NovelToon NovelToon
Diikat Utang

Diikat Utang

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Pembantu / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Ibu Mertua Kejam / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:73.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yenny Een

Icha Adeela, anak angkat dari keluarga Raffi Hamzah. Dia diperlakukan tidak adil, dijadikan sebagai penebus utang. Ayah angkatnya mempunyai banyak utang dan keluarga mereka terancam kehilangan rumah dan aset lainnya.

Dalam upaya menyelamatkan keluarga dan ibu angkatnya yang sekarat di rumah sakit, Icha dipaksa menikah dengan orang tua dan cacat.

Ternyata, Icha juga diperlakukan kasar oleh suaminya. Icha berusaha membayar utang agar terbebas dari belenggu suaminya.

Apakah Icha berhasil membebaskan dirinya dari situasi tersebut?

Ikuti jalan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Kembalinya Ingatan

Putra dan Maira berkeliling mencari Icha di rumah sakit. Setelah dari UGD, Icha izin mencari toilet dan sampai sekarang belum balik. Putra dan Maira berpencar mencari Icha.

Putra menghubungi Icha dengan ponselnya. Tidak ada jawaban. Chat Putra juga tidak dibaca. Putra terus menelpon sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit.

Dan langkah Putra terhenti ketika mendengar nada dering yang sering dipakai Icha untuk panggilan telepon. Putra terus mencari dan terus menghubungi ponsel Icha.

"Permisi, apa Anda mendengar sesuatu?" tanya Putra kepada Mba cleaning service.

Mba cleaning service menatap Putra yang menunjuk ke arah ponselnya. Terdengar samar-samar suara musik. Mba cleaning service perlahan dan hati-hati memeriksa kantong sampah yang ada padanya.

Suara musik itu semakin nyaring terdengar. Mba cleaning service mengeluarkan sebuah ponsel dari kantong sampahnya.

"Apa ini punya Anda?" Mba cleaning service memberikan ponsel itu kepada Putra.

"Punya adik saya. Di mana Anda menemukan ponselnya?"

"Maaf saya lupa, terlalu banyak ruangan yang sama bersihkan. Maaf, saya bukan pencuri," Mba cleaning service terlihat gugup.

"Iya, makasih Mba. Ponselnya saya ambil ya," Putra menyimpan ponsel Icha ke dalam saku celananya.

Putra dengan sopan berpamitan kepada Mba cleaning service. tidak jauh dari tempatnya berdiri, Putra melihat Zaki duduk di depan ruang perawatan. Putra mengintip di dalam, terlihat Fairel sedang beristirahat. Fairel melihat ke arah Putra. Putra masuk ke dalam ruangan dan menyapa Fairel.

Fairel bertanya di mana Icha. Putra diam. Fairel merasa terjadi sesuatu kepada Icha dan Putra ingin menyembunyikannya.

"Ngapain lu di sini?" tanya Fairel.

"Mau jenguk lu. Gimana keadaan lu?" Putra basa basi.

Fairel menatap lekat ke arah Putra yang seperti orang habis kehilangan. Fairel semakin yakin terjadi sesuatu kepada Icha. Fairel perlahan turun dari tempat tidurnya.

"Mau ke mana lu? Fai?" Putra membantu Fairel berdiri.

Fairel menepis tangan Putra. Fairel melepas infus dan perlahan berjalan keluar dari ruangannya. Fairel meminta Zaki mengambil kursi roda untuknya. Fairel meminta Zaki membawanya ke bagian pengawas keamanan rumah sakit.

Sesampainya di ruang pengawas, Fairel mengecek semua kamera yang ada di rumah sakit. Putra dan Zaki juga fokus mencari Icha di kamera pengawas rumah sakit.

"Icha, itu Icha!" Tunjuk Putra.

Mereka melihat seorang dokter membawa Icha yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Dokter itu membawa Icha ke ruangan operasi. Fairel meminta bantuan papanya untuk mengetahui jadwal Dokter Alex di rumah sakit via telepon.

"Pak, bisa bantu antar kami ke ruang operasi tempat Dokter Alex?" pinta Fairel ke petugas pengawas keamanan.

Petugas pengawas keamanan mengantar mereka ke depan ruang operasi. Selain dokter dan perawat tidak boleh ada yang masuk. Fairel menunggu Ihsan di depan ruang operasi.

Ihsan bersama wakil direktur rumah sakit masuk ke dalam ruangan operasi. Mereka melihat para perawat sedang mempersiapkan alat-alat medis untuk operasi.

Wakil direktur rumah sakit menanyakan siapa yang akan dioperasi. Salah seorang perawat menjawab pasien yang ada di ruangan ICU atas nama Alula Yumna yang akan dioperasi sumsum tulang belakang.

Ihsan meminta izin kepada wakil direktur untuk melihat calon pendonor sumsum tulang belakang. Ihsan sempat dihalang-halangi beberapa perawat.

"Apa yang kalian lakukan!" Wakil direktur memaksa masuk ke dalam.

"Maaf Pak, kata Dokter Alex, tidak ada yang boleh melihatnya," jawab salah seorang perawat.

"Dokter Eko, saya yakin, terjadi sesuatu di sini. Icha dikabarkan menghilang. Dia juga dalam keadaan tidak sehat," ujar Ihsan.

Dokter Eko membuka tirai yang tertutup di pojok ruangan. Di sana ada seorang wanita yang terbaring menggunakan baju khusus rumah sakit.

"Ini menantu saya," Ihsan menghampiri Icha dan berusaha membangunkan Icha.

Mata Icha terbuka, samar-samar Icha melihat Insan, "Pa, tolong," lirih Icha. Icha kembali memejamkan matanya.

Dokter Eko memerintahkan kepada perawatnya mengeluarkan Icha dari ruang operasi.

