NovelToon NovelToon
Setitik Cinta Di Atas Harapan

Setitik Cinta Di Atas Harapan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:25k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Amara duduk dengan tenang di kursinya. Ia merasa canggung sebenarnya. Ia bahkan berusaha keras untuk menutupi sepatunya yang rusak dengan kaki kanannya agar tidak terlihat memalukan.

Pria yang kini sedang mengemudikan mobilnya itu juga diam. Ia sepertinya enggan untuk memulai percakapan dengan Amara.

"Apa kau tidak menemui ibumu hari ini?" Tanya Amara memecah keheningan.

"Aku akan menemuinya setelah mengantar mu pulang." Jawab Reza.

"Hmm... Kenapa kau tidak pergi untuk menemuinya saja? Kenapa malah memberiku tumpangan?" Tanya Amara merasa aneh pada sikapnya.

"Karena saat aku sedang dalam perjalanan, aku tidak sengaja melihat seorang wanita cantik yang sedang berjongkok sambil meratapi sepatunya yang rusak. Hatiku merasa iba dan memutuskan untuk membantunya." Jelas Reza

"Kau sedang menyindir atau mengasihaniku?" Tanyanya ketus.

"Tidak keduanya. Aku benar-benar ingin membantumu." Jelas Reza sambil tersenyum.

Amara tampak mengerutkan keningnya dan menatapnya tajam.

Reza malah tersenyum padanya ketika melihat ekspresi kesalnya itu.

"Jangan tersenyum. Kau malah terlihat seperti sedang mengejekku." Gerutunya bertambah kesal lalu memalingkan wajahnya.

"Astaga, kenapa kau jadi sensitif begitu. Maaf jika aku sudah membuatmu kesal." Pinta Reza.

Pria itu tetap saja tersenyum melihatnya.

...****************...

"Terima kasih atas tumpangannya." Ucap Amara dingin begitu tiba di rumahnya.

"Apa hanya ucapan terima kasih saja yang akan ku dapatkan?" Reza terlihat mengharapkan sesuatu darinya.

"Hmm... Iya!" Amara tampak bingung.

"Apa kau tidak akan memintaku untuk mampir sejenak dan minum teh bersama? Atau mungkin sekalian menawariku untuk makan siang bersama?" Tanyanya dengan nada penuh harap yang sengaja diperlihatkan pada Amara.

"Tidak. Saat ini tidak ada siapapun di rumah. Aku tidak bisa menyuruh mu mampir karena mungkin hal itu akan menjadi bahan pembicaraan tetangga sekitar nantinya. Aku ini wanita yang sudah bercerai, ku rasa itu akan menjadi masalah untukku juga untukmu." Jelasnya dengan penuh ketegasan.

Reza termangu sejenak.

"Baiklah! Aku mengerti. Aku akan pergi sekarang." Wajah Reza berubah pias.

"Iya. Dan.." Amara berhenti sejenak karena ragu.

"Jika kau berpikir untuk kembali mendekatiku, sebaiknya segera ubah keinginanmu itu. Karena wanita seperti ku tidak pantas untuk kau perjuangkan. Kau layak mendapatkan wanita yang lebih baik melebihi diriku." Amara tak sedikitpun berpaling untuk menatapnya.

Ada guratan kecemasan yang kini menghiasi wajahnya. Memikirkan tentang Reza yang akhir-akhir ini selalu mencari kesempatan untuk mendekatinya. Entah karena ia yang merasa terlalu percaya diri, atau karena sebenarnya ia belum siap menerima kenyataan bahwa Reza ingin kembali menjalin hubungan dengannya.

Reza terdiam dan menatapnya nanar. Hatinya sedikit terluka mendengar hal itu. Tetapi tentu saja ia tidak gentar sedikitpun dengan kata-katanya. Apalagi "menyerah"? Sungguh kata-kata itu tidak pernah ada di dalam kamusnya.

"Iya. Aku mengerti. Aku hanya ingin kembali berteman denganmu. Apa itu juga tidak boleh?" tanya Reza.

"Tidak. Ku rasa tidak ada yang namanya pertemanan di antara lelaki dan perempuan. Karena pasti selalu saja ada celah untuk rasa suka itu sendiri." sanggahnya dengan penuh ketegasan.

Amara telah membangun sebuah tembok besar sebelum Reza sempat memasukinya. Ia hanya ingin menjaga hatinya agar tidak terluka lagi.

Pengalaman menjadi pembelajaran berharga baginya. Amara tak ingin membuatnya berharap walaupun hanya setitik. Tidak untuk Reza maupun lelaki lainnya yang mencoba menyusup kedalam kehidupannya. Luka lama itu masih tersisa dan membekas hingga sekarang.

Amara turun dari mobil dan masuk ke rumahnya tanpa berkata apa-apa lagi.

Sementara Reza tersenyum memandangi kepergian wanita itu tanpa membantah perkataannya sedikitpun.

"Kau lupa satu hal Amara. Kau lupa jika selalu ada celah untuk meruntuhkan tembok besar itu. Tunggu saja, aku akan membawa buldoser untuk menghancurkannya!" Ucapnya dengan penuh keyakinan.

Ia lalu meninggalkan rumah itu.

...****************...

Di sisi lainnya, di rumah Randi.

Yanti mulai kelelahan menghadapi sikap manja Dina yang dianggapnya terlalu berlebihan. Ia selalu menyuruhnya untuk melakukan ini dan itu tanpa henti.

