!"

Ucapan Arya terdengar begitu mencekam di telinga Senopati Mandala. Lelaki setengah Baya itu mencabut pedangnya dan bersiap dengan segala kemungkinan yang akan dihadapinya, termasuk kematian.

Dalam satu tarikan nafas, Arya melesat maju menyerang Senopati Mandala yang masih tetap berdiri di tempatnya.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!