"Tapi Dok, ini darurat. Nona Alula harus segera dioperasi," Perawat itu dengan wajah yang menunduk.

"Panggil Dokter Alex ke ruangan saya. Sekarang!"

Ihsan dan Dokter Eko mendorong brankar Icha keluar dari ruangan operasi. Dokter Eko memindahkan Icha ke ruang perawatan Fairel. Icha bersebelahan dengan tempat tidur Fairel. Dokter Eko pamit untuk kembali ke ruang kerjanya.

"Apa yang terjadi Putra?" tanya Ihsan.

"Sebelumnya saya ke rumah Om Raffi. Saya ingin Om Raffi tahu, selama ini yang merusak rumah tangga beliau adalah Tante Kania. Saya menunjukkan bukti yang ada di ponsel Icha. Dan setelah saya kembali ke rumah, tiba-tiba Tante Kania nelpon Icha dan bilang Om Raffi sekarat."

"Kenapa Icha ada di ruangan operasi?" tanya Ihsan lagi.

"Pa, mungkin ini ada hubungannya dengan Tante Kania," sahut Fairel.

Putra dan Ihsan mencari informasi menuju ruangan ICU di mana Alula dirawat. Sedangkan Fairel bersama Zaki duduk di sebelah tempat tidur Icha. Fairel memandangi wajah Icha yang terlihat pucat.

Zaki setelah sekian lamanya, baru kali ini bertatap muka dengan Icha. Zaki sebisa mungkin menghindari Icha. Zaki merasa malu bahkan rasa bersalah dan penyesalan Zaki sampai hari ini membuat Zaki tidak berani bertemu dengan Icha.

Fairel membelai lembut wajah Icha. Fairel mendekatkan bibirnya ke telinga Icha. Fairel meminta maaf karena lagi-lagi tidak ada di saat Icha dalam bahaya.

"Maafin aku sayang," Fairel berdiri dari kursi roda dan mencium kening Icha.

Ciuman Fairel membuat Icha membuka mata. Tatapan Icha dan Zaki bertemu. Zaki menundukkan wajahnya. Icha memegangi kepalanya yang sakit. Icha mengingat satu persatu peristiwa yang tidak ingin Icha ingat dalam hidupnya.

Icha mengingat kembali bagaimana Fairel memperlakukannya dengan kasar. Kemudian Icha mengingat bagaimana Zaki menculiknya. Zaki habis-habisan menghajarnya tanpa ampun.

Icha mendorong Fairel. Icha melompat dari tempat tidurnya. Icha ke pojok ruangan. Icha mengatupkan kedua tangannya kearah Fairel dan Zaki.

"Ampun, ampun, tolong jangan pukul saya," dengan bibir dan tubuh yang gemetar Icha memohon ampunan.

"Sayang, tidak ada yang menyakitimu. Semua salahku. Aku minta maaf, aku meminta maaf," Fairel memeluk erat Icha.

Icha berontak melepaskan pelukan Fairel. Icha berteriak meminta pertolongan. Icha semakin ketakutan melihat Zaki. Otot wajah Icha menegang. Saking takutnya, Icha mengigit tangan Fairel agar melepaskan pelukannya.

"AAAAAGHHHHHH! Zaki panggil Dokter!" Teriak Fairel.

Zaki berlari keluar mencari dokter. Sedangkan Fairel menahan rasa sakitnya. Fairel tetap memeluk Icha tidak ingin membiarkan Icha keluar dari ruangan. Fairel takut Icha akan lari meninggalkannya. Fairel yang membuat Icha seperti ini. Fairel akan bertanggungjawab.

"Sayang, tenangkan dirimu, tidak ada yang akan menyakitimu," Fairel meneteskan air mata.

Icha semakin agresif. Tidak hanya menggigit, Icha juga mencakar lengan, wajah dan bagian tubuh Fairel yang lain. Icha kehilangan kendali. Rasa sakit membuat Icha lebih kuat dari sebelumnya. Icha mengamuk, Icha bukan lagi dirinya.

"Icha, Icha, sadar, ini Kaka," Putra melepaskan pelukan Fairel.

Putra memeluk menenangkan Icha. Putra juga terus berbisik di telinga Icha, meyakinkan Icha semua akan baik-baik saja. Dan Dokter Eko secara perlahan menyuntikkan sesuatu ke tangan Icha. Icha lebih tenang. Icha kembali tertidur pulas.

"Biarkan Icha istirahat. Dilihat dari tindakannya, kemungkinan Icha mengalami trauma karena kekerasan. Icha tadi berusaha melindungi dirinya," kata Dokter Eko.

Icha meneteskan air mata. Dalam tidurnya Icha mengigau, "Ampun, ampun, ampun."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Sri Supeni
sebetulnya ceritanya bagus nggak dipaksa2kan tp kekerasan lebih dominan dan yg membuat bingung knp nama negara mesti disingkat
Yenny Een: Ok, mksh masukannya 🙏🏻
total 1 replies
Aku Bore
Gassssss 🤣
Aku Bore
🤣
Nashira
knp gak dimasukin dalam kandang singa az Thor si Sofia 🤣
Mauk
Carmen terlalu baik
Fang
Usil 🤣
Na!
Gak mungkin selamat, Kania gak bisa loncat 🤪
Al!f
Bye
Mauk
Ya sdh balikan az
Mauk
😱
Mauk
Tamat sudah pelakor halu 🤣
Al!f
omg
Al!f
🤪🤪🤪🤪🤪
Alesha
😱😛
Mauk
🤣
Al!f
Tidaaaaaak 😭
Fang
Oh tidak 😱
Al!f
Baru tau /Slight/
Fang
Seru nih
Fang
Cieeeeeee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!