"Dasar menyebalkan! Berapa lama lagi aku harus menahannya." keluhnya kesal.

Wanita paruh baya itu menatap ikan yang sedang di goreng dalam wajan penggorengan di hadapannya dengan penuh kekesalan.

"Seandainya saja Amara masih ada di sini, aku tidak akan kerepotan seperti ini. Aku bisa bersantai dan pergi bersama teman-teman arisanku seperti biasanya." kenangnya sambil menahan amarah.

Ia tak berhenti menggerutu sepanjang hari.

"Apa aku minta Randi untuk mencari seorang pembantu saja ya?" ia mulai berpikir.

"Tapi bayarannya mungkin cukup mahal. Dimana aku bisa mencari pembantu yang mau di bayar murah?"

Yanti terus tenggelam dalam pikirannya.

"Ibu! Ibu!"

Ia bahkan tidak menghiraukan panggilan Dina yang sedari tadi meneriakkan namanya.

Dina lalu menghampiri Yanti di dapur karena mencium bau masakan yang hangus.

"Aduh! Di suruh masak malah melamun." tegur Dina.

Ia menepuk pundak Yanti untuk menyadarkannya. "Ibu!Ikannya hangus, Bu!" hardiknya.

Yanti tersadar dari lamunannya dan cepat-cepat mengangkat ikan itu dari penggorengan.

"Kenapa ibu malah melamun? Bagaimana kalau rumah ini jadi kebakaran karena ulah ibu?" tegurnya menyalahkan ibu mertuanya itu.

Yanti tampak kesal pada Dina.

"Ibu lelah! Kalian semua membebani ibu dengan banyak pekerjaan. Kau juga tidak mau membantu ibu sedikitpun. Sekarang kau malah berani menyalahkan ibu." keluhnya kesal.

"Tapi aku 'kan sedang hamil, Bu. Aku tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat. Aku tidak boleh kelelahan. Apa ibu mau terjadi sesuatu pada cucu ibu?" tanyanya sambil mengelus perutnya yang tampak membesar.

"Itu hanya alasan mu saja. Ibu juga pernah hamil dan masih bisa melakukan pekerjaan rumah. Kau saja yang terlalu manja." sanggahnya tak mau kalah.

"Itu salah ibu sendiri, kenapa mau mengerjakan pekerjaan rumah disaat sedang hamil. Padahal sebelumnya, mas Randi juga sudah berniat untuk mencarikan seorang pembantu rumah tangga. Tapi ibu malah menolaknya. Jadi kenapa sekarang ibu malah mengeluh padaku?" Dina terus menyanggah perkataan ibu mertuanya itu.

Yanti lalu terdiam karena kalah malu.

"Ah, sudahlah! Ibu lanjutkan saja memasaknya. Aku mau istirahat di kamar. Nanti bangunkan aku kalau masakannya sudah selesai." pesannya tanpa rasa bersalah.

Dina lalu pergi meninggalkannya dan melenggang menuju kamarnya.

Ia tidak menyadari jika saat ini wajah Yanti tampak memerah seperti kepiting rebus. Dia sangat marah padanya.

"Dasar menantu sialan!" geramnya kesal.

***

Di dalam kamar, Dina tampak tertawa geli melihat wajah ibu mertuanya yang menahan amarah melihatnya.

Ia lalu mengunci pintu kamarnya. Dina berdiri di depan cermin, melihat bayangan perutnya yang tampak membesar karena kehamilannya ini.

Tawanya memudar. Wajahnya kini terlihat lebih serius. Perlahan ia menyingkap tunik yang dipakainya hingga menampakkan perutnya yang besar. Ia mengelus-elus perutnya dengan lembut.

Lama ia menatap perut itu. Wajahnya terlihat kesal. Ia seperti menahan sebuah emosi di hatinya.

Ia lalu membuka penyangga perut khusus untuk kehamilan yang menyangga perut besarnya.

"Kalian semua akan membayar segala rasa sakit yang ditanggung oleh kakakku." ucapnya lalu perlahan melepaskan perut besar yang selama beberapa bulan ini selalu menempel di tubuhnya.

Ekspresi wajahnya tampak sendu.

...****************...

Apa motivasi Dina sebenarnya?

Di tunggu kelanjutannya ya 😊

1
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Telur ular gw sediain buat Lo. gw campur pake sambel lalu gw masukin ke mulut lo.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
idih najis banget mertu kayak begini bikin menguras mental 😤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
aku mampir dulu ke karya mu yang lain sambil nunggu 2 novel kamu yg entah kapan itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
pret ah cek kamu we ngomong mudah, kesonona mah kagak tahu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
iya akhiri aja, lagian nggak jelas kan.
SANG
Cucok banget💪👍
SANG
Semangat ya dek
SANG
Semangat ya dek💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu dek💪👍
SANG
Bintang lima untukmu dek. Semangat ya, aku berharap mendapatkan rangking
SANG
Astaga
SANG
Widih
SANG
Like iklan plus komen💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu tho💪👍
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Hadir dek
SANG
Keren habis💪👍
SANG
Novel baru semangat baru💪👍
Fathir Albiansyah
ceritanya menarik gsk bosan
-Thiea-: terimakasih 🙏🏿
total 1 replies
MULIANA 💦
Berarti amara gak marah? syukurlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!